Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Biang Rusuh


__ADS_3

Sejak King lahir, Queen yang biasanya lincah dan cerewet kini menjadi pendiam. Dan hal itu tentunya membuat Rea dan Zain merasa bingung dan heran.


Malam hari, Zain mendatangi kamar Queen untuk melihat keadaan putri tersayangnya itu.


"Anak Daddy belum tidur? Kenapa huh? Besok kamu kan sekolah." Zain duduk di bibir ranjang. Mengusap kepala putrinya yang masih terjaga.


Queen merapatkan diri dan memeluk Zain begitu erat. "Daddy... apa Mommy tidak menyayangiku lagi? Setiap hari Mommy hanya bermain dengan adik. Mommy juga tidak pernah mendatangi kamarku lagi."


"Mommy sangat menyayangimu, sayang. Adik sedang sakit, jadi Mommy harus menjaganya terus. Jika adik sudah sembuh, Mommy pasti mendatangimu." Jelas Zain mengecup kening putrinya.


"Aku tidak mau punya adik lagi."


Zain memejamkan matanya. "Jangan bicara seperti itu, sayang."


"Mommy tidak menyayangiku lagi. Aku benci adik."


Zain memeluk Queen dengan erat. "Mommy, Daddy, sangat menyayangimu dan adik. Percayalah, sayang."


"Jika Mommy menyayangiku, Mommy akan datang sekarang. Sejak adik hadir, Mommy tidak pernah datang lagi. Padahal aku ingin tidur dipeluk Mommy." Tangisan Queen pun pecah.


"Sayang... jangan bicara seperti itu dong. Malam ini Daddy yang peluk okay? Adik tidak bisa ditinggal karena demam. Daddy harap kamu mengerti."


"Aku ingin Mommy, Dad."


Tanpa ada yang menyadari, sejak tadi Rea sudah berdiri di ambang pintu bersama baby King dalam gendongannya. Menyadari perubahan sikap putrinya Rea pun memutuskan untuk langsung menemuinya. Namun ia tak menyagka Queen akan mengatakan hal yang menggores hatinya.


Buliran bening menetes begitu saja dipelupuk matanya saat mendengar suara hati putri sulungnya. Ia sama sekali tak bermaksud untuk mengabaikan Queen. Beberapa hari ini King terus rewel karena demam, karena itu Rea tidak bisa membagi waktu untuk kedua anaknya. King terus menangis sepanjang waktu.


Rea menghapus jejak air matanya dan melangkah pelan mendekati ranjang Queen. Zain yang menyadari kehadiran sang istri pun menatapnya lekat. Rea duduk di pinggiran ranjang.


Pergerakan Rea pun mencuri perhatian Queen. "Mommy?"


Rea tersenyum lebar. "Kenapa anak Mommy belum tidur?"


Queen menatap Rea dan baby King bergantian. "Aku ingin di peluk Mommy."


"Kemari." Rea merentangkan sebelah tangannya. Dengan cepat Queen memeluknya. Ditatapnya sang adik yang tertidur dengan mulut terbuka.


"Biar King denganku." Pinta Zain. Namun Rea langsung menolak.


"King baru saja tertidur. Akan sulit jika dia terbangun lagi."


Queen menyentuh pipi adiknya dengan lembut. "Apa adik sakit?"


"Ya, sayang." Jawab Rea memberikan kecupan di pucuk kepala putrinya.


"Mommy, aku ingin tidur dengan Mommy malam ini." Pinta Queen bergelayut manja di lengan sang Mommy.


"Iya, sayang. Tidurlah."


"Tapi Mommy jangan pergi."

__ADS_1


"Iya, Mommy akan di sini sampai pagi."


Queen memeluknya erat dan mulai memejamkan mata.


Zain mengusap kepala istrinya. "Kau pasti lelah."


"Tidak apa, sayang." Rea tersenyum tulus. Kemudian ikut terpejam karena ia sangat lelah.


"Biar aku saja yang menggendong King, sepertinya dia sudah terlelap." Pinta Zain mengambil King dengan hati-hati. Bayi mungil itu menggeliat kecil dalam gendongannya. Merasa lebih bebas, Rea pun ikut berbaring sambil memeluk putrinya.


Zain tersenyum melihat kebersamaan mereka saat ini. Kebahagiaannya terasa begitu lengkap kini. Meski Queen sering menunjukkan kecemburuannya. Namun semua itu ia anggap sebagai bumbu kebahagian dalam keluarga kecilnya.


Pagi hari, Queen terbangun dari tidurnya dan tak menemukan sang Mommy. Sontak air matanya kembali berlinang.


"Mommy." Rengeknya. Tidak lama pintu kamar pun terbuka. Rea masuk dengan senyuman mengembang. Ibu dua anak itu terlihat lebih segar dari sebelumnya.


"Anak Mommy sudah bangun? Ayok mandi, kamu harus segera ke sekolah." Rea menggendong Queen ke kamar mandi. Queen terus memandang Rea dengan tatapan sedih.


"Jangan nangis. Tadi Mommy menidurkan adik sebentar."


"Mommy tidak sayang aku lagi."


Rea tersenyum geli seraya memberikan kecupan di kening putrinya. "Siapa bilang? Mommy itu sayang banget sama anak Mommy yang manja ini."


"Mommy lebih sayang adik. Setiap hari Mommy bersama adik, aku tidak suka."


