
"Mas Barra, sebaiknya Mas bayar dulu belanjaan Mas di meja kasir! kami akan menunggu Mas di luar," ucap Cinta Kiara Khoirani yang berusaha berpikir positif pada Barra.
Barra pun segera membayar belanjaannya di Kasir, semua mata customer yang berkunjung di puncak Mall tersebut tak henti-hentinya memandang ke arah Barra. Ada yang berbisik-bisik kecil, membicarakan tentang sosok Barra.
"Pemuda itu tampan sekali, namun sayangnya ia penjahat wanita. Sudah punya istri dirumah, sedang hamil lagi. Namun, masih sempat menggoda anak-anak remaja!" umpat customer Puncak Mall sambil memandang sinis ke arah Barra Adi Sanjaya.
"Astagfirullah ... semua ini gara-gara susu ibu hamil ini, sehingga semua orang mendadak salah paham pada ku!" bathin Barra Adi Sanjaya dengan tertunduk lesu.
Barra pun melenggang pergi dari Puncak Mall tersebut, setelah membayar belanjaannya. Ia tidak peduli dengan ocehan orang-orang tentangnya, sebab pada kenyataannya ia masih single dan perjaka.ππ
"Mas Barra!" kita di sini pekik Cinta Kiara Khoirani, dengan melambaikan tangannya.
Barra pun menghampiri Cinta dan teman-temannya.
"Kita ngobrol di Taman Kota saja, Mas!" ucap Cinta Kiara Khoirani pada Barra, mewakili teman-temannya, Kirana dan Fadhillah.
"Baiklah, kalian ikut aku! mari masuk ke dalam mobil!"
Barra mengajak Cinta dan teman-temannya untuk masuk ke dalam mobil miliknya.
Cinta dan Fadhillah memilih duduk di depan. Sedangkan Kirana Larasati memilih duduk di belakang, ia sengaja menjaga jarak dari Barra Adi Sanjaya.
"Kirana, kamu benar ingin duduk di belakang? Apa di depan saja bersama Fadhillah? biar aku yang dibelakang," tawar Cinta.
"Iya, tidak apa-apa Cin. Aku dibelakang saja!" ucap Kirana sambil mendengarkan musik MP3 diponselnya dengan menggunakan handset.
Kirana Larasati, nampak menikmati sekali alunan musik tersebut.
πΉ Tak Akan Terganti πΉ
Meski waktu datang dan berlalu sampai kau tiada bertahan ....
Semua takkan mampu mengubah ku ...
Hanya kau lah yang ada di relung ku ....
Hanyalah dirimu mampu membuat ku jatuh dan mencinta ....
Kau bukan sekedar indah ....
Kau tak akan terganti ....
Syair lagu tersebut mampu meluruhkan air mata Kirana Larasati. Ia sangat merindukan Rivandra Dinata Admaja, setelah 4 tahun tak bersua.
"Kak Rivandra, aku merindukan mu. Sungguh, aku masih terus setia menunggu di sini. Aku ingin hanya dirimulah yang akan menjadi imam dunia dan akhirat ku!" bathin Kirana Larasati dengan mengusap air mata yang membanjiri pipi mulusnya.
Barra melirik Kirana dari balik kaca spion. Semula ada rasa bahagia yang bertumbuh dihatinya ketika melihat wajah manis Kirana Larasati.
Namun, melihat Kirana meneteskan air matanya, membuat jantung hati Barra ikut merasakan kepedihan yang teramat dalam.
"Kirana, apa yang terjadi pada mu? Kenapa dirimu meneteskan air mata? apa ada masalah yang memberatkan pundak mu?" bisikan hati Barra Adi Sanjaya.
Sementara, Cinta dan Fadhillah asyik mengobrol di depan. Mereka tidak menyadari jika Kirana Larasati yang duduk sendirian di belakang sedang di landa kesedihan, lantaran merindukan Rivandra Dinata Admaja nun jauh di ibukota sana.
Barra menepikan mobilnya di Taman Kota, Kirana segera turun dari mobil di susul pula oleh Cinta dan Fadhillah.
"Kir, ada apa dengan mu? kenapa mata mu merah? kamu menangis?" tanya Fadhillah, yang memang terkenal dengan ratu heboh sejagat. Membuat semuanya ikut panik mendengar ucapan Fadhillah.
"Nggak, aku tadi hanya kelilipan."
Kirana pura-pura mengucek matanya yang terasa memanas lantaran ingin menangis.
__ADS_1
"Beneran, kamu tidak apa-apa, Kir?" tanya Cinta dengan memegang pundak Kirana.
"Beneran, aku tidak apa-apa kok, Cin."
Kirana menampakkan senyum manisnya.
Sedangkan, Barra yang mengetahui jika sebenarnya Kirana menangis ia dibuat penasaran apa yang terjadi dengan Kirana sebenarnya.
