
Di kampus, Ella terlihat kebingungan karena sejak pagi tadi ia tak menemukan keberadaan sepupunya. Bahkan ia sudah mencoba menghubungi Queen, tetapi ponselnya tidak aktif.
"Sebaiknya kita ke apartemennya saja." Usul Bara. Ella pun mengangguk. Kemudian keduanya pun bergegas menuju apartemen Queen.
Sesampainya di sana, Ella langsung menekan bell berkali-kali. Tetapi Queen masih belum menunjukkan batang hidungnya.
"Baby, buka pintunya. Ini aku, Ella." Teriak Ella karena Queen tak kunjung membukakan pintu. Ditekannya kembali bell berkali-kali. Namun hasilnya masih sama.
"Honey... kau baik-baik saja kan?" Ella semakin cemas. Ia mencoba mengetik password dengan menggunakan tanggal lahir Queen. Berhasil, pintu pun terbuka.
Dengan langkah lebar Ella memasuki apartemen. Keningnya mengerut saat melihat kondisi Apartemen yang masih gelap.
"Queen!" Teriaknya seraya berlari menuju kamar gadis itu. Beruntung pintu kamarnya tidak terkunci jadi Ella bisa masuk dengan mudah. Namun....
"Oh God!" Ella berteriak histeris saat melihat Queen tergeletak di lantai. Tubuh gadis itu bergetar hebat, lalu terdengar suara isak tangis yang memilukan. "Honey, apa yang terjadi huh?"
Ella membantu Queen bangun, kemudian memeluknya erat. "Ada apa, katakan padaku?"
Queen membalas pelukan sepupunya itu dan menangis sejadi-jadinya. "Ternyata aku tidak sekuat itu, Ell. Aku tidak sekuat itu."
Ella melirik kekasihnya karena bingung dengan kata-kata Queen. "Ceritakan masalahmu, Queen. Aku bingung jika kau bersikap seperti ini."
"Uncle...."
Ella mengerti sekarang. "Ada apa lagi dengan Unclemu itu huh?"
Queen tidak menjawab dan malah menangis sendu.
"Baby." Bara memanggil kekasihnya sambil menunjukkan sesuatu yang ada di layar ponselnya. Sontak mata Ella pun membulat saat melihat foto pernikahan Juna dan Clarie. Bahkan Zain dan Rea turut hadir di sana.
"Pantas saja. Kenapa semuanya jadi seperti ini? Aku pikir Uncle memiliki perasaan yang sama dengannya."
Bara mengangkat kedua bahunya. Pasalnya ia sama sekali tidak tahu menahu soal keluarga Queen.
Ella mendorong bahu Queen dengan lembut. Ditatapnya wajah berantakan gadis itu, rambut yang semraut dan lingkaran hitam dimatanya terlihat begitu jelas. Sepertinya semalaman penuh gadis itu tidak tidur dan menghabiskan waktu dengan menangis. Terlihat dari matanya yang bengkak dan sembab.
"Queen, jangan bersikap bodoh. Pernikahan ini menunjukkan jika dia tidak pernah mencintaimu. Lupakan dia dan temukan hidup baru."
Queen menatap Ella begitu dalam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Bicaralah, Queen."
"Biarkan aku sendiri. Pergilah."
"Queen, aku...."
"Aku ingin sendiri." Tegas Queen memberikan tatapan tajam. Membuat Ella merasa terintimidasi.
"Baiklah, aku akan pergi. Tapi jangan melakukan hal bodoh. Aku tidak akan memaafkanmu jika kau bersikap kekanakan." Ella bangkit dari posisinya. "Aku pergi, aku akan memesan makanan untukmu."
Queen tidak menjawab. Membuat Ella merasa ragu untuk meninggalkan gadis itu. Namun ia terpaksa pergi karena tahu sifat keras Queen. Jika dirinya tetap di sana, bisa-bisa wanita itu mengamuk.
Ella menarik Bara keluar dari sana. Meninggalkan Queen yang masih terduduk di lantai.
"Kau yakin akan meninggalkan dia sendirian?" Tanya Bara saat keduanya sudah di mobil.
"Hm. Aku rasa dia tidak akan melakukan hal bodoh. Aku tahu sifat sepupuku itu."
"Hm." Bara pun mengemudikan mobilnya meninggalkan kawasan apartemen.
