
Sean membuka riwayat chat Queen dengan Juna. Rahangnya mengerat karena Juna terus mengirim pesan seolah lelaki itu sedang mengkhawatirkan Queen.
Sialan!
Karena sangat kesal, Sean menghapus pesan Juna dan mematikan ponsel kekasihnya dan menaruhnya di nakas. Kemudian perhatiannya pun tersita kembali pada sang kekasih yang terlelap. Ia ikut berbaring di sebelah Queen.
"Aku harap kau bisa melupakannya." Sean mengusap kepala Queen dengan lembut. Kemudian memberikan kecupan hangat di keningnya. "Selamat malam, gadis kecilku."
Queen menggeliat karena merasa tidurnya terusik, kemudian ia sedikit memiringkan tubuhnya ke arah Sean. Kini jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa centi. Dan yang menjadi pusat perhatian Sean adalah bibir merah Queen. Yang kini sudah menjadi candu untuknya.
Sean mengecup, mencecap dan m*l*m*t perlahan bibir manis itu dengan penuh perasaan. Rasa manis dan lembut bibir Queen bagaikan heroin baginya. Rasanya sungguh nikmat dan memabukkan.
"Hm... Sean." Queen bergumam saat Sean menyudahi ciumannya. Ada sedikit rasa tenang karena Queen menyebut namanya dan bukan lelaki itu.
"Aku mencintaimu." Sean menarik Queen dalam dekapan. Kemudian ia pun ikut terlelap.
Pagi hari, Queen terbangun dari tidurnya. Ia terhenyak saat menyadari dirinya berada dalam dekapan Sean. Perlahan Queen menjauhkan tangan lelaki itu dari pinggangnya. Setelah itu ia pun bergegas bangkit dan langsung berlari ke kamar mandi karena sangat mual.
Queen memuntahkan isi perutnya di dalam closet. Sepertinya malam tadi ia minum terlalu banyak, bahkan kepalanya masih berdenyut sakit.
"Ada apa denganku? Kenapa aku menjadi tak terkontrol jika mengingat Uncle?" Queen termenung cukup lama sebelum dirinya memutuskan untuk mandi.
Queen keluar dari kamar mandi hanya berbalut bathrobe sebatas lutut. Ia melirik Sean yang masih tertidur pulas. Lalu mengambil ponselnya di atas nakas. Namun ia merasa heran karena ponselnya dalam keadaan mati. Seingatnya malam tadi ia tidak mematikannya.
"Apa mungkin lowbat?" Queen mencoba menghidupkannya kembali. Dan ternyata baterainya masih lumayan banyak. Karena merasa ada yang aneh, Queen pun mengecek riwayat chat. Benar saja, tidak ada lagi chat dari Juna. Sontak Queen pun menatap Sean.
Apa dia cemburu dan menghapus pesannya? Queen tersenyum geli. Ada sedikit rasa senang karena dirinya dicemburui. Apa lagi oleh kekasihnya sendiri.
Gadis itu meletakkan kembali ponselnya di tempat semula, lalu duduk di tepi ranjang. Ditatapnya wajah tampan Sean yang masih terlelap itu. Wajahnya begitu polos dan cukup menggemaskan. Tanpa sadar tangannya terulur untuk menyentuh rahang tegas kekasihnya itu.
"Sean, bangunlah. Kau harus kerja bukan?" Panggilnya. Namun Sean masih pulas dalam tidurnya.
"Sean." Queen mencoba lagi sambil menepuk pipi lelaki itu. Bukannya bangun, Sean malah merubah posisinya menjadi miring sambil menggenggam tangan Queen.
"Biarkan aku tidur sebentar lagi, Mom." Gumamnya yang berhasil membuat mata Queen membulat.
"Mom?" Queen menarik tangannya dengan kasar. Sontak Sean pun terbangun dan sedikit tersentak saat melihat wajah kesal Queen.
"Apa wajahku terlalu tua sampai kau memanggilku Mom?"
