
Siang hari Rea dan Abel pun mampir di sebuah restoran yang berada di pertengahan mall. Setelah berkeliling selama berjam-jam, kini keduanya pun menyerah dan memilih untuk mengisi energi yang sudah terkuras habis.
"Bagaimana perasaanmu? Kau senang kan?" Tanya Rea memulai pembicaraan.
"Ya, aku tidak menyangka berkeliling mall sebesar ini asik juga. Bahkan sampai lupa waktu."
Rea tertawa renyah. "Lain kali kita akan berkeliling lagi."
Abel pun mengangguk pelan. Lalu ditatapnya Rea lamat-lamat. "Re, sepertinya besok aku akan mencari pekerjaan."
"Kenapa cepat sekali? Suamiku juga sedang mencarikan pekerjaan untukmu. Jangan sungkan, kita bukan orang jauh, Bel. Rumahku selalu terbuka untukmu. Lagian aku senang kau ada di rumah, jadi aku tidak kesepian lagi."
"Apa kau tidak bekerja? Bukankah kau seorang model?"
Rea mengangguk. "Dua minggu lagi aku kembali bekerja. Tapi bukan di sini, melainkan di London."
"London?"
"Hm." Rea mengangguk lagi.
"Lalu bagaimana dengan suamimu?"
"Dia sudah terbiasa aku tinggal."
Abel pun mengangguk.
"Jangan khawatir, selama aku tidak ada, kau tingal saja dengan Mami." Ujar Rea dengan santai. Abel pun mengangguk lagi. Tidak lama pesanan mereka pun sampai. Keduanya menjeda obrolan dan segera menyantap hidangan.
Setelah puas berkeliling kota. Keduanya pun kembali ke rumah. Rea meletakkan barang belanjaan di atas meja dan langsung menjatuhkan bokong di atas sofa. Tubuhnya terasa letih sekarang.
"Bik, buatin jus dong." Teriaknya dengan mata terpejam.
"Biar aku saja yang buat." Tawar Abel. Rea membuka matanya.
"Tidak usah. Biar Bibik aja. Kamu kan capek, sebaiknya kamu istirahat."
Abel mengangguk pasrah. "Kalau begitu aku pamit ke kamar ya?"
Rea mengangguk sambil tersenyum ramah. Lalu Abel pun beranjak menuju kamar membawa barang belanjaannya. Sedangkan Rea kembali memejamkan mata. Tidak berapa lama Bik Ade pun muncul dengan segelas jus ditangannya.
"Ini jusnya, Nya."
Rea membuka mata dan menegakkan posisi duduknya. Lalu menerima jus itu. "Makasih, Bik. Di sini aja temenin aku."
Bik Ade pun mematuhi keinginan majikannya. "Banyak banget belanjanya, Nya."
Rea tersenyum lebar. "Bibik kan tahu aku suka khilaf kalau udah shopping." Rea meletakkan gelas di atas meja. Kemudian mengambil dua paper bag dengan logo terkenal.
"Nih buat Bibik." Rea memberikannya pada Bibik.
"Apa ini, Nya? Kok Bibik dapat juga?"
"Lihat aja sendiri di kamar nanti. Anggap aja itu hadiah karena Bibik udah kerja keras buat bantu aku di sini."
"Lah, itu mah memang tugas Bibik, Nya. Tapi makasih banyak loh udah dibeliin barang mahal kayak gini."
"Sama-sama, Bik. Lain kali kita ke mall sama-sama ya Bik. Udah hampir dua bulan Bibik di sini tapi belum sempat aku bawa jalan-jalan."
"Ya ampun, Nya. Gak usah repot-repot, Bibik dibeliin gini aja udah seneng banget."
"Aku ikut senang kalau Bibik senang." Ucap Rea tulus. "Oh iya, tolong awasi sepupuku itu ya Bik. Jangan sungkan buat negur dia kalau misalnya dia buat salah."
"Siap, Nya. Saya juga sempat mikir kalau sepupu Nyonya itu punya niat terselubung."
"Hus... jangan negatif thinking, Bik. Lagian gak ada yang tahu hati orang. Banyak orang yang tampangnya kelihatan jahat, tapi nyatanya hati dia baik. Ada juga yang sok polos di luar, dalamnya malah berbahaya." Jelas Rea.
