Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Jangan menggodaku, sayang


__ADS_3

"Aku harap kau betah di sini." Kata Rea seraya membawa Abel ke kamar tamu.


Ya, Rea memang memutuskan untuk menampung Abel sementara waktu karena wanita itu belum terlalu mengenal seluk beluk kota. Zain juga tidak merasa keberatan karena Abel merupakan saudari sang istri. Toh rumah mereka juga terlalu luas jika hanya di tempati dua orang. Lagipula wanita itu hanya sementara di sana bukan?


Mulut Abel sedikit terbuka saat melihat penampakan kamar yang begitu mewah. Katakan saja luas kamar itu tiga kali lipat dari kamarnya di desa.


Kamar tamunya saja seluas dan sebagus ini. Bagaimana dengan kamar utamanya? Pikir Abel dalam hati.


"Jika kau lelah, istirahat saja dulu. Kamarku ada di atas. Jika perlu sesuatu temui saja Bik Ade, dia asistenku. Kamarnya ada di sebelah." Ujar Rea tersenyum lebar. "Kau tahu? Aku senang kau datang ke sini. Sejak lama aku ingin punya Kakak. Kau satu-satunya Kakakku."


Abel tersenyum simpul yang kemudian mengangguk pelan.


"Istirahatlah." Rea mengusap pundak Abel sebelum pergi dari sana.


Di kamar, Zain keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya yang lengket. Lelaki itu terlihat begitu seksi dengan lilitan handuk kecil dipinggangnya. Dengan gerakan sensual pula ia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Rea yang baru saja masuk pun tersenyum nakal, lalu menghampiri Zain dan menempel di punggungnya.


Zain menoleh kebelakang bersama senyumannya yang menawan.


"Kenapa tidak menungguku? Padahal aku ingin mandi bareng tahu." Rea menyebikkan bibirnya.


"Aku pikir kau akan sibuk dengan sepupumu itu."


Rea tersenyum tipis. "Kau sangat harum."


"Aku tahu. Lepaskan dulu, biarkan aku berpakaian." Pinta Zain. Namun Rea malah semakin mengeratkan pelukkannya.


"Sebentar lagi, biarkan aku menghirup aroma tubuhmu sampai puas." Pintanya seraya menempelkan hidungnya ke kulit punggung sang suami. Bahkan dengan senyuman jahil, Rea memberikan kecupan menggoda.


"Jangan menggodaku, sayang." Geram Zain.


"Aku tidak menggodamu, cuma memberi tanda kepemilikan di sini." Sahut Rea tersenyum nakal sambil memainkan jari lentiknya di punggung sang suami.


"Itu sama saja." Zain pun berbalik. Menatap wajah cantik sang istri lamat-lamat. Sedangkan Rea begitu fokus memandangi perut kotak-kotak milik suaminya sambil menggigit ujung bibir.


Zain tersenyum geli saat melihat ekpresi lucu istrinya itu. "Bilang saja jika kau menginginkannya, sayang. Kau bebas menyentuhnya, semuanya milikmu."


Rea pun mendongak. "Tapi dokter masih belum mengizinkan kita untuk melakukannya."


Zain tertawa pelan. "Memangnya apa yang kau pikirkan huh? Aku bilang kau bebas menyentuhnya. Apa jangan-jangan kau membayangkan hal lain?"


Seketika wajah Rea pun merah padam menahan rasa malu. Lalu membenamkan wajahnya di dada bidang Zain. "Jahat."


Zain tersenyum. "Apa kita coba melakukannya lagi? Ini sudah lebih dari dua minggu."


Rea kembali mendongak. "Apa boleh? Bagaimana jika kesehatan baby terganggu lagi?"


"Kita lakukan dengan pelan." Bisik Zain. Rea pun tersenyum senang yang diiringi dengan anggukan kecil.


Tanpa banyak berpikir lagi Zain pun mengangat tubuh istrinya ke atas pembaringan. Mengukung tubuh indah itu dibawahnya.


"Aku belum mandi." Cicit Rea.


"Biarkan aku yang membersihkan dirimu." Zain memberikan kecupan di bibir istrinya. Lalu kecupan itu pun semakin turun ke bawah. Dan berhenti di leher sang istri. Memberikan beberapa tanda kepemilikan di sana. Rea memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan sang suami.


