
Aslan beranjak mengambil wudhu, ia pun segera bergabung dengan para jama'ah lainnya untuk bersiap-siap mendengarkan khutbah Jum'at. Aslan di buat terperangah ketika melihat sosok pemuda yang berdiri tegak di mimbar Mesjid tersebut begitu seksama sekali menyampaikan khutbahnya. Sehingga membuat semua orang terpukau oleh kharismanya yang sangat luar biasa.
"Bukankah, Khotib itu pak Hansip di malam itu? temannya sepupu Zahrana? Maa syaa Allah ... ternyata ia seorang pendakwah muda juga? tunggu dulu, bukankah tadi ia sempat menjaga toko buah juga? ia juga sempat bercengkrama dengan Zahrana, ini tidak boleh dibiarkan, aku khawatir ia pun berusaha untuk mendekati Zahrana secara perlahan."
"Jika dari sisi religius aku memang 99,99% kalah telak dengannya. Namun, dari sisi rasa dan perhatian aku mencoba untuk mendapatkan kembali hati Zahrana bagaimana pun caranya," bathin Aslan yang mulai tidak tenang dengan kehadiran Muhammad Zaid Arkana.
Khutbah Jum'at pun selesai, MZ Arkana segera menutup khutbahnya dengan do'a Kafaratul Majelis. Sholat Jum'at pun berlangsung dengan khidmatnya dengan imam sholatnya Fardhan Arkan, kakak ipar Zahrana yakni suami kakaknya Sabrina Zelmira Al Aqra.
Sholat Jum'at pun selesai, para jama'ah saling bersalaman satu sama lain. Aslan tidak menyadari jika imam sholat tersebut adalah kakak ipar Zahrana. Namun, ia merasa damai dan tenang ketika mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an yang di bacakan oleh imam sholat tersebut.
Para jama'ah hendak keluar satu persatu dari Mesjid Al Hidayah. Aslan nampak takjub melihat keakraban antara Imam Sholat dengan Khotib muda yang bernama Muhammad Zaid Arkana. Pikirnya betapa sempurnanya jika bisa berkumpul bersama orang-orang yang Sholeh.
"Apa kabar akhi? lama tak jumpa?" ucap Fardhan Arkan seraya menyalami dan merangkul Muhammad Zaid Arkana.
"Alhamdulillah, baik akh. Akh Fardhan sendiri apa kabar?"
"Alhamdulillah ... ana juga baik, mari mampir kerumah! sudah lama kita tidak bercengkrama, lantaran kesibukan masing-masing. Apa kabar Ummi dan Abi di rumah?" tanya Fardhan.
"Alhamdulillah ... Ummi dan Abi baik Mas," ucap Muhammad Zaid Arkana.
Fardhan Arkan adalah kakak kelas Muhammad Zaid Arkana sewaktu di Madrasah Aliyah Negeri dahulu, usia mereka berdua terpaut 2 tahun. Fardhan 27 tahun sedangkan MZ Arkana 25 tahun.
Mereka berdua pun sama-sama berguru dengan Kyai yang sama. Namun, selama beberapa bulan terakhir ini keduanya sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga jarang bersua.
"Syukurlah jika semuanya baik, mumpung sudah bertemu seperti ini, mari bertandang ke rumah!" ajak Fardhan pada MZ Arkana.
"Baiklah, aku akan bertandang kekediaman Mas. Mari Mas Fardhan ikut bersama ku!" ucap Muhammad Zaid Arkana menawarkan kakak ipar Zahrana untuk ikut di mobil miliknya.
Fardhan terbiasa menempuh Mesjid Al Hidayah dengan berjalan kaki, sebab jarak antara Mesjid dan rumahnya kira-kira hanya berjarak delapan rumah, namun ia lebih menikmati berjalan kaki sekalian olahraga melatih otot-otot kaki. Meskipun kini, ia sudah memiliki kendaraan pribadi. Fardhan lebih memilih terlihat sederhana dengan penampilan dan gaya hidupnya.
"Hemmmm ... hendak kemana mereka? Aku tidak mungkin membuntutinya, aku harus mengantar teman-teman Zahrana untuk pulang kerumahnya masing-masing.
