Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Hadiah Terbaik


__ADS_3

Mengandung adegan 21+ yang dibawah umur harap bijak memilih bacaan.


Queen bernapas lega karena berhasil membuat kue ulang tahun super cantik untuk suaminya. "Berikan strawberi lagi. Sean menyukainya." Pitanya pada pelayan. Pelayan yang sejak tadi membantunya itu dengan sigap memberikan mangkuk berisi buah strawberi pada Queen.


"Sempurna," ucapnya penuh bangga. Ada kepuasan sendiri dalam hatinya. "Semoga Sean menyuikainya." Queen menyeka keringatnya, lalu melepas apron dan memberikannya pada sang pelayan.


Sepertinya ia juga tidak sadar jika wajahnya dihiasi tepung. Para pelayan yang melihat itu tersenyum geli.


"Nyonya, wajah Anda."


"Oh, apa belepotan?" Pekik Queen bergegas mencuci wajahnya. "Hah, rasanya menyenangkan meski lelah. Sejak hamil pergerakanku tidak sebebas dulu. Sebentar saja aku sudah lelah." Rancaunya.


"Ok, aku harus mandi sebelum dia pulang. Tolong dibereskan ya?"


Ya, Sean memang sudah masuk ke kantor dua seminggu setelah kepulangan mereka. Awalnya Queen menolak keputusan suaminya itu, tetapi melihat semangat Sean saat bekerja. Akhirnya Queen memberikan izin dengan syarat Sean tidak boleh pulang malam.


"Baik, Nyonya."


"Terima kasih." Ucap Queen membawa kue itu dan menaruhnya di dalam lemari es. Setelah itu ia pun beranjak ke kamar untuk membersihkan dan mempercantik diri.


Setelah penampilannya sempurna, Queen mulai merapikan tempat tidur. Bahkan menaburi kelopak bunga mawar dan menghidupkan lilin aroma terapi.


Ceklek


Pintu kamar pun terbuka, Sean terkesiap saat melihat kamar mereka sudah disulap


Seperti kamar pengantin. "Baby, ada apa


ini?" Tanyanya seraya memajukan kursi rodanya.


Queen yang masih sibuk menghidupkan lilin pun menoleh, lalu tersenyum manis. "Membuatmu nyaman, sayang."


Sean tersenyum. "Harum sekali, bahkan kau sangat cantik, Baby." Sean memperhatikan istrinya yang hanya mengenakan jubah tidur.


Queen bangkit. "Sebaiknya kau mandi supaya segar. Bagaimana hari ini, apa ada masalah di kantor?" Dengan cekatan Queen membantu Sean melepaskan jas dan dasi.


"Tidak ada, semuanya aman."


Queen tersenyum. "Ayo mandi, supaya kau juga wangi."


Sean menahan tangan istrinya saat hendak pergi. "Sudah aku katakan, kau tidak boleh kecapekan. Duduklah, aku bisa menyiapkan semuanya sendiri."


Queen menghela napas berat. "Sayang, aku hanya menyiapkamu air, pakaian dan membantumu sedikit. Tidak lelah sama sekali."


"Kau lelah, terlihat dari wajahmu. Duduklah, dan tunggu aku di sini."


"Sean...."


"Jangan membantah, hampir setiap malam kau mendengkur. Tidak biasanya kau seperti itu. Apa artinya itu huh? Kau pikir aku tidak tahu, sepanjang waktu kau sibuk di dapur." Sean menyela kalimat istrinya.


Queen terkesiap. "Jadi kau juga tahu apa yang aku lakukan tadi?"


Sean mengangguk.


"Hiks... itu artinya tidak ada kejutan." Queen duduk dipangkuan Sean dengan lemas. "Kenapa kau tidak pura-pura saja sih? Kalau begini rugi saja aku berkutat di dapur. Kejutannya gagal."


