Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Pengakuan Juna


__ADS_3

"Uncle?" Queen melepaskan genggaman tangannya dari Sean. Sontak Sean pun melihat ke bawah, di mana tangannya terasa hampa karena Queen melepasnya begitu saja.


"Queen, bisa kita bicara?" Tanya Juna menatap Queen penuh harap. Bahkan ia berusaha mengabaikan Sean.


Queen terdiam sejenak. Kemudian mengangguk pelan. "Kita bicara di dalam saja."


Juna mengangguk setuju. Lalu Queen pun membuka pintu apartemen. Dan ia melupakan Sean yang masih mematung di tempatnya.


"Mau bicara apa, Uncle?" Tanya Queen seraya meletakkan secangkir teh di meja. Kemudian ia pun ikut duduk di sofa, sedikit berjauhan dari Juna. Ia sadar diri jika saat ini dirinya harus menjaga jarak dari lelaki itu.


Juna menatap Queen lamat-lamat. "Apa kau membenciku, Queen?"


Queen terhenyak mendengar pertanyaan itu. "Sama sekali tidak." Ya, ia memang tidak pernah membeci lelaki itu sedikit pun.


"Tapi aku sudah membuatmu kecewa, Queen."


Queen tersenyum kecut. "Aku sudah melupakan itu."


Juna terdiam lagi.


"Aku tidak menyangka kau ada di sini, Uncle. Sedang bulan madu huh?" Tanya Queen dengan nada tak suka. Entahlah, masih ada perasaan cemburu saat tahu Juna di sini bersama Clarie.


"Tidak. Aku datang ke sini untuk melihatmu."


"Owh." Sahut Queen. Namun detik berikutnya Queen memekik kaget. "Aku?"


Juna mengangguk. "Aku mencintaimu, princess."


Deg!


Jantung Queen seperti melompat keluar saat mendengar pengakuan Juna. Napasnya tercekat sangking kagetnya.


Juna mendekati Queen, lalu menggenggam erat tangan gadis itu dengan lembut. "Kau boleh membeciku karena aku sudah menjadi seorang pengecut, Queen. Aku menyembunyikan perasaanku selama ini, bahkan menyakiti hatimu."


Queen tersadar dan langsung menepis tangan Juna. Lalu ia pun bangkit dari sofa. Ia berdiri menatap ke sembarang tempat sambil bersedekap. "Untuk apa Uncle mengatakan itu sekarang? Semuanya sudah terlambat. Aku sudah punya kekasih. Dan Uncle juga sudah punya istri."


Juna menghela napas pelan. Lalu ia pun ikut bangun dari posisinya. Bahkan dengan berani ia memeluk Queen dari belakang. Seketika tubuh Queen membeku.


"Aku benar-benar mencintaimu, Queen. Sungguh."

__ADS_1


Queen memejam. "Kenapa tidak mengatakan ini sedari dulu, Uncle? Kenapa?"


"Aku tidak ingin kau kecewa saat tahu siapa aku sebenarnya?"


Queen mengerut bingung saat mendengar itu. Lalu ia pun berbalik, menatap Juna penuh tanya. "Apa maksudnya?"


Juna menatap Queen dengan tatapan sendu. Lalu mengusap pipi mulus Queen. Oh... ia sangat merindukan gadis ini. "Kau pasti akan kecewa jika tahu sebrengsek apa aku ini, Queen. Karena itu aku tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaanku padamu. Bohong jika aku tidak tersiksa karena merindukanmu."


"Katakan dengan jelas, Uncle."


Juna pun memberikan tatapan serius. "Tolong jangan memotong ucapanku nanti."


Queen pun mengangguk. Perasaannya melemah saat melihat tatapan penuh luka yang Juna berikan. Bagaimana pun ia masih menyimpan rasa pada lelaki itu.


"Aku pernah menghamili seorang gadis saat masih duduk di bangku sekolah dulu."


Queen tersentak kaget, tetapi ia tetap diam dan ingin mendengar kelanjutannya karena sudah setuju untuk tidak memotong ucapan lelaki itu.


"Aku lelaki brengsek yang tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan gadis itu. Karena saat itu aku dijebak olehnya, bahkan aku tidak sadar saat melakukannya. Beberapa bulan setelahnya, aku mendengar kabar jika wanita itu meninggal saat melahirkan. Aku sangat kaget dan merasa bersalah tentunya. Dan aku pun memutuskan untuk merawat anak itu sendirian, tanpa sepengetahuan siapa pun. Termasuk Ibuku."


Juna menatap Queen begitu dalam dan melanjutkan ceritanya. "Karena itu aku mengabaikan perasaanku padamu, Queen. Karena aku tahu kau pasti akan menolakku setelah mendengar semua kebenarannya."


"Karena aku pernah ditolak oleh kekasihku setelah aku mengatakan kebenarannya. Jauh sebelum kau lahir, aku punya kekasih bernama Nesya. Saat itu hubungan kami hampir memasuki tahap pernikahan. Karena tidak ingin menyembunyikan apa pun, aku bicara jujur padanya. Sayangnya dia tidak bisa menerima masa laluku. Bahkan dia murka saat aku membawa putriku ke hadapannya. Dan hubunganku dengannya pun kandas. Nesya memilih hidup dengan laki-laki yang jauh lebih baik dariku. Sejak saat itu aku tidak pernah menjalin cinta dengan siapa pun."


