
Rea menarik Zain ke sebuah lorong saat sekelompok lelaki berpakain hitam berjalan ke arah mereka. Segerombolan orang itu adalah anak buah Lapendos. Terlihat jelas dari logo bunga lavender pada jas yang mereka kenakan. Zain tersenyum penuh arti saat melihat wajah serius sang istri. Bahkan napas keduanya terasa begitu dekat karena tak asa jarak di antara mereka. Ingin sekali rasanya Zain menyambar bibir Rea yang terlihat menggoda untuk di sentuh.
"Sepertinya tempat ini sudah di kepung." Kata Rea sedikit mengintip, memastikan semuanya aman.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?"
Rea terlihat meneliti setiap penjuru tempat, seolah tengah membaca kondisi. Zain tersenyum lagi melihat itu.
"Kau kehabisan akal? Bukankah kau seorang lady Amora?" Ledek Zain. Dan itu berhasil mendapat tatapan tajam dari sang istri.
"Ini semua salahmu, kau menghancurkan semua rencanaku yang sudah tersusun rapi. Menyebalkan."
Zain tersenyum lucu. "Jadi sekarang kau menyalahkanku?"
"Tentu saja, kau yang mengacaukan semuanya. Sialnya mereka melihat wajahku tadi."
"Tapi tidak denganku."
Rea menatap Zain lekat. "Jadi kau berencana meninggalkanku hah?"
"Apa boleh buat?" Gurau Zain tersenyum miring. Rea yang mera kesal pun berdecih.
"Aku dengar lady Amora terkenal dengan kecerdikannya. Tunjukan itu padaku." Tantang Zain seraya melipat kedua tangannya di dada. Kemudian ia pun berlalu pergi meninggalkan sang istri.
Mulut Rea terbuka karena tak percaya Zain benar-benar meninggalkannya. "Brengsek! Suami tidak punya hati." Kesalnya.
Rea melihat kiri dan kanan, merasa sudah aman ia pun mengejar suaminya. Lalu berjalan di belakang Zain sambil mengumpat dalam hati. Untuk yang pertama kalinya ia menjadi seorang pengecut yang berlindung di punggung lebar seseorang. Andai saja ia membawa pistol kesayangannya, mungkin ia tidak akan menjadi si pengecut seperti sekarang ini.
"Jadi kecerdasanmu hanya sebatas bersembunyi dibelakangku?"
"Berhenti bicara, perhatikan saja jalannya. Bukankah sudah seharusnya suami melindungi istri?"
"Jika istri menggemaskan mungkin aku akan melindunginya. Tapi aku punya istri psikopat. Bahkan kapan saja kau bisa membunuhku."
Rea menggeram kesal. "Kau banyak sekali bicara."
Zain menahan langkahnya secara tiba-tiba, alhasil hidung mancung Rea pun harus membentur punggung sang suami dengan lumayan keras. Ia pun meringis kesakitan. Bahkan hidungnya memerah kini.
"Apa yang kau...." belum selesai Rea bicara mulutnya mendadak terkatup karena segerombolan lelaki berjas hitam dengan logo bunga lavender tadi menghampiri mereka.
"Sial! Sepertinya kita akan tertangkap kali ini." Umpat Rea menggenggam tangan suaminya. Lalu mengeluarkan belati miliknya. Bahkan wanita itu sudah membuat ancang-ancang untuk menyerang. Namun tanpa di duga segerombolan lelaki itu menunduk hormat. Sontak Rea pun tercengang karena bingung.
"Kami sudah melaksanakan tugas, Tuan. Semuanya sudah beres. Semua markas sudah dimusnahkan."
Rea langsung menoleh ke arah Zain. "Ada apa ini?"
Zain tersenyum penuh arti, kemudian mengeluarkan sebuah stempel kuasa milik Lapendos. "Kejutan untukmu."
"Bagaimana bisa stempel itu ada padamu?" Pekik Rea.
"Menurutmu?"
"Kau mengerjaiku?" Rea memicingkan matanya pada sang suami. Ia baru menyadari jika sejak tadi Zain mengerjainya.
