
Queen terhenyak mendengar perkataan sang Daddy. Ia pun mundur selangkah. Lalu menggeleng. "Dad, aku belum mau menikah."
Tatapan Zain sama sekali tidak berubah. "Daddy tidak butuh pendapatmu. Kau membuat Daddy kecewa, Queen."
"Dad... i am so sorry. Tapi jangan memaksaku untuk menikah secepat ini. Kau tahu usiaku masih sangat muda."
"Kenapa kau tidak berpikir seperti itu saat menyerahkan dirimu pada lelaki ini huh? Apa kau pernah memikirkan itu, Queen."
"Apa Uncle yang mengadu padamu?"
"Kau tidak perlu tahu."
Queen tertawa sumbang. "Dasar tukang mengadu." Kesalnya.
"Berhenti menyalahkan orang lain, pikirkan cara untuk membujuk Mommymu. Bahkan dia sama sekali tidak ingin menemuimu setelah mendengar kenyataannya. Kau membuat kami kecewa, Queen."
"Dad...."
Zain langsung mengangkat tangannya, menolak penjelasan dari putrinya. Lalu ia menatap Sean yang masih tergelatak di lantai dengan wajah yang dipenuhi lembam. "Aku akan melakukan lebih dari ini jika kau berani lari dari tanggung jawab. Aku tidak peduli kau itu siapa dan anak siapa."
Sean berusaha bangkit. Queen yang melihat itu pun langsung membantunya. "Maafkan Daddyku, Sean. Pasti sangat sakit."
Queen menitikan air matanya tidak tega dengan keadaan Sean saat ini.
"It's okay, baby. Aku baik-baik saja, jangan menangis." Sean mengusap air mata Queen dengan lembut. Namun tiba-tiba saja Zain menarik Queen menjauh.
"Aku tidak akan mengizinkan kalian bertemu sampai resmi menikah. Malam ini ikut Daddy pulang. Kita akan lihat lelaki ini berani bertanggung jawab atau tidak."
"Dad...."
"Jangan membantahku, Queen." Bentak Zain karena benar-benar kecewa dengan putrinya. Mungkin memang salahnya karena terlalu membebaskan Queen selama ini. Akan tetapi tetap saja rasa kecewa itu ada karena Queen melenyapkan kepercayaan dirinya.
Zain menyeret Queen pergi dari sana. Meninggalkan Sean yang masih mematung di tempatnya. "Pergilah, sayang. Aku akan menjemputmu secepatnya."
****
Di kediaman Zain...
Queen terus menunduk karena tidak berani memandang Zain maupun Rea yang sejak tadi duduk di hadapannya. Memberikan tatapan penuh kecewa yang begitu mendalam. Sedangkan King berdiri sambil bersandar di dinding.
"Mommy tidak tahu harus bicara apa lagi, Queen." Rea memijat kepalanya yang berdenyut sakit.
Tangisan Queen pun pecah, bahkan tubuhnya bergetar karena menahan sesak didadanya. "Maafkan aku, Dad, Mom. Aku mengaku salah."
"Mommy juga pernah muda Queen, Mommy hidup di negara bebas sejak usia delapan tahun. Tapi Mommy tidak pernah melakukan hal terlarang." Lirih Rea benar-benar frustasi menghadapi putrinya.
Queen pun semakin terisak.
"Mommy menyesal karena menyetujui Daddy untuk mengirimmu ke sana. Tapi penyesalan pun tidak akan mengembalikan semuanya."
__ADS_1
"Sudahlah, kita lihat lelaki itu berani datang atau tidak. Jika dia tidak datang, aku akan melenyapkannya."
Queen mendongak. "Dad... please, jangan sakiti Sean lagi. Dia tidak bersalah, aku yang memaksanya untuk melakukan itu."
Rea menatap Queen sengit. "Berapa kali kau melakukan itu dengannya, Queen?"
Queen terlihat gugup. Haruskah ia jujur?
"Ti... tiga kali, Mom."
Rea mengusap wajahnya dengan kasar. "Mau sampai kapan kalian berbuat mesum jika saja Daddymu tidak melihat cctv dan mendengar kebenaran ini dari Juna huh? Apa kau sadar Queen, kau sudah mencoreng keturunan Michaelson."
King menghelan napas pelan saat melihat keadaan Queen saat ini. Kasihan sekali, dia sangat terpojok. Karena tidak tega melihat kondisi sang Kakak, King pun duduk di sebelah Queen. Lalu ditatapnya Zain dan Queen bergantian.
"Jangan menghakiminya terus, Mom. Lagi pula mereka juga berpacaran, aku tahu ini salah. Tapi Kakakku ini manusia biasa yang kapan saja bisa khilaf. Apa lagi kekasihnya itu memiliki pesona di atas rata-rata."
"Apa miliknya keras dan besar?" Bisik King di telinga sang Kakak. Sontak ia pun menyikut King dengan kuat, sampai membuat si empu meringis kesakitan.
Queen melirik sang adik, kemudian menunduk lagi karena tidak berani bersitatap dengan Rea.
"Mommy akan melakukan hal yang sama jika kau berani menodai seorang gadis. Bahkan aku tidak akan segan memotong burungmu. Memalukan." Kesal Rea memberikan tatapan tajam pada putranya.
"Aku tidak akan melakukan itu, Mom. Tenang saja."