Queen masih menyimak dengan seksama.


"Karena alasan itulah aku ragu mengungkapkan perasaanku padamu, Queen. Aku tidak mau membuatmu kecewa. Bahkan Daddymu sempat memintaku untuk menikahimu, tapi aku menolaknya. Karena aku tidak ingin merenggut masa depan cerahmu. Dengan menikahi laki-laki brengsek sepertiku."


Mendengar itu Queen langsung memeluk Juna. "Kenapa tidak bicara jujur sejak dulu padaku, Uncle. Aku tidak mungkin menolakmu, aku sangat mencintaimu."


Queen tidak pernah sadar, jika apa yang dilakukan dan dikatakannya itu di saksikan oleh Sean. Sejak tadi lelaki itu ada di sana, bahkan mendengar semua percakapan mereka.


Sean tersenyum kecut. Lalu ia pun melangkah pergi meninggalkan tempat menyakitkan itu.


Kembali pada Queen, gadis itu mendongak, menatap Juna penuh perasaan. "Tapi semuanya sudah terlambat, Uncle. Aku sudah punya kekasih dan dia sangat mencintaiku. Aku tidak akan mengecewakannya. Kau juga sudah menikahi Aunty Clarie, kau harus bertanggung jawab. Lupakan aku dan cintai dia sepenuh hati. Meski aku tidak tahu alasanmu menikahinya."


Juna tersenyum. "Aku dan Clarie hanya terlibat pernikahan kontrak. Clarie lari dari perjodohan orang tuanya karena dia masih sangat mencintai mendiang kekasihnya. Clarie juga sudah memiliki seorang putra, karena itu kami memutuskan untuk menikah kontrak karena nasib kami sama."


Queen mendengus sebal. "Tetap saja aku membencimu, Uncle. Kau membuat perasaanku hancur berkeping-keping. Lalu sekarang kau datang dan mengatakan cinta padaku. Kau memang laki-laki brengsek." Setelah mengatakan itu Queen tertawa lucu.

__ADS_1


"Tapi aku memaafkan kesalahanmu, hanya saja aku tidak bisa menerima cintamu lagi, Uncle. Aku sudah memutuskan untuk menerima Sean di hatiku. Dia lelaki manis dan baik hati. Aku harap kau mengerti."


Juna mengangguk. "Ya, aku mengerti. Lagi pula di antara kita tidak mungkin lagi bisa bersatu. Setidaknya aku lega karena berhasil mengungkapkan perasaanku padamu. Hidupku tidak akan pernah tenang sebelum meminta maaf padamu, princess kecilku. Aku sangat terluka saat melihat videomu mabuk saat itu. Membuat hatiku semakin sakit dan merasa bersalah karena sudah membuat hatimu hancur. Tapi saat itu aku belum memiliki keberanian untuk menemuimu."


Queen tersenyum. "Aku sudah melupakan itu. Aku harap hubungan kita kedepannya masih terjalin dengan baik. Aku sebagai keponakanmu dan kau Uncleku."


"Hm... meski aku kecewa sebenarnya. Jujur aku masih mengharapkanmu menjadi istri kecilku."


"Cih, kau ingin menjadikanku istri kedua huh? Sama sekali tidak sudi. Lebih baik aku menjomblo seumur hidup dari pada menjadi duri dalam daging hubungan orang lain." Queen memukul lengan Juna karena kesal.


Juna pun tertawa renyah. "Ah... aku tidak pernah menyesal karena dicintai dan mencintai gadis manis sepertimu. Sampai kapan pun kau akan tetap menjadi princess di hatiku."


Mendengar itu Queen semakin mengeratkan pelukannya. Hatinya benar-benar senang karena cintanya tidaklah bertepuk sebelah tangan.


"Kapan-kapan aku akan memperkenalkanmu dengan Halley, putriku."


"Hm... aku akan menunggu waktu itu tiba. Apa dia lebih cantik dariku?"


"Kalian berdua adalah wanita tercantik dalam hidupku."


"Oh... aku semakin mencintaimu, Uncle."


"Kalau begitu menikahlah denganku."


Queen melerai pelukan mereka dengan bibir menyebik. "Tidak sudi. Cari saja kandidat lain."


Juna tertawa lagi. "Lupakan itu. Di mana kekasihmu?"


Sontak Queen pun terhenyak karena baru sadar jika dirinya melupakan Sean. "Ya ampun, aku melupakannya di luar. Mampus, dia pasti marah."


Queen pun langsung berlari keluar. Namun sayangnya ia tak menemukan keberadaan Sean.


"Dia pergi?" Tanya Juna ikut mencari keberadaan Sean.


"Uncle! Bagaimana jika dia salah paham dan meninggalkanku?"


"Tidak jadi masalah, itu artinya kau memang takdir untukku."


"Mana bisa. Aku dan dia sudah tidur sebanyak dua kali."

__ADS_1


"What?"


__ADS_2