
"Maaf Non, semua makanannya sudah di bayar oleh Aden yang di pojok sana Non,"ujar Mang Dul pada Nandini.
"Yang benar saja Mang, tidak bercanda kan?"tanya Nandini kebingungan.
"Benar Non, Mamang nggak bohong, silahkan tanya langsung pada Aden yang di sana!" ujar Mang Dul menunjukkan ke arah Rivandra yang sedang asyik berkelakar dengan teman-temannya, di sela-sela santap siang mereka.Entah apa yang mereka bicarakan nampaknya sangat menikmati sekali kebersamaan mereka.
"Terimakasih Mang,"ujar Nandini kemudian berlalu pergi menghampiri Zahrana, Fadhilah dan Hafidzah.
"Tuan Puteri ku yang cantik jelita, semua pesanan kita sudah di bayar oleh Pengagum Rahasia mu,"celutuk Nandini pada Zahrana.
"Itu berarti uang gue yang enam belas ribu masih utuh, syukur-syukur ada yang lebih berbaik hati dari pada gue,"cerocos Nandini sambil memasukkan uang ke saku bajunya, dengan rasa girangnya.
"Maksud mu, siapa Din?aku tidak mengerti,"ujar Zahrana kebingungan, sembari mengernyitkan dahinya.
"Ya Ampun princess, kenapa diri mu begitu polos sekali, itu Pangeran tampan berdarah dingin, yang pelit sekali untuk bicara dengan kita kecuali sama loe," celutuk Nandini pada Zahrana yang menurutnya sahabatnya itu sangat tidak peka sekali dengan keadaan.
"Maa syaa Allah, jadi kak Rivan yang membayar semuanya?iya Tuan Puteri,kenapa kau begitu polos sekali," ucap Nandini sembari mencolek pipi Zahrana yang tiba-tiba merona.
Fadhilah dan Hafidzah ikut menimpali,"tu kan Din benar apa kata kita kak Rivandra itu baik, tidak seburuk yang loe kira,buktinya dia mentraktir kita semua.Feeling gue ternyata benar kak Rivan menyukai Zahrana,"ujar Fadhilah.
"Husss ... Dhilah, sudah ku bilang jangan bicara seperti itu lagi kita masih kecil, perjalanan kita masih panjang, simpan dulu rasa suka kepada lawan jenis.Pacaran itu nggak boleh kata Ummi dan Abi ku, di masa kita sekarang fokuslah untuk belajar dan menuntut ilmu pengetahuan, akan ada masanya untuk kita merasakan itu semua ketika kita sudah dewasa dan pikiran kita sudah benar-benar matang, itu nasehat Ummi dan Abi ku," tutur Hafidzah dengan antusias.
"Mulai lagi deh, kultum nya," cerocos Nandini tiba-tiba, sedangkan Fadhilah hanya mengangguk pelan mencerna setiap ucapan Hafidzah.
Di tengah perseteruan mereka, tanpa mereka sadari, Zahrana telah berlalu pergi menghampiri Rivandra dan teman-temannya.
"Kak Rivandra, terimakasih untuk semuanya, terimakasih kakak sudah berkenan untuk mentraktir Zahra dan teman-teman," tutur Zahrana sopan.
Rivandra dan teman-temannya, seketika menoleh ke arah Zahrana, tatapan mereka seakan terhipnotis oleh pesona Zahrana.
"Kak, hellooo ..." ucap Zahrana sembari melambaikan tangannya pada wajah Rivandra.
Rivandra pun tergagap."Iya dik,sama - sama."Wajahnya tiba-tiba memerah dan kembali merasakan degupan yang sulit diartikan, rasa cinta seorang anak remaja kepada seorang yang telah berhasil melumpuhkan hatinya.
Padahal, selama hampir 3 tahun ini, Rivandra bersekolah di SMP Negeri 3 XX,belum pernah sama sekali dia merasakan rasa yang berbeda kepada seorang wanita.Sudah banyak sekali, teman - teman wanita, baik adik kelas maupun teman wanita yang sebahyanya yang terus berusaha merebut perhatiannya, namun tak satu pun yang menarik dihatinya.Baginya itu hanyalah guyonan sesaat , hanya cinta monyet ala anak ABG yang belum bisa memahami arti cinta yang sesungguhnya.
__ADS_1
Namun, semenjak berjumpa dengan Zahrana, dia merasakan perasaan yang berbeda, yang sangat sulit untuk ia ungkapkan dengan seribu kata-kata.
Di tengah ketegangan Rivandra yang terhipnotis dengan kehadiran Zahrana, di meja makan yang tidak jauh dari mereka sudah ada segerombolan siswa perempuan yang tampak sinis menatap tajam ke arah Zahrana, menandakan tidak suka akan kehadiran Zahrana didekat Rivandra.
