Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Dia Istriku


__ADS_3

Jef melihat kepulangan Mercia dan King dari balkon kamarnya. Beberapa waktu lalu ia mendapat pesan dari Winter jika Mercia bersama Pamannya. Karena itu Jef menunggunya kembali, memastikan hal itu benar. Setelah melihat itu, ia pun masuk kembali.


"Ah, akhirnya sampe rumah juga ya? Pengen cepet-cepet tidur. Abis kekenyangan sih." Oceh gadis itu seraya berjalan memasuki mansion. Keduanya jalan berdampingan.


King tersenyum. "Jangan lupa besok malam."


"Aman, gak mungkin lupa kok." Sahut Mercia begitu semangat. "Btw, Aunty tahu gak sih kita pulang bareng?" Bisiknya kemudian.


King menoleh sekilas. "Saya sudah kasih kabar sebelumnya."


Mercia mengangguk. "Makasih ya Om sekali lagi. Padahal aku beneran gak tahu loh kalau si Winter itu udah punya tunangan. Kalau tahu ogah banget diajak kencan."


"Sama-sama. Lain kali harus lebih hati-hati. Di sini beda dengan di Indonesia."


"Om bener. Pokoknya makasih banyak-banyak."


"Gak perlu banyak-banyak, tar saya gak bisa nampung." Canda King.


Mercia pun tertawa. "Si Om ternyata humoris juga ya orangnya?"


King pun tersenyum. Dan tanpa terasa mereka sudah sampai di depan kamar masing-masing. Mercia pun menghadap ke arah King, lalu tersenyum. "Selamat malam, Om. Semoga mimpi indah."


King mengangguk. Lalu Mercia pun masuk lebih dulu ke kamarnya. Setelah memastikan gadis itu benar-benar masuk, King pun masuk ke kamarnya.


Tidak lama dari itu, pintu kamar King ada yang mengetuk.


"Masuk." Titahnya seraya membuka jaket.


Pintu kamar pun terbuka, dan Jef pun masuk.


King menatap ponakannya itu heran. "Ada apa?" Karena tidak biasanya Jef menemuinya seperti ini.


Jef duduk di sofa, dengan tatapan terus tertuju pada Pamannya. King yang merasa terintimidasi pun mengerutkan dahi. "Kenapa menatapku seperti itu huh?"


Jef melipat kedua tangannya di dada. "Jadi kau menyukainya? Sejak kapan?"


King tersenyum kecut. "Kau cemburu aku pulang dengannya? Ah, bahkan kami makan bersama tadi." Provokasinya.


Jef mendengus. "Aku tidak peduli."


"Lalu apa tujuanmu datang kemari jika bukan karena itu?" Tanya King ikut duduk di sofa, berhadapan dengan keponakannya itu. Keduanya pun saling melempar tatapan sengit.


Jef menghela napas berat. "Sebaiknya kau menyerah."


King tersenyum. "Menyerah? Dalam hal apa?"


Jef memasang wajah datarnya. "Kalian sama sekali tidak cocok. Dia lebih cocok menjadi anakmu."


King tertawa hambar mendengar ledekan keponakannya itu. "Lalu kau akan bilang dia hanya cocok denganmu?"


Jef terdiam.


"Jangan lupa, Jef. Kau juga lahir dari pasangan dengan usia yang terpaut jauh." Imbuh King sedikit mengingatkan jika usia Queen dan Sean juga terbilang jauh.


Jef mencondongkan tubuhnya. "Jadi kau benar-benar menyukainya huh?"


King menghela napas berat. "Aku tidak mungkin bersaing dengan keponakanku. Aku akan mengalah jika kau benar-benar menginginkannya."


Jef tersenyum miring. "Dan menjomblo seumur hidupmu huh? Tidak perlu membohongi dirimu, Uncle." Oloknya.


"Aku rasa kata-kata itu lebih cocok untukmu. Kau terlalu jual mahal, Jef. Akui saja padanya, jika kau menginginkannya. Harga dirimu tidak akan jatuh hanya karena kata-kata itu. Justru kau akan menyesal." King menyilangkan kakinya. "Sebelum aku yang maju lebih dulu. Sebaiknya kau sadari perasaanmu. Jika aku sudah maju, maka tidak ada kata mundur."


Jef mendengus. "Aku sama sekali tidak tertarik."

__ADS_1


"Benarkah?" King tersenyum puas. "Jadi kau membiarkanku maju lebih dulu huh? Aku harap kau tidak menyesal, Jef."


Jef tidak menjawab. Melihat keraguan dimata keponakannya, King tertawa sumbang. "Bahkan kau ragu dengan perasaanmu sendiri. Sekali lagi aku katakan, jangan sampai kau menyesal, Jef. Aku akan memberikan satu kesempatan padamu. Jadi jangan sia-siakan itu. Pergilah jika tidak ada hal penting lainnya yang ingin kau bahas denganku."


Jef pun bangkit, dan berlalu begitu saja. Sepeninggalan Jef, King tertawa lagi. "Dasar bocah tengik."


