Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Sweet husband


__ADS_3

Layaknya seorang penyidik dadakan, Zain memberikan tatapan penuh intimidasi pada dua wanita yang saat ini duduk di hadapannya.


"Sejak kapan kalian mengenal?" Tanya Zain penuh curiga.


Rea dan Aletta pun saling melempar pandangan. Lalu secara bersamaan pula menjawab. "Sejak kecil."


Zain mengerut bingung.


"Letta teman pertamaku di Moscow. Kami sudah seperti adik dan kakak. Uncle and aunty sudah seperti orang tuaku di sana. Bahkan kita satu sekolah sejak saat itu. Hanya saja kita berpisah setelah hari kelulusan. Letta di kirim ke Tokyo oleh Uncle karena kenakalannya. Bahkan dia juga tidak bisa hadir di pernikahan kita karena masih dalam masa hukuman." Jelas Rea.


"Hey, aku nakal juga karena ulahmu." Protes Aletta tak terima dikatai. Rea yang tidak ingin Zain mengetahui masa lalunya pun langsung memeluknya.


"Jangan membongkar aibku dihadapannya." Bisiknya seraya memberikan senyuman lebar pada sang suami.


"Apa yang sedang kalian sembunyikan?" Tanya Zain penuh curiga.


"Please." Rea menggelengkan kepalanya agar Aletta tidak mengatakan hal buruk tentangnya. Ia tahu wanita itu sangat payah.


"Tidak ada, istrimu hanya takut aku membongkar aibnya. Harus kau tahu dia itu terlalu banyak aib yang tidak bisa diungkapkan."


"Katakan." Pinta Zain menatap sang istri lekat. Rea menggeleng dengan bibir yang menyebik. "Apa saja yang dia lakukan tanpa sepengetahuanku?"


"Banyak sekali. Bahkan dia pernah mencoba bunuh diri saat tahu kau berpacaran. Dia menelan dua puluh obat tidur. Beruntung saat itu aku cepat datang. Jika tidak, mungkin sekarang dia sudah menjadi tanah. Dan rahasia itu hanya aku dan tuhan yang tahu."


Zain memandang istrinya lekat. Sedangkan yang ditatap hanya menunduk malu.


"Bukan hanya itu, dia pernah memaki seorang laki-laki yang sedikit mirip denganmu. Entahlah, saat itu dia seperti orang gila. Namun setelah dia terjun ke dunia modeling, kegilaanya sedikit berkurang. Meski ia masih sering bicara sendiri. Mungkin karena itu Aunty Ren memintanya untuk mengambil jurusan psikologi. Supaya dia sadar jika dirinya sudah gila hanya karena seorang lelaki sepertimu." Ujar Aletta panjang lebar.


"Apa sebegitu besarnya kau mencintaiku?" Tanya Zain menatap istrinya lekat.


"Entahlah." Jawab Rea bingung sendiri. Apa yang Aletta katakan memang benar adanya. Zain tersenyum tipis.


"Aku ingin mendengar semuanya." Kata Zain.


Sontak Rea pun kaget mendengarnya. "Tidak, aku tidak setuju. Biarkan itu menjadi masa lalu." Sanggahnya dengan cepat.


"Katakan, Letta."


Aletta tertawa renyah. "Aku tidak bisa berbohong padanya, Re. Jadi maafkan aku tidak bisa menutupi semuanya. Lagipula dia berhak tahu. Agar dia tahu seberapa besar kau mencintainya."


Rea menghela napas gusar, ditatapnya sang suami lamat-lamat. "Aku harap kau tidak membenciku setelah tahu semua kebenarannya."


Zain tersenyum lagi. "Tergantung."

__ADS_1


Mata Rea seketika membulat. "Jika seperti itu kau tidak perlu tahu."


"Lanjutkan, Letta." Titah Zain dengan tatapan masih setia pada sang istri.


"Ini tidak gratis. Kau harus membayarku mahal."


Rea tersenyum geli mendengarnya. Ia tak pernah menyangka jika sahabatnya itu masih saja perhitungan.


"Cih, dasar pemeras. Ceritakan semuanya, aku akan membayarmu dengan harga tinggi."


Aletta pun tersenyum senang. "Deal."


"Hey, aku keberatan di sini." Protes Rea. Namun Aletta tetaplah Aletta si mulut ember. Ia pun menceritakan semua masa lalu Rea pada Zain. Kecuali soal dunia hitam yang mereka geluti selama ini. Aletta menutupinya rapat-rapat.


Berbeda dengan Zain dan Aletta yang tertawa lucu. Rea justru memasang wajah kesal. Ia merasa terpojok sekarang. Wanita itu melipat kedua tangannya di dada, menatap suaminya tajam. "Sekarang kau sudah tahu semuanya bukan? Jadi jangan bertanya lagi sebesar apa cintaku padamu."


Zain tersenyum tipis. "Meski dia tidak mengatakan apa pun. Aku percaya cintamu tak terhingga."


Wajah Rea seketika bersemu. Kemudian dia pun berhambur dalam dekapan Zain. "I love you."


"Love you too." Balas Zain mengecup bibir sang istri. Aletta yang menyaksikan kemesraan mereka hanya bisa memutar bola matanya malas.


"Aku rasa sudah waktunya aku pergi. Aunty sudah menungguku." Ujar Aletta menunjukkan bukti chatnya dengan Elsha.


