
"Aaa... lepasin aku, pria tua mesum." Teriak Faizah saat mobil yang Juna kendari mulai melaju meninggalkan kediamannya. Gadis tengil itu berusaha membuka pintu mobil, tentu saja Juna tidak sebodoh itu membiarkan Faizah kabur.
Ya Tuhan. Kenapa jadi kacau gini sih? Apa jangan-jangan dia akan memintaku menggugurkan anak ini? Tidak, ini tidak boleh terjadi.
"Tolong." Teriaknya sekencang mungkin. "Aku di culik, tolong."
"Diam!" Bentak Juna yang berhasil membuat Faizah tersentak kaget dan langsung terdiam.
"Mr. A__pa kau akan....?
"Diamlah, kau berisik dan menganggu pendengaranku." Sela Juna mulai jengah dengan drama gadis tengil itu.
"Hey, apa yang kau katakan pada orang tuaku tadi?" Tanya Faizah mulai tenang.
"Kau mencuri benihku."
"Kau katakan itu?" Tanya Faizah kaget.
"Hm. Itu kenyataannya."
Faizah menggigit ujung kukunya. "Hey, kau akan membawaku kemana?"
"Penangkaran." Jawab Juna yang berhasil membuat Faizah ketakutan.
"K__au akan membunuhku?"
Juna tidak menjawab.
"Mr, kali ini aku memohon padamu, tolong lepaskan aku. Aku berjanji tidak akan menganggu kehidupanmu lagi, janji. Aku sudah berencana untuk pergi ke luar negeri dan hidup di sana. Kau tenang saja, aku tidak akan meminta pertanggung jawabanmu." Mohon Faizah. Ia benar-benar takut Juna akan menggugurkan kandungannya. Atau mungkin membunuhnya seperti di berita-berita yang pernah ia dengar.
"Diamlah, Izah."
"Namaku Faizah, bukan Izah." Kesal Faizah tak terima nama belakangnya di sebut. Sejak kecil ia paling benci nama panggilan itu. Baginya itu sangat kampungan.
"Apa bedanya?"
"Hiks... jangan bunuh aku, please. Apa kau tega membiarkan gadis secantik aku mati di makan binatang buas?" Ringis Faizah.
Cih, narsis.
"Dari pada kau bunuh aku, kenapa tidak jadikan aku istri saja? Kau kan jomblo. Setidaknya kau akan mendapat keuntungan, misalnya dapat kehangatan dan...."
"Menanam benih lagi huh?" Sela Juna.
"Ya." Jawab Faizah tanpa sadar, tetapi detik berikutnya ia memekik kaget. "Aaa... kau mesum."
Cukup lama Faizah terdiam dan terus terhanyut dalam pikirannya sendiri.
Habislah aku, dia pasti akan mencincangku dan menjadikan aku sebagai makanan peliharaan buasnya. Aaa... apa dia benar-benar psikopat seperti yang aku baca di novel-novel?
"Turun dan jangan coba-coba kabur."
Faizah terhenyak dan langsung mengedarkan pandangannya ke luar. Ia kembali dibuat terkejut karena saat ini di depannya sudah ada klinik besar.
Klinik? Buat apa dia membawaku ke sini? Atau jangan-jangan dia....
__ADS_1
Faizah kembali tersentak karena tiba-tiba Juna menggdongnya. "Kyaa... lepaskan aku pria tua mesum." Berontaknya. Karena tubuhnya mungil, tentu saja Juna tidak kesulitan membawanya masuk ke dalam sana.
Apa dia akan menggugurkan kandunganku? Mammy, Daddy, tolong anakmu ini. Pria tua mesum ini akan membunuh cucu kalian.
"Aku tidak mau menggugurkan anak ini." Lirih Faizah menatap Juna sendu. Namun, lelaki itu hanya meliriknya sekilas. "Hey, kau mendengarkan aku kan?"
Juna tidak menjawab dan menurunkan gadis tengilnya itu di depan meja resepsionis. Lalu digenggamnya tangan Faizah dengan erat karena tak ingin gadisnya itu kabur.
"Ada yang bisa kami bantu?" Tanya sang resepsionis ramah.
"Poli Obgyn." Jawab Juna spontan.
"Baik, mohon di isi formulirnya, Pak."
"Langsung saja, namanya Izah."
"Hey, namaku Faizah." Protes Faizah yang berhasil membuat sang resepsionis bingung.
"Jadi atas nama siapa ya? Tolong beri tahu kami nomor hp dan alamatnya."
Juna langsung memelototi Faizah dan meminta gadis tengil itu bicara. Merasa terintimidasi, Faizah pun memberi tahu nomor ponsel dan alamatnya. Namun, Juna langsung meralat nomor ponsel Faizah dan menggantikan dengan nomornya.
"Cih, kenapa gak dari tadi aja ngomong. Sok jual mahal." Ketus Faizah.
"Di sini bisa suntik mati seseorang kan?" Tanya Juna yang berhasil membuat Faizah melotot.
"Brengsek!"
Juna tersenyum tipis karena berhasil membuat gadis tengilnya itu ketakutan.
Tidak ingin menunggu lama, Juna langsung masuk tanpa permisi. Sontak dokter yang ada di dalam pun terkejut.
"Ya Tuhan, kau ini tidak bisakah sopan sedikit, Jun?" seru dokter cantik itu memarahi Juna. Tentu saja Faizah terkejut melihat keakraban keduanya.
