Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Marah


__ADS_3

Di sebuah ruangan bernuansa hitam nan luas. Tampak seorang lelaki berpakaian formal tengah berkutat dengan macbook miliknya. Sesekali ia membuka sebuah map berisi dokumen penting. Lelaki itu terlihat begitu tampan dengan sebuah kaca mata yang bertengger indah di hidung bangirnya. Lalu perhatiannya teralih karena ketukan pintu.


Tok tok tok.


Mata lelaki itu langsung tertuju ke arah pintu. Seorang wanita cantik dengan pakaian kasual masuk dengan senyumannya yang menawan. "Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat."


Lelaki itu mengerut bingung. "Kenapa kau ke sini? Sudah aku katakan istirahat saja di rumah."


"Hiks... bosan tahu di rumah. Sesekali aku ingin mengunjungi suamiku yang sedang bekerja. Aku merindukanmu." Rengek wanita itu yang tak lain adalah Rea. Ia menghampiri meja kerja suaminya dan duduk di sana.


"Ini masih jam kerja, tunggu saja di sofa." Perintah Zain yang kembali berkutat dengan beberapa berkas penting.


"Aku akan menunggumu di sini. Boleh aku lihat kau sedang apa?" Rea pun beralih duduk di pangkuan suaminya. Lalu memeperhatikan layar macbook dengan seksama. "Ck, aku tidak mengerti. Ini bukan bidangku."


"Aku tidak memintamu melihatnya." Zain menatap wajah istrinya dengan seksama.


"Ck, aku kan cuma ingin tahu. Kau sudah makan?"


"Ini belum waktunya makan, sayang."


"Tapi aku lapar. Ingin makan bakso berukuran besar. Boleh ya?"


Alis Zain terangkat sebelah. "Apa tidak ada makanan lain yang lebih bagus? Kenapa kau sangat suka makan makanan tidak sehat."


"Hey, semua makanan itu sehat tahu. Bikin perut kenyang dan pikiran tenang. Yang bikin tidak sehat itu kerja sepanjang waktu. Liburan dong sesekali." Oceh Rea yang sama sekali tak bermakna bagi Zain.


"Kau bawel sekali. Aku sedang kerja, Re."


"Aku tahu. Tapi aku ingin mengganggumu kali ini."


"Apa kau tidak ada pekerjaan lain?"


"Tidak. Aku sudah mereschedule semuanya. Sesuai perintahmu, Tuan." Rea memainkan dasi suaminya seperti anak kecil.


"Bagus. Aku suka istri penurut."


"Aku memang penurut. Kau saja yang tidak tahu. Ayok kita cari bakso, aku sudah lapar."


Zain melirik arloji di tangannya. "Tiga puluh menit lagi, aku harus segera menyelesaikan pekerjaan. Besok semuanya harus sudah rampung."


"Suruh saja sekretarismu itu yang mengerjakannya."


"Tidak bisa, sayang. Ini tugasku. Tunggu aku di sana, Re." Zain menunjuk ke arah sofa melalui ujung matanya. Rea berdecak sabal.


"Tiga puluh menit, tidak boleh lebih."


"Ya." Rea pun bangkit dan tidak lupa mengambil ponsel suaminya. "Aku sita sebentar."


"Bawa saja." Sahut Zain tanpa melihat lawan bicaranya.


"Ck, sepertinya pekerjaan lebih penting dari pada istrimu. Well, itu tidak jadi masalah. Asal shoppingku tidak putus." Rea terkekeh sambil melangkah menuju sofa. Duduk di sana dengan kaki tersilang.


"Sayang, aku buat story di instagrammu ya?"


Zain melirik istrinya sekilas. "Terserah kau saja."


Rea tersenyum senang. Lalu mengambil aplikasi instagram milik suaminya. Ia tersenyum geli saat tidak ada satu pun foto suaminya terposting. Hanya ada beberapa gambar buku dan kampus saja di sana. Padahal followers suaminya itu hampir tiga ratus ribu lebih. Meski itu masih kalah jauh dengan miliknya yang sudah satu juta lebih followers.


Rea mengambil ikon kamera, lalu berpose seimut mungkin. Rea tersenyum saat melihat gambar dirinya yang cukup imut itu.


"Orang cantik mah bebas. Post." Rea pun memposting fotonya dengan caption my lovely wife. Tidak lupa ia menyebut dirinya sendiri.


Baru beberapa detik, instagram milik Zain pun dibanjiri followers juga pesan masuk. "Sayang, sepertinya bulan ini kau harus transfer uang dua kali lipat. Lihat, banyak sekali followers yang masuk. Kau beruntung tahu punya istri terkenal sepertiku."


Zain menatap Rea, kemudian menggeleng pelan. Setelah itu ia pun kembali fokus bekerja.


"Sayang, ini siapa? Kenapa dia mengirim pesan seperti ini? Kau juga mengikutinya." Rea menatap dengan seksama foto seorang wanita cantik yang mengirim pesan untuk suaminya. Karena penasaran Rea pun membuka akun orang itu. Sedangkan Zain masih sibuk dengan berkas-berkasnya.


