
"Oh my god!" Pekik seseorang yang berhasil membuat Zain dan Rea terperanjat kaget. Orang itu pun langsung berbalik saat melihat adegan tak senonoh di depan matanya.
"Sial!" Umpat Zain cepat-cepat menutup tubuh istrinya dengan jas. Wajah Rea pun memerah karena menahan rasa malu bercampur panik. Dengan gerak cepat ia memunguti pakaian dan memakainya. Begitupun dengan Zain, ia kembali mengenakan pakaian lengkap. Setelah itu langsung melayangkan tatapan membunuh pada lelaki yang saat ini masih berdiri membelakangi keduanya.
"Sudah aku katakan ketuk pintu dulu, Mike. Sialan kau!" Maki Zain. Ya, orang itu adalah Mike, si otak mesum.
"Maafkan aku, aku pikir kau sedang free. Ini sudah waktunya makan siang. Rupanya kau sedang memakan makanan lezat. Maaf aku melihat sedikit tadi."
"Sialan! Bereskan barang-barangmu, Mike. Aku memecatmu." Terlihat jelas kemarahan di mata Zain. Bagaimana tidak, bukan sekali dua kali Mike masuk tanpa mengetuk pintu. Seolah itu sudah menjadi kebiasaanya.
Sontak lelaki itu pun berbalik. "Zain, itu tidak adil. Mana aku tahu kau sedang bercinta?"
"Kau sudah sembarangan masuk ke ruanganku. Kau pikir ini hotel sampai sesuka hatimu keluar masuk?"
Mike menghela napas berat. "Bisakah kau memberikan kesempatan untukku?"
"Tidak. Kau membuat istriku kaget setengah mati. Sudah sering kali kau mengulang kesalahan. Pergilah."
Mike menatap Zain dan Rea bergantian. "Baiklah. Maafkan aku karena menggangu kesenangan kalian. Lanjutkan saja. Tadi itu sangat seru."
"Sialan kau!"
Mike langsung menutup pintu sebelum mendapat amukan dari bosnya itu. Berbeda dengan Zain, wajahnya terlihat merah padam karena masih kaget bercampur kesal.
"Apa dia melihatku tadi?" Tanya Rea cemas. Zain berbalik untuk menatap istrinya.
"Lupakan itu, aku sudah memecatnya."
"Apa itu tidak berlebihan? Dia sama sekali tidak bersalah. Kita yang ceroboh karena tidak mengunci pintu." Ujar Rea merasa bersalah. Bagaimana pun ia tahu Mike adalah orang yang cukup berpengaruh dalam perusahaan.
"Tidak perlu memikirkannya. Sabaiknya aku antar kamu pulang." Ajak Zain. Rea pun mengangguk pasrah. Ia masih syok soal tadi. Entah apa yang akan terjadi saat bertemu Mike nanti? Rea sangat malu tentunya.
****
Rea terlihat begitu cantik dengan balutan dress merah yang memperlihatkan keindahan ditubuhnya. Rambutnya sengaja ia gerai, menutupi leher jenjangnya yang mulus. Rea terus memperhatikan penampilannya dari balik cermin. Tidak lama Zain muncul di belakangnya. Lelaki itu pun tak kalah tampan dengan balutan tuxedo hitam yang membungkus tubuh atletisnya.
Zain menatap pantulan istrinya di cermin. Ia begitu kagum melihat kecantikan sang istri. Tangan kekarnya mulai bergerak untuk memeluk perut rata istri cantiknya. "Kau sangat cantik, rasanya aku tidak rela orang lain melihat kecantikanmu."
Rea tersenyum lebar. "Dulu kau tidak melirikku, sekarang kau bilang aku cantik. Lelaki memang menomor satukan penampilan."
"Sebenarnya dulu kau cantik juga, hanya saja saat itu kau terlalu polos. Dulu kau belum bisa aku sentuh, berbeda dengan sekarang, aku bisa membuat manusia baru di sini." Zain mengelus perut istrinya dengan lembut.
Rea tertawa renyah. "Kau memang mesum. Aku sudah siap, ayok kita berangkat."
"Sebentar lagi. Aku belum puas memandangmu." Zain memberikan kecupan di pundak istrinya yang tak tertutup kain. Namun matanya terus tertuju pada wajah cantik Rea.
"Sampai kapan huh? Setiap malam juga kau terus memandangku." Rea membalik tubuhnya. Lalu mendongak agar bisa menatap wajah tampan sang suami.
