Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
King beraksi


__ADS_3

Pagi hari, Zain terlihat sedang bersantai di ruang tengah bersama sang istri. Namun, perhatian keduanya pun tercuri oleh kedua anaknya.


"Mau kemana?" Tanya Zain saat melihat Queen dan King sudah berpakaian rapi.


"Kakak berjanji akan membawaku berkeliling pagi ini." Sahut King memberikan senyuman menawan.


"Memangnya kamu tidak kuliah, Queen?" Tanya Rea menatap putrinya.


"Hari ini aku free, Mom." Jawab Queen.


"Ya sudah, hati-hati di jalan." Kata Rea lagi.


"Aku pergi, Mom." Queen dan King pun memberikan kecupan mesra di kedua pipi orang tuanya.


"Jangan ngebut, Queen." Zain memperingati.


"Iya, Dad." Lalu keduanya pun bergegas pergi.


"Ini mobilmu?" Tanya King saat melihat mobil sang Kakak.


"Ya, kau kaget? Aku saja kaget saat melihatnya pertama kali." Sahut Queen bersandar di mobil kesayangannya.


"Wah, ini tidak adil. Bahkan Daddy tidak mengizinkan aku mengendari Hally."


Hally adalah motor kesayangannya, hadiah ulang tahun dari sang Daddy.


Queen tertawa renyah dan bergegas masuk ke dalam mobil yang diikuti oleh sang adik. "Ingat usiamu, Daddy melakukan itu demi kebaikanmu juga. Bersabarlah, satu tahun lagi kau sudah bisa meminta mobil mewah."


Queen melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Tidak perlu, aku bisa membelinya sendiri." Sombong King.


"Memangnya kau punya uang dari mana selain dari Daddy huh?" Ledek Queen.


"Mungkin kau tidak tahu, aku sudah bekerja dengan Daddy. Ya, gajinya memang tidak banyak. Tapi aku rasa cukup untuk membeli Aston Martin."


"Cih, sombong sekali." Cibir Queen.


"Tentu saja. Bersiaplah, aku akan merebut posisimu di kantor. Daddy mengakui kehebatanku."


"Kau pikir aku peduli? Bahkan aku tidak tertarik dengan perusahaan. Aku lebih tertarik berkeliling dunia."


"Baguslah, itu artinya aku tidak punya saingan. Ngomong-ngomong, aku dengar kau sedang dekat dengan seorang billionaire muda?" Selidik King. Sontak Queen pun kaget.


"Daddy mengatakan itu padamu?" Tanya Queen masih dalam mood kaget.


"Ya, Daddy selalu mengawasimu."


Queen terdiam sejenak. "Tapi aku tidak merasa dekat dengan seorang billionaire."


"Lalu siapa Sean Cameron? Daddy selalu membicarakan lelaki itu."


"Ya... dia memang temanku. Tapi... aku tidak pernah tahu dia seorang... oh God! Apa kau bilang tadi, billionaire?"


King mengangguk. "Sean Cameron, dia pemilik perusahaan tambang minyak terbesar di Amerika. Juga pewaris tunggal Air American. Semua orang juga tahu itu. Daddy setuju kau dekat dengannya. Tunggu... jangan bilang kau berteman tanpa tahu siapa dia sebenarnya?"


Mulut Queen terbuka mendengar itu. Pasalnya ia benar-benar tidak tahu soal itu.


"Cih, kau memang bodoh. Seharusnya kau cari tahu dulu sebelum berteman dengan orang baru. Bagaimana jika dia seorang penjahat huh?" Kesal King.


"Kau mengataiku bodoh? Dasar adik durhaka."


"Cih, kau memang bodoh."


Sean, jadi dia seorang billionaire? Pantas saja kediamannya begitu megah. Queen menghela napas berat. Salahnya sendiri karena tidak mencari tahu soal lelaki itu sebelumnya.

__ADS_1


"Kapan kau akan memperkenalkan dia pada Mom and Dad? Mereka menunggu waktu itu tiba." Goda King.


Queen medengus sebal mendengar pertanyaan konyol itu. "Aku dan dia hanya berteman."


"Jangan membodohiku. Kau sudah menghabiskan malam dengannya bukan?"


Sontak Queen pun kaget dan langsung melayangkan tatapan membunuh pada sang adik. "Aku dan dia tidak melakukan apa-apa malam itu."