Ya, sebelum Rea bertindak Zain sudah lebih dulu melangkah lebih maju. Lelaki itu berhasil menyelipkan beberapa anak buahnya ke markas Lapendos. Bahkan ia berhasil merebut kekuasaan mereka atas bantuan Adam tentunya.
Karena kesal Rea pun memukuli Zain sampai puas. "Sialan! Berengsek! Aku tidak akan mengampunimu."
Zain tertawa puas. "Kau saja yang bodoh karena sudah menganggap suamimu ini lemah. Meski aku bukan golongan kalian. Bukan berati aku lemah. Jangan lupakan darah Michaelson mengalir deras dalam nadiku."
Rea mendengus sebal. "Lalu racun apa yang kau berikan pada Lapendos? Beruntung aku tidak mencicipinya. Kau hampir membunuhku tahu."
Lagi-lagi Zain tertawa. "Lapendos memiliki riwayat jantung. Aku hanya menambahkan sedikit dosis alkohol saja. Lagi pula aku sudah memprediksikan kau tidak akan meminumnya."
"Memangnya kau itu cenayang apa?" Rea kembali memukuli Zain karena kesal. "Kau menempatkanku dalam bahaya. Kenapa tidak bilang dari awal jika kau berhasil merebutnya huh? Apa kau senang aku disentuh lelaki lain?"
Rea mengeluarkan semua kekesalan dalam hatinya.
__ADS_1
Zain menahan kedua tangan istrinya yang terus bergerak untuk memukulnya. "Jangan salahkan aku. Kau lebih dulu bertindak sebelum aku menjemputmu. Bahkan kau sengaja tidak membawa ponsel agar aku tidak bisa menghubungimu. Sok pintar. Seharusnya aku yang marah padamu karena kau berani membuat kesepakatan bodoh dengan lelaki itu. Jika aku tidak bertemu Aletta, mungkin saat ini kau masih menjadi santapan lezatnya."
Rea terdiam karena merasa bersalah.
"Berhenti membuat ulah. Tinggalkan dunia hitammu. Aku tidak suka kau berkecimpung dalam bisnis ilegal yang akan membahayakan dirimu sendiri. Mungkin aku tidak keberatan kau menjadi seorang model. Tapi tidak untuk hal ini." Zain tersenyum seraya mengusap pipi halus sang istri.
"Aku lebih senang kau menjadi istri manja yang menggemaskan." Imbuh Zain.
Rea mengangguk patuh, lalu memeluk Zain penuh kehangatan. "Sejak lama aku berniat untuk melepaskan posisiku. Meski itu agak sulit karena masih banyak yang mengharapkanku tetap di posisi ini. Aku juga lelah asal kau tahu."
"Hm. Sekarang kita punya masa depan yang harus kita jaga, Re."
"Ya." Rea mengangguk lagi.
"Kita pulang, Mommy dan Mami terus menanyakan dirimu. Dua hari kau meninggalkan Indonesia, selama itu juga aku terus mendapat teror dari mereka."
Rea tersenyum geli. "Berikan aku waktu dua hari lagi, aku harus berpamitan dengan yang lain."
Zain mengangguk. "Sebaiknya kita kembali ke apartemen. Kau harus istirahat, lalu obati lukamu."
"Sebelum itu pesan makanan lebih dulu. Kita makan bersama ya?"
"Kau masih lapar? Apa kepalamu memang hanya di penuhi makanan huh?" Zain menoel hidung istrinya yang masih memerah.
"Hm... kau tahu sendiri kan sejak aku hamil rasanya perutku lapar terus. Ditambah pagi ini aku tidak makan apa pun."
Zain mengusap rambut sang istri. "Pantas saja kau jadi bodoh."
Rea mengerucutkan bibirnya. Membuat Zain harus mengulum senyuman geli.
"Baiklah, aku akan memesan makanan. Sekarang kita pulang."
Zain menatap anak buahnya. "Bereskan semua masalah di hotel ini. Jangan sampai ada kesalahan sedikit pun."
