
"Saya pesan kopi hangat satu gelas! cuaca sedang dingin mencekam," ucap Zaid dengan nafas yang tak beraturan.
"Baiklah, silakan tunggu di meja, akan segera saya buatkan!" ucap pemilik warkop itu.
"Terimakasih, Pak!" Zaid pun memilih meja paling ujung, ia hendak merenung sejenak. Setelah ia hampir ingin merusak kesucian hati Zahrana.
"Alhamdulillah ... jika bukan karena Allah, mungkin aku sudah melakukan hal yang terburuk padanya!" bathin Muhammad Zaid Arkana dengan termenung sambil menunggu pesanan kopinya.
selang satu menit kemudian, kopi pesanan Muhammad Zaid Arkana pun terhidangkan. Ia pun tak lupa memesan pisang goreng dan susu jahe hangat untuk Zahrana yang sedang terlelap di dalam mobil. Bagaimana pun, Zahrana adalah tanggung jawabnya.
Zaid pun menyeruput secara perlahan kopi yang terhidangkan untuknya, di tengah dinginnya angin dan pekat malam membuat ia pun merasakan hawa dingin karena hanya mengenakan atasan kaos santai tanpa jaket, sebab jaketnya di gunakan untuk menyelimuti tubuh sang bidadari hatinya. Jubah panjangnya pun menjadi alas tidur untuk gadis dengan sejuta pesona tersebut.
Sepuluh menit sudah Zaid menikmati kopi hangatnya, pada mulanya ia pun mengantuk. Namun, wasilah secangkir kopi rasa kantuk yang menyerangnya pun kini lenyap. Dinginnya angin yang menusuk tubuhnya membuat netranya membola sempurna. Ia pun melanjutkan menikmati hidangan pisang goreng yang telah di pesannya untuk dirinya sendiri. Sedangkan khusus Zahrana sudah di bungkus oleh pemilik warkop tersebut.
Zaid melirik jam tangannya, "Ya Allah ... sudah pukul 21.15 Wib. Aku harus segera gerak cepat, nanti kemalaman sampai kota S. Apa yang hendak ku sampaikan pada kak Sabrina dan Mas Fardhan jika malam-malam begini adik kesayangan mereka masih bersama ku!" bathin Zaid.
Zaid pun segera pamit dan membayar pesanannya pada pemilik warkop tersebut. Tak lupa pula ia membawa kantong kresek berisi susu jahe hangat dan pisang goreng untuk Zahrana. Kalau-kalau Zahrana tiba-tiba terbangun dan merasa lapar.
"Ini pak, terimakasih hidangannya. Kembaliannya untuk bapak saja!" ucap Zaid dengan menyodorkan selembar uang pecahan merah untuk pemilik warkop tersebut.
"Maa syaa Allah ... ini sungguh kebanyakan, Mas!" seru pemilik warkop tersebut.
"Nggak apa-apa, Pak. Anggap saja itu rezeki dari Allah untuk bapak dan keluarga!" ucap Zaid dengan berlalu pergi.
"Alhamdulillah ... terima kasih, Mas. Semoga Allah membalas kebaikan Mas dengan sebaik-baik balasan!" pekik tukang Warkop tersebut.
"Aamiin ... aamiin ... Ya Mujibbassailin," gumam Zaid di dalam hatinya ketika mendengar seruan do'a tukang warkop yang terdengar samar-samar di telinganya.
"Alhamdulillah ... bisa beli beras dan susu untuk anak ku! semoga pemuda tersebut segera menemukan jodohnya jika ia sedang lajang, jika ia sudah berkeluarga semoga keluarganya sehat wal'afiat, rezekinya lancar berkah, aamiin!" ucap tukang warkop tersebut dengan memandangi tubuh Zaid yang menjauh dari hadapannya, sampai akhirnya Zaid pun hilang dari pandangannya, meninggalkan jejak bekas tetesan air hujan dari mobil Avanza putih tersebut.
Tukang warkop tersebut pun, segera menutup warung kopinya dengan wajah yang berbinar. Baginya mendapatkan uang senilai seratus ribu rupiah dalam sekejap terasa mendapatkan sepuluh batang emas berharga.
"Alhamdulillah ... perbanyak bersyukur, usaha, iman dan taqwa! selebihnya biar Allah yang tambahkan! anak istriku pasti akan bahagia!" cicit tukang warkop tersebut dengan suasana hati yang bahagia.
***
Di dalam mobil menuju kota S.
"Tsamirah Zahrana Az Zahra, andaikan kau adalah bidadari halal ku betapa bahagianya diriku bisa mereguk madu cinta bersama mu! semoga kau lah bagian dari tulang rusuk ku yang hilang! Aku akan segera melamar mu Zahrana, semoga dirimu tidak menolak kehadiran ku dalam hidup mu!" bathin Zaid penuh dengan sejuta pengharapan.