"Kalian duduk di sini dulu! Aku hendak membelikan sesuatu," ucap Barra dengan langkah tergesa-gesa.
Cinta, Kirana dan Fadhillah pun duduk manis di bangku Taman Kota. Mereka melihat pemandangan alam sekitar yang begitu menakjubkan. Dimana banyak pasangan muda-mudi yang hanya sekedar duduk-duduk santai bersama pasangan masing-masing, menghabiskan waktu dengan suka cita.
Ada anak-anak kecil di temani oleh kedua orang tuanya, bermain-main di sekitar Taman Kota. Ada yang bermain prosotan, jungkat-jungkit, mobil-mobilan, motor-motor, ayunan dan lain-lainnya.
"Ya Allah ... nikmatnya menjadi anak kecil bisa bermain sebebas-bebasnya tak ada beban pikiran dan kepenatan hati dan jiwa yang mendera. Yang mereka pikirkan adalah asyiknya bermain dan menikmati waktu kecilnya," ucap Kirana tiba-tiba. Ucapan yang tanpa sengaja ia ucapkan mewakili isi hatinya.
Fadhillah dan Cinta melongo mendengar penuturan Kirana Larasati. Pikir mereka apa yang terjadi dengan Kirana sebenarnya tiba-tiba berubah menjadi melow.
"Iya, kamu benar Nona Kirana Larasati. Terkadang sesuatu yang kita pendam sendiri dan tidak terungkapkan dapat menjadi beban dan pikiran untuk diri kita sendiri. Jalan keluarnya, berhentilah memikirkan sesuatu yang memang belum jelas sebab akibatnya. Nikmati hidup ini, sebesar apapun masalahnya jangan di pendam sendiri dan jangan di buat menjadi beban. Ini es cream special untuk mu!" ucap Barra Adi Sanjaya dengan menyerahkan kantong kresek berisi berbagai macam es cream.
Kirana tidak serta merta menerimanya, namun melihat ketulusan di mata Barra ia pun akhirnya menerima es cream pemberian dari Barra.
"OMG! Mas Barra, so sweet banget! Aku boleh cicipi es creamnya?" tanya Fadhillah dengan antusiasnya.
Barra terkekeh geli melihat ekspresi wajah dan tingkah Fadhillah.
"Boleh, silahkan! ini special untuk kalian bertiga," ucap Barra Adi Sanjaya.
"Beneran, Mas?" pekik Fadhillah dengan penuh kegirangan.
Barra pun menggangguk pelan, di iringi pula dengan senyuman manisnya.
Cinta pun ikut menikmati es cream tersebut, namun tidak dengan Kirana Larasati ia nampak tidak bersemangat setelah kejadian di Puncak Mall, Barra dengan spontan menyentuh bibir indah dan merekah miliknya.
Bagi Kirana meskipun sentuhan itu tanpa disengaja dan hanya menggunakan jari telunjuk Barra, itu adalah hal yang tabu untuknya. Dalam pikiran Kirana ia hanya ingin Rivandra yang menyentuh dirinya, bukan orang lain.
"Kirana, dicoba es creamnya! ini special untuk mu!" Barra membuka satu es cream padle pop rasa coklat untuk Kirana Larasati.
Kirana ingin menolak, namun hati kecilnya tak tega melihat Barra yang begitu perhatian terhadapnya.
"Terimakasih, Mas!" ucap Kirana Larasati.
Barra tersenyum, ia bahagia Kirana tidak menolak pemberiannya.
"Bagaimana? enakkan es creamnya?" tanya Barra dengan senyuman manisnya.
"Iya, Mas!" ucap Kirana dengan suasana hati yang mulai tenang.
"Konon katanya, rasa sedih, sakit hati dan kecewa akan sembuh dengan sendirinya. Jika kita ngemil es cream, tentunya suasana hati yang panas akan menjadi dingin."
Barra terus menghibur Kirana Larasati, sampai akhirnya Kirana melupakan masalahnya.
"Ehemm ... perasaan dari tadi Mas Barra asyik menggoda sahabat ku Kirana, gimana tuh kejelasan status Mas Barra, mengenai susu ibu hamil tersebut. Apakah benar di tujukan untuk isteri, Mas?" tanya Fadhillah sambil menyesap es cream miliknya.
"Subhanallah ... itu es cream yang ke berapa, Neng? perasaan dari tadi tidak henti-hentinya kau menyesap es cream," pungkas Cinta yang dari sejak tadi menjadi pendengar setia.
"Ini, baru es cream yang ke 7, Cin!" ucap Fadhillah santai.
Cinta dan Kirana juga Barra menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah lucu Fadhillah.
"Maaf, aku memang belum punya istri. Aku masih single, susu ibu hamil tersebut memang pesanan Tuan Muda Zain yang akan ia berikan untuk wanita special dihatinya, Nandini Sukma Dewi. Sekarang mereka berdua sedang menikmati kebersamaan di Cafe XX. Jika kalian tidak percaya mari ikut dengan ku!" ucap Barra Adi Sanjaya meyakinkan ketiga anak remaja tersebut.
