Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Kemarahan Seorang Istri


__ADS_3

Cie... banyak yang gak rela digantung... aku tahu kok sakitnya digantungin, hehe. Jadi aku kasih bonus buat kalian. Gak jadi gantung deh... wkwk...


****


"Sean Cameron!" Panggil Queen dengan nada tinggi. Sontak Sean dan wanita itu pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Bukan hanya mereka, bahkan banyak perhatian yang Queen curi apa lagi mereka mendengar nama sang pengusaha ternama.


Mata Sean melebar saat melihat sang istri ada si sana. Menatap dirinya dengan tatapan tak bersahabat.


"Sayang." Sean pun menghampiri Queen. Namun, Queen justru memberikan tatapan membunuh yang kental.


"Meeting huh?"


Sean menghela napas panjang. "Sayang, dengar...."


"Pulang sekarang." Perintah Queen memberikan barang bawaannya pada Sean dengan kesal. Dengan sigap Sean membawa barang-barang istrinya dan mengekori Queen. Sebelum itu ia memberi kode pada si wanita asing. Dan wanita itu mengacungkan jempol.


Ella yang melihat itu cuma bisa termangu. Dan setelah itu ia pun menghampiri si wanita asing. Lalu mengintrogasinya.


Di parkiran. Queen masuk ke dalam mobil dan menutup pintu dengan kasar. Lalu meninggalkan tempat itu. Dan Sean yang melihat itu langsung ke mobilnya, menyusul sang istri pulang.


Sesampainya di Mansion. Queen menunggu Sean di ruang tengah dan siap mengintrogasi suaminya itu. Sebenarnya bisa saja Queen menghakimi suaminya di depan umum. Namun, Queen masih ingat status suaminya yang cukup dihormati banyak orang. Tidak mungkin ia menjatuhkan harga diri Sean hanya karena cemburu yang tak jelas. Jadi dia akan meluapkan itu di rumah, paling-paling pelayan yang akan mendengar amukannya.


Tidak lama, Sean pun muncul dengan barang belanjaan miliknya. Lalu menaruhnya di atas meja.


"Sayang...."


"Duduk, Sean." Sela Queen sudah seperti seorang Ibu yang hendak menghukum anaknya.


Sean pun mengalah dan duduk di sofa, ia tahu saat ini istrinya sedang sensitif. Bisa dilihat dari wajah Queen yang merah padam.


"Siapa wanita tadi?" Tanya Queen penuh selidik. Ia bersidekap dan menunggu jawaban suaminya.


"Dia klienku, sayang."


"Jika klien, bagaimana bisa kalian makan dan ke mall sama-sama huh? Kau pikir aku bodoh? Bahkan di depan mataku kau mengelus perutnya dengan mesra. Apa kau selingkuh dariku dan dia hamil anakmu?" Kesal Queen.


Sean bangkit, menatap istrinya lamat-lamat. "Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu, sayang? Aku tidak mungkin selingkuh darimu. Bahkan mendapatkanmu saja aku harus berjuang susah payah."


"Jika seperti itu jelaskan siapa dia dan apa alasanmu mengusap perutnya? Aku cemburu, Sean." Geram Queen menarik kerah kemeja suaminya.


Sean yang merasa gemas pun mengecup bibir istrinya. Dan itu membuat Queen semakin marah. "Sean!"

__ADS_1


"Baiklah-baiklah, aku akan jelaskan." Sean merengkuh pinggang ramping istrinya. Lalu mulai menjelaskan perkara sebenarnya. "Dia itu adik dari suami Aunty Sarah. Kebetulan dia salah satu klien setiaku. Kita sudah menjalin kerja sama selama tiga tahun." Sean menjeda sejenak.


"Namanya Rachel, saat ini dia menetap di Jerman bersama suaminya. Setiap tahun dia akan datang ke sini untuk membahas kerja sama. Dan setiap kali dia datang aku akan menemaninya berkeliling. Lagi pula tadi memang ada teman-teman yang lain. Hanya saja mereka sudah kembali ke perusahaan. Rachel sedang hamil, jadi aku penasaran dengan perutnya yang sedikit membuncit. Jadi aku memegangnya sedikit. Dan asal kau tahu, saat aku sentuh perutnya. Yang ada dalam bayanganku adalah dirimu. Aku bersumpah, Queen. Aku tidak mungkin selingkuh darimu. Aku sangat mencintaimu."


Tatapan Queen pun langsung berubah teduh. "Kau tidak bohong, Sean? Aku... aku hanya takut kau berpaling dariku. Mungkin kau bosan karena aku ini cerewet dan terlalu manja."


Sean tersenyum. "Aku tidak bohong. Hanya kau wanita yang aku cintai, Queen. Tidak peduli kau seperi apa. Bagiku kau sangat menggemaskan. Mana bisa aku berpaling. Maaf, seharusnya aku membicarakan ini lebih dulu padamu. Hanya saja kedatangan Rachel pagi ini begitu dadakan, sampai satu kantor heboh. Jadi aku tidak sempat bicara padamu."


"Ck, jadi karena itu kau pergi pagi-pagi sekali? Bahkan melupakan kewajibanmu." Queen menyebikkan bibirnya sembari memainkan dasi Sean.


Sean menarik dagu istrinya, mengunci netra coklat itu rapat. "Jangan marah lagi. Aku hanya mencintaimu, sungguh."