Di sisi lain, Rea tampak gelisah dan tidak kunjung tidur karena sejak tadi siang putrinya sangat sulit dihubungi. Padahal ia sudah menghubunginya berulang kali. Sampai detik ini anak itu tak kunjung menelepon balik. Biasanya Queen akan menghubungi balik jika tidak sempat mengangkat telepon.
Zain yang tidurnya terganggu karena pergerakan Rea pun bangun. Dipeluknya sang istri yang terlihat gelisah. "Ada apa?"
__ADS_1
Rea menatap wajah suaminya lamat-lamat. "Kak, aku cemas tahu, Queen masih belum memberi kabar sampai sekarang."
"Mungkin dia masih sibuk." Jawab Zain dengan mata terpejam.
Rea terdiam sejenak. "Apa kamu tidak merasa ada yang aneh dengan Queen? Dia seperti menghindari kita. Bahkan dia juga menolak telepon darimu. Sebelumnya Queen tidak pernah bersikap seperti ini."
Zain membuka mata. Menatap Rea penuh arti.
"Bagaimana jika dia tahu Juna sudah menikah dan kita sengaja menyembunyikannya? Aku rasa itu akan menjadi masalah."
Zain merapatkan diri pada sang istri. Sejujurnya ia juga memiliki perasaan yang sama dengan sang istri karena tidak biasanya Queen mengabaikan panggilan darinya. "Sudah waktunya kita berkunjung ke sana."
Rea mengangguk antusias. "Aku juga sudah kangen sama anak nakal yang satu itu. Berjauhan dengannya satu bulan saja rasanya seperti setahun. Rumah ini sepi sejak Queen pergi, King juga sepertinya merasa kehilangan sang Kakak. Apa kita ajak saja King ke sana?"
"Aku akan mencoba mengajaknya. Anak itu terlalu sibuk dengan latihan basket." Ujar Zain yang lagi-lagi dijawab anggukan oleh Rea.
"Ayok tidur, besok sore kita langsung terbang ke sana." Zain mengecup kening Rea dengan mesra. Lalu matanya pun kembali terpejam.
"Queen pasti terkejut kita datang tiba-tiba." Rea tersenyum senang.
"Ya, dia akan mengomeli kita panjang lebar karena datang tanpa kabar."
Rea tertawa renyah. "Aku sudah tidak sabar untuk memeluknya."
"Sesampainya di sana kau bebas memeluknya."
Rea mengangguk pelan. Dipeluknya sang suami dengan erat. Kemudian matanya perlahan terpejam.
****
Sean tampak duduk di kap mobil dengan gaya sensual. Menunggu kehadiran si gadis kecil. Beberapa menit yang lalu Queen memang sengaja menghubungi dan meminta Sean untuk menjemputnya. Tentu saja Sean tidak keberatan, justru ia terlalu bahagia karena gadis itu memiliki inisiatif sendiri.
Dari kejauhan Sean bisa melihat dengan jelas Queen datang dan perlahan mendekat. Namun lelaki itu sedikit dibuat heran dengan penampilan Queen. Gadis itu memakai dress mini berwarna merah yang begitu pas ditubuhnya yang ramping.
Queen sama sekali tidak menyahut dan langsung masuk ke dalam mobil Sean. Membuat lelaki itu semakin heran karena ulah anehnya gadis itu. Tanpa banyak berpikir Sean pun masuk ke dalam mobil. Sebelum pergi, lelaki itu menyempatkan diri melirik Queen. Gadis itu terus diam dengan tatapan kosong.
Ada apa dengannya? Pikir Sean.
"Kemana kita akan pergi?" Tanya Sean.
"Club." Sahut Queen tanpa menatap lawan bicaranya.
"Kau yakin?"
"Hm."
Sean menghela napas berat. Kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Mobil mewah itu melesat cepat membelah jalanan kota. Lalu berhenti di sebuah club ternama.
"Kau punya masalah?" Tanya Sean sebelum mereka turun dari mobil. Queen menoleh, ditatapnya lelaki itu begitu dalam.
"Kita bicara di dalam."
Sean tersenyum yang disusul dengan anggukkan. Lalu keduanya pun keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam sana.
Queen duduk di depan meja bartender. Lalu memesan segelas wine. Sedangkan Sean memesan segelas bir.
Dengan sekali tegakkan gelas berisi wine itu kosong. Sean sempat tertegun melihatnya, ia tidak pernah menyangka Queen bisa minum seperti ini.