"Cih, cuma wanita murahan." Rea tersenyum miring. Lalu ia pun langsung memblokirnya.


Rasakan itu. Rea terkikik dalam hati.


"Sayang, Zee mengirimmu pesan. Dia bilang merindukanmu."


"Jangan ditanggapi, abaikan saja."


"Aku blokir ya?"


"Terserah kamu, sayang."

__ADS_1


"Eh, gak usah deh. Nanti dia gak bisa lihat kemesraan kita lagi."


Zain menghela napas. Ia benar-benar tidak bisa fokus kali ini.


"Sayang, teman-teman kamu bilang aku cantik dan seksi. Mereka minta dikenalin pas malam pesta nanti."


Zain yang mendengar itu langsung menatap istrinya. "Siapa?"


"Banyak, ada Angga, Harley, Mike, Michel, Adrey. Banyak deh pokoknya."


"Jangan ditanggapi."


"Okay." Rea pun benar-benar mengabaikan mereka. Ia meletakkan ponsel Zain di atas meja karena bosan.


"Sayang, aku lapar." Rengeknya.


"Sabar, sedikit lagi."


"Hiks... bagaimana jika aku mati kelaparan? Terus aku jadi hantu gentayangan. Setiap hari aku mengganggumu untuk minta makan."


Zain tertawa lucu. "Mana ada hantu seperti itu, Re."


Rea terkekeh geli. "Iya juga sih. Oh iya, tadi Mommy telepon. Katanya malam nanti kita di minta makan di sana. Bagaimana?"


"Terima saja."


"Kau tidak subuk kan?"


"Sibuk sih."


"Sibuk apa memangnya?" Tanya Rea penasaran.


"Belai kamu."


Rea melotot mendengar itu. "Jangan ngada-ngada deh."


"Memang benar kan? Kamu minta dibelai terus."


"Kak.... malu tahu." Rengek Rea mengerucutkan bibirnya.


"Buat apa malu sama suami sendiri?"


"Tetap aja malu tahu. Udah ah gak usah bahas itu. Mesum banget sih. Cepat sedikit, aku lapar."


"Bener ya sedikit lagi?"


"Iya, sayang."


Rea tersenyum senang mendengarnya. Meski sesekali ia menggerutu karena Zain tak kunjung selesai.


****


Malam hari keduanya pun pergi ke rumah orang tua Zain. Rea terlihat sumringah saat Elsha menyambutnya dengan penuh kehangatan.


"Rindu banget, padahal baru seminggu gak ketemu." Ucap Elsha memeluk Rea singkat. "Ayok masuk."


Elsha pun memboyong menantunya masuk, sedangkan Zain tertinggal di belakang. Lelaki itu menghela napas panjang sebelum mengekori keduanya.


"Udah baikan?" Bisik Elsha. Rea pun mengangguk pelan.


"Dia udah nyatain cinta malam kemarin." Balas Rea yang juga berbisik-bisik. Elsha terkejut mendengarnya. Zain yang melihat keduanya berbisik-bisik pun merasa curiga. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Tidak mungkin juga ia menguping.


"Bagaimana dia mengungkapkannya? Apa sangat romantis?"


Wajah Rea pun mendadak merona. "Itu... pas lagi di atas ranajng, Mom."


Seketika tawa Elsha pun pecah. Dan itu membuat keduanya kaget. "Ya ampun, lucu sekali."


"Mom." Rea menarik lengan baju mertuanya seraya menoleh kebelakang. Sungguh, ia sangat malu saat ini.


"Kalian membicarakanku?" Tanya Zain penasaran.


"Tidak." Sahut keduanya kompak.


"Istri kamu itu terlalu jujur, Zain. Kayaknya hidup kamu bakal awet muda. Tiap hari bisa ketawa." Ujar Elsha seraya merengkuh pinggang ramping Rea.


"Awet muda dari mana? Tiap hari kerjaannya diomelin terus. Bikin telinga bolong." Ledek Zain berjalan mendahului keduanya.


"Hey, aku ngomel juga karena kamu bikin ulah. Malam ini gak ada jatah." Seru Rea tak terima dikatai oleh suaminya. Namun Zain sama sekali tidak peduli dan terus berlalu. Lagi-lagi Elsha pun tertawa geli. Lalu mereka pun menyusul Zain.

__ADS_1


"Hey, kenapa cemberut?" Tanya Jackson ketika melihat wajah menantunya yang ditekuk.


"Biasa, Dad. Merajuk." Sahut Zain mewakili istrinya. Rea pun semakin menekuk wajahnya dan duduk di samping sang suami. Sebelum itu Rea memelototi suaminya. Zain yang melihat itu cuma bisa tersenyum.


"Udah jangan ribut terus, kalau ributnya di ranjang gak papa. Biar cepat punya cucu." Ujar Jackson menatap keduanya dengan senyuman nakal.


"Tiap malam juga ribut, Dad." Jawab Zain seadanya. Dan itu berhasil mendapat cubitan halus dari sang istri. Zain pun meringis kesakitan.