Queen mengusap rahang tegas suaminya dengan gerakan sensual. Dan semakin merapatkan tubuhnya. "Aku percaya padamu, Sean. Maaf karena aku sudah berburuk sangka padamu. Kau itu terlalu tampan dan menggoda, bagaimana mungkin aku tidak takut."


Sean tertawa lucu. "Sayangnya aku hanya tetarik pada istriku seorang. Dia sangat menggemaskan."


"Jadi aku sangat menggemaskan?" Tanya Queen dengan nada meggoda.


"Hm." Sean mengangguk kecil.


"Kalau begitu gigit aku, Sean."


Sean tersenyum miring. "Aku harus kembali kerja, sayang. Urusanku dengan Rachel belum selesai."


"Sayang, ini bukan masalah penting atau apalah itu. Tapi kerja sama dengan Rachel bukan hal yang mudah di dapat."


"Lalu bagaimana kerja sama denganku huh? Apa kau lupa?"


"Sayang...."


Bruk!


Queen berhasil mendorong tubuh Sean hingga terjatuh ke sofa. Dan dengan sekali gerakan ia berhasil duduk di atas pangkuan lelaki itu. "Aku menginginkanmu sekarang, jadi kau harus memenuhinya. Itu ada dalam sumpah pernikahan kita bukan?"


Sean mendadak ngeri saat melihat tatapan buas istrinya. "Sayang, dengar...."


"Aku tidak ingin dengar. Diamlah." Queen membuka dasi, lalu kancing kemeja suaminya satu per satu. Dan itu membuat Sean bingung.


"Nghhh...." Sean mengerang tertahan saat Queen menggesekkan pinggulnya yang sengaja menggoda miliknya di bawah sana.


Queen tersenyum miring. Ia tahu Sean sangat mudah terpancing. "Kau yakin tidak ingin, Sean?" Godanya yang kini sudah berhasil melepaskan kemeja Sean. Dan lelaki itu sudah bertelanjang dada.

__ADS_1


"Kita lakukan di kamar." Ajak Sean. Akan tetapi Queen langsung menolaknya.


"Aku ingin hal baru. Lagi pula tidak akan ada yang berani kemari." Ujar Queen mulai mencumbui suaminya. Sean yang mendapat perlakuan itu terlihat pasrah.


"Dari mana aku belajar liar seperti ini, sayang?"


"Secara naluri saja." Jawab Queen dengan enteng. Dan lagi-lagi ia berhasil membuat Sean mengerang kenikmatan. Bahkan jemari nakal Queen mulai menggoda miliknya. Dan membuka celananya untuk membebaskan sesuatu yang sudah sekeras batu di sana.


Karena tidak tahan, Sean langsung membalik keadaan. Ia mengukung Queen di bawahnya. Disambarnya bibir merekah itu dengan rakus. Queen menjerit kala tangan Sean menyelusup masuk ke dalam roknya. Lalu memberikan sentuhan nikmat.


"Sial! Kau membuatku gila, Queen."


Queen tersenyum bahagia. "Itu yang aku inginkan. Aku tidak tahan, Sean. Oh... kau luar biasa."


Sean mengeratkan rahangnya saat melihat ekspresi sang istri yang begitu menggoda. Dan tanpa banyak berpikir lagi Sean langsung meloloskan pakaian istrinya dan membenamkan miliknya di sana dengan tak sabar.


"Akhhhh...." keduanya mengerang bersamaan. Dan Sean pun langsung bergerak liar. Membuat Queen menjerit nikmat.


"Sean... ahhh... itu agak sakit." Keluh Queen karena Sean bermain terlalu kasar.


"Maaf." Ucap Sean sedikit mengurangi temponya. Dan keduanya pun kembali mengerang dan m*nd*s*h kencang. Ruang tengah itu pun mendedak riuh. Bahkan tidak ada yang berani masuk ke mansion karena hal itu. Gila memang, mereka melakukan itu di ruang terbuka dan bisa saja di lihat orang lain.


Sean membawa Queen dalam dekapan. Napas keduanya memburu karena berhasil melewati pergulatan yang lebih panas dari biasanya.


"Aku lelah, Sean. Kau gila."


"Kau yang memulai, jadi salahkan dirimu."


"Tapi aku suka. Tadi itu kau sangat luar biasa. Ternyata melakukan itu saat sedang emosi jauh lebih menantang. Aku ingin mengulangnya lagi." Queen mengecup rahang Sean dengan lembut.


Sean tertawa renyah. Lalu dikancingnya lagi kemeja sang istri. "Ayo kita bersihkan diri, aku harus kembali ke kantor."


"Rasanya aku tidak rela kau pergi." Guman Queen memeluk Sean seerat mungkin. Sean tersenyum, lalu memberikan kecupan di kening istrinya itu.


"Kali ini aku tidak bisa mengikuti keinginanmu, aku harus kembali ke kantor."


Queen menghela napas berat. "Baiklah, tapi kau harus berjanji akan cepat pulang."


"Tentu saja."


"Sebentar lagi, aku masih lemas, Sean."

__ADS_1


Sean memeluk istrinya dengan erat. "Kita akan mencobanya di tempat lain. Aku rasa kolam renang lebih menantang."


Queen yang mendengar itu memberikan pukulan kecil. "Dasar." Lalu membenamkan wajahnya di dada bidang Sean yang polos. Menghirup aroma maskulin yang khas dan sudah menjadi candu untuknya.


__ADS_2