****


Jam menunjukkan pukul tujuh malam ketika Mercia selesai bersiap. Gadis cantik itu menggunakan gaun malam berbahan satin dengan belahan dada model sabrina serta belahan paha yang cukup tinggi pula. Dan gaun itu adalah pemberian King tentunya.


Mercia juga menyanggul rambutnya, seolah sengaja ingin memperlihatkan leher jenjang dan punggungnya yang mulus. Riasannya juga sedikit glamour dengan lipstik merah merona. Heels setinggi sepuluh senti menyempurnakan penampilan gadis itu malam ini. Setelah merasa puas dengan penampilannya saat ini. Mercia meraih tas kecilnya dan bergegas keluar karena King pasti sudah menunggunya.


Benar saja, lelaki itu sudah menunggunya sejak tadi. Duduk di kap mobil mewahnya dengan penuh karisma. King terlihat tampan dengan balutan tuxedo berwarna hitam. Rambut hitamnya tersisir dengan rapi, benar-benar mencerminkan seorang bangsawan. Dan saat ini King belum menyadari kehadiran Mercia. Sesekali ia melihat arloji ditangannya.


Mercia yang melihat itu tersenyum. "Om." Panggilnya. King pun menoleh, sontak ia langsung terkesiap melihat penampilan gadis itu.


Mercia berdeham kecil, spontan King pun tersadar. "Kenapa, Om? Aku cantik ya?" Gadis itu terkekeh lucu karena ekspresi King.


"Iya, kamu cantik banget." Jawab King tanpa ragu.


Mercia tersenyum malu. "Makasih loh pujianya, Om."


"Sama-sama. Udah bisa berangkat kan?" Tanya King dengan pandangan tak lepas dari gadis itu.


Mercia pun mengangguk. "Yuk."


Dengan sigap King membukakan pintu mobil untuk gadis kecilnya. Tanpa menunggu lagi Mercia pun masuk. Lalu duduk dengan cantik di sana.


King menghela napas, setelah itu ia pun bergegas masuk. Sebelum mengemudikan mobilnya, King masih sempat melirik ke samping sebelum melajukan mobilnya.


Mercia pun bergerak, memiringkan tubuhnya. "Om, aku agak nervous nih. Ini kan pertama kalinya aku datang ke acara formal. Penampilanku cocok kan? Aku gak mau bikin Om malu." Ocehnya dengah wajah tegang.


King tersenyum ketika melihat wajah lucu Mercia. "Anggap saja ini latihan. Kedepannya kamu akan sering melakukan ini. Menjadi istri CEO harus terbiasa dengan yang namanya pesta."


King tersenyum, lalu bergumam. "Sepertinya aku harus banyak bersabar, ternyata kamu gadis tidak peka ya?"


"Hah? Om ngomong apa tadi?" Tanya Mercia karena tak mendengar ucapan King dengan jelas.


"Bukan apa-apa. Saya cuma bilang kalau kamu beneran cantik malam ini." Balas King. Seketika Mercia pun merona mendengar pujian itu.


"Beneran cantik kan? Gak malu-maluin?" Tanyanya memastikan.


"Iya, ngapain juga saya bohong."


Mercia bernapas lega. King yang melihat itu cuma bisa tersenyum.


Sesampainya di tempat pesta. King langsung membawa Mercia masuk. "Pegang dengan erat." Pintanya seraya mengaitkan tangan Mercia di lengannya. Lalu mereka pun masuk ke aula yang sudah didekorasi sedemikian rupa. Dan tentunya kehadirah mereka menjadi pusat perhatian semua orang. Bagaimana tidak, keduanya tampak serasi dan terlihat seperti pasangan sungguhan.


"Kok deg-degan ya, Om?" Mercia menarik napas dalam-dalam kala semua orang memandang ke arahnya.


King menoleh. "Kayak mau dihalalin aja pake deg-degan segala."


"Ih... kan udah aku bilang ini pertama kalinya datang ke acara kayak gini. Mana semua mata tertuju ke kita lagi. Bikin nervous tahu." Bibir Mercia menyebik.


"Gak perlu nervous, nanti juga akan terbiasa. Abaikan tatapan mereka." Bisik King ditelinga Mercia. Mercia pun mengangguk pelan. Kemudian berusaha untuk terus tersenyum.


King benar-benar disambut hangat oleh para rekan kerjanya. Mereka terlihat enjoy saat membahas masalah bisnis. Sedangkan Mercia cuma bisa diam disisi lelaki penuh karisma itu.


"Ah, lalu siapa gadis ini, Mr. Michaelson?" Tanya salah satu rekan kerja King yang sejak tadi merasa penasaran pada Mercia.


King melirik Mercia sekilas. "Dia istriku."


Deg!

__ADS_1


Mercia pun langsung menatap King karena kaget.


Kok si Om ngomong gitu lagi sih? Apa aku juga harus ikutan akting lagi ya? Pikir gadis itu terlihat bingung. Namun, ia berusaha setenang mungkin dan tersenyum ramah.


"Wah, jadi gosip itu benar? Anda sudah punya istri?"


