
Pada akhirnya Queen tetap memaksakan diri untuk pergi. Meski Sean belum memberikan izin. Pagi-pagi buta Queen pergi dari rumah dengan membawa beberapa perlengkapan yang dibutuhkan untuk camping nanti.
"Gila, kau benar-benar nekad, Queen?" Seru Scarlet menatap Queen takjub.
Queen menarik napas panjang, lalu membuangnya pelan. "Aku butuh kebebasan, memangnya kenapa kalau wanita hamil ikut camping huh? Aku tidak selemah itu."
Scarlet tertawa kecil. "Kau memang gila. Tidak masalah, ayo masuk bus. Semua orang sudah menunggu."
Queen mengangguk. "Lalu keduanya pun masuk ke bus dan mencari posisi nyaman.
"Duduklah denganku, Queen." Sapa seorang laki-laki berambut pirang seraya menepuk kursi disebelahnya.
"Tidak, terima kasih." Balas Queen yang kemudian mencari bangku kosong. "Scarlet, sebaiknya kita duduk berdua."
Wanita itu pun mengangguk patuh. Lalu ikut duduk di sebelah Queen. "Coba saja Ella masih ada, pasti suasana tak sesepi ini."
Queen tersenyum. "Ella sedang menikmati waktu bersama suaminya."
"Hm, aku tahu itu. Ngomong-ngomong, apa kau pernah merasa jika David itu menyukaimu?" Bisik Scarlet melirik ke arah lelaki yang tadi menawarkan tempat duduk pada Queen.
Queen ikut melirik lelaki itu. "Aku tidak tahu, dan tidak mahu tahu."
Scarlet tersenyum. "Tentu saja kau tidak peduli, sudah ada suami kaya rasa dan super tampan. Jika aku jadi kau juga pasti begitu."
"Itu kau tahu." Queen membuka tas ranselnya. Lalu mengambil vitamin dan meminumnya.
"Apa itu?"
"Vitamin. Tadi aku tidak sempat minum. Setiap jam empat pagi aku mual. Jadi hanya vitamin ini yang membantuku." Jelas Queen.
"Apa hamil harus selalu mual dipagi hari?"
"Aku tidak tahu, itu yang aku rasakan selalu."
"Memangnya berapa usia kandunganmu?"
"Delapan minggu." Jawab Queen.
"Hm. Aku penasaran apa yang akan suamimu lakukan jika tahu kau memaksakan diri, apa mungkin dia akan datang ke lokasi?"
Queen terdiam sejenak. "Entahlah, tapi aku rasa tidak. Saat ini perusahaan sedang sibuk-sibuknya, jadi dia tidak mungkin datang."
"Owh... tapi tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya kan?"
Queen mengangkat kedua bahunya. Dan beberapa saat kemudian bus yang mereka tumpangi pun mulai bergerak menuju lokasi. Queen menarik napas panjang seraya menatap keluar jendela.
Maafkan aku, Sean. Aku tidak bermaksud melawanmu, tapi kau yang memaksaku melakukan ini. Kau menyebalkan, Sean.
Satu jam kemudian, bus yang mereka tumpangi pun tiba di lokasi.
"Wah, luar biasa. Ini sangat indah." Pekik Scarlet saat mereka turun dari bus dan melihat pemandangan indah di depan matanya. Sedangkan Queen tidak memberikan tanggapan.
Sang ketua pun mulai memberi arahan pada anggotanya, membuat beberapa kelompok untuk membagi pekerjaan. Dan Queen pun ternyata satu kelompok dengan lelaki bernama David.
"Yah, kita harus berpisah, Queen." Lirih Scarlet bergelayut manja di lengan Queen. Queen memutar bola matanya jengah.
"Kita bukan berpisah tempat, jangan berlebihan."
Scarlet tersenyum geli. "Tetap saja kita harus berpisah untuk sementara waktu. Ngomong-ngomong, kau yakin akan mencari kayu bakar? Kau sedang hamil, Queen."
__ADS_1
"Ck, berhenti menganggap lemah orang hamil. Lagi pula kelompokku lebih banyak lelakinya. Mereka pasti menjaga kami."
Scarlet mengangguk. "Hati-hatilah dengan David, dia itu agak aneh."
"Hm, aku akan menjaga jarak dengannya."
"Queen, simpan tasmu. Kita harus segera bergerak." Kata sang ketua kelompok bernama Vincent.
"Okay." Sahut Queen yang langsung meletakkan tasnya di tempat yang sudah disediakan. Kemudian bergabung dengan kelompoknya.
"Hai, tidak terduga kita satu kelompok." David berdiri tepat disebelah Queen.
Queen sama sekali tidak menanggapinya.
"Kau tahu? Aku suka wanita sombong." Bisik lelaki itu tepat di telinga Queen.
Queen tersenyum miring. "Sayangnya aku tidak suka lelaki pengganggu istri orang."
David tersenyum. "Aku tahu kau sedang membutuhkan seseorang, suamimu sedang sakit bukan? Ingin mencoba hal baru?"
"Tidak, terima kasih." Queen mempercepat langkahnya. Dan bergabung dengan teman wanitanya.
"Hai, aku pikir kau tidak ikut. Aku dengar kau sedang hamil kan?" Sapa seorang gadis berambut sebahu.
"Iya, tapi kehamilan tidak akan bisa membatasiku."
Para wanita itu tertawa. "Kau benar, Queen. Jangan mau jadi wanita lemah hanya karena hamil. Aku juga dulu pernah hiking saat perutku buncit." Kata yang lainnya.
"Benarkah?" Sahut Queen terlihat antusias.
