Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Ratu kecil


__ADS_3

Sejak tiga puluh menit yang lalu, Juna terus memandangi layar ponselnya. Memperlihatkan sebuah pesan yang dikirim oleh Queen.


Selamat atas pertunanganmu, Uncle. Tidak jadi masalah kau melupakanku. Sempat sakit sih saat tahu kau akan menikah, dan aku tahu kabar itu dari orang lain. Aku pikir... aku memang tidak pernah bersarang dihatimu, meski itu hanya menjadi seorang anak mungkin. Terima kasih atas semuanya, Uncle. Maaf selalu mengganggumu selama ini. Sekali lagi aku ucapkan selamat berbahagia. Aku mencintaimu.


Juna memijat batang hidungnya karena pusing. Lalu tidak lama Clarie masuk ke ruangannya. Wanita itu menatap Juna aneh, kemudian duduk di depannya. Wanita itu sempat melihat isi pesan Queen di ponsel Juna.


"Apa lagi sekarang?" Tanyanya.


Juna tersenyum, kemudian menggeleng pelan seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku jas.


"Masih ada waktu untuk membatalkan semuanya. Jangan bohongi hatimu, Juna." Imbuh Clarie menatap calon suaminya lamat-lamat.


Juna terdiam sejenak. "Tidak ada yang perlu aku batalkan."


Clarie menghela napas berat. "Jangan sampai kau menyesal nantinya. Saranku... sebaiknya kau katakan apa pun alasanmu padanya. Aku bisa melihat cinta di antara kalian. Apa kau takut pada Ayahnya? Dengarkan, jika memang kalian berjodoh, orang tua juga tidak akan bisa melarang."


Lagi-lagi Juna terdiam. "Ini masalahku, Zain tidak pernah mengatakan apa pun padaku. Aku sudah terlanjur menyakiti putrinya."


"Tapi kau masih bisa memperbaikinya bukan?"


"Aku tidak bisa gegabah. Kau tahu alasanku menolaknya, jadi jangan memaksaku."


"Itu artinya kau pengecut. Aku rasa dia akan menerimamu apa pun kondisimu."


Juna memicingkan matanya. "Kau tidak akan mengerti situasinya. Dia masih terlalu muda untuk memahami semuanya. Menikah denganku hanya akan membuatnya menderita."


"Kau belum mencobanya, aku harap kau tidak menyesal nantinya."


"Bagaimana dengan undangan?" Tanya Juna mengalihkan pembicaraan. Clarie hanya bisa membuang napas kasar.


"Semuanya sudah aman."


"Hm." Juna membuka sebuah dokumen. Lalu mengeceknya dengan serius. Tentu saja semua itu tak lepas dari pengawasan Clarie.


"Seorang billionaire Amerika berusaha mendekatinya, aku rasa kau tahu itu. Lelaki itu belum tentu memiliki niat baik."


Juna menjeda kegiatannya. Menatap Clarie lekat. "Berhenti membicarakannya."


"Tapi hatimu terus tertuju padanya, Arjuan. Tidak perlu membohongiku. Sejak dia pergi, kau sedikit berbeda. Kau lebih sering termenung dan pendiam."


Juna tidak menanggapi dan melanjutkan kembali pekerjaannya.


"Baiklah, aku pergi. Pikirkan semua perkataanku, Arjuna si pengecut." Ledek Clarie. Wanita itu tersenyum dan berlalu pergi dari ruangan lelaki itu.


Sepeninggalan Clarie, Juna meletakkan dokumen itu ketempatnya. Lalu mengeluarkan ponselnya kembali. Ia tersenyum tipis saat melihat gambar dirinya dan Queen saat hari wisuda itu. "Aku akan terus mengawasimu, semoga kau bahagia di sana, ratu kecil."


****

__ADS_1


Di kediaman Zayn dan Rea. Sepasang suami istri itu tengah bercengkrama di kamar. Rea terlihat bergelayut manja di pelukan suaminya.


"Aku memikirkan Queen, Kak." Rea pun membuka pembicaraan.


"Kau pikir aku tidak? Setiap saat aku selalu memikirkan gadis kecilku."


"Bagaimana jika dia tahu kita menyembunyikan kabar pernikahan Juna darinya? Aku rasa Queen akan membenci kita." Terlihat jelas ketakutan di mata wanita itu.


"Kita punya alasan untuk itu, sayang. Aku tidak ingin mengambil resiko lagi. Queen sama kerasnya sepertimu, bagaimana jika dia menghancurkan pernikahan kedua Juna huh? Aku rasa dia akan menjadi perjaka tua nantinya."


Rea tertawa renyah. "Kau sudah coba bicara pada Juna?"


"Sudah, dia menolaknya."


"Apa yang dia sembunyikan sebenarnya?"


"Aku sendiri tidak tahu, sayang."


Rea menghela napas pendek. "Aku merindukan putriku, sedang apa dia sekarang?"


"Sepertinya dia masih kuliah. Anak itu sangat sibuk akhir-akhir ini."


"Jika sudah serius, dia sangat mirip sepertimu, Kak."


"Tentu saja, dia putriku satu-satunya."


