
Hari berikutnya Sean dan Queen pun kembali disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Di mana Queen akan kembali beraktivitas di kampus, sedangkan Sean kembali bekerja di kantornya.
"Sayang, hari ini kamu masuk kuliah?" Tanya Sean saat melihat istrinya sudah cantik dan wangi.
"Iya, sudah lama sekali aku bolos. Rasanya agak canggung juga ke kampus." Jawab Queen menghampiri suaminya. Dan membantu Sean memasang dasi.
Sean tersenyum. "Biar aku mengantarmu."
"Nope, aku bisa bawa mobil sendiri, Sean. Lagian siang ini aku sudah janji dengan Ell. Aku akan menemaninya cek up." Queen sedikit berjinjit, lalu memberikan kecupan di bibir suaminya. Tentu saja Sean senang mendapat hadiah pagi yang manis.
"Oh ya? Memangnya kemana kekasihnya itu?"
"Bara sedang sibuk. Sebentar lagi dia akan dilantik menjadi CEO, karena itu Ella memintaku untuk menemaninya."
Sean terdiam sejenak. "Baiklah, hubungi aku langsung jika kau butuh apa-apa."
"Hm. Kau sangat tampan. Jangan melirik wanita lain, aku akan mencongkel matamu jika kau melakukan itu." Ancam Queen mengalungkan kedua tangannya di leher Sean.
"Memangnya kau tahu aku melirik wanita lain, sedangkan kau jauh dariku huh?"
"Tentu saja, feelingku ini sangat kuat. Jadi hati-hatilah."
Sean tersenyum lagi, lalu mengangkat paha sang istri dan melingkarkan dua kaki jenjang itu di pinggangnya.
"Sean, kita bisa terlambat."
"Sebentar saja. Lima menit." Bisik Sean langsung menyambar bibir istrinya. Dan mereka pun hanyut dalam ciuman panas. Hingga menimbulkan suara decakan keras.
"Nghhh, Sean... stop!" Queen melenguh saat Sean menurunkan ciuman di lehernya. Bahkan memberikan beberapa tanda kepemilikan di sana.
"Sean... kau akan membuatku terlambat. Berhenti membuat tanda gila itu di sana." Kesal Queen memukul punggung suaminya.
"Agar semua orang tahu kau sudah berpemilik, sayang. Dan aku pemiliknya."
"Ck, kau ingin membuatku malu huh? Aku harus menutupinya dengan susah payah kau tahu."
"Tidak perlu di tutupi, biarkan saja seperti ini. Ini sangat cantik."
"Cih, kau memang mesum. Biar aku balas." Tidak ingin kalah, Queen juga ikut memberikan banyak tanda di leher Sean. Bukannya protes, justru Sean melenguh kenikmatan.
"Aku rasa kita harus bermain sebentar."
"Tidak, aku ada jadwal pagi, Sean." Protes Queen.
__ADS_1
Sean tertawa renyah. "Aku cuma bercanda. Ayok berangkat."
"Ck, aku harus menutup bekas kenakalanmu dulu. Turunkan aku, Sean."
"Jika aku tidak mau bagaimana?" Sean masih saja menggoda istrinya.
"Sean! Aku bisa terlambat." Kesal Queen yang langsung melompat dari gendongan Sean. "Menyebalkan. Bagaimana bisa aku mencintai lelaki mesum sepertimu?"
Sean tersenyum geli. "Kau sangat menggemaskan, sayang."
"Berhenti menggodaku." Queen kembali duduk di depan meja rias. "Sean, kenapa banyak sekali? Bagaimana aku menutupinya?"
"Sudah aku katakan tidak perlu ditutupi, kau sangat cantik dengan tanda itu, sayang."
"Aku menbencimu, Sean. Sekarang aku harus mengganti pakaian dengan kerah tinggi, padahal aku benci pakaian model itu. Aku benar-benar membenci makhluk sepertimu, Sean." Omel Queen seraya berjalan menuju ruang ganti. Sedangkan Sean justru tertawa puas karena selalu berhasil membuat istrinya kesal. Seolah itu sudah menjadi rutinitas paginya. Queen kesal, maka Sean akan senang.
****
"Kau ini kenapa, Ell? Sejak tadi aku perhatikan wajahmu murung terus. Kau sedang bertengkar dengan Bara?" Tanya Queen. Saat ini keduanya berada di sebuah restoran sepulangnya dari rumah sakit.
Ella menghela napas pendek. "Sudah dua hari Bara tidak menghubungiku. Aku tahu dia sibuk, tapi biasanya dia akan menghubungiku walau hanya satu menit."
Queen menyesap minumannya. "Mungkin dia memang sangat sibuk."
"Ya, mungkin. Tapi aku merindukannya, Queen. Sejak hamil pikiranku selalu negatif. Aku takut Bara meninggalkanku."
Mendengar itu pipi Ella pun merona bak kepiting rebus. "Kau ini, jangan membuatku berharap lebih. Kau tahu hubunganku dengannya tidak sepenuhnya mendapat restu. Orang tua Bara itu sangat pemilih."
Queen terdiam lagi. "Cih, dan kalian nekat memiliki anak?"
"Ya, hanya dengan cara ini aku bisa memiliki Bara. Aku sangat mencintainya, Queen. Entah apa yang terjadi jika saja dia pergi dari hidupku."
