
Di kamar hotel, Queen berbaring membelakangi sang Mommy. Sejak tadi air matanya tak mau berhenti keluar. Bahkan pikirannya terus tertuju pada sang suami.
Kenapa kau seperti ini, Sean? Apa karena kondisimu saat ini, kau menjadi tidak percaya diri? Maafkan aku, Sean. Aku akan membiarkanmu menenangkan pikiran sejenak. Basok aku akan kembali. Ah... aku bahkan sudah merindukanmu. Apa kau sudah tidur? Queen menghela napas berat.
Rea menatap punggung putrinya. "Kenapa belum tidur?"
Queen merubah posisinya menjadi terlentang. "Aku memikirkan Sean, Mom. Apa dia baik-baik saja sekarang?"
Rea tersenyum seraya mengusap pipi putrinya. "Di sana ada Daddymu. Jika terjadi sesuatu padanya pasti dia akan menghubungi Mommy. Jangan khawatir, tidurlah. Kau tidak boleh sakit, kalau kau sakit siapa yang menjaganya huh?"
Queen mengangguk, ditatapnya sang Mommy lekat. "Aku ingin dipeluk."
Rea tertawa renyah. "Mommy merindukan manjamu, sayang. Kemari."
Queen pun mendekat, lalu keduanya berpelukan. Rea mengecup kening Queen dengan mesra. "Tidurlah, besok kita kembali ke rumah sakit."
Queen mengangguk dan mulai memejamkan mata karena sangat lelah sehabis menangis tadi. Rea kembali memberikan kecupan dikening Queen. "Mommy selalu mendoakan kebahagian kalian, sayang."
Queen semakin mengeratkan pelukannya mendengar itu. Lalu keduanya pun terlelap dengan penuh kehangatan.
Di lain tempat, Juna tidak tidur lagi setelah menerima telepon dari Sean. Padahal waktu sudah memasuki jam empat dini hari. Lelaki itu menghembuskan napas berat. "Apa aku seburuk itu? Bahkan aku tidak berniat merebutnya. Sepertinya aku memang harus merelakannya bahagia."
Juna mengusap wajahnya dengan lembut. Ia menoleh ke samping, semuanya tampak kosong. Biasanya Faizah ada di sana dan tertidur dengan posisi aneh. Juna tersenyum kecut. "Apa aku merindukannya? Haish... gadis tengil itu tidak pernah membuat hidupku tenang sehari saja."
Juna menatap foto pernikahan sederhana mereka dengan seksama. Lalu ingatan pagi tadi tentang pertemuan dengan keluarganya kembali terngiang.
Pagi tadi setelah mengantarkan Faizah ke rumah mertuanya. Juna langsung ke kediaman keluarga besarnya. Yaitu adik dari sang Mama.
"Wah, tumben kamu datang ke sini, Jun?" Sapa sang Bunda saat melihat kedatangan Juna. Namun, Juna tidak menyahut dan nyelonong masuk. Membuat sang Bunda kaget.
"Jun, ada pagi-pagi kemari?" Sang paman yang sedang bersantai pun ikut menyapanya.
"Aku ingin bicara dengan semua orang. Tolong panggil yang lainnya. Tara, Siska, Nayla juga. Panggil mereka semua kemari. Aku tunggu di diruang keluarga."
Paman Juna itu mengerut bingung. "Apa ada masalah besar, Jun? Kenapa mereka juga harus dipanggil?"
Bunda Juna pun terlihat gelisah, apalagi saat ini Juna memberikan tatapan penuh intimidasi.
"Paman akan tahu nanti. Panggil saja mereka dulu. Suruh datang kemari. Tanpa terkecuali." Tegas Juna.
"Baiklah, Paman akan memanggil mereka semua. Tunggulah, jika kau belum makan. Makan dulu."
__ADS_1
"Hm." Juna melangkah pasti ke ruang keluarga.
Beberapa menit kemudian semua keluarga besarnya sudah berkumpul di sana. Beberapa dari mereka yang sudah tahu apa yang akan terjadi terlihat gelisah. Ya, merekan lah yang melayangkan cacian dan makian pada Faizah. Sedangkan sang Paman dan beberapa orang yang tidak terlibat tampak kebingungan.
"Kalian sadar kesalahan kalian di mana?" Tanya Juna melayangkan tatapan tajam pada para pelaku.
"Cih, aku tidak menduga dia mengadu. Dasar tidak tahu malu." Ketus Tara, sepupu Juna.
"Iya, pasti dia mengadu yang bukan-bukan padamu."
"Juna, dia itu bukan wanita baik-baik. Tidak cocok untukmu. Bunda yakin dia cuma mau harta kamu doang. Mana ada wanita baik-baik naik ke atas ranjang laki-laki. Mana pake acara hamil lagi."
Juna mengepalkan tangannya dengan rahang mengeras.
"Bunda benar, Bang Jun. Mana tahu anak itu bukan anak Abang. Mungkin anak dari cowok lain."
"Cukup!" Bentak Juna yang berhasil membuat mereka bungkam seketika. "Apa belum cukup kalian menghina dia? Apa belum cukup kalian memaki dia dan mengatainya p*l*c*r?"
Juna menahan napas sejenak. "Harus kalian tahu, dia sama sekali tidak mengadu apa pun padaku meski kalian terus menerornya sepanjang waktu. Kalian juga harus tahu, bahkan dia memintaku untuk memilih kalian dibanding dirinya yang sedang mengandung anakku."
"Bang...."