"Aku ingin kau suntik mati gadis ini." Pinta Juna yang berhasil membuat sang dokter dan Faizah memekik secara bersamaan.
"Cepat periksa dia." Titah Juna lebih serius kali ini.
Faizah pun semakin ketakutan. "Dokter, jangan bunuh bayi saya. Dia gak salah, saya yang salah di sini. Dokter, saya baru aja tahu kalau saya ini hamil. Masak iya dokter tega mau bunuh anak ini?"
Dokter cantik itu tertawa renyah sambil melirik Juna, teman lamanya. "Jadi kau menghamili gadis lagi, Jun?"
"Dia yang mencuri benihku dan hendak kabur." Jawab Juna apa adanya. Sontak dokter itu menatap Faizah bingung.
"Bukan seperti itu, saya cuma minta bibit unggulnya saja sedikit. Dia saja yang terlalu pelit." Jelas Faizah.
Dokter cantik itu tertawa lucu. "Ya ampun, aku rasa dia memang jodohmu, Jun. Kalian sanbat serasi.
Mendengar itu Faizah justru tersenyum bangga. "Terima kasih, dok."
Juna mendengus sebal. "Cepat periksa dia, aku harap dia tidak benar-benar hamil. Meropotkan."
"Hey! Dasar pria tua mesum. Kau bilang apa tadi? Merepotkan? Memangnya siapa yang memintamu untuk membawaku ke sini huh?"
"Berisik." Dengan sekali gerakan Juna mengangkat tubuh mungil itu ke atas brankar. "Segera periksa dia."
__ADS_1
Dokter cantik itu menggelengkan kepala dan langsung meminta Faizah berbaring. Gadis itu pun menurut, dan sang doktet langsung memeriksanya. Namun, gadis itu terlihat gusar. "Apa kau telat haid?"
"Tidak tahu, haidku memang tidak beraturan. Jadi aku tidak pernah menghitungnya." Jawab Faizah berbohong.
Dokter itu tersenyum. "Kita langsung usg aja mau?"
Faizah hendak menolak, tetapi Juna lebih dulu angkat suara. "Lakukan, supaya semuanya lebih pasti."
Faizah menyebik. Juna yang melihat itu sama sekali tidak peduli.
"Maaf ya?" Dokter itu pun menyibak kaos yang Faizah kenakan dan mulai mengoleskan sesuatu yang seperti jell. Dan pandangan Faizah pun terus tertuju pada wajah serius Juna.
Juna terlihat begitu serius menatap ke layar monitor saat sang dokter mulai menggerakan alat khusus di perut Faizah.
"Wah, sepertinya kau memang akan menjadi seorang Ayah, Jun. Lihat, benihmu benar-benar tumbuh." Ujar dokter.
Mendengar itu Faizah meremat ujung brankar.
"Berapa usia kandungannya?" Tanya Juna yang berhasil membuat jantung Faizah bertalu-talu.
Apa dia benar-benar akan membunuh anak ini?
"Jika di lihat dari ukuran janinnya, usianya sekitaran dua mingguan. Kapan kalian melakukannya?"
"Dua minggu yang lalu mungkin. Entahlah, aku rasa lebih." Sahut Juna sekenanya.
"Wah, top cer ya. Sekali tembak langsung tumbuh."
"Namanya juga benih unggul, dok." Jawab Faizah tanpa dosa. Meyadari jawabannya, Faizah langsung menutup mulutnya. Apa lagi tatapan tajam yang Juna berikan menbuatnya ciut.
"Apa jenis kelaminnya?" Tanya Juna selanjutnya.
Dokter itu tertawa lagi. "Kau ini, usianya baru dua minggu. Kau harus menunggu sampai usia kandungannya enam belas minggu ke atas baru kelihatan jenis kelaminnya."
Faizah melirik Juna sambil menggigit ujung bibirnya. "Kau tidak akan membunhku kan?"
"Diamlah." Sinis Juna.
"Jangan terlalu kasar pada kekasihmu, Jun. Dia akan tertekan jika kau bersikap seperti ini. Apa lagi dia sedang hamil." Ujar dokter cantik itu menutup perut Faizah kembali.
"Tuh dengar, jangan terlalu kasar." Sahut Faizah semakin berani karena ada yang membelanya. Dokter pun tersenyum geli.
"Jadi kapan kalian akan menikah?"
"Secepatnya." Jawab Juna yang berhasil membuat jantung Faizah melompat keluar.
Aaa... dia mau nikahin aku? Serisuan demi apa? Aku bakal jadi istri Mr. Arogan ini? Tanpa sadar Faizah tersenyum. Siapa sih yang menolak pesona seorang Arjuna? Meski Faizah tahu Juna itu terbilang kejam dan arogan. Tetapi sebagai wanita tentu saja ia menginginkan sosok sempurna seperti Arjuna. Apa lagi saat ini di dalam perutnya sudah tumbuh buah hati mereka. Meski semua itu terjadi karena kegilaannya sih.
Faizah merasa lega karena Juna tidak memintanya melenyapkan anak itu. Meski pada awalnya ia sudah berburuk sangka pada lelaki itu.
"Baguslah, jangan sampe anak kalain udah lima baru nikah." Canda sang dokter.
"Hm."
"Mr. Saya pengen nikahnya di Paris. Boleh ya?" Pinta Faizah tanpa rasa malu sedikit pun. Sontak tawa dari dokter itu pun menggelagar. Sedengkan Juna cuma bisa mendengus sebal.
__ADS_1
Tbc....