"Udah jagan ribut terus. Ayok makan, nanti makanannya keburu dingin." Ajak Elsha.


"Okay, mari makan." Sahut Jackson.


Lalu mereka pun segera menyantap hidangan yang sudah tersedia di atas meja.


Usai makan, mereka pun beranjak menuju ruang keluarga untuk melanjutkan obrolan. Saat sedang asik mengobrol, ponsel Rea pun berdering. Cepat-cepat Rea mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Lalu melihat siapa gerangan yang menghubunginya. Dan ternyata itu Regan. Rea pun tersenyum senang. Sejak dirinya pulang ke tanah air, selama itu pula mereka tidak berkomunikasi.


"Siapa?" Tanya Zain.


"Regan." Rea menunjukkan ponselnya pada Zain. "Aku angkat dulu, kali aja ada masalah penting soal kerjaan."


Zain tampak berpikir. "Jangan lama." Putusnya. Rea pun mengangguk, lalu menatap mertuanya untuk meminta izin. Elsha dan Jackson pun mengangguk. Lalu Rea pun bergegas menuju balkon.


"Zain, kau masih membiarkannya bekerja setelah apa yang terjadi?" Tanya Jackson.


"Aku tidak mungkin memaksanya untuk berhenti, Dad. Aku sudah memberikannya waktu selama satu tahun. Setelah itu dia akan berhenti bekerja di dunia modeling." Sahut Zain apa adanya.


"Kenapa kau tidak membuatkan klinik saja untuknya? Atau mungkin masukkan saja dia ke rumah sakit besar."


"Aku akan bicara padanya nanti. Sebelumnya aku juga sudah membicarakan ini. Hanya saja belum ada jawaban."


"Lagian istri kamu itu aneh, sudah menjadi dokter malah memilih jadi model." Timpal Elsha.


"Semua orang punya mimpi masing-masing, Mom."


"Iya juga sih. Mommy juga pernah menghayal jadi model. Eh keburu ketemu sama Daddy kamu. Tapi Mommy gak pernah nyesal, soalnya Daddy kamu itu romantis dan cinta banget sama Mommy."


Jackson tersenyum geli mendengar pujian dari istrinya. Zain ikut tersenyum melihatnya.


"Ya sudah, aku mau nyusul Rea dulu. Sepertinya dia harus diawasi."


"Zain, jangan terlalu cemburu. Lagian Mommy lihat Regan itu baik orangnya. Dia kan yang nolongin Rea kemarin itu?"


"Honey, namanya juga suami. Pasti cemburu kalau istrinya terlalu dekat dengan laki-laki lain. Wajar dia posessif gitu." Tanggap Jackson.


"Cih, kemarin aja sok-sokan nolak. Sekarang kena karmanya kan, bucin akut."


"Mom." Zain memperingati.


"Sudahlah, sana susul istrimu sebelum direbut orang. Hati-hati, istrimu bisa berpindah hati kalau kamu lengah." Ancam Elsha yang ingin menakuti anaknya itu. Habis Zain selalu saja jual mahal.


"Itu tidak akan terjadi. Aku percaya Rea bukan wanita seperti itu."


Elsha tersenyum geli." Tuh kan bucin. Udah sana pergi. Bisa-bisa Mommy juga ketularan bucin lagi."


"Memang bucin kan?" Ledek Zain yang langsung beranjak pergi.


"Dasar anak nakal."


Zain melangkah pelan menghampiri Rea yang masih mengobrol dengan Regan dari balik telepon. Rea sama sekali tidak menyadari jika Zain sudah berdiri di belakangnya.


"Ya ampun, jangan khawatir, Reg. Suamiku juga belum tahu kalau aku sedang hamil."


Deg!


Seketika jantung Zain berdegup kencang saat mendengar itu. Rea hamil? Lalu menyembunyikan itu darinya. Bahkan ia lebih mempercayai lelaki lain dibanding dirinya sebagai seorang suami? Kedua tangan Zain pun mengepal erat. Bagaimana bisa Rea menyembunyikan hal penting ini darinya.


"Iya, aku ingat. Aku selalu menjaga pola makan dan tidur cepat. Tapi kadang pinggangku sering sakit. Bekas memarnya juga belum hilang."


Meras panas. Zain pun langsung merebut ponsel istrinya. Sontak Rea pun terkejut dan langsung berbalik. "K__kak, sejak...."


"Aku mendengar semuanya." Tegas Zain dengan sorot mata tajam yang membuat Rea merinding seketika.


"Sayang, dengarkan aku dulu."


"Kita bicarakan ini di rumah." Nada bicara Zain pun mendadak dingin dan datar. Rea menggigit ujung bibirnya.


"Sayang, aku...."


"Kita pulang sekarang." Zain pun langsung menarik tangan Rea dan membawanya pergi. Jackson dan Elsha yang melihat itu pun merasa heran.

__ADS_1


"Zain, kalian mau kemana?" Tanya Elsha.


"Pulang." Sahut Zain tanpa menoleh. Rea pun tak sempat menoleh karena Zain terus menariknya.


__ADS_2