Sean duduk sambil memasang wajah memelas. "Maafkan aku, sayang. Sudah lama aku tidak tidur sepulas ini setelah Mommy pergi. Tadi aku bermimpi dia ada di sini. Jadi aku pikir kau Mommyku."
Queen mencolos mendengarnya. Ia tersenyum manis. "Lupakan itu, sebaiknya kau pulang. Hari ini kerja bukan?"
Sean mengangguk, tetapi tiba-tiba saja matanya tidak sengaja mengarah pada belahan dada milik Queen karena bathrobe itu sedikit bergeser. Ia menelan air liurnya. Menahan rasa sesak di bawah sana.
"Sean." Panggil Queen. Sontak Sean pun kaget dan tersadar dari lamunannya.
"Ya, aku pulang sekarang." Sean beringsut bangun dan langsung menyambar kunci mobilnya. Queen merasa heran saat melihat keanehan kekasihnya itu.
"Kau baik-baik saja kan?"
"Ya, aku lupa pagi ini ada meeting. Aku pergi." Sean mengecup kening Queen sekilas dan langsung berlalu pergi. Jika terlalu lama di sana, bisa-bisa ia khilaf.
__ADS_1
"Ada apa dengannya?" gumam Queen keheranan. Ia pun menggeleng dan bergegas mengenakan pakaiannya karena pagi ini ia juga ada jam kuliah.
****
Queen pulang ke apartemen tepat di malam hari. Wajahnya sedikit di tekuk karena lelah, hari ini begitu banyak kegiatan di kampus sampai tenaganya terkuras habis.
"Ck, lapar sekali." Gumamnya seraya menjatuhkan bokong di atas sofa. Lalu matanya ikut terpejam. Mencoba mengurangi rasa penat. Namun detik berikutnya ia terperanjat kaget saat mencium aroma masakan yang begitu mengguggah selera.
Siapa yang masak?
Perlahan Queen melangkah menuju dapur. Dan betapa kagetnya ia saat melihat seorang lelaki yang begitu familiar.
"Kau sudah pulang, sayang?" Lelaki itu berbalik. Sontak Queen terhenyak saat melihatnya.
"Sean? Bagaimana kau bisa masuk?"
"Apa yang tidak bisa aku lakukan huh? Duduklah, kau pasti lapar bukan?" Jawab lelaki itu tersenyum begitu menawan.
Queen memutar matanya malas. Sepertinya ia lupa jika malam kemarin dirinya lah yang memberi tahu kode sandi apartemen pada Sean. "Kau seperti penjahat tahu tidak. Masuk ke rumah orang asing tanpa izin."
"Kau kekasihku, bukan orang asing. Makanlah, aku tahu kau belum makan sejak siang."
"Jangan bilang kau memata-mataiku." Queen memicingkan matanya.
"Ya, aku tidak mau terjadi sesuatu padamu."
"Ck, kau terlalu berlebihan." Queen yang pada dasarnya sudah sangat lapar pun bergegas duduk. Ditatapnya punggung Sean yang terus bergerak karena lelaki itu belum selesai memasak. Setelah itu Queen mengalihkan perhatian pada meja makan, di mana sudah terdapat beberapa hidangan lezat di sana.
"Kau yang memasak ini?" Tanya Queen tidak yakin.
"Kau bisa masak?" Tanya Queen lagi masih tidak percaya Sean yang menyiapkan semua ini.
"Ya. Aku sudah terbiasa hidup mandiri sejak Mommy tidak ada."
Queen manggut-manggut sambil membalik piring. Lalu ia pun memilih salah satu hidangan yang ingin dicicipi. "Bahkan aku tidak bisa masak asal kau tahu."
"Tidak jadi masalah, aku siap melayanimu sepanjang waktu."
Queen tersenyum senang mendengarnya. Dengan tidak sabar ia pun langsung mencicipinya. Saat makanan itu masuk ke dalam mulutnya, matanya ikut membulat karena sangking enaknya.