Rea pun kembali memusatkan perhatian pada Queen. "Jika Sean datang, kau harus menikah dengannya secepat mungkin. Mommy tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan. Kau mengerti?"
Queen mengangkat wajahnya. "Tapi aku belum mau menikah, Mom. Aku...."
"Kita tunggu sampai besok, jika Sean tidak datang. Kau tidak perlu ke sana lagi. Diam di sini sampai ada yang bersedia menikahimu." Putus Zain.
"Tapi...."
"Kau masih mau membantah?" Sanggah Rea. Sontak Queen pun langsung menggeleng. Bahkan gadis itu kembali menangis.
King yang melihat itu langsung memeluk sang Kakak. "Sudahlah, terima saja keputusan Daddy. Jadi kau dan kakak ipar bisa bebas bermain."
"King!" Rea memperingati. Wanita itu benar-benar tidak habis pikir dengan kedua anaknya.
Tanpa ada yang menyadari, Zain mengulum senyuman tipis karena mendapat sebuah pesan dari seseorang.
"Aku harus pergi, jangan biarkan dia lari. Karena besok dia akan aku nikahkan langsung. Memalukan." Setelah mengatakan itu Zain pun bergegas pergi. Tentu saja ucapannya itu menggores luka di hati Queen.
"Bawa Kakakmu ke kamarnya, King. Kunci saja pintunya dari luar." Dan kini Rea pun ikut pergi meninggalkan kedua anaknya.
Hati Queen memcolos karena kedua orang tuanya sudah tidak percaya padanya lagi. Ini memang salahnya, melakukan sesuatu tanpa berpikir akibatnya lebih dulu.
"Sudah jangan menangis. Seharusnya kau senang karena akan menikah dengan Sean. Kalian bisa bermain kapan saja dan di mana saja tanpa harus menanggung dosa."
"Ck, menyebalkan. Kau sama saja dengan Daddy dan Mommy. Aku belum mau menikah harus kau tahu. Aku ini masih muda." Keluh Queen di sela isakkannya.
__ADS_1
"Kau juga sangat aneh, Kak. Belum mau menikah tapi sudah berani mencicipi dunia ranjang. Yang sudah jelas bertentangan dengan aturan keluarga kita." Cibir King.
"Aku kan cuma penasaran."
"Cih, penasaran tapi sampai berulang-ulang. Itu mah doyan bukan penasaran."
"Ish... bukannya menghibur malah bikin pusing." Kesal Queen memukul King dan langsung pergi ke kamarnya.
King tertawa renyah. Kemudian ia pun pergi dari sana sambil bersiul gembira. Tentu saja ia gembira karena sebentar lagi akan menjadi adik ipar seorang Sean Cameron. Sudah pasti namanya akan semakin harum dan followersnya akan semakin bertambah. Ah... bukan King namanya jika tidak bisa memanfaatkan kesempatan emas.
Di kamar, Queen berbaring sambil terisak. "Hiks... aku tidak mau menikah sekarang. Bahkan semua teman-temanku saja belum ada yang menikah. Masak sih aku harus menikah diusiaku saat ini? Hiks... Ella saja tidak perlu menikah dan mereka bebas melakukan itu. Huhu... Daddy jahat."
Tidak lama dari itu ponselnya berdering. Dan Sean lah yang menghubunginya. Cepat-cepat Queen mengangkatnya.
"Sean." Lirihnya dengan suara serak.
"Baby, kau menangis?"
"Huhu... aku belum mau menikah, Sean. Bisakah kau bicarakan ini dengan Daddyku?"
Cukup lama Sean terdiam.
"Sean."
"Ya, sayang?"
"Kenapa kau diam? Di mana kau sekarang?"
"Saat ini aku sedang di New York."
"New York? Sedang apa kau di sana?"
"Aku ada urusan penting di sini yang tidak mungkin aku tinggalkan."
Queen terdiam sejenak. "Jadi kau tidak akan menyusulku ke sini?" Ada sedikit nada kecewa yang terselip di sana.
"Tentu saja aku akan ke sana. Tapi tidak untuk saat ini, sayang. Aku masih ada urusan penting. Setelah semuanya beres aku akan langsung menjemputmu."
Queen menyeka air matanya. "Apa pekerjaanmu saat ini lebih penting dariku, Sean?"
"Ya, ini masa depanku, sayang. Aku tidak bisa mengabaikannya juga."
Queen tampak kecewa. "Lalu bagaimana dengan ancaman Daddyku, Sean? Apa kau tidak takut posisimu digantikan orang lain?"
"Maafkan aku, sayang. Tapi aku benar-benar tidak bisa menjemputmu sekarang. Sabarlah sebentar."
"Entahlah, aku tidak memahami hatimu, Sean. Jika kau memang tidak benar-benar mencintaiku. Lupakan saja semuanya. Aku tidak akan memaksamu untuk datang. Kau menyebalkan, Sean." Dengan perasaan kesal Queen memutus sambungan telepon sepihak.
"Sialan! Katanya cinta, tapi dia malah memilih pekerjaan dibanding aku. Kau memang brengsek, Sean!" Sangking kesalnya Queen melempar ponselnya ke dinding sampai hancur berkeping-keping. "Kau jahat. Kau berubah, Sean."
__ADS_1
Akhirnya Queen pun menangis dalam kesendirian di kamar dengan cahaya temaram.