"Kenapa cepat sekali?" Tanya Rea memberikan tatapan tak rela. Ia masih belum puas bercengkarama dengan sahabatnya itu.


"Janji? Aku akan menyeretmu ke sini jika kau ingiar janji." Ancam Rea. Aletta pun tertawa renyah.


"Tentu saja, aku pasti kembali."


"Biar supirku yang mengantarmu." Tawar Zain. Aletta pun mengangguk patuh. Lagipula ia belum tahu seluk-beluk jalanan ibu kota.


****


"Sayang, aku sudah mendaftarkan diri di rumah sakit. Kebetulan mereka membutuhkan dokter. Lihat ini, aku jadi gugup." Rea ikut berbaring di atas sofa, memeluk Zain sambil menunjukkan sebuah resume yang sudah ia kirimkan ke sebuah website.


"Bagus. Aku bisa membantumu sedikit. Aku harap pekerjaan ini cocok untukmu. Selama ini kau terbiasa berjalan di atas catwalk, sekarang kau harus terbiasa berinteraksi dengan para pasien yang sedikit memiliki ganguan mental."


"Hey, tidak selamanya dokter psikolog harus menangani pasien gila. Jangan meledekku." Kesal Rea seraya memainkan bulu-bulu halus yang mulai tumbuh di dagu suaminya.


"Mungkin saja." Zain menyelusupkan tangannya ke dalam sweater sang istri. Mengusap lembut perut Rea yang sedikit menyembul. Sedangkan Rea masih setia memandang wajah suaminya.


"Tadi siang aku ingin sekali makan mie instan rasa soto. Tapi aku ingat larangan dokter. Rasanya sangat tersiksa. Sampai sekarang aku masih menginginkannya. Apa aku boleh mencicipinya sedikit saja?" Adu Rea dengan bibir yang sedikit maju. Ia tidak bohong menginginkan makanan itu. Bahkan air liurnya meleleh begitu saja saat membayangkan rasanya.

__ADS_1


"Tidak boleh, dengarkan pekataan dokter. Demi kebaikkanmu dan buah hati kita."


Rea mengangguk patuh. Meski keinginan itu terlalu besar sampai ia tak bisa melupakannya walau hanya satu detik.


"Sayang...."


"Apa kau begitu menginginkannya?" Sela Zain yang sejak tadi merasakan keresahan sang istri.


Dengan cepat Rea mengangguk antusias. "Tidak masalah meski hanya mencicipinya sedikit saja."


Zain tampak berpikir sejenak. "Baiklah, aku akan bertanya Bibik apa dia ada menyimpan stok atau tidak."


"Aku punya satu." Sahut Rea dengan cepat. "Em... tadi siang aku membelinya satu di supermarket. Jangan marah."


Zain menghela napas berat. "Ya sudah, di mana kau menyimpannya? Aku akan membuatkannya untukmu."


Rea tersenyum senang. "Tunggu sebentar." Ia pun bangkit dan sedikit berlari menuju nakas. Membuka laci dan mengambil sebungkus mie instan yang sengaja ia simpan. Setelah itu ia pun kembali menghampiri sang suami.


Zain ikut bangun dari posisinya. "Tunggu di sini."


"Aku ikut. Biar aku menemanimu di dapur."


"Hm. Ayok." Zain mengamit tangan istrinya. Lalu mereka pun beranjak dari kamar menuju dapur.


Rea duduk bersila di atas meja dapur sambil memperhatikan Zain yang tengah memasak mie kesukaannya. "Tambahkan satu telur dan irisan bawang daun." Perintahnya.


Zain menatap Rea lekat. "Sekarang siapa chefnya huh?"


Rea tekekeh lucu. "Aku kan hanya mengutarakan keinginanku saat ini. Hah, rasanya sudah tidak sabar untuk mencicipinya. Aromanya sangat menggoda perutku."


"Perutmu itu sangat murahan, hanya dengan mie instan saja sudah tergoda." Ledek Zain.


"Biarin. Siapa suruh rasanya sangat enak, makanya aku ketagihan."


"Bagimana dengan ini, apa kau juga ketagihan?" Zain menyambar bibir istrinya karena gemas. Bahkan ia memberikan gigitan kecil. "Rasanya sangat manis, aku tidak pernah bosan."


Wajah Rea merona karena mendapat serangan dadakan. "Bibirmu juga sangat manis. Rasanya seperti premen karet dengan rasa mint. Aku suka. Boleh coba lagi?" Balas Rea dengan tatapan polosnya. Dan itu berhasil membuat Zain tertawa. Kemudian lelaki itu pun kembali memberikan ciuman mesra.


Rea terengah-engah kala Zain menyudahi ciuman mereka. Untuk yang pertama kalinya mereka bermesraan di dapur. Beruntung malam hari dan bik Ade sudah istirahat. Jadi tidak ada yang memergoki kemesraan mereka.


"Aku senang punya suami semanis dirimu. Selain tampan, kau juga selalu memahami keinginanku." Puji Rea.


Zain tersenyum simpul. "Sudah kewajibanku membahagiakanmu, sayang. Karena kau masa depanku, Ibu dari anak-anakku kelak."

__ADS_1


Rea tersenyum haru. "Cepat selesaikan masaknya. Aku sudah lapar dari tadi." Rengeknya sambil mengusap perut.


Zain pun tertawa renyah, lalu mencubit hidung sang istri. "Dasar bawel."


__ADS_2