
Rea terus memperhatikan suaminya yang kini tengah duduk di sofa bersama macbook dipangkuannya. Sejak kejadian sore tadi Zain seolah menghindarinya. Bahkan lelaki itu sama sekali tidak bicara. Dan itu membuat perasaan Rea jadi tak karuan.
"Sayang." Panggilnya. Rea masih setia di atas pembaringan dengan posisi duduk bersandar di kepala ranjang.
Zain menoleh sekilas. Setelah itu ia kembali fokus pada macbooknya.
Rea berdecak sebal. "Sayang, ini sudah malam. Ayok kita tidur." Ajaknya berharap mendapat perhatian sang suami. Namun ia salah, Zain masih saja mendiamkannya.
Karena merasa diabaikan, Rea pun bangkit dan menghampiri suaminya. Bahkan dengan berani mengambil macbook itu dan menaruhnya di atas meja. Kemudian ia sendiri yang menggantikan posisi benda itu. Sedangkan Zain masih terdiam sambil menatapnya tajam.
"Jangan mengabaikanku." Kesal Rea yang hendak mencium bibir suaminya. Namun Zain lebih dulu menghindar. Rea cukup kaget karena penolakan itu. Hey, sejak kapan seorang Zain menolak sentuhannya?
"Tidurlah, aku sibuk." Kata-kata itu cukup menusuk di hati Rea.
"Kau mengusirku? Bahkan kau menolak aku cium?"
Zain sama sekali tak menanggapi.
"Ck, aku minta maaf soal sore tadi okay? Jangan diamkan aku terus." Rea memelas. Namun lagi-lagi Zain diam. Dan itu membuat Rea bingung.
"Sayang, bicara dong. Aku minta maaf soal sore tadi. Aku memang sengaja ingin membuatmu cemburu." Rea memainkan jari telunjuknya dengan gerakan memutar di dada Zain. Ia benar-benar takut suaminya itu akan semakin marah.
"Jadi kau menyadari kesalahanmu?"
Rea mengangguk pasrah. "Aku minta maaf. Ayok kita tidur." Rea mengecup bibir suaminya. Masih berusaha membujuk.
Zain tersenyum tipis. Sebenarnya ia tidak benar-benar marah. Hanya saja ia ingin melihat tindakan apa yang akan Rea lakukan untuk membujuknya.
"Kau pikir dengan kecupan saja bisa membujukku huh? Aku tidak semurahan itu." Ketus Zain seraya mengangkat bokong istrinya dan memindahkannya ke sofa. Lalu ia pun bangkit dari sana. Meraih macbooknya dan beranjak menuju ranjang. Seketika Rea terperangah melihatnya.
"Sayang." Kesal Rea lagi. "Aku sudah minta maaf berkali-kali, masak iya kamu belum maafin juga sih?"
Rea bangkit dari posisinya dan sedikit berlari mendekati sang suami. Lalu duduk di hadapan Zain. "Baby, lihat Daddymu. Dia marah pada Mommy. Sekarang apa yang harus kita lakukan?" Rea mengelus perutnya, sedangkan matanya masih tertuju pada Zain.
Zain melirik Rea sekilas, lalu menggeleng pelan.
"Sayang, besok kau sudah pergi. Ayo dong jangan marah terus." Rea merubah posisi duduknya menjadi di sebelah sang suami. Lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Zain. "Please, jangan abaikan aku terus."
Zain benar-benar tidak tahan untuk tidak tertawa dengan sifat manja istrinya itu. Bagaimana bisa ia marah jika sikap Rea seperti ini terus. Yang ada ia merasa gemas dan ingin segera melahapnya.
Rea mendongakkan wajahnya. "Kau tidak ingin melakukannya malam ini? Tiga malam kita akan berpisah. Aku pasti merindukanmu."
Akh... sial! Zain tidak tahan lagi. Ditaruhnya benda pipih itu di atas nakas. Lalu tanpa banyak berpikir lagi ia langsung menarik tengkuk Rea. Melahap bibir manis wanitanya itu dengan rakus.
Rea sempat kaget untuk beberapa saat. Namun detik berikutnya ia ikut terbuai. Mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami. Matanya juga ikut terpejam saat Zain semakin memperdalam ciuman mereka.