"Jadi benar malam itu kau bersamanya? Padahal aku hanya menebaknya tadi." King tertawa penuh kemenangan. Pasalnya ia memang hanya menebaknya.


Queen menggeram kesal. "Berhenti bicara."


Lagi-lagi King tertawa. "Kau sangat lucu dan mudah sekali terpancing, Kak. Lagian aku tidak peduli kau melakukan apa dengan lelaki itu. Itu bukan urusanku, asal kau tidak membuat keluarga kita malu saja itu sudah cukup."


"Sialan." Umpat Queen yang kembali mengundang tawa King.


"Kau sangat menggemaskan, Kak. Aku rasa Sean Cemeron itu benar-benar menyukaimu. Aku ikut senang jika kau jadi menikah dengannya, setidaknya aku akan mudah memasuki dunia bisnis karena punya ipar yang cukup berpengaruh di dunia."


"Berhenti bicara, King. Sekali lagi kau mengoceh, aku akan menurunkanmu di jalanan."


"Wow... kau kejam sekali." King pun terbahak. Sedangkan Queen terlihat menahan rasa kesal karena adiknya itu.



...Penampilan King dan Queen saat ini...


****


Saat ini keduanya berada di sebuah restoran berbintang. King berusaha menahan tawanya saat melihat wajah Queen yang terus ditekuk. Kakaknya itu benar-benar sangat lucu jika sedang kesal.


"Kaca matamu miring." Ujar King yang berhasil menarik perhatian Queen. Dengan sigap Queen pun membenarkan posisi kaca matanya.


"Jika dilihat-lihat, kau memang sangat cantik, Kak. Tidak heran Sean Cameron itu tergila-gila padamu." Sepertinya pemuda yang satu itu belum puas menggoda sang Kakak.


"Berhenti membicarakannya, King." Kesal Queen.


"King!" Queen menahan kekesalan karena posisinya berada di khalayak ramai. Karena tidak kuasa menahan kekesalannya, Queen pun meneguk jus sampai setengah.


"Lama sekali makanannya." Kesalnya. King yang mendengar itu tertawa lucu.


"Sabar. Salahmu sendiri memesan hidangan yang lama."


"Kau yang merusak suasana hatiku. Menyebalkan."


Tidak lama pesanan Queen pun sampai. King tersenyum geli saat melihat sang Kakak makan dengan begitu lahap. Jika diperhatikan dari cara makan Queen, gadis itu sangat mirip dengan sang Mommy. "Dasar rakus."


Queen mengabaikan itu karena ia memang sangat lapar setelah berkeliling tadi.


King mengedarkan pandangan ke setiap penjuru restoran. Lalu pandangan pemuda itu pun tidak sengaja menangkap segerombolan pria berpakaian formal berjalan ke arah mereka. Dan salah satu di antara mereka terdapat Sean. Tentu saja King mengenali wajahnya karena sebelum ini dia sudah mencari tahu lebih jauh soal Sean.


Sean terlihat begitu tampan dengan stelan kantor. Lelaki itu begitu piawai dalam berbicara. Untuk pertama kalinya King mengagumi sosok Sean. Apa lagi pemuda itu sangat senang jika bicara soal bisnis.


"Ekhm...." King berdeham kecil saat gerombolan orang-orang penting itu hampir dekat. Queen yang merasa heran pun langsung menatap adiknya. Lalu King mengusap ujung bibir Queen diwaktu bersamaan di mana Sean melewati mereka. Queen yang tidak tahu rencana busuk sang adik pun sama sekali tidak curiga.


Tanpa disangka, saat itu juga Sean menoleh ke arah mereka. Terlihat jelas keterkejutan di wajahnya saat melihat ternyata gadis itu adalah Queen. Pujaan hatinya.


Gadis itu, sedang apa dia di sini? Lalu siapa lelaki didepannya? Kenapa mereka sangat mesra? Begitu banyak pertanyaan di dalam kepala lelaki itu saat ini.


"Ah... maaf sebelumnya. Aku lupa jika ada sesuatu yang masih harus aku selesaikan di sini. Biarkan asistenku yang mengantar kalian ke hotel." Sean menahan langkahnya. Lalu ditatapnya sang asisten. Seolah mengerti, Ben pun mengangguk patuh.


"Oh, tidak jadi masalah, Tuan Cameron.


Kami memahami kesibukan Anda." Sahut salah satu clien. Lalu rombongan itu pun bergegas pergi meninggalkan Sean sendirian dibawah bimbingan Ben.