King hanya tersenyum.


"Saya pikir Anda masih sendiri, saya berniat menjodohkan Anda dengan putri bungsu saya." Kata rekannya yang lain.


"Sepertinya Anda terlambat, Tuan. Dia sudah menjadi suami saya sekarang. Bagaimana jika kita jodohkan saja putri Anda dengan adik saya, tapi adik saya masih berusia delapan tahun." Sahut Mercia terkekeh lucu. Sontak para bangsawan itu pun tertawa.


"Ah, saya tidak menyangka Nyonya Michaelson cukup asik untuk mengobrol. Kalian memang pasangan serasi. Anda juga sangat cantik, Nyonya. Pantas suami Anda menutup diri untuk wanita lain. Ternyata sudah ada bidadari disisinya. "


"Ah, terima kasih pujiannya." Sahut Mercia tersenyum bangga. Lalu mereka pun terlibat obrolan ringan yang diselingi candaan kecil. King benar-benar tidak rugi mengajak Mercia, karena gadis itu berhasil mencairkan suasana malam ini.


Kemudian seorang waiter pun datang membawa nampan berisi beberapa gelas minuman beralkohol. Para bangsawan itu mengambil satu orang satu. Termasuk King tentunya.


Mercia pun hendak mengambil, tetapi King langsung menahannya. King mendekatkan bibirnya ke telinga Mercia, lalu berbisik. "Sebaiknya kamu jangan ambil. Kamu tidak biasa minum. Saya akan minta jus untukmu."


"Kenapa? Aku bisa kok minum." Sahut Mercia tak terima.


"Kamu gak biasa minum."


Mercia tersenyum, lalu tanpa diduga justru ia mengambil satu gelas. Sontak King pun kaget.


"Jangan gegabah." Bisik King lagi.


"Aku ingin mencobanya, Om. Kapan lagi bisa minum kayak ginian?" Bisiknya dengan senyuman yang menggoda.


King menghela napas berat.


"Bersulang!" Seru gadis itu mengangkat gelasnya ke udara dan disambut oleh yang lainnya. King pun tidak bisa berbuat apa-apa dan ikut bersulang. Lalu meneguk isi gelasnya, sedikit.


Mercia sedikit mengerutkan kening saat minuman itu terasa panas saat melewati tenggerokannya. Namun, detik berikutnya rasa asam, manis dan pahit bercampur menjadi satu. "Ah, lumayan juga." Gumamnya dan kembali meneguk minuman itu sampai habis.


Karena pertama kali minum, Mercia pun langsung mabuk. "Oho... Aku ingin lagi." Pintanya dengan kepala yang mulai pening. Matanya mengerjap beberapa kali. Dan ia merasa seperti melayang sekarang.


King pun memeganginya karena gadis itu sempoyongan.


"Sudah cukup." King merebut gelas dari tangan Mercia.


"Aku mau lagi." Rengeknya seraya bergelayut manja di dada King.


King yang sadar situasi sudah tak aman pun langsung membawanya keluar dari tempat pesta itu. Memapah Mercia yang terus merengek tak jelas. "Kita pulang."


Mercia menahan langkahnya. Sontak King pun ikut berhenti. Gadis itu menepis tangan King yang masih merengkuh pundaknya. Lalu berdiri di depannya.


"Aku gak mau pulang." Mercia tertawa kecil, lalu mendongak. Wajahnya terlihat memerah dengan mata yang sayu. Diatatapnya King dengan seksama. Lalu kedua tangan kecil gadis itu tiba-tiba bergerak dan menangkup wajah King. "Ganteng banget sih?"


King terdiam sambil terus memperhatikan pipi gadis itu yang merona.


Tanpa diduga, Mercia berjinjit dan langsung mencium bibir lelaki itu dengan tiba-tiba. Spontan tubuh King terdorong kebelakang dan tanpa sadar merengkuh pinggang ramping Mercia. Sehingga tidak ada jarak lagi di antara mereka. Seketika tubuh King pun menegang.


Mercia yang sudah dikuasi alkohol pun semakin menggila. Kedua tangannya ia kalungkan di leher King. Kemudian memperdalam ciumannya.


Namun, menit berikutnya King tersadar dan langsung mendorong gadis itu. Wajah lelaki itu memanas karena ulah Mercia. "Manis, rasa premen." Kekeh gadis itu tanpa dosa.


King terbelalak mendengarnya. "Sudah cukup. Ayo pulang."


Mercia menggeleng kuat. "Mau lagi." Ia hendak menyambar bibir King lagi. Akan tetapi King langsung menghindar. Lalu dengan sekali gerakan King menggendongnya. Bukanya kaget, gadis itu malah tertawa senang. "Mama, lihat. Aku digendong pangeran." Gadis itu berteriak seraya mengalungkan kedua tangannya di leher King. Lalu membenamkan wajahnya dan tertidur.


King menghela napas berat. Sepertinya ia sedikit menyesal karena membiarkan Mercia minum tadi. Namun, detik berikutnya ia tersenyum penuh arti.

__ADS_1


__ADS_2