Zain menyudahi aksinya saat Rea mulai kesulitan bernapas. Pipi wanitanya itu terlihat merona bak kepiting rebus. Zain tersenyum geli melihatnya.
"Jangan salahkan aku, kau yang terus menggodaku." Bisik Zain begitu sensual.
__ADS_1
"Cih, murahan sekali. Aku goda sedikit milikmu sudah bangun." Rea pun mengembangkan senyuman menggoda.
"Bahkan dia mengeras hanya karena melihat wajahmu."
"Huh, dasar mesum."
"Kau yang membuatku mesum, sayang." Zain langsung membaringkan istrinya dan mengurung tubuh ramping itu dibawahnya.
"Nakal sekali Anda, Tuan." Rea terkikik geli.
"Kau yang memulai. Jadi jangan harap kau bisa tidur malam ini."
Rea tersenyum nakal seraya mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami. "Siapa takut."
Merasa geram, Zain pun langsung saja melahap bibir istri nakalnya itu. Dan selanjutnya mereka kembali bergumul panas di atas ranjang.
****
Pagi harinya, Rea dan Zain sudah berada di bandara karena Zain akan segera berangkat ke Jepang. "Aku ikut ya?" Rengek Rea yang sejak tadi terus bergelayut manja di lengan sang suami. Seolah tak membiarkan lelaki itu pergi dari sisinya. Meski hanya tiga hari, rasanya seperti bertahun-tahun. Bahkan belum pergi saja ia sudah merasa kesepian.
"Tidak bisa, pekerjaanku kali ini tidak mungkin untuk membawamu, sayang. Aku akan segera kembali."
"Hiks, aku akan kesepian sendiri di rumah. Bibik juga, malah pulang kampung segala pas kamu pergi. Coba saja kalau bukan karena anak Bibik sakit, pasti aku tidak akan kesepian sekarang."
"Sudah aku katakan tinggal bersama Mommy atau Mami saja. Kau sangat keras kepala."
"Tidak mau, di sana tidak ada aromamu. Mana bisa aku tidur."
"Hm." Rea pun mengangguk pasrah.
Beberapa menit kemudian panggilan untuk para penumpang pesawat pun terdengar di setiap penjuru. Membuat perasaan Rea seakan tak menentu.
"Aku pergi. Jaga dirimu baik-baik." Zain mengecup kening istrinya dengan lembut. "Aku mencintaimu."
"Me to." Balas Rea. Zain tersenyum, kemudian kembali memberikan kecupan di bibir istrinya.
"Aku akan merindukanmu, jaga diri baik-baik. Beri tahu aku apa pun kegaitanmu di sini."
Rea tersenyum yang diiringi anggukan kecil. Sebelum suaminya pergi, Rea menyempatkan diri untuk memeluknya. "Jangan melirik wanita lain di sana meski banyak yang lebih cantik dariku."
Zain tersenyum geli. "Aku bukan tipe lelaki seperti itu. Pandanganku hanya tertuju pada satu arah, yaitu dirimu."
"Cih, gombal. Sudah sana pergi. Jangan sampai aku berubah pikiran."
"Hm. Aku pergi." Sekali lagi Zain memberikan kecupan di kening istrinya sebelum benar-benar pergi.
Usai dari bandara, Rea kembali ke rumah. Karena merasa lelah, ia pun langsung berganti pakaian, lalu menjatuhkan diri di atas pembaringan. Ia menghela napas gusar. "Huh, belum apa-apa aku sudah merindukannya."
Cukup lama Rea termenung sambil menatap langit-langit kamar.
__ADS_1
Merasa bosan, Rea pun meraih ponselnya. Lalu membuka sosial media miliknya, ia ingin berniat untuk membuat story. Di depan kamera ia mulai memasang wajah sedih. Lalu memotretnya. Setelah itu ia pun memostingnya dengan caption 'Alone'.
Rea tertawa sendiri saat media sosialnya dibanjiri direct message. Namun ia sama sekali tak berniat menjawabnya. Saat sedang asik-asiknya, tiba-tiba saja Regan menghubunginya. Rea pun berdecak sebal.