Zaid pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia membiarkan Zahrana terlelap beralaskan jubahnya. Sekali ini, ia memang tidak ingin menjadikan pangkuannya sebagai alas tidur Zahrana.
Zaid merasa ngeri oleh sebab sesuatu yang asing baginya, yang berada di bawah sana tiba-tiba berdiri tegak ketika merasakan deru nafas Zahrana yang terlelap di pangkuannya.
"Alhamdulillah ... setidaknya aku bisa menjadi pemenang, entah berkat wasilah sepotong do'a dari diriku pribadi, orang tua dan keluarga. Bisa jadi do'a tukang warkop tadi yang mendo'akan kebaikan untuk ku, sehingga aku terhindar dari kemaksiatan yang hendak menjerumuskan ku ke dalam jurang yang lebih dalam lagi!" bathin Muhammad Zaid Arkana di sela-sela laju kendaraannya.
Zaid sudah lebih tenang, ia tidak lagi melirik ke arah Zahrana. Ia fokus dengan terus menyetir mobilnya menuju kota S yang tinggal tiga puluh menit perjalanan lagi.
***
Di desa XX, di kediaman Buya Harun dan Bunda Fatimah.
Hujan turun dengan derasnya, kilatan petir pun menyambar-nyambar saling bersahutan. Angin pun bertiup-tiup dengan kencangnya.
Semua rumah warga, nampak tertutup rapat. Ada yang sudah terlelap dalam peraduannya.
Namun, tidak dengan Bunda Fatimah dan Buya Harun. Mereka nampak gelisah, terlebih Bunda Fatimah ia memikirkan keselamatan Puteri kesayangannya, Tsamirah Zahrana Az Zahra yang masih dalam perjalanan pulang menuju kota S, pasalnya Bunda Fatimah sangat cemas dan khawatir sekali, sebab puterinya itu sangat takut mendengar kilatan petir yang menyambar-nyambar.
Bunda Fatimah terpaku menatap keluar jendela, "Ya Allah ... selamatkanlah anak hamba dari segala musibah dan marabahaya yang dapat mengancam jiwanya. Jauhkanlah ia dari segala bentuk kemaksiatan yang dapat menyesatkan hati dan jiwanya. Sekarang, Puteri hamba sedang dalam perjalanan menuju tempat tinggal kakaknya. Jaga hati dan jiwanya ya Rabb, jaga pandangannya dari yang bukan mahramnya. Ia kini sedang berdua dengan yang bukan mahramnya, ampunilah kami ya Rabb sebab membiarkan Puteri kami berduaan dengan laki-laki yang bukan mahramnya!" bathin Bunda Fatimah dengan meneteskan air matanya.
__ADS_1
Melihat Bunda Fatimah yang nampak bermuram durja, Buya Harun pun menghampirinya.
"Bun, jangan terlalu dipikirkan! insya Allah Puteri kita baik-baik saja, dan bisa menjaga marwahnya. Insya Allah, Nak Zaid adalah sosok laki-laki yang Sholeh. Ia tidak mungkin melakukan hal yang buruk terhadap Puteri kita. Berdo'alah untuk kebaikan Puteri kita!" ucap Buya Harun dengan menyeka air mata Bunda Fatimah. Ia pun memeluk istrinya dan mengusap bahu Bunda Fatimah untuk menenangkannya.
Raihan yang menyaksikan interaksi antara kedua orangtuanya pun nampak berpikir keras. Ia berulang kali menghubungi nomor Zahrana kakaknya, namun tidak di angkat oleh Zahrana.
"Kemanakah kak Zahra? kenapa ponselnya tidak di angkat? apa ia nggak kedengaran? atau ponselnya dalam mode silent!" pikir Raihan dengan mencoba berpikir positif.
"Bagaimana Rai, apakah kakak mu sudah bisa di hubungi?" tanya Bunda Fatimah masih dalam mode cemas.
"Belum, Bun. Mungkin ponselnya dalam mode silent, atau mungkin diperjalanan hujan lebat seperti kita disini. Mungkin disana juga kilatan petir menyambar, jadi kak Zahra tidak berani pegang ponsel!" ucap Raihan menenangkan Bundanya yang sedang cemas memikirkan Zahrana kakaknya.
Bunda Fatimah duduk terpaku memikirkan Zahrana Puteri kesayangannya. Ia tampak tidak tenang sebelum mendengar kabar Puterinya.
"Rai, coba hubungi kakak mu Sabrina! siapa tahu Zahrana sudah sampai di kediaman kakakmu?" pinta Bunda Fatimah dengan raut wajah cemasnya.
