Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Kau hanya boleh menatapku seorang


__ADS_3

Sejak pengakuan Sean beberapa menit yang lalu, Queen tidak berhenti mencebikkan bibirnya karena kesal. Bahkan ia puasa bicara sangking kesalnya. Jika tahu Sean hanya mengerjainya, ia tidak akan memberikan kepuasan pada lelaki itu. Meski ia juga sangat menikmatinya tadi.


"Sayang, apa masih marah?" Sean melirik calon istrinya itu di balik kemudi. Lalu dirinya pun tersenyum geli karena Queen masih terlihat kesal.


"Kau tahu, yang tadi itu sangat luar biasa. Ternyata posisi berdiri juga rasanya lumayan ya?"


Mendengar itu Queen langsung menoleh dengan tatapan membunuh yang kental. Namun ia tidak berniat protes atau apalah itu.


"Kenapa menatapku seperti itu huh? Kau masih belum puas? Tenang saja, aku akan memuaskanmu setelah menikah nanti."


"Banyak bicara." Ketus Queen yang akhirnya mengeluarkan suara.


Sean tersenyum. "Aku lapar, kita mampir dulu ke restoran."


Queen diam lagi.


"Sayang, jangan marah terus. Kau semakin cantik tahu tidak? Menggemaskan."


Mendengar itu wajah Queen langsung merona. "Sean! Aku masih marah padamu, dasar pria mesum."


"Aku mesum? Hey... apa tidak terbalik? Kau yang menarikku tadi, bahkan kau yang memasukkannya sendiri."


Wajah Queen semakin merah padam. "Sialan. Lupakan itu. Jika saja kau tidak menjebakku, aku tidak akan melakukannya." Meski apa yang dikatakan Sean itu benar, tetap saja ia malu.


Sean tidak bisa berhenti tersenyum. "Tapi servismu sangat memuaskan, sayang. Aku beri poin tujuh."


"Apa?" Kaget Queen. Apa katanya? Dia hanya memberikan aku tujuh poin? Memangnya aku tidak memuaskan apa? Padahal dia sampai menembakku beberapa kali. Munafik.


Mobil yang mereka naiki pun berhenti di sebuah parkiran resto yang lumayan terkenal. Kemudian keduanya pun langsung masuk karena memang sangat lapar. Setelah memesan beberapa hidangan, Sean menatap kekasihnya begitu dalam.


"Kau masih marah?"


Queen melirik sekilas. Kemudian fokus kembali pada panggung hiburan.


"Jangan marah lagi, sayang. Aku minta maaf." Sean menggenggam tangan Queen selembut mungkin.


Queen menatap Sean. "Kau menyebalkan, Sean. Sekali saja jangan membuatku marah."


"Maafkan aku, aku hanya senang saat melihatmu marah. Kau terlihat semakin cantik saat sedang marah atau kesal, sungguh, aku tidak berbohong." Jujur Sean.


"Ck, mana ada orang marah cantik, Sean. Yang ada aku akan cepat tua karena kau selalu membuatku marah."


Sean tertawa renyah. "Bagiku kau akan selalu menjadi gadis cantik."


Queen tersenyum tipis mendengar sanjungan lelaki itu. Sean selalu saja pandai merubah suasana hatinya setiap saat. Lalu telinga Queen pun tidak sengaja mendengar beberapa wanita yang membicarakan Sean.


"Ya ampun, kau lihat laki-laki yang memakai baju hitam itu, yang ada di meja sembilan. Dia sangat tampan, mana bule lagi. Aku jadi iri dengan wanita di depannya itu. Beruntung sekali dia."


"Shhhtt... jangan terlalu besar bicaranya. Bagaimana jika mereka dengar?"

__ADS_1


"Alah, aku rasa mereka tidak bisa bahasa Indonesia. Sejak tadi mereka menggunakan bahasa asing. Omg, lihat ototnya, rasanya aku rela naik ke atas ranjang tanpa harus di bayar. Cocok sekali jika dia jadi sugar daddyku."


Cih, murahan. Ketus Queen dalam hati.


"Jika dia melirik ke sini, aku akan mengedipkan mata."


Mendengar itu Queen langsung menoleh dan memberikan tatapan tajam. Sontak ketiga wanita itu terkejut dan langsung berpaling.


"Aku rasa wanita itu mengerti apa yang kita ucapkan."


"Iya, wajahnya juga tidak terlalu bule."


"Sudah aku katakan kan, kalian tidak mau dengar."


Queen tersenyum miring.


"Ada apa?" Tanya Sean ikut melihat ke arah wanita-wanita itu. Namun dengan cepat Queen menarik dagunya. Sean memang tidak terlalu mengerti bahasa Indonesia, jadi tidak tahu apa-apa.


"Jangan lihat ke sana. Mereka mengatakan kau itu jelek dan sudah tua." Ketus Queen yang disambut tawa oleh Sean. Ia tahu pasti bukan itu yang dikatakan oleh para gadis di sana.