"Ya, beruntung suamiku pendaki juga." Wanita yang usianya lebih tua dari yang lain itu pun tertawa kecil. "Bahkan bayiku juga sudah mengenal alam liar sejak usianya lima bulan."
"Wow, itu keren." Kata Queen tersenyum penuh arti. "Aku jadi ingin mencobanya setelah anakku lahir."
Queen terdiam sejenak. "Aku rasa itu akan sulit, suamiku bukan tipe penyuka alam."
"Tenang saja, kau masih punya aku." Kata David ikut menimpali. Queen yang mendengar itu memutar bola matanya malas.
"Hey, dia sudah punya suami. Kau tidak tahu suami dia siapa?" Ketus yang lainnya.
David tersenyum dengan pandangan terus tertuju pada Queen. "Selagi masih ada kesempatan, kenapa tidak?"
"Ah, di mana kita akan mencari kayunya?" Tanya Queen berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ke depan lagi saja," kata sang ketua kelompok. Lelaki itu cukup pantas dijadikan ketua kelompok karena memiliki tubuh yang kekar. Juga tampan tentunya.
Sesampainya di tengah hutan, semua anggota pun mulai mencari kayu bakar. Sang ketua sendiri terlihat sedang mengumpulkan kayu agak besar. Dan Queen memilih ranting yang bisa ia patahkan dengan tangan.
Hah, ternyata seru juga main di hutan rimba. Ini pengalaman pertama untukku, tidak akan aku sia-siakan.
Saat sedang asik memilih ranting. Tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan sebuah tangan yang menempel bokongnya. Spontan Queen pun berbalik. Matanya membulat sempurna saat melihat David sudah berdiri di hadapannya dengan senyuman devil.
Queen mundur beberapa langkah, sekarang ia baru sadar jika dirinya sudah jauh dari anggota yang lain. "Mau apa kau?"
"Bersenang-senang, sejak tadi tubuhmu membuatku gila, Queen." Dengan berani David menyentuh bokong Queen. Tentu saja Queen menepisnya.
"Brengsek! Berani sekali kau menyentuhku!" Geram Queen melayangkan tamparan keras di pipi lelaki itu.
David mengepalkan tangannya. Lalu dengan gerak cepat ia membekap Queen dan menariknya ke dalam hutan.
__ADS_1
"Hmmfff...." Queen terus meronta, bahkan berusaha menendang lelaki itu. Sayangnya itu tidak berhasil, tubuhnya terus diseret ke dalam hutan.
"Tolong." Teriak Queen saat lelaki itu mengukungnya di sebuah pohon besar. Entah sudah sejauh apa mereka terpisah dari kelompoknya.
"Diam! Atau mulutmu akan aku robek. Diam dan tenang, kau paham?" Bentak lelaki itu yang berhasil membuat Queen menangis. Ia tidak pernah dibentak, dan lelaki ini berani sekali membentak dirinya.
Sean, tolong aku. Batinnya.
"Kah tahu? Sebentar lagi aku kaya. Seseorang menjanjikan sesuatu yang tinggi untuk tubuhmu."
Mata Queen melotot saat mendengar itu.
"Tapi sebelum itu, biar aku cicipi sedikit." David hendak meraih bibir Queen, tetapi tubuhnya lebih dulu ambruk saat sebuah peluru mendarat tepat di kepalanya. Spontan Queen menoleh ke samping.
"Kau?" Kaget Queen saat melihat laki-laki yang tak asing lagi baginya. Ya, dialah pelakunya.
"Kau baik-baik saja? Aku mendapat perintah untuk melindungimu. Maaf, aku sempat kehilanganmu tadi." Kata lelaki itu yang tak lain adalah sang ketua kelompok.
"Kau...."
"Ya, aku suruhan suamimu." Lelaki bernama Vincent itu menyembunyikan senjata apinya dibalik celana. "Apa kau terluka?"
Queen menggeleng.
"Ayo, kita harus pergi dari sini sebelum orang lain melihat apa yang terjadi."
"Dia." Queen menunjuk jasad David yang terbujur kaku di tanah.
"Biarkan saja. Anak buahku akan mengurusnya, ayo pergi."
"Tunggu."
Lelaki itu mengurungkan niatnya untuk pergi, dan kembali menoleh. "Ada apa?"
"Terima kasih. Tapi dia bilang... seseorang membayar mahal untuk tubuhku. Apa kau tahu siapa itu?"
Vincent terdiam sejenak. "Sebaiknya kau tanyakan itu pada suamimu."
"Apa Sean ada di sini?"
Vincent menggeleng.
Terlihat jelas kekecewaan diwajah Queen. Aku kira dia akan datang. Apa dia marah?
"Queen, kita harus meninggalkan tempat ini secepatnya."
Queen mengangguk. Lalu keduanya pun keluar dari hutan belantara itu.
"Ya ampun, Queen. Kau dari mana huh?" Panik teman-temannya saat melihat Queen keluar dari dalam hutan bersama Vincent.
"Tadi aku tersesat." Jawab Queen sekilas melirik Vincent.
"Oh God! Untung ketua kita sigap dan langsung mencarimu. Tapi tunggu! Di mana David?"
Semua orang kembali riuh dan saling berbincang.
"Aku tidak melihatnya sejak tadi." Kata Vincent.
"David itu laki-laki, aku rasa dia hanya sedang melihat-lihat kondisi hutan." Kata anggota laki-laki yang lain.
__ADS_1
"Hm, mungkin." Jawab Vincent. "Sebaiknya kita bergerak lagi. Hari akan gelap."
Yang lain mengangguk patuh. Vincent memberikan kode pada Queen untuk tidak bicara soal tadi. Lalu mereka pun kembali dalam kegiatan tadi tanpa sedikit pun menaruh curiga soal kehilangan David.