Setelah menghilangnya Zahrana, ia punya tanggung jawab untuk mengantarkan teman-teman Zahrana.
Aslan urung mengekori Fardhan Arkan dan Muhammad Zaid Arkana yang membuat Aslan penasaran dengan keakraban keduanya.
__ADS_1
Jika saja Aslan mengekori mereka berdua akan tidak mungkin Aslan terkejut dan spot jantungnya. Sebab, ternyata Fardhan adalah kakak ipar Zahrana. Dan Zahrana tinggal di sana, tentunya akan mudah untuk Aslan mengakses pergerakan Zahrana.
***
"Hemmm ... apa dirimu masih betah menjomblo pak Hansip?" kelakar Fardhan pada MZ Arkana, di sela-sela perjalanan menuju rumahnya.
Namun, hanya di balas senyuman oleh MZ Arkana.
"Jangan senyum-senyum saja, atuh Akh. Menjomblo atau membujang itu nggak enak lho? yach kalau sudah mapan buruan menikah, menikah itu termasuk ibadah juga, sebagaimana yang telah disunnahkan oleh Nabi besar kita Muhammad Sholaullahu 'alaihi wassallam kepada kita umatnya," ucap Fardhan penuh nada keseriusan.
Sementara, MZ Arkana pun ikut merenungi ucapan sahabatnya itu, hingga membuatnya teringat dengan hadist Nabi yang ia baca lewat bukunya yang berjudul Pernikahan yang di dambakan menurut Al Qur'an dan As Sunnah.
Dari Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda: βMenikah itu termasuk dari sunahku, siapa yang tidak mengamalkan sunnahku, maka ia tidak mengikuti jalanku. Menikahlah, karena sungguh aku membanggakan kalian atas umat-umat yang lainnya, siapa yang mempunyai kekayaan, maka menikahlah, dan siapa yang tidak mampu maka hendaklah ia berpuasa, karena sungguh puasa itu tameng baginya.β (HR Ibnu Majah)
"Ya Allah ... jika memang ia adalah jodoh ku dekatkanlah ya Rabb, jika sudah dekat maka percepatkanlah! Namun, jika ia bukan jodoh ku maka jodohkanlah ya Rabb, sebab hamba pun telah jatuh hati padanya," do'a Muhammad Zaid Arkana.ππ
Dan do'a itu, ia tujukan kepada bidadari kecil yang telah menyentuh hatinya, yakni Tsamirah Zahrana Az Zahra. Gadis bermata sipit yang telah menyentuh hatinya dengan segala pesona dari sosok Zahrana.
"Hemmm ... kok diam? saya yakin, kamu pasti sedang berpikir tentang apa yang saya ucapkan, benarkan?" Fardhan terus menggoda sahabat seperjuangannya itu.
Sampai akhirnya, mereka pun sampai di kediaman Fardhan Arkan dan keluarganya. Yakni, rumah yang juga di tempati Zahrana selama menempuh masa putih abu-abu di SMK NEGERI 1 XX.
MZ Arkana segera menepikan mobilnya, Fardhan Arkan pun segera membuka gerbang rumahnya yang begitu tertata rapi dengan banyak bunga-bunga di pekarangan rumahnya, yang mana semua itu adalah hasil tanaman Zahrana selaku adik iparnya, juga campur tangan istrinya Sabrina Zelmira Al Aqra. Sehingga rumah mereka terkesan sejuk dan indah di pandang dengan aneka bunga-bunganya.
"Assalamu'alaikum ... " ucap Fardhan Arkan di ikuti pula oleh Muhammad Zaid Arkana.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... " iya tunggu sebentar, ucap suara dari dalam.
"Maa syaa Allah ... kita kedatangan tamu agung, silahkan masuk akh Zaid Arkana," ucap Sabrina menyambut kedatangan Zaid dan suaminya.
Tak lupa Sabrina menyalami suaminya, ia pun menelungkupkan tangannya di dadanya ketika berhadapan dengan Muhammad Zaid Arkana, begitu juga sebaliknya.
"Umm, tolong sediakan jamuan untuk saudara kita ini. Sudah lama sekali kita tidak berkumpul seperti ini," ucap Fardhan Arkan pada isterinya.
