
Aslan termangu di beranda counter Cell miliknya. Ia memijit kepalanya yang terasa sangat berat, mengingat Ibu Ratna Anjani yang tidak merestui hubungannya dengan Zahrana.
Barulah Aslan hendak menabur benih kasih yang dulu sempat terhempas hingga berujung perpisahan antara dirinya dengan Zahrana.
Dan hari ini pun Zahrana telah kembali, namun Ibu Ratna Anjani tiba-tiba membenci sosok Zahrana entah dimana mulanya rasa benci itu tertanam dihati Ibu Ratna Anjani.
Padahal waktu tempo dulu Ibu Ratna Anjani sangat menyayangi Zahrana ketika Zahrana masih kecil dan sering bermain dengan Nandini Sukma Dewi.
Namun, kini semua seolah berubah entah apa penyebabnya. Ibu Ratna menjadi tidak menyukai Zahrana.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Aku harus mencari tahu kenapa Ibu begitu membenci Zahrana?" cicit Aslan.
Di tengah lamunan Aslan tiba-tiba ia dikejutkan oleh kedatangan Kirana Larasati dan Cinta Kiara Khoirani. Mereka hendak menemui Nandini Sukma Dewi.
"Hai! kak Aslan, sedang memikirkan apa kak?" tanya Cinta dengan gaya imutnya.
"Aku sedang memikirkan Zahrana," ucap Aslan keceplosan.
"Apa? Zahrana?" pekik Cinta dan Kirana.
"Bukankah kakak sudah move on dengan Zahrana? hampir empat tahun lho, Kak. Coba buka hati untuk yang lain kak. Tuh Kirana juga sampai hari ini belum ada yang punya," celutuk Cinta.
"Apaan sih kamu Cin, aku lebih memilih sendiri seperti ini. Aku bahagia dengan sendiri ku," ucap Kirana Larasati.
Dalam hati Kirana sebenarnya tiada hari tanpa memikirkan Rivandra Dinata Admaja.
"Kak Rivandra aku merindukan mu, aku akan terus menunggu mu dan memantaskan diriku untuk dapat bersanding dengan mu!" bisikan hati Kirana Larasati.
Kirana kini pun telah menutup auratnya dengan baik. Ia memilih melanjutkan pendidikannya di Madrasah Aliyah Negeri XX. Ia berusaha menutup auratnya, meskipun masih menggunakan kerudung gaul.
Namun, setidaknya Kirana terus berusaha menutupi auratnya agar ketika bersua dengan Rivandra Dinata Admaja nanti Kirana bisa menyesuaikan dirinya dengan Rivandra yang telah menempuh jenjang pendidikan di Pondok Pesantren. Dan mungkin sekarang Rivandra telah kuliah semester ke-2 di Universitas Agama Islam Negeri di Jakarta.
"Hei, Kirana Larasati kok Melamun? Mending kita nyamperin Nandini sekarang! lama betul ia dandannya. Mau bertemu dengan soulmatenya pun rempong amat, harus dandan ampe memukau dulu," ucap Cinta Kiara Khoirani.
"Hemmm, memangnya kalian mau kemana? sudah perfect begini!" Aslan baru menyapa Cinta dan Kirana.
"Lho, memangnya Nandini tidak memberitahu kakak. Hari ini kami mau menghadiri party Arjuna Restu Pamungkas, dalam rangka Ultahnya yang ke-19 tahun." Kirana Larasati pun akhirnya ikut bersuara.
"Oh, yach?" jawab Aslan singkat.
__ADS_1
"Ya ampun, irit sekali bicaranya. Sudah seperti es balok saja," pikir Kirana.
"Eh, Kir. Tuh si Gadis Metal sudah keluar dari sarangnya," ucap Cinta seraya menunjukkan telunjuknya ke arah Nandini.
"Kamu kok penampilannya metal betul, Din? pakai gaun kek, ini kan acara spesialnya Arjuna." Cinta protes.
"Tenang saja aku sudah menyiapkan gaun special untuk acara nanti. Aku akan ganti baju ketika acara akan dimulai. Nanti kita singgah di rumah Fadhilah dulu, ba'da Maghrib baru kita menuju kafe XX!" pungkas Nandini.
"Oke deh!" ucap Cinta dan Kirana seraya menggerakkan jempolnya tanda deal.
"Kak Aslan, pinjam motor gede kakak ya?" ucap Nandini dengan gaya metalnya.
"Dek, pakai motor matic aja sama seperti Cinta dan Kirana. Kakak khawatir sebab kalian akan pulang larut malam, nanti jika ada apa-apa jangan lupa telfon Kakak!" titah Aslan.
"Baiklah kak!" Nandini pun menuruti kakaknya. Ia pun menaiki motor matic miliknya. Sedangkan Kirana Larasati berboncengan dengan Cinta Kiara Khoirani.
Nandini pun tak lupa mencium punggung tangan kakaknya dan tak lupa mengucapkan salam. Ia pun segera melajukan motor maticnya.
"Shittt ... " Nandini tiba-tiba menarik remnya mendadak, di ikuti pula oleh Cinta dan Kirana yang ikut menghentikan laju kendaraannya.
"Kenapa, Din? bikin spot jantung saja," seloroh Cinta.