"Iya juga sih, Nya. Oh iya Bibik hampir lupa. Tadi Tuan pulang sebentar, katanya ada berkas yang tertinggal."
__ADS_1
"Oh ya? Apa dia nanya aku, Bik?"
"Enggak sih, mungkin karena Tuan sudah tahu Nyonya pergi shopping. Cuma tadi Tuan makan di rumah."
Rea tertawa renyah. "Pasti dia sibuk banget makanya gak sempat makan di kantor. Kasian banget sih suamiku itu."
"Iya, Nya. Bibik yang liatnya aja capek. Tuan pergi pagi pulangnya gak menentu, kadang malam, kadang masih sore."
"Namanya juga pemimpin perusahaan, Bik. Harus jadi panutan."
Bik ade pun manggut-manggut.
"Bik, kayaknya buat cemilan, enak nih. Boleh minta tolong buatin gak? Aku pengen banget makanan yang kemarin Bibik bikin itu, apa namanya?"
"Cireng?"
"Ah, iya itu. Buat yang ada isinya ya, Bik. Pengen banget."
"Huh, gini nih kalau punya majikan hamil dan manja. Banyak maunya." Ledek Bik Ade seraya mengusap perut Rea. "Bibik rasa anaknya perempuan, soalnya Nyonya cerewet habis."
Rea tertawa renyah mendengarnya. "Kalau perempuan pasti dia mirip aku kan, Bik?"
"Belum tentu, Nya. Bisa jadi mirip Bapaknya. Lagian mau mirip siapa pun sama aja, sama-sama cantik dan tampan. Udah ah, Bibik ke dapur dulu. Entar ileran lagi babynya." Bik Ade pun bangkit dari duduknya.
"Yey, makasih, Nenek cantik. Baby udah gak sabar nih mau makan ci... apa tadi?"
"Cireng, Nya."
"Ya, itu dia. Buat yang enak ya Bibik cantik."
"Siap, Nyonya bawel. Bibik ke dapur dulu. Jangan kangen ya?"
"Ih... percaya diri banget sih? Udah ah, aku juga mau ke kamar. Di sini gerah."
Bik Ade pun tertawa dan bergegas menuju dapur. Begitu pun dengan Rea yang beranjak menuju kamarnya.
"Lagi apa, Bel?" Tanya Rea saat melihat Abel duduk termenung di bibir kolam renang.
Abel pun menoleh. Kemudian menggeleng. "Mau renang?" Tanyanya karena melihat Rea sudah memakai pakain renang. Membungkus tubuh indahnya. Benar-benar tubuh seorang model, tinggi, langsing dan terlihat besar dibagian-bagian tertentu. Abel mengakui Rea memiliki tubuh yang sempurna. Tidak heran Zain tergila-gila padanya.
"Ya. Kau tidak ingin ikut renang?" Tanya Rea mulai melakukan pemanasan terlebih dahulu. Merengangkan ototnya.
"Aku tidak bisa renang." Jawab Abel apa adanya.
"Aku bisa mengajarimu. Tertarik?" Tawar Rea. Namun dengan cepat Abel menggeleng. "Lain kali saja."
"Baiklah. Sejak hamil aku sering kepanasan, bahkan tengah malam pun kadang-kadang aku renang." Ujar Rea.
"Benarkah? Apa suamimu tidak marah?"
"Marah, tapi aku tidak bisa menahan untuk tidak menjatuhkan diri ke dalam air. Seolah mereka melambaikan tangan padaku."
Abel tertawa renyah. "Kau sangat aneh."
"Entahlah, suamiku juga mengatakan hal yang sama. Mungkin bawaan Baby."
"Berapa usianya, Re?"
"Tujuh minggu." Jawab Rea seraya menjatuhkan diri ke dalam air. Cukup lama ia tidak muncul ke permukaan. Dan itu membuat Abel cemas.
"Re?" Panggilnya. Tidak lama Rea pun menyembul dari dalam air.
"Aku baik-baik saja." Ujarnya tersenyum lebar.
"Kau menakutiku."
"Tenang saja, aku perenang andal." Rea pun kembali menenggelamkan diri. Dan Abel hanya menontonnya dari bibir kolam. Cukup lama ia termenung, sampai tidak sadar kini Rea sudah ada di depannya. Rea menyipratkan air, seketika wanita itu terperanjat kaget.