"Berani-beraninya anak ingusan itu mendekati lelaki ku,"ujar Siswa berambut pirang sepinggang dengan bando motif pita dipucuk kepalanya, dan poni yang menutupi dahinya, dengan khas wajah bulenya.
Dia adalah Priska Prahara dengan postur tubuh KUTILANG(Kurus Tinggi Langsing).
Sudah hampir 3 tahun ini Priska mati - matian mengejar Rivandra, namun Rivandra seolah-olah acuh terhadap Priska, baginya wanita seperti itu tidak layak untuk di perjuangkan, mengemis cinta pada laki - laki, tanpa menjaga harkat dan martabat sebagai kaum wanita yang sebenarnya adalah makhluk mulia, yang harus di jaga harga dirinya.
Paras cantik percuma, jika akhlaknya tak secantik wajahnya, itu penilaian Rivandra terhadap Priska Prahara.Padahal banyak sekali Siswa laki-laki yang berlomba-lomba untuk mengejar Priska, namun tidak untuk Rivandra, dia sama sekali tidak tertarik dengan Priska walaupun banyak yang memuja-muja kecantikannya.
Priska ditemani ketiga orang temannya, segera bangkit dari tempat duduknya, dengan gesitnya langsung berjalan mendekati Zahrana, Priska sengaja menyenggol kaki Zahrana, sehingga Zahrana pun hampir terjerembab jatuh,jika tidak ada yang menopang tubuhnya Zahrana sudah pasti jatuh tersungkur ke lantai Kantin Sekolah.
Namun,dengan secepat kilat Rivandra menopang tubuh Zahrana, sehingga Zahrana terjatuh kedalam dekapan Rivandra, seketika mata mereka beradu pandang,seperti adegan film anak remaja yang terjatuh dalam dekapan kekasihnya.
"Bola mata itu betapa indahnya,"batin Rivandra dalam hati,detak jantung hati mereka pun sama-sama terasa berdegup kencang, entah perasaan apa yang mereka rasakan, seketika dunia terasa terhenti, Rivandra seolah - olah terhipnotis oleh pesona Zahrana.
Tanpa mereka sadari semua mata tertuju pada mereka berdua,Zahrana yang masih polos perlahan melepaskan dekapannya dari tangan Rivandra, wajahnya pun seketika merona, entah perasaan apa yang Zahrana rasakan, ini untuk pertama kalinya dalam hidup Zahrana, perasaan yang sulit untuk dicerna, namun tersirat penuh makna, perasaan yang tak seharusnya dirasakan ditengah usianya yang masih belia.
"Kamu tidak apa-apa Dik?Maaf,kakak tidak sengaja mendekap mu, demi melindungi mu agar tidak terjatuh, apa ada yang sakit?"tanya Rivandra lembut dan perhatian pada Zahrana.
"Zahra tidak apa-apa kak,terimakasih sudah membantu Zahra."
"Iya sama - sama Dik,"tutur Rivandra sembari menatap tajam kearah Priska Prahara yang menjadi dalang atas kejadian itu.
"Kamu keterlaluan Pris,apa maksud mu ingin mencelakakan Zahrana?dia tidak punya salah apa pun pada mu.Kenapa kamu ingin sekali menyakitinya? Zahra adik kelas kita, sudah sepatutnya kita mengayominya dan memberikan contoh yang baik padanya, sungguh aku tidak menyangka tindakan mu serendah ini," ucap Rivandra berusaha menahan emosinya yang sejak tadi ia pendam.
Namun, Rivandra berusaha menahan diri, dan meredam emosinya.Sebab ia berhadapan dengan seorang wanita, harus bisa menjaga batasannya.Jika dengan sesama lelaki mungkin akan lain ceritanya,sudah pasti Rivandra melayangkan bogem mentah diwajah orang yang sudah menyakiti Zahrana.
Priska semakin tersulut emosinya, melihat Rivandra membela Zahrana didepan matanya, apalagi melihat adegan mesra antara Rivandra dan Zahrana,hati Priska semakin memanas, sudah bertahun dia menunggu Rivandra untuk menyambut hatinya, namun kehadiran Zahrana semakin memperkeruh keadaan, semakin sulit untuk Priska meraih Rivandra untuk menjadi teman istimewanya, dalam arti pacaran ala anak SMP pada zaman itu.
