
"Astaghfirullah ... ternyata aku cuma mimpi!" ucap Zahrana pelan.
Keringat Zahrana pun keluar sebesar biji jagung, oleh sebab mimpinya barusan.
Zaid memberikan tissue untuk Zahrana. "Kau nampak berkeringat, sebaiknya usap keringat mu dan tenangkan diri mu!" ucap Zaid dengan menatap lekat nanar wajah Zahrana yang masih terlihat kelimpungan oleh sebab igauan mimpinya.
"Ma-af, terimakasih!" ucap Zahrana terbata.
"Alhamdulillah ... ternyata hanya mimpi!" bisikan hati Zahrana setelah menyadari jika ia hanya bermimpi belaka.
"Minum dulu, air putihnya! Aku sengaja mempersiapkan untuk mu, kalau-kalau kau terbangun dari mimpi dan tidur nyenyak mu. Sungguh, mimpi mu seperti sangat menyiksamu!" ucap Zaid yang tak tega melihat raut wajah Zahrana yang terlihat tegang.
"Terima kasih, Kak." Zahrana pun menyeruput air putih tersebut sampai tandas tak tersisa.
"Ya Allah, sebenarnya apa yang sedang di alami oleh Zahrana di alam mimpinya? kenapa ia dari sejak tadi selalu menyebut nama Yusuf di alam mimpinya? apakah Yusuf nama seorang pemuda yang akan dijodohkan dengan Zahrana nantinya?" bisikan hati Muhammad Zaid Arkana.
Sejenak keduanya pun saling terdiam, dan tanpa sengaja keduanya pun sama-sama melirik satu sama lain.
"Kak Zaid, kau?" Zahrana menyeka keringatnya.
"Zahrana, kau?" keduanya pun saling diam sesaat.
"Maaf, sejak kapan kakak ada di dekat Zahra? apa kakak mendengar igauan Zahra di alam mimpi?" tanya Zahrana penuh ke khawatiran.
"Hemmm ... kau selalu menyebut nama Yusuf dalam igauanmu. Adakah ia begitu berarti dalam hidup mu? apakah ia sosok pemuda yang di jodohkan dengan mu?" cetus Zaid dengan raut wajah serius.
Zahrana mengangguk pelan. "Iya Kak, benar. Sampai detik ini pun Zahra masih menunggu kak Yusuf, dia adalah sosok laki-laki Sholeh yang pernah Zahra temui dalam sepanjang perjalanan hidup Zahra. Harapan Zahra, kak Yusuf bisa menjadi imam untuk Zahra di masa depan nanti. Sosok imam yang bisa membimbing ku di dunia hingga akhirat!" ucap Zahrana serius.
Entah kekuatan dan keberanian dari sisi mana, Zahrana dengan gamblangnya menegaskan pada Zaid bahwa pemuda yang di cintainya adalah sosok Amri Nufail Syairazy. Membuat hati MZ Arkana terasa perih mendengar kejujuran hati Zahrana.
"Tsamirah Zahrana Az Zahra, andai kau tahu betapa perihnya hatiku ketika kau memilih dirinya. Tidak kah dirimu peka atas segala rasa dan bentuk perhatian ku terhadap mu? aku terlanjur jatuh hati pada mu Zahrana. Akan ku pastikan bahwa dirimu akan jatuh hati pada ku secara perlahan. Tak kan kubiarkan kau bersanding dengannya. Kau hanya akan menjadi milikku seutuhnya!" bathin Muhammad Zaid Arkana.
"Wahai penggenggam hati dan jiwa, maafkan hamba atas segala ke egoisan ini, maafkan hamba yang tak rela jika Zahrana benar-benar berdampingan dengan Yusuf, sungguh tak kan kubiarkan itu terjadi!" bisikan hati Muhammad Zaid Arkana yang mulai terbesit pikiran kotor di hatinya, membuatnya tiba-tiba berambisi untuk memiliki Zahrana seutuhnya.
"Maafkan aku kak Zaid! Aku tahu kau kecewa terhadap ku, tapi aku harus jujur. Agar nantinya tidak ada kesalahpahaman diantara kita!" bisikan hati Zahrana.
Di tengah keterpakuan keduanya, Zahrana tidak menyadari adiknya Raihan Arman Habibie pun sejak tadi ingin menghampiri mereka. Namun, Raihan sengaja mengurungkan niatnya untuk menghampiri kakaknya ia sengaja ingin mendengar percakapan antara Zahrana dan Muhammad Zaid Arkana.
"Hemmm, kak Zahra ternyata masih setia menunggu kak Yusuf yang berada nun jauh di sana. Lalu ... hadirlah kisah cinta dari seorang Muhammad Zaid Arkana? mengsedih sekali! repotnya jika sedang jatuh hati! semoga Allah senantiasa menjaga nafsu hamba agar dijauhkan dari hal-hal yang sedemikian! " bisikan hati Raihan Arman Habibie.
***
__ADS_1
"Assalamu'alaikum ... kak Zahra!" ucap Raihan dengan ekspresi wajah dibuat setenang mungkin.
"Wa'alaikumsalam warrmarullah ... " jawab Zaid dan Zahrana hampir bersamaan."
"Raihan, ada apa?" tanya Zahrana.