__ADS_1
"Astagfirullah ... jadi susu ibu hamil itu benar-benar untuk Nandini? ini tidak benar, kenapa Nandini bisa berduaan dengan Zainal? bukankah ia akan segera menikah dengan Arjuna?" tanya Fadhillah dengan wajah serius.
"Tadi, kami tidak sengaja membuntuti Nandini ke Rumah Sakit Medika. Ketika hendak masuk ke dalam Rumah Sakit ia hampir tumbang, namun Tuan Zain datang menyelamatkannya dan membopongnya ke dalam. Setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka, terlepas tentang kehamilan Nona Nandini aku benar-benar tidak tahu. Aku hanya melaksanakan tugas yang diberikan oleh Tuan Zain untuk membelikan susu ibu hamil untuk Nandini. Hingga akhirnya aku tidak sengaja bertemu kalian!" ucap Barra penuh kejujuran.
"Astagfirullah ... kita harus segera menemui Nandini Sukma Dewi, kasian sekali dengannya." Cinta memberikan usulan.
"Iya, aku sepakat dengan mu, Cin!" ucap Kirana Larasati.
"Aku juga," ucap Fadhillah dengan bergegas berangkat dari tempat duduknya. Tak lupa pula ia membawa kantong kresek yang masih berisi es cream pemberian Barra Adi Sanjaya.
Namun, baru satu langkah menuju ke tempat parkiran mobil Barra. Ponsel Fadhillah tiba-tiba berbunyi. Ia pun mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelfon.
π "Hallo, assalamu'alaikum ... dengan siapa?"
π "Wa'alaikumsalam, dengan pangeran mu, belahan jiwa mu!" ucap seseorang diseberang telfon.
π "OMG! kak Virgan, maaf Dhillah tidak melihat jika nomor kontak kakak yang menelfon."
π "Wajar saja nggak ingat dan nggak tahu dengan kehadiran pacar sendiri. Secara dirimu asyik-asyikan dengan gebetan baru,"ucap Virgan dengan nada cemburu.
π "Gebetan? maksud kakak apa?" tanya Fadhillah yang tidak mengerti arah ucapan Virgantara.
π "Jangan pura-pura mengelak, baby. Menolehlah ke belakang!"
Fadhillah menoleh.
π "OMG! kak Virgan?"
Fadhillah mematikan telfonnya, ia langsung berlari ke arah Virgantara.
Virgantara pun menyambut Fadhillah dengan penuh suka cita. Fadhillah berlari dan menghamburkan diri kedalam pelukan Virgantara.
"Dhillah kangen dengan kakak!" ucap Fadhillah dengan membenamkan wajahnya di dada bidang Virgantara kekasihnya.
"Oh, ya. Benarkah? lalu kenapa diri mu nampak antusias sekali mengemil es cream pemberian Tuan Muda itu? lalu kalian hendak kemana?" tanya Virgantara dengan tatapan datar sehingga menghilangkan mood Fadhillah.
"Dasar pria dewasa! awalnya manis, akhirnya bikin menangis. Dasar tidak romantis!" ucap Fadhillah dengan wajah ditekuk. Ia pun melepaskan pelukannya dari dada bidang Virgantara.
"Jika bertemu hanya untuk bertengkar, biarkan aku pergi dulu! Aku ada keperluan dengan Cinta, Kirana dan Mas Barra!" ucap Fadhillah dengan melangkahkan kakinya menuju mobil Barra.
"Kau tidak boleh pergi baby, kecuali bersama ku!" ucap Virgantara dengan menarik tangan Fadhillah dan memasukkan kembali pacar kecilnya itu kedalam dada bidangnya.
"Aku mencintaimu Fadhillah! kau tak akan terganti dengan apa pun!" ucap Virgantara dengan setengah berbisik di telinga Fadhillah. Membuat pikiran dan perasaan Fadhillah hanyut dalam buaian cinta Virgantara Dinata Admaja.
π·π·π·
Untaian Mutiara Hikmah π "Nafsu hanya akan memberikan kebahagiaan sesaat, tapi cinta yang tulus dan sejati akan memberikan kebahagiaan selamanya. Cinta sejati itu abadi, tanpa batas dan selalu menyukai diΒrinya. Cinta sejati itu seimbang dan murni, tanpa kekerasan: cinta sejati tetap terlihat bersama memutihnya rambut, namun selalu muda di hati."
πΊ
πΊ
πΊ
Sambil menunggu update selanjutnya, yuk mampir ke karya My Besti, Kak. Ceritanya tidak kalah menarik dan serunya lho!ππ
Judulnya : SaGa Antara Cinta dan Ego
Author nya :Eveliniq
__ADS_1