Raihan pun segera menghubungi nomor ponsel kakaknya Sabrina. Tidak berapa lama panggilan tersebut pun terhubung.
π "Assalamu'alaikum, kak Sabri."
π "Wa'alaikumsalam warahmatullahi, iya Rai. Ada apa?"
π "Kak Zahra sudah sampai belum dikediaman kak Sabri?"
π "Belum, Rai." Sabrina pun ikut cemas.
π "Mereka sudah satu jam lebih yang lalu pulang dari sini, Raihan sudah berulang kali menghubunginya kak. Tapi, tidak di angkat. Mereka di mana ya?" tanya Raihan yang di liputi ke khawatiran.
π "Sebentar, kakak minta Mas Fardhan untuk menghubungi Akh Zaid. Mas Fardhan adalah teman Akh Zaid, ia menyimpan nomor ponsel Akh Zaid."
π "Baiklah kak, Raihan tunggu! kasian Bunda sejak tadi menangis cemas memikirkan kak Zahra."
π "Iya kak, Assalamu'alaikum!"
π "Wa'alaikumsalam warahmatullahi!" Sabrina mematikan ponselnya.
Percakapan kedua kakak beradik itu pun terputus. Raihan menghampiri Bunda Fatimah yang sedang bermuram durja dalam dekapan Buya Harun.
"Bunda yang tenang ya? insya Allah kak Zahra sampai dengan selamat! kak Sabrina sedang menyuruh Mas Fardhan menghubungi kak Zaid." Raihan menenangkan Bunda Fatimah.
Bunda Fatimah sedikit lega, ia pun membaringkan tubuhnya di sofa dengan beralaskan pangkuan Buya Harun sebagai bantal kepalanya.
Bunda Fatimah terus berdzikir, beristighfar dan berdo'a untuk keselamatan Zahrana Puterinya, sedangkan Buya Harun pun terus mengusap-usap pucuk kepala isterinya tersebut agar bisa tenang apa pun keadaannya.
Sedangkan Raihan lebih memilih masuk ke bilik kamarnya, ia pun segera mengambil wudhu dan mendaras kitab suci Al Qur'an. Ia memilih membaca surat Al Mulk sebagai surat pilihannya sebelum terlelap di peraduannya.
Sudah menjadi kebiasaan Raihan mendaraskan surat Al Mulk sebelum tidur. Semenjak mondok di pesantren Raihan benar-benar mengamalkan ilmu yang telah didapatkannya di pondok pesantren tersebut.
Sebagaimana yang dianjurkan dalam syari'at Islam bahwa membaca surat Al Mulk memiliki fadhilah yang sangat luar biasa bagi pemiliknya. Di antaranya adalah :
Mendapatkan Syafaat.
Seseorang yang membaca surat Al Mulk atau bahkan menghafalkannya, maka akan mendapat syafaat. Pada hari kiamat kelak, Allah akan memberikan pertolongan pada hamba-hamba Nya melalui Rasul. Selain itu, bagi siapapun yang suka membaca surat Al Mulk, maka dosa-dosanya pun akan diampuni.
2 . Menaikkan Derajat Seseorang.
__ADS_1
Allah telah menetapkan 30 kebaikan, 30 ampunan serta ditinggikan 30 derajat bagi siapapun yang membaca surat Al Mulk. Keutamaan surat ini juga dijelaskan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ad Dailami.
3 . Disayangi atau Di Kasihi oleh Rasul.
Keutamaan ketiga dari surat Al Mulk adalah bagi seorang muslim yang membacanya, maka Rasul pun akan menyayangi dirinya. Selain disayang atau dikasihi oleh Rasul, seorang muslim yang membaca surat Al Mulk juga memberikan ketenangan bagi para pembaca serta penghafalnya.
4 . Di berikan oleh Allah pahala yang berlipat-lipat.
Bagi siapapun yang rajin membaca surat Al Mulk, maka Allah akan melipatgandakan pahalanya hingga 10 kali lipat bagi siapapun yang Allah kehendaki.
5 . Menjauhi diri dari maksiat.
Dalam surat Al Mulk, dijelaskan bahwa seorang muslim yang taat pada Allah, adalah seseorang yang yakin akan keberadaan Allah dan akan menjalankan amalan meskipun ia tahu bahwa Allah tidak melihat atau tidak tampak.
Ketika seseorang membaca dengan rajin surat Al Mulk, maka hati orang tersebut akan tergugah untuk menjauhkan diri dari perbuatan maksiat atau perbuatan yang dibenci oleh Allah serta mengundang dosa. Hal ini tertera dalam surat Al Mulk ayat 12.
6 . Mendapatkan pertolongan pada hari kiamat.
