Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Aku tidak akan menyerah


__ADS_3

Hari ini adalah hari ulang tahun yang ke- 10 untuk Jef Xavier Cameron, putra pertama pasangan Queen dan Sean. Acara yang diselenggarakan cukup meriah karena kali ini diadakan dikediaman Michaelson. Rea mengundang banyak orang hanya untuk memeriahkan ulang tahun cucu tersayangnya. Karena baru kali ini cucunya itu berlibur panjang di Indonesia. Karena itu Rea tak ingin melewatkan kesempatan langka kali ini.


Jef, anak tampan itu terlihat gelisah karena sepanjang acara dirinya terus ditempeli oleh seorang gadis asing. Mercia Quenby Wijaya, putri dari Juna itulah yang sejak tadi terus menempeli Jef. Sejak tadi Jef berusaha menghindar, akan tetapi gadis itu terus mengekorinya.


Queen dan Faizah yang sejak tadi mengawasi keduanya pun tersenyum geli. "Sepertinya putrimu begitu antusias." Ujar Queen seraya mengusap perutnya yang buncit. Ya, saat ini ia tengah hamil anak keduanya.


Faizah tertawa kecil. "Dia sangat menyukai putramu, setiap kali kau mengirimkan foto Jef. Dia selalu semangat. Bahkan dia selalu bertanya kapan bisa bertemu dengan Jef?"


Queen terdiam sejenak. "Tapi Jef itu agak sulit, dia tidak peduli saat aku ingin menunjukkan foto Cia."


Faizah menoleh, lalu tersenyum. "Jangan cemas, Queen. Putriku itu cukup pintar menarik perhatian orang lain."


"Ya, semoga saja Cia berhasil." Queen penuh harap.


Kembali pada Jef dan Mercia.


"Kau itu siapa?" Kesal Jef sambil berusaha menjauh darinya. Tentu saja Jef menggunakan bahasa ibunya, yaitu bahasa inggris.


Mercia tersenyum begitu manis. "Mama bilang kamu itu jodohku di masa depan, jadi aku tidak mau kamu diambil orang." Jawabnya dengan cepat.


"Apa yang kau katakan?" Tanya Jef lagi karena tidak bisa mencerna ucapan Mercia yang secepat kereta api itu.


"Ya ampun, kamu gak bisa bahasa Indonesia ya?" Mercia memutar bola matanya jengah. Kemudian ia pun mengulurkan tangannya, lalu berbicara dengan bahasa Inggris. "Namaku Cia, Mercia Quenby Wijaya. Jodohmu di masa depan."


Jef tak berniat membalas uluran tangan Mercia. Namun, tanpa diduga gadis itu menarik tangannya. "Kau Jef Xavier Cameron kan? Hari ini kau berulang tahun yang ke- 10. Aku ucapkan selamat ulang tahu."


Jef menarik tangannya dengan cepat. "Ya, terima kasih."


Mercia tersenyum. "Kau jauh lebih tampan dari pada di foto."


Jef mengerutkan dahi. "Kau punya fotoku?"


Mercia mengangguk. "Setiap bulan Mamaku menunjukkan fotomu. Aunty Queen yang mengirimnya."


"Mommyku?"


Lagi-lagi Mercia mengangguk. "Mamaku juga bilang, dimasa depan kita akan menikah. Jadi aku harus selalu ada didekatmu."


Jef mendengus sebal. "Aku tidak mau menikah denganmu." Kemudian ia pun berlalu pergi.


Mercia pun kembali mengekorinya. "Kau yakin? Aku ini kan cantik, semua lelaki disekolahku mengatakan hal itu."


"Tapi bagiku tidak." Sahut Jef terus berjalan untuk menghindari Mercia.


Mercia menghela napas, dan terus berusaha mendekatkan diri dengan Jef. Karena tidak nyaman, Jef pun kembali menahan langkahnya. "Bisakah kau tidak menempel terus padaku? Aku malu dilihat orang." Ungkapnya dengan nada kesal.


"Eh, kenapa harus malu?" Tanya Mercia dengan wajah polosnya.


Jef menghela napas berat. "Jangan dekat-dekat, sebaiknya kau jaga jarak dariku. Kenapa kau tidak bergabung dengan mereka?" Menunjuk kerumunan anak-anak gadis lainya.


