
Pagi hari saat Jef keluar dari kamarnya, ia merasa heran karena mencium aroma sedap dari arah dapur. Perlahan tapi pasti ia pun berjalan ke sana. Dan menemukan Alana sedang memasak di sana.
"Alana." Panggilnya yang berhasil membuat gadis itu kaget dan langsung berbalik.
Alana menghela napas kasar. "Kau sudah bangun, tadi aku ingin membangunkanmu. Tapi takut mengganggumu. Duduklah, aku masak sesuatu untuk kita makan pagi ini."
Jef menatapnya lakat. "Kau mengingatku?" Tanyanya merasa heran.
Alana pun tersadar. "Kau benar. Ya Tuhan! Aku masih mengingatmu?" Gadis itu coba mengingat-ingat lagi soal kemarin. Dan ia masih ingat Jef lah yang menolongnya.
"Ya ampun!" Pekiknya kemudian yang berhasil membuat Jef kaget. Alana menatap Jef dengan senyuman manisnya. "Aku juga masih ingat kejadian kemarin. Kau yang menolongku, tapi sebelum itu...." ia kembali berpikir keras karena berusaha mengingat kejadian demi kejadian.
"Cukup!" Seru Jef membuat Alana berhenti berpikir. "Kau tidak perlu memaksanya. Mengingat sedikit saja sudah cukup."
Alana mengangguk setuju, lalu gadis itu pun lanjut memasak sambil bersenandung kecil. Sedangkan Jef duduk untuk menunggu makanan siap. Ditatapnya Alana lamat-lamat. Sekilas gadis itu mirip dengan Mercia jika dari belakang.
Jef terkesiap karena bisa-bisanya ia mengingat Mercia. Cepat-cepat ia pun mengenyahkan pikirannya.
"Alana." Panggil Jef lagi. Spontan gadis itu berbalik.
Jef menaruh sebuah ponsel di atas meja. "Ini ponsel untukmu, hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu. Hari ini jadwal kuliahku sampai sore. Dan aku ada janji dengan teman, jadi kemungkinan akan pulang malam. Di ponsel ini hanya ada nomorku dan fotoku. Anggap saja ini rumahmu, enjoy." Jelasnya panjang lebar sampai Alana melongo. Setelah itu Jef pun langsung pergi dan melupakan niatnya untuk sarapan bersama Alana.
Alana pun tersadar. "Hei, bagaimana dengan sarapanmu?" Teriaknya. Sayangnya Jef sudah pergi.
Alana menghela napas kasar. "Jadi siapa yang akan menghabiskan makanannya?" Keluhnya karena ia masak omelet lumayan banyak. "Ya sudah, aku simpan saja untuk nanti siang. Sepertinya besok aku harus bangun lebih cepat." Gumamnya.
Alhasil ia pun makan sendirian, tetapi untuk pertama kalinya Alana merasakan ketenangan dan rasanya beban berat di pundaknya seolah lenyap begitu saja. Diraihnya ponsel yang Jef tinggalkan tadi, lalu iseng membukanya. Benar saja hanya ada foto dan nomor ponsel lelaki itu. Alana tersenyum sendiri. Namun, tiba-tiba saja tangannya terpeleset dan terpanggil nomor itu.
Alana panik sendiri dan hendak menutupnya, sayang sekali Jef sudah mengangkatnya.
"Hallo, Alana. Ada apa? Apa terjadi sesuatu? Aku masih di bawah."
Alana menggeleng, entah apa gunanya karena Jef tak akan melihatnya kecuali lelaki itu sedang melihatnya dari cctv. "Tidak, tadi aku hanya ingin memastikan ini benar nomormu atau bukan, Jef." Alibinya.
Terdengar helaan nepas lega di sana. "Kau tidak perlu memastikan, itu memang nomorku."
"Ah, kau benar." Sahut Alana menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Entah kenapa ia mendadak bodoh.
"Ya sudah, aku tutup dulu. Seperti yang aku katakan tadi, enjoy. Anggap rumahmu sendiri."
__ADS_1
"Ya." Sahut Alana. Lalu Jef pun langsung memutuskan panggilan. Alana menghela napas, lalu menaruh ponsel itu lagi ke tempat semula. Tak mau hal seperti tadi terjadi lagi.
Jef tersenyum tipis setelah memutus panggilan, lalu bergegas masuk ke dalam mobil karena tak ingin terlambat masuk kelas.
****
Malam hari, Alana duduk bersandar di sofa sambil menonton film romansa. Mulutnya sedari tak berhenti mengunyah makanan ringan, sesekali ia tersenyum saat melihat adegan romantis. Lalu memekik sendiri saat pemeran berciuman mesra. Dan hal itu terus berlanjut sampai dirinya tertidur karena lelah.
Jef yang baru saja pulang pun merasa heran saat mendengar suara televisi. Karena penasaran ia pun melihatnya, dan sedikit kaget karena Alana tertidur di sana dengan posisi meringkuk seperti anak kecil. Jef tersenyum kecil dan bergegas ke kamar.
Tidak lama ia kembali lagi dengan sebuah selimut tebal. Dengan hati-hati menyelimuti gadis itu, tak ingin membuatnya terbangun. Setelah itu ia pun mematikan televisi dan kembali ke kamar karena dirinya juga sudah mengantuk.