"Baru kali ini ada yang meragukan ketampananku."


"Hm, jangan melihat ke sana. Kau hanya boleh menatapku seorang. Memangnya apa cantiknya mereka? Bedak saja satu inci, aku yakin ada sesuatu yang mereka sembunyikan di wajahnya."


Sean tertawa kecil. "Apa yang kau katakan, sayang? Kau cemburu huh? Memangnya apa yang mereka bicarakan tadi? Katakan."


"Bukan apa-apa, lupakan saja." Genggaman tangan mereka pun harus terlepas karena seorang waiter yang membawa pesanan mereka tiba.


"Selamat menikmati, Tuan dan Nyonya." Ucapnya sedikit membungkuk.


Queen tersenyum. "Terima kasih, Mas."


"Sama-sama, Nyonya. Permisi." Lelaki itu pun bergegas pergi dari sana.


Lalu keduanya pun makan dengan begitu lahap. Sepertinya mereka kelaparan karena tenaganya habis terkuras oleh kegiatan panas yang mereka lakukan.


"Rasanya lumayan," komentar Sean.


"Aku lebih suka masakanmu, tidak ada tandingan. Setelah menikah, aku ingin makan masakanmu setiap hari." Sahut Queen tersenyum begitu manis.


"Dengan senang hati, Ratuku." Sean senang karena Queen tidak lagi mempermasalahkan pernikahan yang akan mereka jalani pekan depan.


"Oh iya, Sean. Bagaimana dengan pekerjaanmu di sana? Tidak apa kau terlalu lama di sini?" Tanya Queen saat mengingat nasib perusahaan calon suaminya di sana.


"Aku memberikan beban itu pada Ben. Aku rasa saat ini dia sedang mengumpatiku. Biarkan saja, dia lumayan bisa di andalkan."


Queen mengangguk paham. "Oh iya, bukankah kau juga pemilik Air American?"


"Ya."

__ADS_1


"Tapi aku tidak pernah melihat beritamu di sana."


"Aku jarang mengunjungi tempat itu."


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa."


Queen terdiam, ia merasa ada yang disembunyikan oleh kekasihnya itu. "Tidak apa jika kau tidak mengatakannya padaku. Aku paham."


Sean menghela napas berat. Lalu menghentikan makannya sejenak. "Mommy meninggal sepulangnya dari sana. Jika aku ke sana, aku hanya akan mengingat kejadian itu."


Queen terkejut mendengarnya, ia merasa bersalah sekarang. "I am sorry, Sean. Aku tidak tahu itu." Menggenggam tangan Sean dengan erat. "Aku berjanji tidak akan membahasnya lagi."


Sean tersenyum. "It's okay, honey."


Queen memadang Sean penuh iba. "Aku bersyukur karena Tuhan mempertemukan kita, Sean. Kau itu pria yang baik, pasti sangat sulit mendapat lelaki sepertimu."


"Itu artinya kau gadis beruntung karena mendapatkan hatiku."


Queen tertawa. "Ini yang aku tidak suka darimu, kau itu terlalu percaya diri." Sean tersenyum mendengarnya. "Tapi... itu tidak buruk. Lanjutkan makanmu, kita harus pulang karena Mommy dan Daddy akan bertanya panjang lebar jika kita terlambat pulang."


Keduanya pun melanjutkan makan yang tadi sempat terjeda. Setelah itu keduanya langsung pulang.


"Sayang." Panggil Sean saat mereka sudah dalam perjalanan pulang.


"Ya?" Queen menoleh.


"Kau ingin punya anak berapa?"


"Hah?" Queen terkejut mendengar lontaran pertanyaan yang Sean berikan.


Anak? Bayangannya saja tidak pernah hadir dalam kepalanya.


"Aku bertanya, kau ingin punya anak berapa? Kalau aku ingin punya anak lima. Supaya nanti mereka yang menjagamu saat aku pergi jauh. Jadi setelah menikah kita tidak perlu menundanya lagi. Bagaimana?"


Queen menggigit bibirnya. "Sean... sebenarnya....."


"Aku tidak sabar melihat anak-anak kita lahir, mereka pasti menggemaskan sepertimu." Potong Sean. Lelaki itu terlihat begitu antusias.


"Sean...."


"Kenapa? Apa kau masih takut huh?"


"Bukan, tapi...."


Lagi-lagi Sean memotong ucapannya. "Jangan khawatir, aku tidak akan mengekangmu setelah kita menikah. Kau bebas mengejar cita-citamu, sayang. Tapi tolong, jangan menunda masalah anak. Usiaku sudah tidak muda lagi, okay?"


Queen memalingkan wajahnya ke arah jendela sambil menggigit bibir. Bahkan tangannya mencengram erat ujung gaunnya.

__ADS_1


Apa yang akan kau lakukan jika tahu aku sudah suntik progestin, Sean? Apa kau akan kecewa padaku?


__ADS_2