"Iya, Abi. Ummi ke dapur dulu!"
__ADS_1
"Tidak usah repot-repot, kak Sabri. Saya hanya sekedar bertandang saja, menyempatkan diri bercengkrama dengan Mas Fardhan," ucap MZ Arkana.
"Tidak merepotkan, kok Akh. Kita justru senang menyambut kedatangan Akh Zaid," ucap Sabrina sembari berlalu menuju dapur.
"Repot-repot sekali, Kak. Memangnya ada tamu agung yang datang, sampai hidangannya penuh seperti itu," ucap Zahrana yang baru keluar dari dalam kamarnya. Ia terlihat haus dan lapar setelah kurang lebih satu jam tertidur pulas setelah perjalanannya dari Desa kemudian menjenguk Nandini Sukma Dewi yang ia dapatkan hanyalah berupa cacian dan makian dari ibu Ratna Anjani.
Zahrana pun lelah sebab Aslan terus mengejarnya tanpa kenal lelah. Ia sangat beruntung sebab bisa menghindar dari Aslan berkat bantuan pemuda yang bernama Muhammad Zaid Arkana. Setidaknya ia bisa bernafas lega, bisa berlepas diri dari Aslan, meskipun harus meninggalkan ketiga orang temannya yakni Cinta, Kirana dan Fadhillah.
"Maafkan aku my best friends, bukannya aku egois, tapi aku benar-benar ingin menjauh dari kak Aslan!" bathin Zahrana.
"Kok malah melamun, Dek? tolong antarkan minuman dan camilan ini kedepan ya? kakak hendak menyiapkan makan siang untuk kita bersama, juga untuk tamu yang datang."
"Baiklah, Kak!" Zahrana pun segera mengantarkan minuman dan camilan itu kedepan. Ia tidak menyadari jika tamu yang datang adalah sosok pemuda yang tadi ia tumpangi mobilnya, yakni Muhammad Zaid Arkana.
Setiba di ruang tamu.
Zahrana berjalan dengan langkah yang pelan, sembari membawa tampah minuman dan aneka camilan untuk disuguhkan pada tamu yang datang.
Zahrana tiba-tiba gugup dan gemetaran, nyaris tampah teh dan camilan yang ia bawa tumpah setelah melihat siapa yang datang. Seketika manik mata keduanya tak sengaja bertemu pandang.
"Kamu!" ucap Muhammad Zaid Arkana tidak berkedip ketika melihat bidadari yang barusan ia sebutkan didalam do'anya kini telah berdiri di hadapannya, dengan seribu pesonanya.
"Kau ... kau ... bukankah kau tadi--?
Ucap Zahrana terjeda. Ia mengira MZ Arkana sengaja mengekorinya. Namun, Zahrana menepis segala praduganya. Sebelum ia mengetahui kebenarannya.
"Maa syaa Allah ... apakah kalian sudah saling mengenal?" tanya Fardhan Arkan, seraya melirik ke arah Zahrana dan Muhammad Zaid Arkana yang kini sama-sama terpaku dan terlihat gugup dan canggung.
Zahrana mengangguk dan menundukkan pandangannya, sebagai jawaban jika ia mengenal sosok Muhammad Zaid Arkana.
"Ya Allah ... kenapa harus bertemunya lagi? hari ini sudah tiga kali aku bertemu dengannya, pertama di toko buah, kedua dimobilnya yang tidak sengaja ku tumpangi, yang ketiga di rumah kak Sabrina dan yang ke empat aku harap jangan sampai berjodoh dengannya, sebab di hatiku telah tertulis nama kak Yusuf Amri Nufail Syairazy!" bathin Zahrana.
π·π·π·
Pencerahan πΒ "Taaruf dulu, nikah kemudian. Mereka berdua saling mendoakan satu sama lain, sedikit yang mereka tahu bahwa Allah SWT sudah menentukan takdir mereka satu sama lain bahkan sebelum mereka dilahirkan. Hijrah yang sesungguhnya adalah untuk Dia yang menciptakan kita, bukan untuk dia yang kita kagumi."
__ADS_1