"Baik, Tuan."
"Langsung ke apartemen." Titah Zain. Juna pun mengangguk patuh. Kemudian mobil mewah itu melesat pergi meninggalkan hotel.
****
"Awh perih, pelan-pelan." Rea terus meringis saat Zain membersihkan luka di pahanya dengan alkohol.
"Jika tidak diobati bisa infeksi." Zain terlihat serius. Membuat Rea tersenyum lebar.
"Awh... sambil ditiup, sayang." Rengek Rea layaknya anak kecil. Ia tersenyum geli saat Zain benar-benar menuruti keinginannya.
"Buka semua pakaianmu," titah Zain yang berhasil membuat Rea melotot.
"Mesum."
Zain memicingkan matanya. "Aku harus memeriksa tubuhmu, bagaimana jika ada luka yang lain. Aku rasa kau yang mesum."
Rea terkekeh lucu. Kemudian bergegas menanggalkan semua kain yang menutupi tubuh indahnya. "Apa aku terlihat seksi?"
"Tidak." Jawab Zain asal. Ia tahu istrinya itu sedang menggoda dirinya. Tidak ingin menanggapi godaan sang istri, Zain pun memeriksa seluruh inci tubuh istrinya. Ia pun menemukan luka lembam di punggung halus Rea.
"Akh...." Rea kembali meringis saat Zain menyentuh bagian punggungnya yang membiru.
"Bagaimana bisa ada luka seperti ini?"
"Mungkin terbentur meja. Entahlah, aku tidak tahu." Jawab Rea jujur. Biasanya ia tidak pernah peduli dengan luka lembam, kecuali luka yang terbuka.
"Kau sangat ceroboh." Sambil mengomel Zain mengolesi salep di luka sang istri. Rea yang mendengar itu hanya bisa tersenyum.
"Pakai lagi pakaianmu, setelah ini kita makan." Titah Zain.
Rea mengangguk patuh yang kemudian memakai kembali pakaiannya. Setelah itu keduanya pun makan bersama sambil sesekali bercanda.
__ADS_1
Rea menatap Zain lekat. "Jadi kau sadar saat aku pergi malam itu?"
Zain membalas tatapan Rea. "Ya."
"Ck, kenapa kau tidak menahanku?"
"Aku ingin melihat sejauh mana kau bertindak, istri nakal."
"Kau juga sudah tahu semua rencanaku?"
"Tidak, kau tidak memberitahu Uncle soal rencanamu. Sudah kukatakan Letta yang memberitahuku. Aku bertemu dengannya. Kau sangat ceroboh karena bertindak sesuka hati. Seharusnya kau diskusikan itu dengan Uncle. Bagaimana jika saat itu aku terlambat datang? Aku rasa itu akan menjadi penyesalan terbesar dalam hidupku."
Rea menunduk lesu. "Apa kau akan membuangku jika saja saat itu Lapendos melakukannya?"
Zain menarik dagu istrinya, mengunci manik mata coklat sang istri. "Apa pun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku mencintaimu." Bibir keduanya pun kembali bertemu. Zain m*l*m*tnya dengan lembut dan penuh perasaan. Membuat sang pemilik terpejam nikmat.
Rea membuka matanya saat Zain mengakhiri ciuman mereka. Tatapan wanita itu berubah kelam. Seakan meminta hal lain. Zain tersenyum seraya mengusap bibir basah Rea. Tentu saja ia tahu apa yang diinginkan istrinya saat ini. Hanya saja ia masih ingin mengerjainya. "Kau harus istirahat."
Rea menggigit ujung bibirnya. "Bisakah kita melakukannya lagi?" Cicitnya yang berhasil membuat Zain tersenyum geli.
"Tidak, kau harus istirahat. Malam nanti kita lanjutkan okay?"
Rea menggeleng kuat. "Aku ingin sekarang. Tadi itu... aku... belum puas."
Mendengar itu Zain tertawa lucu. "Kau belum puas?"