Queen menggenggam tangan Ella dengan erat. "Kalian pasti akan hidup bahagia. Tekad kalian begitu kuat. Dia pasti tidak akan mengecewakanmu."
Ella mengangguk yakin. "Aku akan menunggunya kembali, baby juga sangat merindukannya."
"Hm. Aku jadi penasaran seperti apa rasanya hamil."
Ella tertawa renyah. "Lalau apa lagi yang kau tunggu huh? Kau harus cepat-cepat hamil supaya anak kita lahir di waktu yang dekat. Mereka akan menjadi sahabat seperti kita."
"Kami sedang berusaha. Hampir setiap waktu Sean membuatku gila di bawahnya. Dia sangat hebat." Tanpa sadar Queen mengeluarkan pujian untuk suaminya itu. Dan apa yang Queen katakan memang benar adanya. Sentuhan Sean selalu membuatnya mabuk kepayang.
"Ck, dulu saja kau menolak dan mengatakan tidak akan mencintainya. Sekarang kau sudah tergila-gila padanya."
__ADS_1
Queen tersenyum malu. "Aku rasa, aku benar-benar termakan omonganku sendiri. Karena sekarang aku benar-benar mencintai lelaki tua itu. Dia selalu membuatku melayang. Cintanya yang tulus membuatku lemah, Ell. Aku wanita normal yang butuh cinta sejati."
"Ya... ya... ya... aku tahu itu. Semoga cepat hadir Sean junior. Supaya kebahagian kalian semakin lengkap. Seperti aku ini, kehidupanku semakin lengkap saat ada Bara junior di dalam perutku."
"Hey, jangan lupa untuk menikah. Jangan sampai kau punya anak dua baru menikah." Cibir Queen.
"Tidak jadi masalah, asalkan hidup kita bahagia selamanya." Keduanya pun tertawa bersama. Seakan tempat itu milik mereka berdua.
****
Sore hari, Queen sudah kembali ke mansion. Wanita cantik itu bergegas mandi dan kemudian beranjak ke dapur.
"Sore, Nyonya." Sapa Findavvan saat melihat nyonya besarnya memasuki dapur. Kebetulan sore ini barang perlengkapan dapur baru saja masuk. Karena itu banyak pelayan di sana yang tengah merapikan berbagai bahan makanan dan yang lainnya.
"Wah... semuanya masih terlihat segar. Fin, aku berniat masak untuk makan malam nanti. Tolong siapkan meja makan di taman belakang ya? Aku ingin membuat makan malam spesial. Dia pasti sangat senang."
Findavvan terlihat sumringah. "Dengan senang hati, Nyonya."
"Terima kasih, Fin."
"Sama-sama,
Dan menit berikutnya, Queen benar-benar sibuk di dapur. Tentu saja ia dibantu oleh beberapa pelayan dan koki ternama kepercayaan suaminya.
"Hah, ternyata lelah juga ya memasak?" Queen menyeka keringat di keningnya.
"Apa kalian tidak lelah seperti ini setiap hari?" Tanyanya pada para pegawai.
"Sudah pasti lelah, Nyonya. Tetapi ini sudah tugas kami." Jawab salah satu koki senior.
"Iya juga sih. Bukankah aku sangat beruntung memiliki suami kaya raya seperti bos kalian. Aku tinggal makan, minum dan tidur. Dan semua pekerjaanku kalian yang mengerjakan." Oceh Queen yang berhasil menggelitik hati para karyawannya.
"Kami senang melayani Anda, Nyonya. Kami juga begitu beruntung karena memiliki Nyonya besar sebaik Anda. Sangat jarang majikan yang mau berbaur dengan pegawai seperti kami."
Queen menjeda kegiatannya. "Hey, memangnya apa beda aku dengan kalian. Kita sama-sama manusia biasa, bedanya aku majikan kalian dan kalian bekerja untukku. Lalu apa masalahnya? Bagiku kalian sama seperti yang lainnya. Aku tidak pernah membedakan siapa pun. Bagiku kalian sama saja denganku, punya mata, hidung, mulut dan lainnya. Sekarang lihat aku, ayo lihat."
Queen mengacak pinggang, lalu sedikit berputar. Dan para karyawannya itu menatapnya dengan seksama. "Apa aku punya sesuatu yang kalian tidak punya?"
Semua orang pun menggeleng. "Itu artinya kita ini sama. Lalu apa lagi yang kalian ragukan?"
"Nyonya, Anda sangat baik hati."
"Ck, jangan memujiku seperti itu. Aku tidak sebaik itu. Aku hanya ingin menunjukkan pada kalian, jika di antara kita tidak ada yang berbeda. Mungkin status saja yang berbeda. Aku seorang istri yang harus menyiapkan makan minum untuk suamiku. Dan kalian bertugas membantuku. Benar kan?"
__ADS_1
Semua orang tertawa renyah mendengar itu. "Anda, benar, Nyonya. Tuan sangat beruntung bisa memiliki Nyonya baik hati seperti Anda."
"Ck, justru aku yang beruntung karena punya suami kaya raya sepertinya. Jadi aku bisa hidup seperti ratu." Queen pun tertawa renyah. Dan itu menular pada yang lainnya. Dapur yang biasanya sepi pun mendadak heboh karena hadirnya Nyonya besar yang membuat suasana menjadi lebih berwarna.