Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Gagal Unboxing


__ADS_3

Warning! Area dewasa (21+) yang masih di bawah umur harap menyingkir. Bijaklah dalam membaca.


...****...


Akad nikah pun digelar secara sederhana yang hanya dihadiri sanak keluarga. Tentu saja semuanya atas kesepakatan kedua belah pihak.


Dan kini Mercia pun resmi menyandang status istri dari Kingsley Michaelson. Gadis belia itu terlihat begitu anggun dengan balutan wedding gown berwarna putih, senada dengan beskap yang King kenakan. Kini kedua anak manusia itu resmi menjadi suami istri yang sah di mata hukum maupun agama. Tak ada lagi penghalang di antara mereka.


Mercia mencium tangan suaminya dengan khidmat, kemudian bergantian King memberikan kecupan mesra di kening istrinya. Semua orang memberikan tepuk tangan yang meriah saat menyaksikan momen sakral itu, juga tersenyum penuh haru.


Juna sampai menitikkan air mata sangking harunya, karena putri yang selalu ia manjakan kini sudah menjadi milik orang lain. Meski masih ada rasa tak rela dalam hatinya, tetapi ia akan belajar ikhlas. Demi kebahagian Mercia.


Faizah yang melihat itu langsung memeluknya, ia tahu sang suami begitu mencintai putri mereka. Ditatapnya wajah sang suami lekat. "Gak papa, Mas. Masih ada aku yang bakal nemenin kamu terus. Lambat laun, anak-anak pasti pergi buat nyari kebahagiaan masing-masing."


Juna membalas tatapan istrinya, lalu tersenyum kecil. Dikecupnya kening Faizah begitu mesra. "Terima kasih." Ucapnya tulus.


Faizah mengangguk, kemudian kembali menatap sang putri dan suaminya yang tengah menandatangai berkas pernikahan.


Setelah semua rangkaian acara selesai, mulai dari sungkeman, foto keluarga dan lain sebagainya. King dan Mercia pun beranjak ke kamar untuk beristirahat. Keduanya terus menyungkingkan senyuman bahagia.


"Sayang, bantu bukain." Rengek Mercia karena sejak tadi tak berhasil membuka gownnya. King tersenyum geli seraya mendatangi istrinya. Mercia pun langsung membelakangi suaminya. Tentu saja fokus lelaki itu langsung pecah saat melihat punggung mulus sang istri yang terekspos.


"Kamu sengaja mau goda aku ya?" Bisik King tepat di telinga Mercia. Spontan gadis itu pun berbalik.


"Dih, siapa juga yang mau godain kamu. Aku beneran gak bisa buka sendiri, kamunya aja yang punya pikiran mesum." Kesal Mercia tak terima dituduh seperti itu.


King tertawa kecil, ditariknya pinggang kecil sang istri sehingga tak ada lagi jarak di antara mereka. "Gak salah kan aku mesum sama istri sendiri? Lagian sekarang aku bebas mau apa-apain kamu juga. Kita udah halal, Sayang."


Mercia tersenyum geli sembari menempelkan kedua tangannya di dada sang suami. "Sabar, ini masih siang."


King tersenyum mesum. "Bukanya gak ada batasan buat pengantin baru hm? Aku rasa gak masalah mau siang atau malam. Sekarang aja ya? Udah gak tahan. Habis kamunya cantik banget." Ungkapnya yang kemudian mengecup pipi Mercia lembut.


Mercia terkekeh lucu. "Sabar dong, Sayang. Cepet bukain dulu. Gerah tahu." Pintanya tak sabaran dan kembali membelakangi sang suami.


Alih-alih membukakan resleting gown istrinya, King justru menggoda sang istri dengan mengecupi punggungnya. Mercia langsung terkesiap saat tangan kekar lelaki itu mengunci tubuhnya, sedangkan bibir kenyal itu terus menggerayangi tubuh belakangnya. Tentu saja bulu kuduk Mercia bangun semua. Namun tak bisa menolak keinginan suaminya itu. Karena ia juga menginginkannya.