Rea mengangguk lagi. "Ayo kita lakukan lagi."
"Tapi aku sangat lelah." Elak Zain.
"Sebentar saja." Rengek Rea menggigit bibirnya. Dan itu benar-benar terlihat seksi di mata Zain.
"Kau harus istirahat. Masih banyak waktu untuk melakukannya."
"Itu berbeda, sekarang aku ingin melakukannya. Kau mungkin tidak mengerti betapa tersiksanya aku saat benar-benar menginginkannya." Rea bicara begitu lirih. Ia sendiri tidak mengerti kenapa begitu menggebu-gebu ingin mendapat sentuhan panas sang suami.
Karena sudah tidak tahan, Rea memulainya lebih dulu. Ia meraih bibir suaminya, m*l*m*tnya penuh penuntutan. Sesekali Rea m*nd*s*h kecil. Sepertinya ia benar-benar sudah diselimuti gairah.
Zain yang mulai tersulut api gairah pun ikut beraksi. Kini tangannya mulai bergerak nakal, membuka seluruh kain yang menempel di tubuh sang istri. Kini Rea kembali polos.
"Milikmu yang ini semakin besar, sayang." Bisik Zain m*r*m*s dua gunung kembar sang istri yang semakin membengkak karena efek kehamilan. Rea hanya bisa mengeluarkan erangan dan d*s*h*n nikmat.
Zain membaringkan Rea, lalu dikecupnya perut istrinya itu yang mulai menonjol. "Dia sudah besar."
"Hm... dia rindu Daddynya."
"Ingin dijenguk huh?" Zain tersenyum mesum. Sedagkan Rea hanya mengangguk pasrah. Tangan Rea pun bergerak lihai melepas pakaian Zain. Kini mereka sama-sama naked. Rea tersenyum senang seraya mengusap perut kotak-kotak milik Zain.
Zain kembali bermain dengan bibir manis Rea yang sudah seperti heroin baginya. Memberikan beberapa sentuhan di titik sensitif sang istri. Dengan tidak sabar Zain membenamkan miliknya ke dalam lembah kenikmatan. Keduanya pun mengerang bersamaan. Mencoba untuk saling memberikan sebuah kenikmatan.
Perlahan Zain mulai bergerak dan terus menambah ritme pergerakannya. Sampai keduanya pun digulung gelombang cinta yang hampir meledak. Saling mengejar kenikmatan satu sama lain. Namun di saat keduanya hampir mencapai puncak, suara ketukan pintu menghancurkan angan keduanya.
Tok tok tok.
Zain menggeram kesal. "Sebentar." Ia menutupi tubuh polos sang istri dengan selimut. Kemudian meraih celana pendek dan langsung memakainya dengan cepat. Setelah itu ia beranjak membuka pintu.
Lagi-lagi Zain menggeram kesal saat melihat Juna lah yang sudah mengganggu kesenangannya. "Ada apa lagi?" Kesalnya. Ingin sekali rasanya ia menghabisi sahabatnya itu.
"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan. Masalah proyek minggu depan."
"Brengsek! Kau menggangguku hanya karena masalah proyek?" Zain semakim geram sekarang.
"Kau harus ingat proyek kali ini akan menentukan masa depanmu. Jangan kecewakan Daddymu, Zain. Sudah sering kali kau mengabaikan tugasmu. Sebagai sahabat dan asisten pribadimu aku berhak mengingatkan. Tanggung jawabmu saat ini bukan sekadar memuaskan Rea, kau juga punya tanggung jawab lain. Ribuan karyawan menopang hidup padamu. Meeting akan dimulai lima menit lagi. Mungkin kau lupa itu."
Ingin sekali rasanya Zain membenturkan kepala asistennya itu ke dinding sangking kesalnya "Baiklah, aku akan bersiap. Cepat pergi dari sini."
Juna mengangguk hormat, kemudian berlalu pergi tanpa rasa berdosa sedikitpun.
__ADS_1
"Jika bukan karena kau bisa diandalkan, aku sudah memecatmu sejak lama."