"Aku suka aroma tubuhmu, sangat manis." Bisik Zain tepat di telinga Rea. Memberikan kecupan di sana. Rea pun m*nd*s*h kecil. Matanya yang terpejam dan terbuka menambah kesan seksi di mata Zain.


Pelan tapi pasti Zain melucuti seluruh kain yang menempel di tubuh wanitanya. Lalu keduanya pun terhanyut dalam ciuman panas. Rea terus menjerit kecil ketika tangan suaminya semakin bergerak nakal.


Rea mendorong dada bidang suaminya dan langsung bertukar posisi menjadi di atas. Zain sempat kaget dengan keagresifan sang istri. Namun detik berikutnya ia mengulas senyuman miring. Dan keduanya pun terhanyut dalam gelombang cinta yang membara. Menyalurkan segenap rasa rindu yang sempat terpendam.

__ADS_1


****


Keesokan pagi, Rea keluar dari kamar sambil bersenandung ria. Dengan hati-hati ia menuruni anak tangga dan beranjak menuju dapur.


"Belum selesai Bik?"


Bik Ade pun menoleh, kemudian tersenyum ramah. "Sedikit lagi, Nya. Keliahatannya pagi ini seger banget, dapat hadiah spesial ya malam tadi?"


Rea tersenyum malu. "Lebih sepesial dari yang spesial, Bik."


"Bibik tahu, Nya. Kelihatan tuh di lehernya, banyak gigitan nyamuk nakal."


Rea terkejut mendengarnya, cepat-cepat ia menutup lehernya dengan kerah kemeja. Bik Ade pun tertawa geli.


"Shut. Jangan terlalu jujur juga kali, Bik. Namanya juga udah kelamaan puasa."


"Bibik paham hormon bumil itu agak aneh, Nya. Gak perlu malu."


Rea pun tertawa renyah. "Bibik bisa aja. Aku lapar banget, masak apa sih?" Rea pun menengok ke arah wajan.


"Cuma nasi goreng omelet pagi ini, Nya. Bibik juga kesiangan."


"Gak papa kok, ini aja udah cukup. Keliatannya enak banget, harum soalnya."


Bik Ade pun tersenyum. "Nyonya duduk aja di ruang makan, bentar lagi juga selesai."


"Iya Bibik bawel. Oh iya, Abel belum keluar dari kamar, Bik?"


"Kayaknya belum, Nya. Dari tadi Bibik belum liat." Jawab Bik Ade sambil mengaduk nasi goreng andalannya. Rea pun manggut-manggut.


"Bik, buatin jus jeruk seperti biasa ya. Tapi kali ini jangan pake gula. Agak kental buatnya."


"Siap, Nya. Tapi kalau Tuan marah, Nyonya yang nanggung."


Beberapa menit kemudian semua orang sudah berkumpul di ruang makan. Zain juga sudah terlihat rapi dengan setelan kantornya. Lelaki itu melirik sang istri yang tengah sibuk bermain gawai sambil meneguk segelas jus.


"Apa yang kau minum? Di mana susunya? Kau tidak meninumnya lagi?" Tanya Zain menatap Rea serius. Dan itu menarik perhatian Rea dan Abel tentunya.


Rea menyengir kuda. "Pagi ini aku sedang tidak ingin minum susu, jadi aku ganti dengan jus."


Zain masih memberikan tatapan yang sama. Kemudian diambilnya gelas jus yang tengah Rea minum. Seketika Rea terlihat panik. Ditambah Zain mencicipi jusnya. Kening lelaki itu pun langsung mengerut.


"Minuman apa ini? Bik, segera ganti dengan susu. Tidak ada penolakan. Kau selalu mengabaikan ucapanku, tapi tidak untuk kali ini." Tegas Zain. Rea menggigit ujung bibirnya. Ia belum puas meminum minuman segar itu. Di tatapnya gelas itu dengan pandangan sedih.


Aku baru meminumnya setengah, huhu... kasihan sakali kamu jus.


"Baik, Tuan." Sahut Bik Ade yang sampat melirik Rea sebelum pergi menuju dapur.


"Em... sebanarnya aku mual, Kak. Makanya aku minum itu. Boleh aku mencicipinya sedikit lagi?"