Sean tersenyum geli. "Aku tidak butuh kejutan, sayang. Melihatmu tertawa saja itu sudah membuatku bahagia."


Queen cemberut. "Tapi kejutanku?"

__ADS_1


"Setiap saat kau selalu membuatku terkejut dengan perubahan sikapmu."


Mendengar itu tawa Queen pun pecah. Dikalungkannya kedua tangan itu di leher Sean. "Memangnya apa yang aku lakukan sampai kau terkejut huh?"


"Banyak, kadang kau meledak-ledak tak jelas, kadang semanis madu, bahkan kadang kau merajuk tanpa sebab. Mmebutakukubingunh dan seakan tidak memahamimu, Queen." Penjelasan Sean pun kembali membuatnya tertawa.


"Tanyakan saja pada anakmu ini, apa yang sebenarnya dia inginkan huh?"


"Sepertinya dia ingin segera dijenguk Daddynya. Bersiaplah, malam ini aku akan menjenguknya."


Queen melotot mendengar itu. "Kau nakal sekali, Sean."


"Nakal-nakal begini kau suka kan?"


Queen tertawa lagi. "Kau ini. Ya sudah, mandi sana. Aku akan menunggumu di sini."


Sean mengangguk. "Kau menyuruku mandi, tapi tidak beranjak dari pangkunaku. Bagaimana aku bisa pergi huh?"


"Ah, maaf. Aku lupa, habis terlalu nyaman." Cepat-cepat Queen bangun dan memberikan Sean jalan.


"Sikapmu itu yang membuatku tidak habis pikir, Nyonya."


"Tuan, cepatlah. Aku menunggumu, bersihkan dirimu dengan benar ya?"


"Dasar nakal." Setelah mengatakan itu Sean pun memajukan kursi roda canggihnya itu ke arah kamar mandi. Sedangkan Queen cuma bisa menggeleng.


"Tidak jadi masalah gagal memberikan kejutan. Tapi kuenya harus tetap dimakan." Queen pun langsung melesat keluar.


Beberpa menit kemudian. Sean pun keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk dan rambutnya yang sengaja dibiarkan basah. Namun, Sean terkejut saat melihat penampilan sang istri. Di mana Queen hanya mengenakan gaun super tipis yang memperlihatkan lekuk indah tubuhnya. Sean menelan salivanya dengan susah payah.


"Selamat ulang tahun, suamiku." Ucap Queen menyambutnya dengan hangat. Diambilnya kue di atas nakas. Lalu duduk kembali di atas pangkuan lelaki itu.


"Kau...."


"Apa aku cantik?"


"Hm." Sean tidak bisa melepaskan pandangan dari dada ranum istrinya. Dua benda kenyal itu semakin menggoda sejak istrinya hamil. Gaun tipis yang Queen kenakan tidak menutupnya dengan baik.


"Kau harus mencobanya."


"Tentu saja, sudah lama aku tidak melahapnya."


Queen mengerutkan dahi. Ditatapnya arah pandangan sang suami. "Sean, apa yang kau pikirkan? Aku bilang kau harus mencoba kuenya."


"Ah, kue?" Kaget Sean. Melihat ekspresi menggemaskan itu Queen pun tertawa.


"Ya ampun, jadi kau sedang memikirkan hal lain ya?"


Sean tersenyum kikuk. "Siapa suruh kau menggodaku." Dengan jahil Sean mengusap dua tonjolan menggoda itu.


"Sean!" Pekik Queen hampir menjatuhkan kue ditangannya karena kaget. "Ih... kau nakal, Sean. Bagaimana jika kueku jatuh?"


Sean tersenyum, diambilnya sebuah strawberi dan langsung melahapnya. Rasanya sangat manis. Seperti bibirmu."


"Gombal."


"Taruh dulu kue itu, urus suamimu ini."


Queen mendengus kecil, tetapi tetap saja ia bangun untuk menaruh kuenya lebih dulu. Diambilnya handuk kecil, dan kembali duduk di pangkuan Sean.