Lelaki bertubuh tegap itu pun kembali ke belakang. Lebih tepatnya menghampiri meja di mana Queen berada.

__ADS_1


"Ekhem." Ia berdeham kecil untuk mencuri perhatian Queen dan lelaki didepannya. Sontak Queen pun kaget melihat keberadaan lelaki itu.


Sean menatap ke arah King dengan tatapan tak bersahabat.


"Hei... kau di sini?" Tanya Queen tersenyum ramah.


"Ya, kebetulan aku ada meeting di sini." Sean menjawab, tetapi pandangannya masih setia pada King.


Jika boleh jujur, King sudah tidak tahan untuk tertawa lepas saat melihat ekspresi Sean saat ini.


Jadi dia cemburu? Huh, aku rasa Kakak akan mendapat suami posesif nantinya. Pasti menyenangkan saat melihat mereka bertengkar. Yang satu cerewet dan satu lagi posesif.


Queen mulai menyadari tatapan Sean pada sang adik. "Oh iya, perkenalkan dia...."


"Siapa dia, sayang?" Sela King yang berhasil membuat mata Queen membulat.


Sayang? Sejak kapan anak ini memanggilku sayang?


"Eh... itu... dia temanku, namanya Sean. Dan Sean, perkenalkan ini...."


"Dia kekasihmu?" Kali ini Sean kembali menyela kalimat Queen. Membuat gadis itu kesal setengah mati. Sekarang ia mengerti kenapa King bersikap aneh.


"Eh? Bukan. Dia...."


"Hai, aku King. Lelaki yang dia cintai selama ini." Lagi-lagi King menyela ucapan kakaknya. Sontak Queen pun memelototi adik konyolnya itu.


Sean menatap Queen penuh arti. "Aku tidak tahu kau punya kekasih dan sangat mencintai lelaki ini. Bukankah...."


"Tentu saja, kita sudah berpacaran sejak lama." Potong King.


"King!" Queen memperingati.


"Jadi kau temannya?" King mengabaikan sang Kakak. Dan lebih tertarik bicara pada Sean.


"Ya, senang bertemu denganmu. Aku masih kaget Queen memiliki kekasih." Lagi-lagi Sean memberikan tatapan penuh arti pada Queen. Dan itu membuat sang empu merasa terintimidasi.


"Okay, hentikan drama konyol ini." Ujar Queen. "Duduklah, Sean."


Sean pun menurut dan duduk di sebelah Queen.


"Hey, dia kekasihku. Menjauhlah." Protes King masih memerankan dramanya.


"Berhenti membuat kekonyolan, King." Kesal Queen seraya melempar gulungan tisue ke arah adiknya itu.


"Maafkan aku, Sean. Dia ini adikku yang paling menyebalkan."


"Hey, kenapa kau menjelaskan padanya siapa aku? Bukankah kau bilang dia hanya temanmu." Cibir King yang berhasil mendapat tatapan membunuh dari gadis itu. Bahkan pipi Queen pun merah merona karena malu. Apa yang King katakan ada benarnya, tidak seharusnya ia menjelaskan apa pun pada Sean. Apa sebenarnya yang sedang ia pikirkan?


Sean tersenyum geli mendengar itu. "Aku pikir kalian benar-benar berpacaran. Pasalnya aku tidak pernah mendengar tentangmu."


"Aku tidak suka dipublis. Jadi kau pengusaha terkenal itu? Oh, senang bisa bertemu denganmu." King mengulurkan tangannya pada Sean. Dan dengan senang hati Sean menerimanya.


"Senang juga bisa bertemu denganmu, adik ipar." Sahut Sean penuh percaya diri.


Queen yang mendengar itu memutar bola matanya malas.


"Kebetulan kita bertemu di sini. Mommy dan Daddy selalu menunggumu datang. Datanglah malam ini jika kau tidak sibuk. Mereka pasti sangat senang."


Queen melotot saat mendengar itu. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan adiknya itu.


"Dengan senang hati. Aku akan menemui mereka secara langsung." Sahut Sean yang berhasil membuat Queen kaget.


"Tapi...."


"Kami akan menyiapkan makan malam terbaik untukmu." Sela King sembari memberikan kode untuk diam.

__ADS_1


Dasar adik sialan. Aku akan memberimu pelajaran setelah ini.


__ADS_2