Dengan malas pula Rea menerima panggilan itu. Tidak perlu lama layar ponselnya sudah berganti dengan wajah tampan Regan. Namun ada yang aneh, wajah lelaki itu terlihat kesal setengah mati.
"Hey, ada apa denganmu?" Tanya Rea penasaran.
"Kau harus tahu satu hal. Akun instagramku tiba-tiba hilang. Aku tidak tahu si brengsek mana yang sudah menganggu ketenanganku. Dia ingin bermain-main denganku rupanya."
Mendengar itu Rea langsung bangun dari tidurnya. "Apa kau bilang? Hilang?" Mendadak ia mengingat anacaman suaminya beberapa hari lalu. Rea pun menggigit bibir bawahnya. Benarkah Zain yang melakukan itu?
"Ya, kau lihat saja sendiri."
"Wait!" Rea pun langsung mengeceknya. Dan benar saja, akun Regan benar-benar hilang. Sekarang ia semakin yakin Zain lah pelakunya.
Oh God! Apa yang harus aku katakan pada Regan? Bagaimana jika dia marah padaku?
"Ingin sekali rasanya aku menghabisi si brengsek itu. Lihat saja, jika aku tahu pelakunya, aku akan langsung menghabisinya. Sebenarnya apa salahku huh? Aku sama sekali tidak pernah mencari masalah pada siapa pun." Cerocos Regan. Rea pun cuma bisa mengangguk.
"Hey, kenapa kau diam?" Tanya Regan menatap Rea heran. Tidak biasanya wanita itu diam saat dirinya terkena masalah.
"Em... Reg, sebenarnya... itu... aku...."
"Hey, apa yang ingin kau katakan sebenarnya huh?"
Rea menggigit ujung bibirnya karena gugup. Ah, lebih tepatnya ia takut Regan akan marah. Ini salahnya karena sejak awal tidak membicarakan masalah ancaman Zain pada lelaki itu.
"Reg, sebenarnya suamiku yang melakukan itu."
"What?" Pekik Regan.
"Dengarkan aku dulu, ini salahku, Reg. Sebenarnya kemarin itu... aku menunjukkan hasil potretanmu pada suamiku. Dan aku tidak menyangka dia akan marah karena hampir semua postinganmu itu fotoku. Dia meminta agar kau menghapusnya. Tapi... aku belum sempat membicarakan ini padamu."
Regan tampak mengusap wajahnya kasar. "Jadi intinya ini salahmu, Re?"
Rea mengangguk pelan. "Maafkan aku. Aku akan membicarakan ini padanya. Aku rasa dia akan mengembalikan akunmu. Asal kau menghapus semua fotoku. Ah, hapus saja fotoku yang agak terbuka."
Regan menghela napas berat. "Sudahlah, lupakan itu. Aku harap dia benar-benar mengembalikan akunku. Itu sangat penting untukku, kau tahu itu kan?"
Rea mengangguk pelan. "Kau marah padaku, Reg?"
Regan menatap Rea lekat. "Aku tidak bisa marah padamu, Re. Tapi tunggu, aku perhatikan dadamu semakin besar saja."
Rea terbelalak saat mendengar itu, refleks ia langsung menutup bagian dadanya yang memang sedikit terbuka dengan selimut. "Hey, sejak kapan kau mulai mesum? Oh, apa mungkin kau sudah normal?"
Regan mendengus sebal. "Tidak sama sekali. Buat apa kau tutup, aku tidak selera melihatnya. Jika kau menunjukkan dada suamimu, baru aku tergoda. Apa dada suamimu sebagus para model dewasa?"
"Hey, jangan sesekali kau membayangkan tubuh suamiku. Aku tidak rela. Sialan kau, Reg. Buang jauh-jauh pikiran kotormu." Kesal Rea dengan bola mata yang hampir keluar.
__ADS_1
Regan pun tertawa kencang. "Aku hanya bercanda, baby. Milik Aron bagiku sudah cukup indah. Tapi jika kau berbaik hati, akan dengan senang hati aku menerimanya. Pasti sangat menyenangkan bermain dengan suami tampanmu."
"Regan!"