"Lagi." Pinta gadis itu. Namun Sean langsung menahannya. Queen memberikan tatapan tajam pada lelaki itu.
"Katakan apa masalahmu." Pintanya.
"Biarkan aku minum satu gelas lagi." Queen menepik tangan Sean dan meminta sang bartender mengisi gelasnya. Dengan senang hati lelaki itu menuruti keinginan Queen. Sekali lagi Queen menegak wine dengan sekali gerakan. Namun setelah itu air matanya menetes. Punggungnya pun bergetar karena menahan tangisan. Sontak Sean kaget melihat itu. Digenggamnya tangan gadis itu dengan erat.
__ADS_1
Queen menatap Sean dengan tatapan sendu. "Dia sangat kejam."
Sean mengerti sekarang. "Kau bisa melampiaskan perasaanmu padaku, gadis kecil."
Tangisan Queen pun pecah. Gadis itu pun langsung memeluk Sean. "Kenapa rasanya sangat menyakitkan, Sean? Aku membeci situasi ini."
Sean mengusap punggung Queen dengan lembut. Membiarkan gadis itu mengeluarkan semua aral dalam hatinya.
"Jika aku bisa mengulang waktu, aku tidak akan pernah jatuh cinta padanya. Dia sangat kejam. Tanpa memberiku kabar, dia menikah dengan wanita lain. Jahat sekali."
Sean menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. "Jadi ini yang membuatmu bersikap aneh huh?"
"Kau menyesal pergi denganku?" tanya Queen seraya menarik diri dari dekapan Sean.
"Sama sekali tidak. Aku senang kau mempercayaiku."
Queen menatap Sean lamat-lamat. Jika diperhatikan seperti ini, Sean memang sangat tampan. Queen mengakui itu.
"Aku masih ingin minum sampai sakit dikepalaku hilang. Kau masih mau menemaniku kan?"
Sean mengangguk kecil.
"Hm." Queen mengisi gelasnya lagi. Lalu meneguknya lagi dan lagi sampai gadis itu dikuasi sepenuhnya oleh alkohol.
Queen tertawa kecil. "Apa aku sangat menyedihkan?"
"Sama sekali tidak." Sahut Sean yang sejak tadi terus memperhatikan Queen.
"Kau pernah jatuh cinta?" Tanya Queen lagi.
"Ya, bahkan sampai tahap tinggi."
"Lalu di mana cintamu itu?"
Sean terdiam sejenak. "Dia sudah meninggalkanku untuk selamanya."
Mendengar itu Queen malah tertawa. "Jadi kau lebih menyedihkan dariku huh?"
"Anggap saja seperti itu."
Queen tertawa lagi. Gadis itu turun dari kursi dan berjalan sempoyongan menuju lantai dansa. Sean pun mengikutinya.
"Yeayyy... ini menyenangkan bukan?" Teriak Queen meliukkan tubuhnya mengikuti alunan musik dj.
Sean tersenyum. Ia tidak pernah menyangka gadis dihadapannya itu segila ini. Detik berikutnya Sean terkejut karena tiba-tiba saja Queen mengalungkan tangan di lehernya.
"Kenapa kau diam saja? Ayo menari." Queen terus menggoyangkan kepalanya. Gadis itu sepertinya benar-benar gila.
"Queen." Panggil Sean.
"Hm?" Queen mendongak. Menatap Sean begitu dalam. Bahkan wajah mereka terbilang sangat dekat. Sean masih bisa melihat kecantikan gadis itu dibalik lampu diskotik. Bahkan hembusan napas mereka saling beradu satu sama lain.
"Kau sangat tampan." Puji Queen seraya mengusap wajah Sean.
"Kau mabuk, Queen. Sebaiknya kita pulang."
"Tidak mau... aku masih ingin di sini. Biarkan aku bersenang-senang." Rengek Queen seperti anak kecil. Bahkan gadis itu membenamkan wajahnya di dada bidang Sean. "Biarkan aku di sini."
"Baiklah."
Mendengar itu Queen langsung mengangkat wajahnya. Lalu pandangan mereka pun saling bertemu satu sama lain.
"Lupakan dia, izinkan aku masuk ke dalam hatimu." Bisik Sean. Dan entah siapa yang memulai, kini keduanya terhanyut dalam ciumana panas.
__ADS_1