"Itu seperti Zahrana, deh. Kita menyapa dia dulu yuk!" ajak Nandini.
"Ya Allah ... ternyata indah sekali menikmati pemandangan alam di sore hari. Zahra bersyukur sekali ya Rabb masih di berikan nafas hidup dan kesempatan untuk terus memperbaiki diri menjadi lebih baik," bisikan hati Zahrana.
"Princesss! I Miss you!" ucap Nandini seraya menepikan motornya dan langsung menghamburkan diri kedalam pelukan Zahrana.
Cinta dan Kirana pun ikut menemui Zahrana. Mulut mereka ternganga ketika melihat pesona Zahrana.
"OMG ... Zahrana, anak itu keanggunannya semakin terpancar di usianya yang ke 17 tahun ini!" gumam Cinta.
"Ra, kami merindukan mu," ucap Kirana Larasati. Ia pun memeluk erat Zahrana.
Diikuti pula oleh Cinta Kiara Khoirani, mereka berempat pun saling berpelukan guna melepaskan rasa rindu yang bertaburan di hati mereka kini.
"Ra, jangan pergi-pergi lagi ya? kami sepi tanpamu!" ucap Nandini seraya menyeka air matanya.
Mereka berempat pun meleraikan pelukannya dan duduk di bangku santai di dekat taman bunga.
__ADS_1
"Kalian hendak kemana, Din?" tanya Zahrana.
"Menghadiri party kak Arjuna, hari ini adalah hari ultahnya yang ke 19 tahun. Kami semua akan berangkat ke cafe XX.Tempat di mana acara akan dilaksanakan."
"Apa kamu mau ikut! Bisa berboncengan dengan aku, Ra!" ajak Nandini.
"Iya Ra, jika ada kamu pasti seru!" ucap Kirana Larasati.
"Iya, Princess. Mari ikut dengan kami, sekalian nostalgia." Cinta ikut menimpali.
"Mohon maaf teman-teman, untuk kali ini Zahra belum bisa ikut dengan kalian."
"Aku baru pulang hari ini juga dari kediaman kak Sabrina, hari ini aku ingin menghabiskan kebersamaan dengan Ayah dan Bunda Fatimah. Aku sudah lama sekali tidak menghabiskan waktu bersama dengan kedua orang tua ku." Zahrana menolak secara halus ajakan teman-temannya.
"Kamu tambah anggun dan lemah lembut, Ra. Kamu semakin cantik dan mempesona," ujar Nandini menoel pipi sahabatnya yang memerah itu.
"Terimakasih, kalian menggoda ku!" ucap Zahrana dengan senyuman manisnya menghiasi rona wajahnya.
"Oh, iya Ra. Tadi kak Aslan tampak di rundung nestapa, dia bilang dia sedang memikirkan mu. Sepertinya kak Aslan belum bisa move on dari mu, Ra!" seloroh Cinta.
"Iya, Ra. Apa tidak sebaiknya kau CLBK lagi dengan kakak ku! sepertinya kakak ku tidak bisa hidup tanpa mu, Ra. Semenjak 4 tahun terakhir ini, hatinya beku seperti es batu, ia tiada henti-hentinya memikirkan mu, Ra. Hanya ada namamu di hatinya tiada yang lain." Nandini terus membujuk Zahrana untuk kembali kepada Aslan kakaknya.
Zahrana menarik nafasnya dalam-dalam. Ia pun segera merespon permohonan Nandini.
"Din, mohon maaf sebelumnya untuk sekali ini aku tidak bisa memenuhi keinginan mu. Aku sudah memutuskan untuk hijrah dari pacaran dan yang semisalnya."
"Untuk saat ini, aku ingin belajar berbenah diri. Selama ini dosa ku pun semakin menumpuk dan hatiku pun semakin berkarat tertutup oleh debu-debu dosa dan kemaksiatan yang telah ku perbuat."
"Kak Aslan adalah masa lalu aku, dan aku tak ingin menabur benih janji seperti dulu lagi. Aku benar-benar tidak ingin lagi tenggelam dalam buaian cinta yang dulu pernah memperdaya ku."
"Biarlah kisah yang telah lalu menjadi pelajaran dalam hidup ku agar dimasa depan lebih mawas diri. Sungguh aku tak ingin lagi membuka luka lama. Biarlah tabir cinta itu tertutup sudah."
"Semoga kak Aslan menemukan sosok wanita yang lebih baik dari ku, yang tentunya sepadan dan sekufu dengan kakakmu, Din."
"Aku benar-benar minta maaf, sebab untuk sekali ini dengan segala rasa hormat ku. Aku menolak untuk kembali pada kak Aslan, aku benar-benar minta maaf Din!"
Air mata Zahrana pun luruh sudah, hatinya gamang. Ia benar-benar bertekad untuk tidak menempuh jalan pacaran lagi.
"Kuatkanlah hati hamba-Mu ini ya Rabb, agar terus berada di jalan-Mu!" Do'a Zahrana didalam hatinya.
__ADS_1
🌷🌷🌷
Pencerahan 👉"Optimislah! walau engkau berada di tengah-tengah badai angin topan. Sesungguhnya setelah kesulitan itu akan ada kemudahan.