Keesokan harinya, Jef terbangun lebih dulu. Masih dengan pakaian tidurnya, Jef berjalan malas ke dapur lalu mengambil air mineral dari kulkas dan meminumnya.
Namuan, saat berbalik ef terkejut karena Alana sudah menodongkan tongkat bisball padanya. Entah dari mana gadis itu mendapatkannya.
Jef terlihat santai karena tahu penyakit gadis itu sedang kambuh.
"Siapa kau?" Alana semakin mengacungkan tongkat ditangannya pada Jef. Alhasil Jef pun mundur beberapa langkah.
"Alana." Jef menyebut nama gadis itu dengan hati-hati.
Dengan sigap Jef menahan tubuh gadis itu yang hampir jatuh. "Tenanglah, Alana."
Alana didudukkan di kursi, lalu Jef coba menenangkannya. Alana menatap Jef bingung sambil sesekali menyentuh kepalanya yang terasa nyeri.
"Alana, dengarkan aku. Aku akan membawamu ke rumah sakit. Kita lakukan perawatan mulai sekarang okay? Supaya kau bisa mengingat semuanya lagi." Jef mengusap lengan gadis itu iba.
Alana memejamkan matanya, mencari sebuah ingatan apa pun. Sayangnya ia tak menemukan itu. Jef berjongkok di depannya.
"Dengarkan aku, Alana." Jef berusaha menarik perhatiannya. Beruntung itu berhasil karena Alana menatapnya sekarang. "Jangan memaksa dirimu untuk mengingat apa pun okay? Itu hanya akan memperburuk kondisimu. Kau harus tenang, aku tidak akan menyakitimu."
Alana mengangguk patuh meski masih kelihatan bingung. "Kau siapa?" Tanyanya lagi.
Jef menghela napas. "Aku...." pemuda itu tampak berpikir karena bingung harus menjawab apa. "Aku kekasihmu."
Alana mengerjapkan matanya beberapa kali. "Jadi aku kekasihmu?"
Jef mengangguk. Sedetik kemudian Alana tersenyum. "Jadi aku aman di sini karena kau kekasihku?"
__ADS_1
Lagi-lagi Jef mengangguk. "Kau aman bersamaku."
Alana mengangguk kecil yang diiringi senyuman manisnya. Melihat itu Jef pun semakin ingin tahu apa sebenarnya penyebab Alana seperti ini.
Jef membawa Alana ke kamar dan memintanya istirahat. Lalu setelah itu menghubungi orang kepercayaannya.
"Cari tahu siapa saja orang terdekatnya." Perintahnya pada orang di seberang telepon sana. Setelah itu ia langsung memutus panggilan. Ditatapnya Alana yang tengah berbaring itu dengan iba.
"Seberat apa masalah yang pernah kau alami, Alana? Pasti ada alasan sampai kau jadi seperti ini." Jef menghela napas berat lalu meninggalkan kamar itu.
Jef duduk di sofa, lalu tampak berpikir keras. Memikirkan cara untuk menyembuhkan Alana. Sampai ia pun teringat sang Daddy, sepertinya Sean bisa membantunya. Tanpa banyak berpikir panjang, Jef menghubungi Daddy-nya.
Cukup lama Sean tak mengangkat teleponnya. Jef tetap sabar menunggunya karena ia tahu di sana masih malam. Namun beberapa saat kemudian akhirnya panggilan pun tersambung.
"Halo, Dad."
"Ada apa, Jef?" Tanya Sean di seberang sana dengan suara seraknya khas orang bangun tidur. "Kenapa menghubungi Daddy di tengah malam seperti ini?"
"Dad, ini urgent. Aku butuh bantuanmu sekarang."
"Ada apa? Kau ada masalah di sana?" Tanya Sean dengan nada santai seperti biasanya.
"Bukan aku, Dad. Ini masalah temanku."
"Ah, teman wanitamu hem? Kenapa? Kau tidak tahu cara membujuknya?" Goda Sean yang berhasil membuat Jef kesal.
"Dad, aku sedang serius." Alhasil Jef pun menceritakan semuanya soal Alana pada sang Daddy.
Sean pun terdiam beberapa saat. "Jadi maksudmu kau ingin Daddy mencarikan dokter untuknya?"
Jef tersenyum puas karena tanpa harus diminta sang Daddy langsung memahaminya. "Ya, Dad."
"Tidak masalah, Daddy akan menghubungi teman lama di sana. Mungkin dia mengenal salah satu dokter saraf terbaik. Good luck, Son. Aku senang kau begitu cepat menemukan kekasih."
"Dad, her just friend." Kesal Jef yang berhasil mengundang tawa sang Daddy.
"Baiklah-baiklah, Daddy percaya padamu. Jangan khawatir, dalam hitungan menit seseorang akan menghubungimu. Bawa calon menantuku segera ke rumah sakit. Jangan sampai dia melupakanmu selamanya." Goda Sean lagi yang kemudian langsung memutus panggilan.
Jef mendengus sebal seraya melempar ponselnya di atas sofa. Lalu menyandarkan kepalanya di sana. Benar saja, menit berikutnya ponsel Jef kembali berdering. Dan ternyata pihak rumah sakitlah yang menghubunginya. Meminta Jef datang siang ini karena dokter bersedia menemuinya. Jef tersenyum senang dan pastinya berterima kasih pada sang Daddy.
__ADS_1