Lagi-lagi Rea tersenyum lucu. "Adik kan masih bayi. Jadi Mommy yang harus menjaganya. Kamu juga tahu kan adik sedang sakit? Jangan cemburu dengan adik. Kalian anak Mommy yang tersayang."


"Berikan saja adik pada Mima. Supaya Mommy tidak sibuk lagi."


"Tidak mau." Queen menggeleng kuat dan langsung memeluk Rea begitu erat.


"Kalau Kakak saja tidak mau, sudah pasti adik juga tidak mau. Lagian Kakak mau apa kalau adik lebih sayang Mima dari pada kita?"


Queen menggeleng lagi. "Tapi sekarang Mommy lebih sering bermain dengan adik. Aku kan cemburu."


Rea tertawa renyah. "Sudah Mommy bilang kan? Adik sakit, jadi Mommy harus merawatnya."


"Hm." Queen mengangguk pelan. "Apa adik kesakitan?"


"Iya, sayang. Karena itu setiap hari adik terus menangis."


"Mommy, aku ingin tidur dengan adik malam ini boleh kan?"


"Boleh kok. Asal Kakak tidak ribut."


Queen tersenyum senang. "Mommy... aku ingin mandi dan pergi sekolah. Aku juga lapar, tapi Mommy harus menyuapiku."


"Siap, ratuku."


"Aku sayang Mommy."

__ADS_1


"Mommy juga sayang Kakak."


****


"Mommy!" Teriak Queen sedikit berlari menghampiri sang Mommy yang tengah mempercantik diri di kamar. Rea yang merasa terganggu pun menoleh sekilas, kemudian melanjutkan kembali aktivitasnya. Seolah sudah terbiasa dengan suara teriakan Queen di pagi hari.


"Ada apa sih Kak teriak-teriak gitu? Ini masih pagi." Sahut Rea masih sibuk merapikan rambutnya.


Queen menyebikkan bibirnya seraya mendekati Rea. "Lihat ini, Mom. Tasku dicoret Adek." Adunya menunjukkan kondisi tas kesayangan miliknya.


Rea pun berbalik dan melihat kondisi tas putrinya. Ia cukup kaget saat melihat kondisi tas Queen yang sudah dipenuhi coretan hasil karya putranya. Rea menghela napas berat, ada saja tingkah nakal anak-anaknya setiap hari. Membuat kepalanya hampir pecah.


"Besok Mommy belikan yang baru."


"Tapi tidak ada lagi model seperti ini, Mom. Ini limited edition. Hampir setiap hari dia membuatku kesal. Tas ini pemberian Uncle Juna, Mommy tahu kan ini tas kesayanganku? Hadiah ulang tahunku" Kesal Queen. Tidak lama King muncul dengan tampang polosnya. Si kecil pun berlari kecil dan memeluk sang Mommy.


Kini usia King sudah menginjak 3 tahun lebih, dan ia tumbuh menjadi anak yang super jahil. Tidak jarang pula ia membuat Queen marah dan mengamuk seperti sekarang ini.


"Mommy, aku lapar." Rengeknya seraya mengintip sang kakak dari ujung mata.


Rea menghela napas berat. "Adek, minta maaf pada Kakak. Ada apa sebenarnya? Kenapa Adek merusak tas Kakak sih?"


Queen melipat kedua tangannya di dada. Menunggu sang adik mengucapkan permintaan maaf padanya. Bukan sekali dua kali King merusak barang kesayangannya.


"Tidak mau! Aku lapar, Mom." Jawab King yang berhasil membuat keduanya kaget.


Rea membungkuk untuk menyejajarkan posisinya dengan sang anak. "Sayang, sejak kapak kamu bersikap tidak bertanggung jawab seperti ini huh?"


"Kakak jahat, aku tidak mau minta maaf. Kakak bilang aku bukan anak Mommy dan Daddy."


Mendengar itu Rea langsung menatap putrinya. "Benar itu, Kak?"


Queen menghela napas pendek. "Aku hanya bercanda, baper banget sih." Ketusnya.


"Sayang, adik masih kecil. Jangan asal bicara dong. Kamu itu harusnya menjaga dan mengajarkan hal baik pada adik. Bukan mengatakan hal yang tidak benar." Omel Rea.


Queen memutar bola matanya malas. "Okay sorry, lalu bagaimana dengan tasku?"


"Minta saja pada Uncle jelek itu." Sahut King yang berhasil mendapat tatapan membunuh dari sang Kakak. Sedangkan Rea hanya bisa menggeleng pelan.


"Hey, Uncle itu tampan tahu."


"Jelek."


"Tampan, kamu yang jelek."


Rea menghela napas berat. "Sudah jangan berdebat, ayok kita sarapan. Sebentar lagi Daddy pulang."


"Mommy, apa Daddy bawa hadiah lagi?" Tanya King dengan senyumannya yang khas.


"Daddy tidak akan membelikan hadiah pada anak nakal sepertimu." Queen menjulurkan lidahnya sebelum pergi dari sana.

__ADS_1


"Mommy." Rengek King tidak terima mendapat ledekan dari sang Kakak.


"Jangan dengarkan Kakak, ayok sarapan." Rea benar-benar pusing dengan tingkah keduanya yang tidak pernah akur. Keduanya selalu saja membuat rumah heboh dan rusuh. Sepertinya Rea harus esktra bersabar menghadapi tingkah kedua anaknya itu.


__ADS_2