Merasa gemas, Zain pun mengecup bibir merona sang istri. "Apa sebaiknya kita tidak perlu pergi."
"Kak, ini acara perusahanmu. Bagaimana bisa kita tidak datang?"
"Aku tidak tahan untuk menyentuhmu." Bisik Zain menggoda telinga istrinya.
"Jangan menggodaku. Kita sudah terlambat, sayang."
__ADS_1
Zain mendengus pelan. "Baiklah, ayok kita berangkat."
Rea tertawa geli, lalu ia pun mengaitkan tangannya di lengan Zain. Kemudian mereka pun beranjak pergi.
Suara alunan musik terdengar begitu merdu, seolah menyambut kehadiran Zain dan Rea. Semua orang memberikan sapaan hangat pada keduanya. Bahkan banyak mata yang memuja kecantikan dan ketampanan pasutri yang satu itu.
"Banyak sekali tamu undangannya." Bisik Rea.
"Kita memenangkan tander besar, tentu saja pestanya harus meriah."
"Huh, aku tidak mengerti kenapa harus ada pesta setelah memenangkan tander."
"Kita harus berbagi kebahagiaan, sayang. Ini salah satu apresiasi untuk para karyawan yang sudah bekerja keras."
Rea pun mengangguk paham. Matanya terus bergerak menyisir kerumunan orang. Berharap ia menemukan seseorang yang dikenalnya. Namun ia sama sekali tak menemukan satu orang pun.
Tidak lama segerombolan pemuda berwajah tampan menghampiri mereka. Yang tak lain adalah teman-teman Zain yang sempat meminta diperkenalkan dengan Rea di instagram pekan lalu. Tanpa ragu Zain pun memperkenalkan istri cantiknya pada mereka. Tidak ayal para pemuda itu berdecak kagum akan kecantikan yang Rea miliki. Setelah bercengrama dengan teman-temannya. Zain membawa Rea untuk menyapa tamu yang lain.
"Selamat malam, Tuan Michaelson." Sapa seseorang yang berhasil menarik perhatian Rea dan Zain.
"Ah, senang bisa bertemu lagi dengan Anda, Tuan William." Balas Zain menyalami lelaki itu yang tak lain adalah William yang datang bersama Zee. Mata lelaki itu terus tertuju pada Rea.
Sial! Kenapa kau sangat cantik, Rea. Seharusnya aku lebih dulu mengenalmu.
Rea yang melihat wanita itu pun langsung memasang wajah datar. Ia masih mengingat jelas bagaimana Zee hampir mencelakai dirinya dan sang jabang bayi.
"Hai, Re. Aku ingin meminta maaf atas kejadian lalu. Aku harap kau memaafkanku, aku sangat menyesal."
Rea yang mendengar itu tersenyum getir. "Sulit untukku melupakannya."
"Sayang, aku sangat lapar. Sebaiknya kita cari makanan lezat." Ajak Rea merasa enggan berbincang dengan wanita ular seperti Zee. Bahkan Rea sudah bisa membaca kepura-puraan diwajah wanita itu.
"Kau kesal karena lelaki itu tidak melirikmu? Aku saja tidak akan melirikmu jika saja wanita cantik itu disisiku. Ah, dia benar-benar sangat cantik. Aku ingin segera menariknya dalam dekapan."
Zee memelototi William karena tak terima diledek. Bahkan dengan terang-terangan lelaki itu membandingkan dirinya dengan Rea.
"Kau memang brengsek. Akan aku pastikan malam ini kau mendapatkannya. Aku harap kau membawanya jauh dari sisi Zain."
"Bagus, lakukan tugasmu dengan baik, Nona. Akan aku pastikan dia menjadi milikku malam ini."
Zee mendengus sebal. Lalu beranjak pergi meninggalkan William.
Sedangkan di tempat lain, Zain tampak menuruti keinginan istrinya.
"Masih ada lagi?"
"Aku rasa ini sudah cukup. Takutnya tidak habis." Rea menatap piring yang sudah dipenuhi berbagai jenis kue dan makanan lezat.
"Sekarang kau makan berdua, jadi porsinya harus banyak."
"Ugh... aku tidak mau gemuk. Bagaimana jika kau lari nantinya huh?"
"Mana mungkin aku lari, kau gemuk juga aku pelakunya." Goda Zain yang berhasil membuat pipi Rea merona.
