
Area 21+ yang belum cukup umur jangan ditambah-tambah ya hehe...
****
Bruk!
Juna mendorong tubuh Faizah telentang di kasur.
"Sudah saya bilang jangan godain," geram Juna mengukung tubuh mungil istrinya itu. "Jangan salahin saya kalau kamu gak bisa bangun besok pagi."
Faizah sama sekali tidak takut, justru ia malah menantang Juna dan mengalungkan tangannya di leher lelaki itu. "Katanya gak tergoda? Baru di sentuh dikit aja udah tegang."
Juna mengeratkan rahangnya, ia merasa Faizah benar-benar mempermainkan dirinya. "Jangan harap saya lepasin kamu, Izah."
"Ck, masih aja panggilannya gitu. Gak bisa apa yang lebih romantis. Sayang kek, apa kek yang menunjukkan aku ini istri kamu." Perotes Faizah.
"Saya gak suka ribet, Izah lebih simpel." Juna membuka kemeja dan langsung melemparnya asal. Dan kembali mengukung istrinya itu.
Faizah menelan saliva saat melihat dada bidang dan kokoh milik suaminya. Juga otot perut Juna yang seolah menggoda ingin di sentuh.
"Pengen pegang ini, boleh kan?" Tanpa persetujuan lagi Faizah menyentuh perut indah Juna.
Juna yang sejak awal sudah diselimuti kabut gairah pun langsung menyosor bibir ranum istrinya. Bahkan tangannya juga tidak ingin ketinggalan untuk menyentuh keindahan milik istrinya.
"Hhmmmf...." keluh Faizah saat tangan Juna memijat gunung kembarnya.
Juna melepas ciumannya. "Tadi kamu godain saya pake ini kan? Sekarang dia harus dapat hukuman."
"Uhhh... sakit. Pelan-pelan, aku gak bohong." Keluh Faizah saat merasakan ngilu dibagian gunung kembarnya itu.
Juna tidak mendengarnya dan terus memijatnya lembut. Tubuh Faizah melengkung, merasakan sakit dan nikmat sekaligus.
"Katanya sakit, kenapa sampe merem melek gitu huh?" Juna tersenyum miring dan menghentikan aksinya. "Kalau suka bilang aja."
Faizah memberikan tatapan tajam. "Yang duluan nyerang siapa? Aku kan tadi lagi mijit doang."
"Saya juga cuma pijit doang tadi." Juna mengecup leher harum istrinya.
"Terus ini apa pake cium-cium?" Faizah menggigit ujung bibirnya saat Juna menghisap kulit lehernya. "Ohh...."
"Cuma ngasih hadiah aja." Juna meloskan tanktop istrinya.
"Nah, ini apa lagi pake buka-buakaan? Aduh...." Faizah mengaduh saat tiba-tiba Juna melahap pucuk daging kenyalnya dengan rakus. "Sssttt... sakit, pelan-pelan dong."
"Kalau kamu masih berisik saya gak segan gigit punya kamu." Ancam Juna mengecup benda menantang itu bergantian.
"Ck, tinggal bilang pengen aja susah banget kayaknya. Banyak banget alasannya." Ketus Faizah sambil menikmati sentuhan suaminya itu. Ia tidak munafik kalau sentuhan Juna membuatnya mabuk kepayang.
"Jangan berisik."
__ADS_1
"Dih... mana ada orang bercinta diem aja." Protes Faizah.
"Kamu gak bisa ya kalau gak jawab? Dasar istri durhaka." Kesal Juna langsung membungkam mulut istrinya.
Entah bagaimana kini keduanya sudah sama-sama naked. Faizah terus menggelinjang dan meliuk saat Juna memberikan sentuhan lembut dan hangat. Meski lelaki itu terkesan dingin dan kasar, tapi jika masalah ranjang berbanding tebalik dengan sikapnya. Seolah ia tengah menyentuh benda yang teramat rapuh.
Kini wajah Juna berada di atas perut rata Faizah. Dikecupnya beberapa kali sebelum ciuman itu turun ke bawah.
"Ouhhh...." Faizah melengus saat Juna membenamkan wajah di antara pahanya. Dan ini yang paling Faizah sukai setelah beberapa kali mereka bercinta. Juna benar-benar membuatnya mabuk kepayang saat di atas ranjang.
Faizah menggigit bibirnya saat bibir Juna memberikan sapuan lembut di bawah sana. "Hmmm...."
Juna mengangkat wajahnya, ia tersenyum saat melihat wajah istrinya yang penuh gairah. "Masih pengen di sini atau lanjut?"
Ya, Juna selalu menanyakan itu setiap kali mereka bercinta. Dan tentu saja Faizah meminta lanjut karena sudah tak tahan ingin merasakan rudal milik Juna meledak di dalamnya.
"Sayangnya aku masih mau main-main." Goda Juna kembali membenamkan wajahnya di lembah harum sang istri. Sontak Faizah memekik kaget karena Juna memasukkan jarinya ke dalam sana dan bergerak nakal.
"Aahhh... kenapa gak langsung aja? Gak tahan, sayang." Faizah meremat rambut Juna dengan kasar.
"Ini terlalu cepat."
"Tapi aku ngantuk. Dipercepat aja, akhhh sial. Jangan keras-keras sakit." Keluh Faizah menjambak rambut Juna dengan kasar.