"Anak yang dikandungnya itu darah dagingku, aku sudah memastikan itu. Aku yang merenggut mahkotanya harus kalian tahu. Dan kalian mengatai calon anakku anak haram huh? Hebat sekali kalian."
"Jun...."
"Aku sangat menghormatimu, Bun. Tapi rasa hormatku lenyap setelah membaca isi pesan yang kau lontarkan pada istriku. Kau menghinanya begitu kejam. Apa kau tahu, kodisinya saat ini sedang tidak baik. Dan kalian menambah beban pikirannya. Di mana isi kepala kalian huh?"
Paman Juna yang sudah paham masalahnya pun menghela napas berat. "Juna, Paman minta maaf soal Bunda dan anak-anak Paman yang sudah mengatai istirmu. Paman tidak tahu mereka akan melakukan hal ini."
"Tapi wanita itu pasti punya tujuan terselubung, Papa. Buktinya dia diam saja saat kami memakinya. Itu artinya dia merasa jika dia bersalah."
"Diam, Siska! Jangan menambah keadaan menjadi buruk. Apa kalian tahu dampak perbuatan kalian ini huh? Kalian hampir merutuhkan rumah tangga orang. Apa kalian bisa diam dan tidak perlu ikut campur urusan orang lain? Biarkan Juna membangun rumah tangganya sendiri. Dia kepala keluarga, biarkan dia yang mengurus masalahnya sendiri."
Mereka pun terdiam.
Juna memijat batang hidungnya. "Sekarang dia minta cerai, mungkin itu yang kalian harapkan."
Semua orang terkejut mendengarnya.
"Bang, pasti itu cuma akal-akalanya doang. Biar Abang memohon dan pertahanin dia. Halley juga gak suka sama dia." Ketus Tara.
__ADS_1
"Itu karena kalian mempengaruhinya." Kesal Juna dengan suara lantang. "Sepertinya kalian memang menganggap aku ini bodoh."
"Sayangnya aku tidak sebodoh itu. Halley memang ikut menyerang istriku, tapi tidak separah kalian. Aku lelah dengan sikap sok tahu kalian. Tolong jangan ikut campur urusan pribadiku lagi. Aku memohon pada kalian sebagai rasa hormatku pada keluarga ini. Tapi jika kalian masih bersikukuh dengan pikiran kalian, jangan pernah berpikir aku akan sudi menginjakkan kaki ke rumah ini lagi. Aku menghormati kalian karena Paman dan juga Bunda yang notabennya adik almarhumah. Tapi kalian sama sekali tidak menghormatiku."
Setelah mengatakan itu Juna pun langsung pergi dengan kilatan amarah di matanya. Bahkan suasana rumah itu mendadak canggung.
Kejadian itu benar-benar membuat Juna pusing. Ia menghela napas gusar. Kemudian ia bangkit dan melangkah pasti menuju balkon. Ditatapnya langit gelap dengan seksama.
"Hah, sepertinya kamu memang ditakdirkan untukku, Izah. Aku tidak akan melepaskanmu. Aku hanya memberi waktu beberapa saat untukmu menenangkan diri. Setelah itu aku akan menjemputmu. Kamu sudah terlanjur mengacaukan hidupku. Jadi bertanggung jawablah." Juna tersenyum penuh arti.
****
Hoek!
Faizah terus muntah-muntah sudah setengah jam lamanya. Bahkan tubuhnya sudah lemas tak berdaya. Ia terduduk di lantai kamar mandi dengan kedua tangan berpegangan di bibir closet.
Hoek!
Lagi-lagi Faizah memuntahkan cairan kental yang menimbulkan rasa pahit dimulutnya. "Udah dong, Baby. Mama udah lemes banget, hoek."
Faizah tidak sanggup lagi. Bahkan perut bawahnya ngilu karena muntah-muntah terus. "Kamu gak sayang Mama ya? Sampe buat Mama kayak gini." Lirihnya. Dan lagi-lagi Faizah muntah.
"Mammy." Ia berusaha memanggil sang Mammy meski suaranya tidak bisa keras karena lemas. "Tolong, Fai lemes benget."
Faizah menangis saat tiba-tiba mengingat Juna. Hatinya sakit karena lelaki itu benar-benar meninggalkanya. "Huhuhu... kenapa aku masih mikirin dia sih? Udah dibuang juga. Baby, mulai sekarang kamu harus terbiasa tanpa Papa ya? Tolong ngertiin Mama."
Kepala Faizah bersandar di bibir closet. Tubuhnya benar-benar lemas dan tidak bisa bangun. "Mammy." Lirihnya. Perlahan matanya terpejam karena terlalu lelah.
Pagi harinya, sang Mammy yang hendak mengecek kondisi Faizah terkejut saat tak menemukan putrinya di kamar. "Fai."
Melihat pintu kamar mandi terbuka. Cepat cepat ia ke sana. Sontak matanya membulat saat melihat Faizah tertidur di kamar mandi. Seketika hatinya terenyuh. "Fai, ya ampun, sayang."
Mata Faizah terbuka perlahan, wajahnya terlihat pucat pasi. "Mammy, dingin."
Sang Mammy langsung menyentuh dahi Faizah. "Kamu demam, Fai. Sebentar, Mammy panggil Daddy dulu."
"Mammy, apa Fai mau mati ya?"
"Hush... kalau ngomong jangan ngasal, Fai. Udah tunggu bentar, Mammy panggil Daddy dulu." Cepat-cepat Mammy pun berlari keluar. Faizah kembali memejamkan matanya karena pusing.
Tbc....
__ADS_1