Mercia menatap mereka malas. "Aku tidak suka bersama mereka, semua orang terus memuji ketampananmu."

__ADS_1


"Aku tidak peduli, menjauhlah dariku." Geram Jef.


Sean yang berdiri tak jauh dari sana pun menoleh. Keningnya mengerut saat melihat sang putra memasang wajah kesal. Ia pun mendekati mereka. "Ada apa ini, Son?"


Jef dan Mercia pun menoleh. Lalu tanpa banyak berpikir Jef pun berdiri di sebelah sang Daddy.


Mercia tersenyum seraya mengulurkan tangannya. "Hai Uncle, aku Mercia."


Sean mengangguk tanpa membalas uluran tangan gadis itu. Cepat-cepat Mercia menarik tangannya lagi. "Pantas saja Jef sangat tampan, ternyata itu diwariskan darimu ya?"


Sean tak menanggapinya. Gadis ini sangat mirip dengan Ibunya. Sama sekali tidak cocok dengan putraku.


"Daddy, gadis ini terus menempel padaku dan mengoceh tak jelas. Aku tak menyukainya." Adu Jef pada Sean.


Sean menatap putranya. "Jika kau tak menyukainya, maka abaikan saja. Lama-lama dia akan bosan." Ucapnya seraya melirik Mercia yang masih tersenyum ramah.


Jef menghembuskan napas panjang, lalu diliriknya Mercia sekilas. "Aku lelah, bolehkan aku kembali ke kamar, Dad?"


"Boleh, pergilah." Sahut Sean. Lalu Jef pun berlalu pergi. Mercia hendak mengikuti anak itu, sayangnya Sean menahan langkah kecil gadis itu. "Mau kemana?"


Mercia tersenyum begitu imut. "Memastikan calon suamiku di masa depan baik-baik saja, Uncle."


Sean terkejut mendengarnya. Anak ini benar-benar tidak tahu malu, pasti hasil didikan ibunya.


"Apa kau tidak melihatnya tadi? Dia menolakmu."


Lagi-lagi Mercia tersenyum ceria. "Dia belum mengenalku, Uncle. Dia akan menyukaiku jika kami sudah saling kenal."


"Tapi putraku tak suka wanita agresif."


Sean menarik napas pendek. "Lupakan, jangan ikuti putraku. Biarkan dia istirahat."


"Tapi acaranya...."


"Acaranya sudah hampir selesai." Sanggah Sean.


Mercia memasang wajah sedih. "Padahal aku masih ingin mengobrol dengannya."


"Lain kali saja." Setelah mengatakan itu Sean pun berlalu pergi. Meninggalkan Mercia yang masih masih berdiri ditempat.


Sepeninggalan Sean, Mercia pun tersenyum lagi. Lalu dengan gerakan lincah ia berlari ke arah Jef pergi. "Aku harus menemuinya lagi. Dia pasti kesepian. Tapi di mana kamarnya ya?"


Gadis itu terus menyusuri kediaman Michaelson sembari menerka-nerka di mana kamar Jef. Sampai langkah kakinya pun berhenti tepat di depan pintu kamar yang saling berhadapan. Ia sangat yakin kamar Jef di sini karena tadi ia sempat mengintip ke mana arah anak itu pergi.


"Duh, yang mana ya? Kiri atau kanan?" Ia tampak bimbang, tetapi detik berikutnya ia sedikit tersentak karena salah satu pintu kamar terbuka. Menampakkan seorang lelaki dewasa berwajah tampan. Bukan hanya Mercia, lelaki itu juga tampak kaget saat melihatnya.


Mulut Mercia sedikit terbuka melihat lelaki tampan dihadapannya itu. Mata yang tajam berbingkai alis tebal, hidung bangir, bibir tipis berpadukan rahang yang tegas. Sungguh pahatan Tuhan yang sampurna. Dia adalah Kingsley Michaelson. Lelaki dambaan semua wanita karena ketampanan dan ketenarannya di dunia bisnis.


King mengangkat sebelah alisnya saat melihat Mercia yang terbengong. "Hey, sedang apa kau di sini gadis kecil?"