"Bagaimana rasanya?" Tanya Sean seraya meletakkan sepiring hidangan lain di atas meja. Lalu ia pun melepas apron dan ikut duduk di hadapan sang kekasih.
"Ini sangat enak." Puji Queen tidak berbohong. "Apa aku boleh menghabiskan semuanya?"
"Habiskan."
"Kau tidak makan?"
Sean menggeleng.
"Kau juga harus makan. Buka mulutmu." Queen menyodorkan sepotong daging ke mulut Sean. Dan dengan senang hati Sean menerimanya.
"Enak kan?"
__ADS_1
Sean mengangguk kecil.
"Hampir dua bulan aku menetap di sini. Rasanya tidak pernah aku menemukan makanan selezat ini."
Sean tersenyum mendengarnya. "Kau harus memperhatikan pola makanmu, sayang. Kau tidak akan gemuk jika makan sesuai porsi."
"Hm." Queen tidak terlalu menanggapi karena begitu menikmati makan malamnya.
Sean tersenyum geli saat melihat Queen begitu lahap. Bahkan gadis itu mengabaikan keberadaannya. "Apa sangat enak?"
Queen mengangguk kuat. "Sejak kecil aku memang lebih suka makanan rumahan. Tapi di sini aku harus terbiasa dengan makanan luar. Dan masakanmu kali ini benar-benar sangat enak."
"Jika kau mau, aku akan memasak untukmu setiap hari."
Queen langsung mengangkat wajahnya saat mendengar itu. "Tidak perlu setiap hari, aku tahu kau itu orang sibuk. Mungkin setiap akhir pekan aku akan memintamu memasak makanan lezat untukku, bagaimana?"
Sean mengangguk kecil. Queen pun tersenyum dan kembali melanjutkan makannya.
Setelah acara makan malam selesai, Queen pun beranjak menuju kamarnya. Sedangkan Sean mengekorinya dari belakang.
Sean tersenyum tipis saat melihat kondisi kamar kekasihnya itu yang cukup rapi dan wangi.
"Aku harus mandi, kau mau tunggu di sini atau di depan?" Tanya Queen seraya melempar tas kuliahnya ke atas ranjang.
"Aku tunggu di sini saja."
"Baiklah." Queen pun beranjak ke kamar mandi karena memang sudah sangat gerah. Sedangkan Sean benar-benar menunggunya. Sambil melihat-lihat foto sang gadis yang terpajang di dinding.
Tiga puluh menit berikutnya Queen keluar dari kamar mandi. Gadis itu hanya mengenakan bathrobe yang membalut tubuh rampingnya. Sean merasa dejavu. Ia kembali mengingat kejadian pagi tadi.
Sial!
Miliknya di bawah sana kembali berkedut dan itu sangat menyiksanya.
"Kau tidak pulang?" Tanya Queen saat melihat Sean masih di sana.
"Sebentar lagi." Sean menatap Queen penuh arti. Lalu mendekati gadis itu.
"Em... apa malam kemarin kau menghapus pesan dari Uncle?"
Sean menatap Queen tidak senang. "Hm."
"Kenapa kau lakukan itu?" Tanya Queen yang sebenarnya sudah tahu jawabannya. Hanya saja ia ingin mendengar jawaban dari lelaki itu secara langsung.
"Menurutmu?" Tangan Sean mulai bergerak menyentuh rambut basa Queen.
"Kau cemburu?"
"Bagaimana pendapatmu?"
"Sean, aku bertanya padamu."
Sean menatap Queen lekat. "Aku yakin kau sudah tahu jawabanku, sayang. Jangan bertanya lagi."
__ADS_1
Queen tersenyum tipis. Lalu pandangan Sean pun turun ke bawah. Menatap belahan itu lagi. Ia mengutuk dirinya sendiri karena sering mengatai jika Queen memiliki dada yang rata. Padahal itu sama sekali tidak benar karena Queen memiliki ukuran dada yang lumayan menggoda.
"Ayok kita bercinta."