Rea tersenyum dan memeluk suaminya erat sampai keduanya pun tertidur dalam pelukan hangat yang mereka ciptakan sendiri.


Queen memeluk buku-buku tebal itu sambil memandang ke arah Sean. Lelaki itu duduk dengan begitu santai seolah tidak ada beban dalam hidupnya.



"Hey, bagaimana kau bisa ada di sini?" Queen mendekati lelaki itu.


"Karena separuh jiwaku ada di sini, aku hanya mengikuti kata hati saja." Jawab Sean memberikan senyumannya yang menawan.


Queen memutar bola matanya malas. "Karena kau di sini, sebaiknya kau teraktir aku makan. Aku sangar lapar karena sejak pagi perutku kosong." Gadis itu memasang wajah imutnya. Membuat Sean terpana dan tidak bisa menyembunyikan ketertarikannya.


"Kau bebas memilih tempatnya, baby." Sean bangkit, merapikan jasnya yang sedikit berantakan.


Queen tersenyum senang. "Kalau begitu ayok berangkat sekarang. Cacing diperutku sudah berdemo sejak tadi."


Sean tertawa kecil. "Aku tidak pernah tahu kau begitu tidak sabaran." Ia pun meraih tangan Queen dan membawanya pergi dari kelas. Sean tersenyum senang karena Queen tidak menolak genggaman tangannya.


Di luar... Queen mendadak bingung dengan tatapan semua mahasiswa padanya. Ah, sepertinya mereka bukan menatap dirinya. Melainkan lelaki yang ada di sebelahnya. Queen menoleh, dan secara bersamaan Sean juga menoleh. Alhasil keduanya pun kontak mata. Namun cepat-cepat Queen memalingkan wajahnya. Bahkan jantungnya berdetak tak karuan.


Sesampainya di parkiran, Sean mempersilahan Queen masuk ke dalam mobil mewah miliknya. Kemudian ia pun ikut masuk.

__ADS_1


"Tunggu! Jika aku perhatikan, setiap kita bertemu... mobilmu selalu berbeda. Kau menyewanya? Aku rasa ini terlalu berlebihan, dari pada kau membuang uang untuk menyewa mobil semahal ini. Lebih baik uangnya kau pakai untuk hal yang lebih penting." Oceh Queen.


Sean tersenyum, mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia tidak ingin membuang waktu berharga bersama gadis itu. "Uangku banyak, mobil ini tidaklah berharga bagiku."


Queen berdecih pelan. "Sombong sekali Anda. Memangnya kau berkerja di mana? Aku perhatikan kau sangat jarang bekerja."


Sean melirik Queen sekilas. "Kau belum mencari tahu siapa aku huh?"


"Buat apa? Memangnya kau selebritis? Tidak penting bagiku kau siapa. Yang aku tahu kau itu pria menyebalkan."


Lagi-lagi Sean tersenyum mendengar ocehan Queen. "Cepat atau lambat kau akan tahu pekerjaanku. Oh iya, kapan-kapan aku akan memperkenalkanmu pada orang terpenting dalam hidupku."


"Wow... apa dia kekasihmu? Oh... atau istrimu?"


"Kau akan tahu nanti."


"Baiklah, aku akan sabar menunggu. Em... ngomong-ngomong, berapa usiamu?"


Sean melirik gadis itu lagi. "Coba kau tebak."


"Em...." Queen berpikir keras. "Mungkin empat puluh tahun." Guraunya.


"Apa wajahku setua itu?" Tanya Sean terlihat serius. Sontak Queen pun tertawa lepas.


"Aku hanya bercanda. Kali ini biar aku tebak dengan benar." Queen menatap Sean dengan serius. "Mungkin tiga puluh lebih."


Sean tersenyum. "Hm... usiaku tiga puluh lima. Sangat jauh darimu bukan?"


"Ya, selisih kita tujuh belas tahun. Tapi itu bukanlah masalah, lagi pula kau masih begitu tampan." Queen memberikan pujian tulus.


"Benarkah?"


"Ya, setidaknya aku tidak akan malu saat berdiri disisimu."


Sean mendengus sebal mendengar itu. Namun gadis itu malah tertawa renyah. "Wajahmu sangat lucu saat sedang kesal."


Sean memilih diam.


"Ck, kenapa tidak sampai-sampai sih? Kemana kau akan membawaku huh?"


"Pelaminan."


"Hey... aku serius, Tuan."


"Restoran tempatku biasa makan. Di sana makanannya lezat-lezat."


"Benarkah? Bukankah kau mengatakan aku bebas menentukan tempat, lalu sekarang kau yang menentukannya. Perkataanmu tidak bisa di pegang, Tuan."

__ADS_1


Sean tersenyum tipis. "Kau akan menyesal jika tidak ke sana."


"Baiklah, mari kita lihat seberapa enak resroran andalanmu itu. Aku jadi tidak sabar untuk mencicipinya." Queen tersenyum senang. Sean yang melihat itu ikut tersenyum. Ternyata tidak sesusah yang dipikirkannya untuk membahagian gadis itu.


__ADS_2