Mercia terkesiap. "Ah, aku mencari kamar Jef, Om."

__ADS_1


What the... Dia panggil aku apa tadi? Om? Beruntung kau masih kecil, bocah. Batin King


King melipat kedua tangannya di dada. "Kau ini perempuan, buat apa mencari kamar pria huh?"


Mercia tersenyum lebar. "Aku hanya ingin mengobrol dengannya, Om."


King berdecak sebal. "Hei, berhenti memanggilku Om, aku ini masih muda."


Mercia tertawa kecil. "Maaf, habis aku bingung harus panggil apa. Oh iya, aku Mercia." Gadis itu mengulurkan tangannya.


King memutar malas bola matanya. Pasalnya ia sudah tahu siapa anak yang ada di depan matanya saat ini. "Aku tahu, kau putri Uncle Juna kan?"


Mercia pun langsung berbinar. "Jadi kamu mengenalku? Apa aku sepopuler itu? Ya ampun."


King melotot mendengar perkataan Mercia yang penuh percaya diri itu. "Dasar gadis aneh." Lalu ia pun meninggalkannya begitu saja.


"Hei, kamu belum menjawab pertanyaanku." Teriak Mercia.


"Jangan mengganggunya, dia tidak suka diusik. Kau bisa dimakan olehnya." Sahut King yang kemudian menghilang dibalik dinding kokoh.


Mercia berdecak sebal sembari melipat kedua tangannya di dada. "Kenapa lelaki di sini sok jual mahal semua sih? Tapi tidak jadi masalah, aku tidak akan menyerah. Mama bilang butuh usaha ekstra untuk mendapat lelaki idaman. Tapi... Om tadi itu lumayan juga. Kenapa semuanya tampan-tampan sih? Jadi bingung jodohku yang mana. Sudahlah, siapa pun jodohku kedepannya. Aku harus mendapat yang tampan dan kaya raya."


Setelah mengatakan itu, Mercia pun kembali ke tempat pesta dengan santai. Perutnya juga terasa lapar karena sejak tadi belum menyentuh makanan apa pun.


****


"Bagaimana tadi?" Tanya Faizah menatap Mercia dari balik cermin. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang. Juna yang tadinya fokus mengemudi pun menoleh sekilas.


Mercia yang sejak tadi melamun pun menoleh. "Tidak ada yang spesial." Sahutnya dengan enteng.


Faizah menghela napas berat. "Bukan itu maksud Mama. Bagaimana dengan Jef? Tanggapan kamu soal dia."


Mercia terdiam sejenak. "Dia tampan, tapi sayang sombong."


Faizah tersenyum geli. "Dulu juga Papa kamu begitu. Sok jual mahal, sombongnya tingkat dewa. Tapi Mama pepet terus sampai dapat. Buktinya sekarang Papa cinta banget sama Mama."


Juna mendengus sebal mendengar itu.


Mercia melipat kedua tangannya di dada. "Tapi tadi aku bertemu yang lebih tampan, apa Mama sama Papa kenal? Dia sedikit mirip dengan Aunty Queen."


Juna dan Faizah pun saling melempar pandangan. Lalu Faizah pun menoleh ke belakang. "King maksud kamu?"


"Mungkin. Kenapa Mama sama Papa tidak jodohkan saja aku dengannya? Dia lebih dewasa. Aku lebih suka dia. Walaupun Jef juga tidak buruk sih." Jawab Mercia memberikan tanggapan sendiri.


Faizah terkejut mendengarnya. Ya ampun, jangan bilang dia ikut jejakku. Menyukai pria lebih dewasa.


Juna tertawa geli mendengar ungkapan putrinya yang terlewat polos itu. "Aku rasa dia mewarisi dirimu, Izah. Menyukai lelaki dewasa ketimbang yang seumuran."


Faizah mendengus sebal. "Sayang, jangan panggil aku Izah di depan Cia."


Juna pun semakin tergelak. Dan itu membuat Faizah kesal setengah mati. "Ngeselin."

__ADS_1


Mercia yang melihat itu cuma bisa menggeleng. Ia sudah terbiasa melihat keduanya berinteraksi seperti itu.


Bersambung....


__ADS_2