"Nope, habiskan sarapanmu. Setelah itu minum susu."


Rea menyebikkan bibirnya. Dasar suami pelit. Ia menggerutu seraya melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda dengan malas.


Sejak tadi Abel terus mencuri pandang ke arah Zain. Namun lelaki itu seolah tidak peduli padanya. Ya Tuhan, ternyata benar orang kota itu tampan-tampan. Apa lagi pakai pakaian serapi itu. Belum lagi kantongnya yang tebal, andai aku bisa memiliki suami sepertinya. Mungkin hidupku akan lebih terjamin.


"Sayang, hari ini aku akan mengajak Abel berkeliling kota. Boleh kan?" Rea menatap Zain penuh harap.


Zain tidak langsung menjawab. "Boleh, supir yang akan mengantar kalian." Putus Zain.

__ADS_1


"Sayang, aku bisa...."


"Pakai supir atau tidak perlu keluar rumah." Sela Zain yang berhasil membuat Rea bungkam. "Ini demi kebaikanmu."


Rea menghela napas pasrah. "Baiklah."


"Hm. Aku sudah selesai." Zain bangkit dari duduknya. "Aku pergi."


Rea pun ikut bangun, diraihnya tangan sang suami dan mengecupnya dengan mesra. "Hati-hati."


Zain mengangguk, lalu dikecupnya kening sang istri tak kalah mesra. "Hubungi aku di mana pun kau berada."


"Iya bawel. Sana pergi, cari uang yang banyak supaya aku bisa terus shopping." Gurau Rea.


"Lakukan sesuka hatimu, uangku tidak akan habis meski kau memborong satu mall pun."


"Cih, aku tersanjung, Mr. Arrogant."


Zain tersenyum manis, kemudian mengecup pipi sang istri. "Aku pergi."


Rea mengangguk patuh. Sebelum pergi Zain memberikan senyuman ramah pada Abel sebagai sapaan pagi. Lalu ia pun bergegas pergi dari sana.


Rea pun duduk kembali dan melanjutkan sarapannya yang belum selesai.


"Re, bagaimana perasaanmu punya suami seperti itu?"


Rea pun menoleh ke arah sepupunya. "Biasa saja, ada apa?"


Abel menaikkan kedua bahunya. "Terkadang aku iri padamu. Kau lahir dalam kondisi keluarga yang sukses, punya suami kaya raya. Aku pikir kau sangat bahagia."


Rea tertawa renyah mendengarnya. "Mungkin kau tidak tahu rasa pahit yang pernah aku rasakan dulu, aku pernah di tolak mentah-mentah olehnya."


Abel terkejut mendengarnya. "Ditolak?"


Rea mengangguk. "Alasannya karena aku jelek."


"Lalu bagaimana ceritanya kalian bisa menikah?"


"Perjodohan."


"Ah." Abel pun mengangguk paham. "Tapi aku lihat sekarang dia begitu mencintaimu."


"Ya, itu hasil dari perjuanganku. Suamiku itu pemilih, dia suka wanita cantik dan seksi. Oleh karena itu aku selalu tampil cantik dan berpakaian seksi saat di rumah. Semua laki-laki akan terbuai jika sang istri memberikan servis yang baik. Buktikan saja sendiri."


"Tapi suamiku bukan orang seperti itu. Bahkan dia tidak peduli aku naked sekali pun. Aku pernah mencobanya.


Rea tertawa renyah. "Bukan tidak peduli, tapi dia sanggup menahannya. Mana ada laki-laki yang tidak tergoda saat melihat santapan lezat di depan matanya. Atau jangan-jangan suamimu itu gay?"


Abel terdiam sejenak. "Apa itu mungkin?"


"Bisa jadi, apa kau pernah bertemu dengan kekasihnya?"


Abel menggeleng. "Aku hanya sering mendengar dia menelpon seseorang dengan sangat mesra."


"Aku rasa suamimu benar-benar gay. Kau harus menyelidikinya. Bukankah kalian juga menikah karena perjodohan?"


"Ya." Sahut Abel. "Tapi... aku rasa itu tidak benar. Rasanya sangat aneh jika suamiku itu seorang gay."


"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Bel. Sebaiknya kau selidiki dulu."

__ADS_1


"Ya, akan aku coba."


Rea tersenyum tipis.


__ADS_2