"Sayang?" Lirih Mercia saat bibir King semakin naik ke lehernya, bahkan memberikan kecupan lembut yang berhasil membuat Mercia merinding. Tidak hanya itu, tangan lelaki itu terus bergerak menyusuri lekuk tubuh istrinya. Lalu dengan sekali tarikan meloloskan gown itu hingga teronggok di lantai.


Mercia mengeluarkan suara merdunya saat tangan lelaki itu semakin nakal, menyentuh gunung kembarnya yang masih mengkal. "Sssttt... sakit, pelan-pelan." Desisnya karena King memberikan pijatan di sana.


"Ini udah paling pelan, Sayang."


"Ssstt, tapi sakit." Desis Mercia lagi yang tak bohong jika bukit kembarnya benar-benar sakit.


King tersenyum dan kembali menjatuhkan kecupan di leher istrinya, bahkan menciptakan banyak mahakarya di sana. Membuat sang istri terus mengeluarkan d*s*h*n kecil yang merdu. Membuat hasrat lelaki itu semakin memburu.

__ADS_1


Tubuh Mercia seketika menegang saat meraskaan sesuatu yang keras menyentuh bokongnya. Otaknya mendadak kotor karena memikirkan hal lain. "Yang?"


"Hm, dia udah gak tahan, Sayang." Bisik King sembari menggigit kecil telinga istrinya. Sontak Mercia pun terpejam karena titik sensitifnya disentuh seperti itu.


"Sekarang ya? Aku gak tahan lagi." Imbuh King terus menggoda bagian tubuh istrinya yang sensitif.


"Bentar, Sayang." Kaget Mercia merasa ada seauatu yang keluar deras dari intinya.


"Kenapa?" Tanya King dengan napas memburunya. Ia benar-benar sudah dikuasi kabut gairah.


"Kayaknya aku haid deh."


"Hah?" Kaget King. "Jangan becanda, Yang."


Mercia berbalik. "Bentar, aku cek dulu ya." Cepat-cepat gadis itu pun berlari ke kamar mandi. Meninggalkan King yang masih terpaku ditempatnya.


Tidak lama Mercia pun menongolkan kepalanya di balik pintu kamar mandi. "Sayang, beneran haid. Gimana dong?"


King mengusap wajahnya dengan kasar, pasalnya saat ini ia benar-benar sudah On sekarang.


"Sorry." Ucap Mercia menggigit bibirnya.


King menjatuhkan bokongnya di kasur, lalu mengacak rambutnya frustrasi. Melihat itu Mercia pun merasa bersalah.


"Enggak, soalnya haid aku tuh gak beraturan. Jadi gak bisa diprediksi." Mercia menjawab apa adanya.


"Ck, kamu pasti udah rasain kan tanda-tandanya kalau mau haid? Gak mungkin kamu gak tahu, Sayang." Kesal King benar-benar frustrasi sekarang. Miliknya sudah tegang sempurna.


Mercia menghela napas kasar. "Aku kalau haid emang selalu tiba-tiba, Sayang. Beneran, aku gak bohong."


King kembali mengusap wajahnya dengan kasar, setelah itu bangkit kembali dan berjalan mendatangi Mercia. Sepertinya ia akan menuntuaskan semuanya sendirian.


"Minggir." Ketus King.


Mercia langsung menggeser tubuhnya dan membiarkan King masuk ke kamar mandi. "Yang, sorry." Lirihnya benar-benar merasa bersalah.


King tidak menjawab dan langsung melucuti pakaiannya. Lalu mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


Mercia menutup pintu kamar mandi, lalu mendatangi suaminya. "Mau aku bantu?"


King menoleh, menatap Mercia bingung.