__ADS_1


Tanpa diminta, Queen langsung mengeringkan rambut suaminya dengan lembut. Sedangkan Sean masih memandangi tubuh indah itu. Lama tak menyentuhnya, membuatnya lapar dan haus.


"Arghh...." lenguh Queen saat tiba-tiba Sean memijat dadanya.


"Sakit?"


Queen mengangguk. "Mereka sangat sensitif, Sean. Pelan-pelan, kau harus bersikap lembut."


"Seperti ini?" Kali ini kedua benda itu mendapat perlakuan yang sama. Queen menggigit bibirnya, mencoba menikmati sentuhan tangan Sean.


"Sean, milikku sudah keras di bawah sana." Bisik Queen begitu sensual.


"Yah... dia tidak sabar untuk masuk sangkar."


Queen terkekeh kecil. "Ayo pindah ke atas ranjang, agar lebih leluasa."


Sean mengangguk. Tidak perlu lama, mereka pun sudah di atas ranjang. Di mana Sean bersandar di kepala ranjang dan Queen masih di atasnya.


Sean mencecap bibir sensual istrinya. Queen mengalungkan tangannya, dan mulai mengikuti permainan.


"Hmmffff...." lenguhan kecil keluar dari mulut Queen saat benda keras milik Sean tidak sengaja menusuk miliknya.


Queen menarik bibirnya. "Sean, aku tidak tahan." Rengeknya.


"Ini terlalu cepat, baby." Sean melepaskan kain tipis yang menghalangi pandangannya itu. "Seksi sekali, sayang."


Queen yang sudah diselimuti kabut gairah pun mengangguk. "Uh... pelan-pelan, sakit." Lenguhnya karena Sean melahap dua bukit kembar itu dengan rakus.


"Mereka terus menantangku," bisik Sean kembali mencecap dua daging kenyal itu dengan lembut.


Tidak mau kalah, jemari lentik Queen pun menarik penghalang rudal Sean. "Ssstt... dia sudah sangat keras, Sean."


"Jangan dimasukkan dulu." Pinta Sean.


"Tapi aku tidak tahan." Rengek Queen. "Aku sudah menahannya cukup lama tahu."


Sean terkekeh lucu. "Kasihan, kalau begitu puaskan dia."


Seketika mata Queen berbinar. "Aku masukkan sekarang?"


Sean mengangguk. "Lakukan sesuai keinginanmu, baby."


"Uhhhh...." keduanya melenguh bersamaan saat berhasil melakukan penyatuan.


"Perih, Sean. Kenapa milikku terasa sangat besar dari biasanya? Apa karena sudah lama kita tidak melakuknnya? Tapi ini lebih baik." Rancau Queen menempelkan dadanya pada Sean.


"Dia terlalu merindukannmu, sayang."


Queen mengangguk, bahkan dengan nakal ia mulai bergerak liar. "Sean... dia... terasa penuh." Diraihnya bibir seksi Sean dengan rakus. Dan semakin bergerak liar.


Sean mengakhiri ciuman mereka. "Jangan terlalu kasar, kau sedang hamil, baby."


"Aku tidak tahan. Oh sial! Sepertinya aku akan meledak, Sean."


Sean tersenyum geli. "Kau tahu? Aku rasa ini hadiah terbaik. Kuemu yang ini lebih legit dan menggiggit. Aku suka caramu bergoyang, baby." Dengan jahil Sean menekan pingging istrinya.


Queen memukul bahu Sean sambil mendesis. "Jahat sekali, sakit tahu." Setelah itu terdengar suara erangan panjang yang menandakan Queen sudah mencapai *******. Sedangkan Sean masih berusaha mendapat pelepasannya. Tidak perlu lama Queen sudah on kembali, sepertinya malam ini akan menjadi malam panjang mereka setelah lama berpuasa.


Tbc....

__ADS_1


__ADS_2