
Queen mengerjap saat mendengar ponselnya terus berdering. Tubuhnya yang masih terasa lelah pun bergerak malas untuk mengambil ponselnya di nakas.
"Siapa?" Tanya Sean dengan suara serak dan tak berniat membuka mata.
"Ella." Queen pun merubah posisinya menjadi duduk. Ia mengeluh sakit dipinggangnya. "Sean, pinggangku patah. Kau keterlaluan."
Sean tidak menjawab karena memang masih ngantuk berat.
Queen pun menerima panggilan dari Ella. "Ada apa, Ell?"
"Wah wah... kau tanya apa barusan? Ada apa huh? Lihat jam berapa sekarang, Queen?"
Dengan polosnya Queen melihat ke arah jam dinding. "Jam tiga, ada apa?"
"Oh God! Apa kau lupa janji kita? Aku sudah menunggumu satu jam lebih di depan mansion." Pekik Ella, refleks Queen menjauhkan ponselnya. Setelah di rasa aman, ia kembali menempelkannya di telinga.
"Maafkan aku, Ell. Aku sama sekali tidak lupa. Hanya saja hari ini aku tidak bisa keluar rumah. Badanku sakit semua." Alibinya.
"Cih, katakan saja kau habis bersenang-senang kan? Berapa ronde yang kalian habiskan?"
"Entahlah, tidak terhitung." Jawab Queen dengan santai. Dan tanpa di sadari olehnya mulut Ella terbuka di sana.
"Ish... aku rasa kau sudah gila? Baru kemarin kau sakit karena gula darahmu rendah. Sekarang kalian sudah bergulat di ranjang?"
"Namanya juga pengantin baru." Sahut Queen sekenanya.
"Cih... bukankah kemarin kau baru saja bilang jika pernikahan kalian tidak sehat? Lalu apa sekarang?"
"Kau ini sangat berisik, Ell. Aku masih mengantuk. Lain waktu kita shopping lagi okay. Love you," tapa menunggu persetujuan Ella, Queen langsung memutuskan panggilan. Kemudian menaruh kembali ponselnya di tempat semula.
Queen tersenyum geli saat melihat begitu banyak hasil karyanya di leher sang suami.
Memangnya dia saja yang bisa melukis? Aku juga bisa.
Queen mengecup bibir Sean dengan lembut. "Ayo bangun, ini sudah sore."
"Hm. Sebentar lagi."
Queen tersenyum lagi. "Sayang, aku lapar. Ayo bangun, mandi dan kita makan bersama."
Bukannya bangun, Sean justru menarik Queen dan mendekapnya erat. "Satu menit lagi okay?"
"Ck, aku tidak bisa bangun, Sean. Kakiku lemas." Rengek Queen sambil memainkan bibir suaminya. "Pinggangku juga sakit."
"Itu hukuman untukmu."
"Hm, aku sudah menerima hukuman. Lalu di mana hadiahku?" Pinta Queen menekan hidung mancung suaminya. "Hiks, perutku terus bergemuruh. Aku lapar, Sean."
"Pagi tadi aku sudah memberi sarapan lezat, sosis mayones. Jadi kau masih belum puas?" Goda Sean yang berhasil menciptakan semburat merah di pipi istrinya.
__ADS_1
"Kenapa mulutmu sangat mesum. Sejak kapan aku makan sosis mayones? Huh... dalam mimpimu mungkin."
"Yang pagi tadi, bahkan kau melahapnya sampai habis." Bisik Sean yang kemudian mengecup pipi merona istrinya.
"Dasar mesum." Queen membenamkan wajahnya di ceruk leher sang suami. Entah sejak kapan ia menyukai aroma yang keluar dari kulit suaminya.
"Sayang." Panggil Sean mulai membuka matanya.
"Apa?" Queen menggigit kulit leher Sean sampai lelaki itu menjerit kesakitan sangking gemasnya.
"Ck, sakit, sayang." Keluhnya. Queen terkekeh lucu. "Itu, apa kau tidak ingin healing?"
Mendengar itu Queen pun langsung mendongak. "Healing? Tentu saja aku mau? Apa kau berencana membawaku healing?" Wajahnya langsung berbinar.
"Hm." Sean mengangguk. "Aku berencana membawamu keliling Eropa, kau senang?"
Queen mengangguk antusias. "Jangan pakai privat jet. Itu tidak romantis. Kita pakai maskapai biasa saja ya? Itu lebih romantis, Sean."
"Ck, aku rasa kau terlalu banyak menonton televisi." Sean tersenyum, kemudian mengecup seluru bagian wajah istrinya. Queen yang merasa diperlakukan spesial pun cuma bisa memejam.
"Satu ronde lagi sebelum kita mandi." Bisik Sean yang berhasil membuat Queen melotot.
"Sean, pinggangku hampir patah." Tolak Queen yang sudah tidak sanggup terus digempur oleh suaminya.
"Aku tidak pernah puas denganmu, aku janji hanya satu ronde. Setelah itu kita mandi." Sean pun kembali memposisikan diri di atas sang istri.
Queen pun menghela napas pasrah. Dan keduanya kembali melanjutkan kegiatan panas itu sebelum membersihkan diri.
Queen tersenyum lebar saat melihat dua tiket bulan madu mereka.
"Sean, aku pikir kau bercanda tadi. Jadi kita benar-benar akan berkeliling eropa?"
"Hm... bukankah itu impianmu?"
Queen mengangguk antuasias dan langsung berhambur dalam dekapan Sean. "Terima kasih, Sean."
"Kita berangkat malam ini, aku tidak bisa menunda lagi. Kau juga harus lanjut kuliah setelah ini bukan?"
