Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Menjadi Obat Lukaku


__ADS_3

"Sayang, ke mana sebenarnya kau akan membawaku?" Sean merasa heran karen Queen membawanya keluar dan mengemudikan mobil sendiri tanpa supir.


Queen menoleh sekilas. "Menjemput kebahagian." Sahutnya mengedipkan sebelah mata.


"Kau sangat aneh, sayang."


Queen tersenyum dan fokus mengemudikan mobil. "Sudah lama rasanya aku tidak mengemudikan mobil, kau selalu membatasiku, Sean."


"Itu untuk kebaikanmu."


"Hm, dan hari ini aku bisa bebas lagi."


"Kau benar-benar istri licik, memanfaatkan kondisi suamimu ini."


"Jelas, jangan pernah remehkan aku, Tuan."


"Baiklah, katakan ke mana kau akan membawaku? Ini masih pagi, sayang."


"Kau akan tahu nanti. Bersabarlah."


Sean menatap Queen yang sedang serius menyetir. "Terima kasih."


Queen menoleh sekilas. "Kenapa kau berterima kasih huh? Aku tidak memberikan apa pun padamu."


"Terima kasih karena kau sudah menjadi obat lukaku," ucap Sean dengan tulus.


Queen tertawa renyah. "Sama-sama, Tuan Cameron."


Sean mengusap pipi istrinya dengan lembut. "Kau semakin cantik, Nyonya Cameron."


"Tentu saja, aku kan istrimu." Queen tersenyum lebar.


"Hm, jadi finalmu sudah selesai?"


"Ya, kemarin yang terakhir. Aku harap mendapat nilai bagus, habis aku kurang belajar." Jawab Queen apa adanya.


Sean merasa bersalah. "Maaf, karena aku kuliahmu harus terganggu."


"Tidak sama sekali, justru aku merasa hebat karena bisa mengurus suami dan kuliah dalam waktu bersamaan di saat aku tengah hamil muda. Setelah ini kau harus memberiku hadiah spesial." Queen tersenyum tulus.


Sean tersenyum. "Memangnya kau mau apa huh?"


Queen hanya tersenyum dan tidak menjawab.


"Sejak hamil aku rasa kau semakin aneh, sayang." Sean menggeleng.


Menit berikutnya, Sean terkejut karena sang istri membawanya ke privat airport miliknya. "Kenapa kita ke sini?"


Queen menghentikan mobilnya tepat di depan tangga privat jet keluarga Sean. Lalu ia menoleh dan tersenyum. "Aku sudah menemukan dokter spesial untukmu, kau akan segera sembuh."


Sean termangu. Ia tidak percaya Queen melakukan hal sebesar ini. "Sayang...." perkataanya tertahan karena Queen membungkam mulutnya dengan bibir.


"Aku akan melakukan apa pun untuk membuatku bahagia, Sean. Sama seperti yang kau lakukan padaku." Bisik Queen menyatukan dahi mereka.


"Terima kasih," ucap Sean kembali mencepa bibir manis istrinya.


"Sudah, kita harus segera berangkat. Kita akan mulai melakukan pemeriksanmu. Aku harap tidak ada masalah apa pun sampai operasinya berjalan lancar."


Sean mengangguk. Queen turun, lalu mengitari mobil dan membuka pintu untuk suaminya. Tidak lama dari itu Ben dan beberapa anak buahnya datang membawa kursi roda. Dengan sigap mereka membantu Sean duduk di kursi roda. "Terima kasih."

__ADS_1


Sean menatap Queen yang tengah berbincang dengan Ben, membahas masalah jadwal operasi. Sean tersenyum, sejak dirinya sakit ia bisa melihat diri lain dari Queen. Queen yang biasanya hanya bersikap manja, kini ia berubah menjadi sosok dewasa dan penuh wibawa.


Usai berbincang, Queen pun kembali mendekati suaminya. "Ayo, pesawat akan segera lepas landas."


Kini mereka sudah berada di dalam pesawat. Queen menyepol rambutnya asal, lalu membuka blazernya dan hanya menyisakan tanktopnya saja. Sean yang melihat itu merasa heran.


"Panas sekali, Sean. Padahal AC-nya full." Keluh Queen. Ia tidak berbohong jika tubuhnya kepanasan. Bahkan keringat keluar dari pori wajahnya. Aneh memang, tetapi itulah yang terjadi. Queen membuka tutup air mineral dan meneguknya perlahan.


"Kau benar-benar aneh. Aku baru sadar setiap malam kau tidak pernah memakai selimut."


Queen menghela napas. "Entahlah, aku selalu kepanasan setiap saat. Apa karena kehamilanku ya?"


"Mungkin," sahut Sean terus memperhatikan penampilan istrinya yang begitu seksi. Beruntung yang lain duduk di belekang jadi tidak ada yang bisa melihat penampilan Queen saat ini selain dirinya. "Kau sangat menggemaskan sayang."


Queen menoleh. "Aku kepanasan, kau malah menggodaku. Boleh aku buka semuanya?"


Sean melotot mendengar itu. Spontan Queen pun tertawa renyah. "Cuma bercanda, Sayang. Aku masih waras."


Sean menyeka keringat di kening istrinya. "Aneh sekali, padahal di sini sangat dingin."


"Hm, aku juga merasa aneh. Rasanya aku ingin masuk ke dalam bathup berisi air dingin sekarang."


"Apa menurutmu kondisi seperti ini baik?"


Queen terdiam. "Aku tidak tahu. Kita akan tanyakan ini pada dokter nanti."


Sean mengangguk sambil terus memperhatikan istrinya. Sedangkan yang diperhatikan sedang mencari posisi nyaman. "Sean, kakiku sangat sakit."