"Gak bakal ngantuk habis ini." Sahut Juna kembali menggencarkan aksinya. Tentu saja Faizah beberapa kali mendapat pelepasan karena ulah suaminya itu. Sampai tubuhnya pun lemas.
Dan sampailah pada permainan intinya. Juna mengerang nikmat saat benda perkasanya berhasil masuk ke dalam sangkarnya. Begitu pun dengan Faizah yang sejak tadi mendambakan kehangatan suaminya.
Cantik. Itulah yang saat ini Juna pikirkan. Ia tidak bisa berbohong jika istrinya itu sangat cantik apa lagi saat kondisi seperti ini.
Faizah membuka mata, sontak pandangan keduanya pun bertemu. "Capek?" Tanya Juna.
Faizah mengangguk. "Perut aku agak nyeri."
"Habis ini udah, salah sendiri kamu godain saya." Juna mempercepat temponya karena hampir mencapai puncak.
Faizah yang pada dasarnya lelah pun cuma bisa pasrah. Sampai....
Aahhhh...
Mereka berdua melenguh panjang karena berhasil meledak bersamaan. Juna mengecup bibir Faizah sebelum melepas penyatuan dan berbaring di sisinya. "Terima kasih."
Faizah mengangguk dengan mata yang sudah terpejam karena sangat mengantuk. Juna menarik tubuh mungil itu agar lebih merapat, lalu medekapnya dengan erat. Kemudian matanya ikut terpejam.
****
Faizah meggeliat kecil dan terbangun dari tidurnya saat sinar mentari mulai mengintip dibalik celah goreden. Namun, ia langsung menoleh saat wajahnya terkena hembusan napas Juna.
Seulas senyuman terbit dibibirnya saat mengingat kegilaan mereka malam tadi. "Bodoh banget cewek yang dulu pernah nolak kamu, Mas." Sebuah kecupan mendarat di bibir Juna.
__ADS_1
Tunggu! Dia panggil apa tadi? Mas? Oh... bukankah itu sebuah perkembangan yang bagus?
"Hah, lelah banget. Dia emang selalu gila kalau udah di atas ranjang. Mulut sama otak gak sejalan." Gumamnya. Saat hendak bangun, tangan kekar Juna langsung menahannya.
"Bentar lagi. Nanti kita mandi sama-sama. Kamu masih capek, tidur aja lagi." Titah Juna dengan suaranya yang seksi.
"Ck, badan aku lengket semua."
"Wajar, kamu meledak puluhan kali tadi malam." Sindir Juna.
"Ish... lebay. Mana ada puluhan kali. Kayak kamu enggak aja."
Juna tidak menyahut karena masih mengantuk. Sedangkan Faizah terlihat serius memandangi wajah tampan suaminya itu. "Mas, umur kamu beneran 45?"
Juna membuka mata. "Kenapa nanya gitu?"
"Enggak, aneh aja wajah sama umur kayak gak singkron. Bahkan badan kamu bagus banget kayak atlet." Puji Faizah tanpa di buat-buat.
"Protesnya jangan sama saya, sama yang ciptain aja." Jawab Juna sekenanya.
"Ck, salahnya kamu itu ngeselin sama gak ada romantis-romantisnya. Padahal pengen gitu dapat suami romantis kayak di film-film."
"Ya udah ambil aja di film, kok susah."
Faizah geram mendengarnya. Dipukulnya dada polos suaminya itu dengan keras. "Nyebelin."
Juna tidak menjawab lagi.
"Mas, gak ada niat gitu buat acara resepsi? Aku juga pengen dikenalin sama yang lain. Aku rasa gak ada yang tahu kamu udah nikah selain keluarga kita. Bahkan kelurga besar kamu juga kayak gak suka pas tahu aku hamil, apa lagi Halley. Dia jadi dingin sama aku." Tiba-tiba Faizah melow sendiri.
Juna membuka matanya, ditatapnya mata Faizah yang sudah berkaca-kaca. "Kenapa pagi-pagi udah cengeng sih?"
Faizah menarik napas panjang. "Aku tahu kamu kepaksa kan nikahin aku. Mungkin kamu juga bakal buang aku pas anak ini lahir. Makanya kamu gak mau orang tahu kalau aku ini istri kamu. Kamu malu karena punya istri jelek, pengangguran, gak seseksi...." Perkataan Faizah terhenti karena Juna membungkam mulutnya dengan bibir.
"Bawel." Cibir Juna yang berhasil membuat Faizah kesal setengah mati dan menangis sesegukkan.
Juna menarik istrinya itu dalam dekapan. Sontak tangisan Faizah semakin kencang. "Kenapa kamu jadi cengeng gini sih?"
"Gak tahu, tiba-tiba pengen nangis. Kamu sih bikin aku kesel terus."
"Hm." Juna mengeratkan pelukannya.
"Jadi beneran gak ada resepsi kayak pernikahan pertama kamu, Mas?" tanya Faizah memastikan.
"Buat apa? Buang uang aja."
Hati Faizah mencolos mendengar itu. Ia menarik diri dari dekapan Juna dan langsung bangun. "Ya udah, gak perlu resepsi. Sayang uang kamu habis, simpen aja buat pernikahan selanjutnya." Setelah mengatakan itu Faizah turun dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi. Tidak lama terdengar tangisan di dalam sana.
Juna berdecak sebal dan bangkit dari posisinya. "Ck, kenapa jadi gini sih? Emangnya resepsi itu harus banget ya?"
__ADS_1
Bersambung...