Tidak satu orang makhluk pun yang ada di dunia ini tahu kapan hari kiamat akan datang. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim yang beriman, maka hendaklah muslim tersebut menyiapkan diri pada hari kiamat. Salah satu caranya adalah dengan membaca Al-Quran dan surat Al Mulk untuk mendekatkan diri pada Allah dan menjauhkan diri dari segala perbuatan dosa.
7 . Menyelamatkan dirinya dari siksa di alam kubur.
Sebelum manusia ditempatkan di antara surga dan neraka, manusia tentu akan menjalani masa-masanya dalam kubur, ada yang mendapatkan siksaan dalam kubur untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatannya selama di dunia, tetapi ada pula yang mendapatkan kelapangan dalam kubur.
Dalam Islam, siksa kubur merupakan suatu hal yang begitu pedih terutama bagi seseorang yang belum atau tidak mempersiapkan diri dengan amalan-amalannya. Agar terhindar dari siksa kubur yang pedih, maka seorang muslim bisa memperbanyak amalan sunnah salah satunya adalah dengan membaca serta mengamalkan surat Al Mulk.
8 . Menjadikan seseorang dengan menjadi seorang muslim yang lebih bertawakal.
Dalam surat Al Mulk ayat 15, Allah telah menunjukan bahwa disyariatkan mengenai perintah berjalan di muka bumi untuk mencari rezeki dengan cara berdagang, bertani dan cara lainnya.
Perintah tersebut menunjukan bahwa tawakal bukan berarti hanya berserah diri pada Allah saja, tetapi juga bekerja serta berusaha untuk mendapatkan suatu hal, seperti rezeki yang diinginkan.
9 . Membahagiakan Nabi Muhammad Saw.
Salah satu hal yang menjadi impian bagi seorang muslim ialah ia mampu membahagiakan perasaan Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut dibuktikan dengan seringnya umat muslim membaca serta melantunkan bacaan-bacaan shalawat. Seperti yang diketahui bahwa shalawat bisa membuat hati Rasul senang.
Selain dengan membaca shalawat, seorang yang beragama muslim juga bisa menyenangkan hati Nabi Muhammad dengan rajin membaca surat Al Mulk. Keutamaan surat Al Mulk ini dijelaskan dalam sebuah hadist riwayat Hakim.
βSaya menggemari surat ini (tabarakal lazi bi yadihil mulk) karena ada di setiap hati seorang mukminβΒ (HR. Al Hakim).
Membaca surat Al Mulk bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, tetapi Rasul terbiasa membaca surat Al Mulk ketika menjelang tidur malam hari, selain itu membaca Al Mulk di malam hari sama seperti berdzikir yang artinya keduanya memiliki keutamaan yang sangat besar dan sebagai seorang Santri Raihan Arman Habibie pun berusaha untuk mengamalkan itu semua.
Seiring lantunan ayat Al Qur'an yang di baca oleh Raihan selesai, seiring itu pula hujan deras dan kilatan petir yang menyambar pun tiba-tiba reda. Suasana alam di desa XX, yakni desa kediaman Raihan dan keluarganya pun kini berganti dengan kesejukan dan ketenangan.
Semua penghuni mayapada pun mulai terlelap, Raihan memeriksa ponselnya. Di saat ia sedang mendaras Qur'an, ada 11 panggilan tak terjawab juga 7 pesan masuk di ponselnya.
"Maa syaa Allah ... panggilan dari kak Sabrina, Mas Fardhan, juga kak Zahra. Ada nomor tak dikenal juga," bathin Raihan.
Raihan pun membuka 7 pesan di ponselnya.
"Alhamdulillah ... Kak Zahra sudah sampai di kota S di kediaman kak Sabrina!" pekik Raihan, hingga terdengar oleh Bunda Fatimah dan Buya Harun yang masih duduk terpaku di ruang tamu.
Bunda Fatimah pun setengah berlari menuju bilik kamar Raihan.
"Alhamdulillah ... benarkah kakak mu sudah sampai di sana?" ucap Bunda Fatimah dengan wajah berbinar.
"Alhamdulillah ... Bunda, semua berkat wasilah sepotong do'a dari Bunda, kak Zahra sampai tujuan dengan selamat!" ucap Raihan dengan senyum kebahagiaan. Nampak sekali dari binar wajahnya yang selalu di hiasi oleh tetesan air wudhu.
π·π·π·
__ADS_1
Untaian mutiara hikmah π"Jika kesabaran seseorang lebih besar daripada keinginan dan hawa nafsunya, maka dia seperti Malaikat. Namun jika keinginan dan hawa nafsunya lebih besar daripada kesabarannya, maka dia seperti iblis. Hawa nafsu yang paling kecil sekalipun bisa merusak akal pikiran. Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhannya?. β (Q.S Al-Jatsiyah: 23)