__ADS_1
Rea tertawa kencang.
"Apa yang sedang kau pikirkan huh?"
Abel menatap Rea lekat. "Re, apa kau tidak butuh tenaga lain di rumah ini?"
Rea mengerut bingung. "Maksudnya kau ingin bekerja di sini?"
Abel mengangguk ragu. "Rasanya aku agak takut jika bekerja di luar sana. Apa boleh aku bekerja denganmu saja? Tidak jadi masalah aku jadi pembantu di sini?"
"Pembantu?"
"Ya."
Rea terdiam sejenak. "Aku tidak mungkin manerimamu sebagai pembantu di sini, Bel. Apa kata Mamamu jika aku menjadikanmu pembantu di sini huh? Dia akan semakin memojokkan Mamiku. Sebaiknya kau bersabar sedikit, kita cari pekerjaan lain yang lebih layak."
"Berikan aku kesempatan, Re. Untuk masalah Mama, aku yang akan menanggung resikonya."
"Kau yakin?"
Abel mengangguk yakin.
Rea menghela napas berat. "Baiklah, aku akan tanyakan ini pada suamiku."
"Terima kasih, Re."
"Sama-sama." Rea pun kembali melanjutkan aktivitasnya. Sedangkan Abel hanya jadi penonton.
Malam hari, seperti biasa Rea bergelayut manja dalam dekapan sang suami. Saat ini mereka tengah menonton salah satu drama Turki. Sesekali Rea menggesekkan kakinya ke kaki sang suami karena kedinginan. Zain yang sudah paham dengan sifat istrinya itu pun menarik selimut.
"Bodoh sekali dia, kenapa tidak katakan saja kalau dia itu memang cinta." Omel Rea mengomentari drama yang tengah tayang.
"Dia tidak seberani itu. Jangan samakan dia dengan dirimu." Sahut Zain. Rea yang mendengar itu mendengus sebal.
"Lagian apa salahnya bicara terus terang pada suami sendiri? Mana dia sedang hamil, dasar bodoh."
"Berhenti mengomel. Dia hanya memainkan peran."
"Tetap saja menyebalkan. Suaminya juga sama sekali tidak peka. Lebih baik wanitanya pergi saja, jika bisa tidak perlu kembali. Di akan menyesal setelah kehilangan cinta sejati."
"Aku jadi ingat dirimu yang kabur dulu, Re."
"Ya, aku kabur karena kau salingkuh. Jangan mengingatkanku lagi soal itu, menyebalkan."
Zain tertawa pelan. "Kau sangat lucu saat sedang mengomel."
"Hm." Rea menarik selimut sampai sebatas dada. Lalu keduanya pun fokus menonton.
"Oh iya, sayang. Tadi siang aku bicara dengan Abel. Dia bilang ingin berkerja di sini, mungkin membantu Bik Ade. Awalnya aku keberatan, tapi melihatnya ketakutan membuatku ragu untuk melepasnya di luar."
Zain terdiam sejenak. "Aku rasa kita tidak perlu pembatu lain. Bik Ade sudah cukup. Lagipula kau yakin akan memperkrjakanya di sini? Lalu bagaimana dengan Ibunya?"
"Itu yang aku pikirkan sejak tadi. Tapi aku juga kasihan dengan Abel. Kehidupannya sama sekali tidak mujur. Apa kita biarkan saja dia membantu Bik Ade di sini?"
"Aku keberatan. Dia itu sepupumu."
Rea terdiam. "Tapi dia begitu kekeh ingin bekerja di sini, sayang. Lagi pula aku tidak keberatan Abel tinggal di sini. Aku tidak kesepian lagi."
"Bagaimana dengan suaminya? Apa mungkin lelaki itu tidak peduli sama sakali?"
"Entahlah."
"Kita pikirkan lagi nanti. Sekarang sudah waktunya istirahat." Zain mematikan televisi. Kemudian menarik sang istri untuk berbaring memeluknya.
"Good night, honey." Zain memberikan kecupan mesra di kening istrinya.
"Good night, my hubby." Balas Rea seraya memejamkan mata. Lalu keduanya pun ternggelam di bawah alam sadar masing-masing.
__ADS_1