"Sayang, ini tempat umum. Berhenti menggodaku." Kesal Rea. Saat ini pipinya terasa seperti terbakar. Zain tersenyum simpul.
__ADS_1
"Kita cari tempat duduk. Tidak baik kau terus berdiri." Ajak Zain yang dijawab anggukan oleh Rea. Lalu mereka pun melangkah menuju meja bundar yang masih kosong. Di sana Rea pun makan dengan begitu lahap. Beruntung kehamilan tidak membatasinya makan dan beraktivitas. Sepertinya baby tahu jika sang Mommy orang sibuk, jadi tidak banyak bertingkah.
"Sayang, kau tunggu di sini sebentar. Aku akan menyapa yang lain dulu."
Dengan mulut yang dipenuhi makanan, Rea pun mengangguk. Zain merasa gemas melihat istrinya yang seperti itu, ia pun mengecup ujung bibir sang istri.
"Manis, aku suka." Ucap Zain yang kemudian beranjak pergi. Rea pun hanya bisa tersenyum sambil menatap punggung Zain yang menghilang di antara kerumunan orang. Setelah itu ia pun melanjutkan makannya lagi.
Sepeninggalan Zain. William pun tak menyiakan kesempatan. Tanpa rasa malu ia pun duduk di depan Rea.
Rea sempat kaget akan kehadiran lelaki itu.
"Apa aku mengganggumu?" Tanya lelaki itu menatap Rea penuh kagum. Tentu saja Rea bisa melihat itu.
"Ya, seharusnya kau tidak duduk di sini. Aku istri orang, dan kau kekasih orang. Tidak baik jika dilihat oleh paparazi." Jawab Rea menggunakan bahasa Rusia yang begitu kental. Namun hal itu malah membuat William samakin tertarik padanya. Tentu saja ia mengerti apa yang Rea katakan.
"Bahasa Rusiamu sangat bagus."
"Hm. Aku besar di sana." Rea melirik lelaki itu sekilas. Kemudian fokus kembali pada makanan di atas piring.
"Minuman Anda, Nona." Seorang waiters pun memberikan segelas minuman pada Rea.
"Hey, aku tidak memintanya." Seru Rea.
"Maaf, Nona. Suami Anda yang meminta saya untuk membawakan ini."
Rea tersenyum senang mendengarnya. "Oh, terima kasih kalau begitu. Suamiku itu memang sangat perhatian."
"Sama-sama, Nona." Sang waiter itu pun beranjak pergi dari sana.
"Wah, suamimu ternyata sangat bertanggung jawab." Puji William seraya mengulas senyuman penuh arti.
"Tentu saja." Tanpa menaruh curiga, Rea pun langsung menyesap minuman itu. Kemudian menyapu pandangannya ke sekeliling. Mencari kebradaan sang suami. Rea tersenyum saat melihat Zain menatap ke arahnya. Lelaki itu tersenyum begitu manis. Namun itu tidak berlangsung lama, karena Zain kembali berbincang dengan rekan kerjanya.
"Kau bahagia?" Tanya William yang berhasil menarik perhatian Rea. Wanita itu pun mengerut bingung.
"Ah, wajahmu memancarkan aura kebahagiaan." Jelas William.
"Hm. Kenapa kau di sini? Di mana kekasihmu? Atau jangan-jangan dia sedang mencoba menggoda suamiku? Kalian bekerja sama?"
William tersenyum simpul. "Jangan berburuk sangka. Aku hanya ingin berteman denganmu."
"Aku tidak suka berteman dengan orang asing." Balas Rea dengan entengnya.
"Kau sangat menarik."
Mendengar itu Rea langsung tersenyum sinis. "Jadi kau tertarik padaku? Sayang sekali, aku tidak tertarik dengan kekasih orang. Suamiku sudah cukup tampan untuk aku miliki."
William tersenyum simpul. "Kita akan tahu sebentar lagi, kau akan tertarik atau tidak."
Rea berdecih sebal. "Tentu saja tidak."
Tidak lama dari itu...
Rea merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya. Kulitnya seperti terbakar, bahkan bagian intimnya terasa sangat gatal dan basah. Gairahnya mendadak memuncak dan kesadarannya pun menghilang. Kini otaknya mulai berfantasi liar.
__ADS_1
Akh... apa yang terjadi padaku?
William tersenyum penuh arti.