"Aku udah belajar kok cara muasin suami selain gituan." Katanya masih dengan wajah penuh bersalah. Lalu tanpa aba-aba ia langsung mematikan shower dan berjongkok tepat di depan aset berharga suaminya yang sudah berdiri tegak. Tanpa menunggu lagi ia pun segera membantu suaminya.


King mengerang kenikmatan saat Mercia dengan lihai memuaskannya, bahkan kepala sampai menengadah sangking nikmatnya. Ia tak menyangka jika istrinya itu sangat pandai, padahal King tahu ini pertama kali untuk gadis itu.

__ADS_1


"Kamu sering nonton film dewasa ya?" Tanya King dengan suara seraknya. Lalu kembali mengerang saat sang istri memainkan tangannya dengan lincah.


"Enggak juga, dulu pernah sekali karena penasaran. Tapi aku langsung muntah-muntah karena jijik. Habis itu gak pernah lagi nonton. Terus kemaren aku coba lihat lagi karena gak mau dikataian lugu sama kamu. Agak jijik awalnya, tapi aku tahan demi kamu."


King tersenyum geli, tetapi detik berikutnya kembali mengerang panjang karena gadis itu melahap habis miliknya. "Sial! Aku ragu kamu gak pernah main, Cia."


Mercia tak menanggapi suaminya karena fokus untuk memuaskan King. Menebus kesalahannya meski ia masih agak canggung sebenarnya. Bahkan air matanya sampai menitik sangking besarnya milik sang suami. Mercia tak menyangka milik suaminya itu benar-benar jumbo. Tak bisa membayangkan saat miliknya dimasuki benda itu, pasti sangat menyakitkan. Membayangkannya saja membuat Mercia ngilu.


Setengah jam kemudian, King keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Rambutnya juga masih meneteskan air. Wajah kusutnya kini sudah kembali segar. King merasa puas dengan pelayanan istrinya itu. Ia akui gadisnya itu selalu membuatnya terkejut setiap saat.


Tidak lama dari itu Mercia juga keluar dari sana, lalu berjalan pati menuju ruang ganti. Namun, tidak lama ia pun keluar lagi.


"Yang." Panggilanya kemudian.


King menoleh. "Kenapa hm?"


"Pemabalutnya abis." Rengeknya seraya menunjukkan bungkus pembalut yang kosong. "Boleh minta beliin gak? Atau kamu minta aja sama Mama. Mungkin Mama masih ada stok. Mau ya? Please."


King menghela napas. "Iya, sayang. Sebentar."


Mercia tersenyum bahagia. "Makasih, Sayang."


King tersenyum, kemudian bergegas memakai bajunya.


Saat keluar, kebetulan King langsung bertemu Mama mertuanya. Faizah tersenyum geli saat melihat rambut basah King.


Lho, cepet banget unboxingnya? Perasaan baru masuk kamar deh. Anak zaman sekarang gercep banget ya? Batin Faizah.


"Ma." Panggil King yang berhasil membuat Faizah kaget.


"Ah, kenapa King?" Tanya Faizah gelagapan.


King menggaruk tengkuknya. "Itu, Mama punya stok pembalut gak? Cia haid."


Lah, gagal unboxing ternyata. Terus gimana nasib burungnya tuh? Pantesan cepet banget keluarnya. Faizah tertawa geli dalam hati.


"Sebentar, ada kayaknya. Tunggu Mama ambilin dulu." Cepat-cepat Faizah pun pergi ke kamarnya. Dan tidak perlu lama ia sudah kembali lagi membawa pembalut yang King minta.


"Nih." Faizah pun memberikannya pada King.


"Makasih, Ma." Ucap King sembari menerimanya. Lalu ia pun hendak masuk ke kamar lagi. Namun Faizah menahannya.


"King." Spontan King pun menoleh, menatapnya bingung. "Sabar ya?"


King tersenyum kikuk, lalu buru-buru masuk ke kamarnya. Tentu saja apa yang dilakukannya itu membuat Faizah tertawa lucu.

__ADS_1


__ADS_2