Lagi-lagi Queen mengangguk. "Terima kasih, terima kasih dan terima kasih, Sean. Kau itu suamiku yang paling tampan dan baik."
Aku sangat sangat mencintaimu. Ingin sekali rasanya Queen mengatakan hal itu pada suaminya. Hanya saja mulutnya terasa kaku. Kenapa saat mengatakan cinta pada Juna sangatlah mudah? Namun, sekarang semua itu seolah tertahan dikerongkongan saat berhadapan dengan Sean yang notaben suaminya sendiri.
Sean tersenyum dan mengecup pucuk kepala istrinya berkali-kali. Ia ikut senang saat melihat kebahagiaan istri kecilnya.
"Aku harus menghubungi Mommy jika kita akan keliling dunia. Oh... pasti Mommy juga akan senang."
"Lakukanlah."
Karena tidak sabar, Queen pun langsung berlari ke sofa untuk menghubungi sang Mommy meski langkahnya sedikit tertatih. Sean yang melihat itu cuma bisa tersenyum. "Aku akan memastikan kau hidup bahagia, sayang. Karena aku sangat mencintaimu. Aku tidak sabar menunggumu jatuh cinta padaku. Meski harus bertahun-tahun, aku akan menunggumu."
__ADS_1
Sean berjalan menuju meja kerjanya yang terlihat berantakan, bibirnya melengkung sempurna mengingat kejadian malam tadi. Di mana mereka bercinta dengan panas di sana. "Manis sekali."
Tidak ingin membuang waktu, Sean kembali merapikan meja kerjanya. Setelah itu ia juga merapikan tempat tidur. Membongkar sperei dan memasukkannya ke dalam tong tempat pakaian kotor. Kemudian menggantinya dengan yang baru.
Queen yang sudah selesai menelepon pun memperhatikan suaminya. "Ya Tuhan, kenapa aku sangat bodoh? Bahkan aku hampir menyia-nyiakan suami sempurna sepertinya. Mulai hari ini, aku tidak akan pernah menyia-nyiakanmu lagi, Sean."
Gadis kecil Sean itu berjalan mengendap. Dan setelah dekat, ia langsung memeluk suaminya dari belakang.
"Hey, apa yang kau lakukan? Apa tidak lihat aku sedang merapikan tempat tidur?" Tegurnya. Bukannya takut, Queen justru tertawa renyah.
"Aku sengaja ingin menggodamu. Kau sangat harum." Queen semakin mengeratkan pelukkannya. Tidak peduli Sean terus bergerak karena sedang sibuk memasang seprei baru.
"Sean."
"Hm."
"Jika aku tua nanti, bahkan kulitku mungkin sudah keriput. Apa kau masih tetap mencintaiku?" Tanya Queen masih bergelayut manja di punggung suaminya. Dan tidak peduli Sean agak kesulitan bergerak. Salah sendiri lelaki itu tidak protes.
"Entahlah."
Queen terkejut mendengarnya. "Jadi... kau akan berpaling dariku?"
Sean tersenyum geli. "Aku tidak tahu saat kulitmu mulai keriput, apa aku masih berdiri di sisimu atau tidak? Karena aku yang akan lebih dulu menua sebelum dirimu. Mungkin juga mati lebih dulu."
Mendengar itu Queen langsung melepaskan pelukannya dan menarik Sean suapaya menghadap dirinya. "Sean, aku tidak suka kau bicara seperti itu. Aku tidak mau kau pergi dariku. Jika kau mati, maka aku juga akan ikut mati denganmu."
Sean tersenyum saat melihat mata Queen yang mulai berkaca-kaca. Merasa sangat gemas, ia mengecup kedua mata istrinya itu. "Siapa pun yang nantinya pergi lebih dulu, aku akan tetap mencintaimu sampai mataku tertutup. Aku hanya mencintaimu, Queen."
Queen terharu mendengarnya dan mulai menitikan air mata. "Sean, terima kasih karena kau begitu mencintaiku. Aku sangat beruntung karena mendapat suami sepertimu. Aku.... aku...."
"Shhttt... berhenti bicara." Potong Sean menarik Queen dalam dekapan. Spontan tangisan istrinya itu semakin kencang. "Bawa aku kemana pun kau pergi, Sean. Aku tidak mau kau pergi dariku. Huhuhu...."
"Ya ampun, kau sangat menggemaskan, sayang. Lupakan masalah itu. Ayo bersiap, satu jam lagi Ben akan menjemput kita."
"Hiks... berjanji untuk tidak pergi lagi seperti kemarin. Ayo berjanji, Sean."
Sean tertawa renyah. "Aku berjanji. Maaf soal hari itu, aku pergi bukan tanpa alasan. Aku ingin menyelesaikan pekerjaanku dengan waktu singkat selagi menunggu kau berhenti marah. Dan kau malah jatuh sakit."
"Aku juga minta maaf, gara-gara aku kau harus kehilangan tender besar."
Sean mengerut bingung. "Dari mana kau tahu soal itu?"
"Tentu saja aku tahu, aku kan istrimu." Jawabnya dengan angkuh.
Sean tersenyum. "Tender itu tidak ada nilainya bagiku, karena yang lebih penting dari segalanya itu dirimu, Queen. Kau satu-satunya hartaku yang paling berharga sekarang." Queen tersentuh mendengarnya.
"Kau sangat manis, bagaimana mungkin aku tidak jatuh hati padamu, Sean?"
"Kalau begitu cepatlah jatuh cinta padaku."
__ADS_1
Queen tertawa renyah. "Bersabarlah." Karena aku sudah jatuh hati padamu, Sean.