Sean menarik kaki Queen kepangkuanya. Lalu memijatnya dengan lembut. Queen tersenyum senang. "Aku senang kau memanjakanku seperti ini. Kalau begini terus aku ingin hamil sepanjang waktu."


Sean tersenyum. "Bukankah itu bagus, kita akan dikelilingi banyak anak-anak lucu. Aku rasa mansion akan heboh dengan teriakan dan tangisan mereka."


"Sepertinya aku belum siap." Canda Sean yang kembali mengundang tawa Queen.


"Aku harap diperutku sekarang ada lima Sean Junior. Seperti yang aku lihat di televisi. Seorang wanita melahirkan lima anak sekaligus. Bukankah itu hebat? Aku ingin seperti itu, Sean."


"Ya, tapi aku tidak tega melihatmu kesakitan."


"Sean, semua Ibu pasti akan merasakan sakit saat melahirkan. Tapi tidak ada yang menyerah, justru mereka terus melahirkan. Itu artinya rasa sakit itu punya makna sendiri."


"Ya... terserah kau saja."


"Kau tahu? Aku sudah mendaftarkan diri untuk ikut yoga bulan depan."


"Oh ya?"


"Ya, karena itu kau harus sembuh. Kali ini aku butuh dirimu. Kau harus menemaniku yoga setiap hari."


"Tentu saja."


Queen tersenyum senang. "Aku tahu kau sangat mencintaiku, karena itu kau akan melakukan apa pun untukku kan?" Sean hanya mengangguk.


Selama berjam-jam dalam penerbangan, Queen tidak henti-hentinya mengoceh. Meski pada akhirnya ia menyerah dan tertidur. Sampai pesawat mereka pun berhasil landing.


Sean menyelimuti istrinya. Tidak lama Ben pun datang.


"Ben, tunggu sebentar lagi. Biarkan istirku tidur beberapa saat. Sepertinya dia kelelahan. Kasihan sekali, dia harus mengurus dan menjagaku sepanjang waktu dalam kondisi seperti ini. Ben, kau yakin operasi ini akan berhasil?"


"Anda harus yakin, Tuan. Nyonya sangat berharap operasi ini berhasil dan Anda bisa jalan kembali."

__ADS_1


Sean mengangguk. "Tinggalkan kami dulu. Nanti aku akan menghubungimu."


"Baik, Tuan." Ben dan anak buahnya pun beranjak keluar dari pesawat. Meninggalkan Sean yang masih setia memandangi istrinya. Sean mengusap pipi halu Queen. "Maaf sudah membuatmu sulit." Tangannya pun berpindah pada perut Queen. Membuat sang empu mengerjap dan terbangun.


"Nghh... apa sudah sampai?" Lenguhnya.


Sean mengangguk. "Rapikan pakaianmu, kita harus segera turun."


Queen mengangguk dan kembali memasang blazernya. Sedangkan Sean menghubungi Ben. Tidak perlu lama lelaki berpakaian formal itu muncul. Tanpa diminta lebih dulu, Ben langsung membantu Sean.


Dari bandara, mereka pun langsung menuju rumah sakit terbesar di Berlin. Menemui dokter spesialis untuk konsultasi lebih dulu karena sebelumnya Queen sudah menbuat janji dengan dokter tersebut. Syukurnya tidak ada kendala pada Sean dan bisa melangsungkan operasi besok harinya.


Dan saat ini Sean dirawat di ruang VIP untuk persiapan operasi besok. Beberapa suster masuk dan mengecek kondisi Sean. Mulai dari cek darah dan lainnya. Bahkan Sean juga diminta untuk puasa selama beberapa jam sebelum operasi.


Queen naik ke atas brankar dan berbaring di sisi Sean. Menjadikan tangan Sean sebagai bantal. Diusapnya dada lelaki itu dengan lembut. "Apa kau gugup?" Queen mendongak.


"Sedikit." Sahut Sean menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.


"Aku ada di sini, jangan takut. Kau pasti bisa melewatinya."


Sean tersenyum. "Selagi ada dirimu aku tidak akan pernah takut."


Queen mengangguk. "Setelah kau sembuh, ayo kita honeymoon lagi. Yang dulu itu kan sempat terpotong karena musibah. Kita lanjutkan keliling Eropa, aku belum puas."


"Dengan senang hati, Ratuku."


Queen tersenyum senang sembari memeluk Sean erat. "Ah, tidak sabar untuk berkeliling lagi. Aku menantikannya."


"Apa yang tidak untukmu. Asal kau bahagia aku akan mengabulkannya."


"Kau sangat manis, Sean. Aku rasa cintaku semakin tumpah ruah. Ah... tidak menyangka aku bisa secinta itu padamu. Padahal dulu aku sama sekali tidak tertarik padamu."


"Ya, karena saat itu kau masih bodoh." Cibir Sean.


"Ish... dan kau yang mengajarkan aku menjadi pintar begitu?" Queen menyebikkan bibirnya.


"Tentu saja, buktinya sekarang kau sudah pintar menggombal dan merayu."


"Sean! Aku tidak sedang menggombal.


Aku serius, aku mencintaimu."


"Tapi aku tidak."


"Sean!" Kesal Queen memukulnya pelan. Sean pun tertawa renyah, lalu mendekap Queen dengan penuh cinta.


"Aku juga mencintaimu, gadis kecil."


Queen tersenyum bahagia. "Gadis kecil ini sebentar lagi jadi Mommy, Sean."


"Ya, my little Mommy."


Queen tertawa renyah, membenamkan wajahnya di dada Sean. "Aku ingin tidur, tadi itu belum puas tahu."


"Tidurlah kalau begitu."


"Jangan lepaskan aku."


"Tidak akan pernah." Sean mengecup kepala istrinya dengan mesra.

__ADS_1


__ADS_2