Priska tak mampu lagi menahan amarahnya,ia berniat ingin menampar dan menjambak rambut Zahrana, namun Priska kalah satu langkah, dengan secepat kilat Nandini menahan tangan Priska,kemudian menjatuhkan Priska dengan jurus tapak sucinya, sehingga Priska jatuh terjerembab ke lantai Kantin,ia pun cidera tepat mengenai lututnya, Priska pun meringis kesakitan memegang lututnya.
Nandini yang sejak tadi memperhatikan sahabatnya ada yang menjahili memang sudah siap siaga dengan segala kemungkinan yang terjadi.
__ADS_1
"Berani-beraninya kau ingin mencelakakan sahabat ku, rasakan ini!" Nandini hendak memberikan kembali bogem mentah kepada Priska, namun tangannya ditahan oleh seorang yang tak asing baginya, yang setiap hari jadi teman berdebatnya.
"kauuu ... berani menghentikan langkah ku Si Kutu Buku,"bentak Nandini pada Zainal Abidin.
"Bukan begitu Din,aku mohon tahan tangan mu dari menzholimi orang yang sudah tidak berdaya, jangan kau kotori tangan mu hanya untuk emosi sesaat mu,"ucap Zainal Abidin sembari membenarkan kembali kacamatanya yang tidak sengaja ditepis oleh Nandini lantaran marah karena Zainal menghalangi ambisinya untuk memberikan bogem mentah kepada Priska.
"Ayo berangkat kak!"ajak Zainal Abidin pada Priska sembari meraih pergelangan tangan Priska dan segera membopong Priska ke UKS (Usaha Kesehatan Sekolah),diikuti oleh ketiga orang temannya,kemudian berlalu pergi meninggalkan kantin, tanpa berkata sepatah kata pun dan membiarkan Nandini yang masih diam mematung.
"Dasar Si Kutu Buku, berlagak sok jadi pahlawan!"Ada rasa bingung dihati Nandini kenapa hatinya terasa sakit diacuhkan oleh Zainal Abidin Si Kutu Buku itu.
"Berani-beraninya dia membela wanita cent** itu didepan ku.Kenapa aku jadi sewot ya?cicit Nandini dalam hati.
"Ah ... bodoh amat, bukan urusan ku,"ucap Nandini dengan gaya metalnya.
Zahrana masih berdiri mematung, bingung dengan kejadian yang menimpanya hari ini.
"Kenapa semua nya begini, ini semua bukan ingin ku."Butiran bening itu seketika jatuh sudah tanpa bisa ia bendung lagi dari pelupuk matanya.
Rivandra yang sejak tadi diam membisu menyaksikan akibat keributan yang terjadi, segera menghampiri Zahrana untuk menenangkannya,dan berulang-ulang kali meminta maaf pada Zahrana.
Namun,Nandini segera menghalangi pergerakan Rivandra."Pergi kak! ... jangan ganggu Zahrana lagi,urus pacar mu yang kurang beradab itu!"titah Nandini dengan kasarnya sembari menatap tajam kearah Rivandra.
"Gara - gara kalian Zahrana jadi begini!"Bentak Nandini.
Rivandra pun perlahan menahan langkahnya,ia diam ditempatnya, menuruti kehendak Nandini Sukma Dewi terhadapnya.
Rangga dan teman-temannya yang lain,segera mengusap bahu Rivandra guna memberikan kekuatan padanya, agar Rivandra bisa lebih sabar dan tenang menghadapi segala yang telah terjadi.
Fadhilah dan Hafidzah yang sejak tadi hanya menjadi penonton segera merangkul Zahrana,mereka turut prihatin dengan kejadian yang menimpa Zahrana sahabatnya.
"Sabar ya Ra ... Allah tidak akan menguji umatnya di luar batas kemampuan umat-Nya." Nasehat Hafidzah lembut,guna memberikan semangat untuk Zahrana agar tidak larut dalam kesedihan.
"Sebaiknya kita ke Musholla, sebentar lagi sudah masuk waktu Zuhur," gumam Hafidzah kepada teman-temannya.
Fadhilah yang sejak tadi hanya diam menjadi penonton, langsung bercelutuk."Ya Tuhan ... mengapa kau memberikan rasa cinta kepada setiap insan yang bernama manusia, jika akhirnya setengah dari para Hamba Mu harus kecewa hanya karena Cinta yang wujudnya tak tersentuh, yang hanya bisa di rasakan oleh Sebentuk hati,lalu ... APA ARTI NYA CINTA???"celutuk Fadhilah sekenanya.
__ADS_1
Zahrana, Nandini dan Hafidzah,tertegun bersamaan mendengar kan kata-kata bijaksana Fadhilah.Mereka tak menyangka jika rangkaian kata itu akan keluar dari seorang Fadhilah yang baru seumur jagung seperti mereka.