"Ini kak, Ayah dan Bunda sudah menunggu kita dimeja makan. Kita hendak makan malam bersama. Sebelum nantinya kakak kembali ke kota S."
"Oh, ya. Kak Zaid juga, mari ikut makan malam bersama!" sarkas Raihan dengan wajah yang selalu ceria.
"Iya, terima kasih Rai!" ucap Zaid dengan senyuman manis.
Raihan mempersilahkan Zaid jalan duluan, sementara ia bergandengan tangan dengan kakaknya Zahrana menuju dapur mereka.
Sesampai di dapur, Buya Harun dan Bunda Fatimah dengan antusias menyambut kehadiran buah hatinya di sisi mereka, juga senang sebab kedatangan tamu di rumah mereka.
"Nak Zaid, nak Zahra. Silahkan duduk! makan yang banyak agar kalian bisa terlihat bugar dan semangat paa pulang nanti.
"Raihan juga, kemari Nak! kau duduk di samping Bunda," ucap Bunda Fatimah dengan mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Raihan.
"Maa syaa Allah, terimakasih Bunda!" ucap Raihan dengan penuh semangat menikmati hidangan yang disajikan di hadapannya.
"Terima kasih bunda!" ucap Buya Harun dengan nanar wajah bahagia. Ia pun menikmati makan malam tersebut dengan penuh hikmat.
Zahrana dan Zaid pun, ikuti menikmati semua hidangan yang ada di meja makan. Tidak ada satu pun yang berani membuka suaranya. Hanya bunyi sendok dan garpu juga piring yang terlihat beradu di tengah nikmatnya makan malam mereka.
"Alhamdulillah!" ucap mereka serempak setelah selesai dengan makan malam mereka
Zahrana pun dengan sigap membantu bundanya merapikan meja makan mereka. Sedangkan Buya Harun, Raihan dan Zaid begitu asyik bercengkrama di ruang tamu sambil menikmati cemilan yang telah dibuatkan oleh Zahrana.
Zahrana nampak merenung, ia merasa bahagia. Dahulu dapur mereka masih belum serapi ini. Namun, setelah 4 tahun terakhir ini dapur yang semula lantai semen biasa. Sekarang sudah di sulap full keramik dengan perlengkapan yang serba minimalis.
Dahulu jika makan bersama mereka lesehan di lantai. Namun, sekarang semua sudah berubah sedemikian indahnya. Meja makan beserta kursinya nampak tertata rapi di dapur minimalis tersebut.
"Ya Allah ... terimakasih atas nikmat dan karunia-Mu terhadap keluarga hamba, sungguh tak bisa hamba lukiskan dengan seribu kata-kata atas kebesaran-Mu!" bisikan hati Zahrana.
"Nak, kok melamun? biar Bunda lanjutkan pekerjaannya, lebih baik persiapkan diri mu untuk pulang nanti. Sebentar lagi sudah masuk waktu Isya!" Ucap Bunda Fatimah dengan penuh ketulusan.
"Baik, Bunda. Terimakasih!" ucap Zahrana penuh semangat.
Kumandang adzan isya pun bergema di desa XX, desa tempat kediaman Zahrana.
__ADS_1
Semua lapisan masyarakat nampak berbondong-bondong ke Mesjid, guna melaksanakan kewajiban sholat Isya.
Buya Harun, Raihan dan Zaid pun nampak ikut berjama'ah di Mesjid. Sedangkan Zahrana dan Bunda Fatimah menjalankan ibadah shalat isya di kamar mereka masing-masing. Segenap dari mereka semua nampak khusu' menjalankan ibadah masing-masing menghadap ke hadirat Rabb semesta alam.
***
Perjalanan kembali ke kota S.
Setelah berpamitan pada Ayah dan Bundanya, juga adiknya Raihan. Zahrana nampak melambaikan tangannya pada keluarga kecilnya. Ada rasa berat di hati Zahrana meninggalkan keramat hidupnya. Yakni, Ayah dan Bunda tercintanya.
Namun, demi mengejar cita-cita dan impiannya. Zahrana berusaha untuk tegar menjalani kerasnya kehidupan. Namun, ia yakin semuanya akan terasa indah dan nikmat jika dijalani dengan ikhlas dan rasa syukur kepada-Nya.
"Zahra, kau seperti kedinginan? ini kenakan jaket milik kakak!" ucap Muhammad Zaid Arkana dengan menyodorkan jaketnya pada Zahrana.
Zahrana hendak menolak, namun Zaid tiba-tiba menghentikan laju mobilnya. Sebab, langit di malam hari terlihat mendung dan awan pun berselimut hitam pekat.
Desiran angin pun tampak berhembus kencang, tetesan air dari langit pun turun dengan rintiknya. Zahrana nampak menggigil kedinginan.
"Kau ini, cepat kenakan jaket ini! kau terlihat kedinginan," ucap Zaid dengan menyelimuti tubuh Zahrana dengan jaketnya.
Zahrana terdiam sejenak melihat perlakuan manis Zaid terhadapnya.
Suasana yang hening di dalam mobil, berduaan dengan yang bukan mahramnya, seolah membuat keduanya merasakan hawa yang berbeda. Ketika manik mata keduanya pun saling bertemu pandang.
"Ya Allah ... getaran apakah ini? tolong jaga iman dan hati hamba agar tidak menodai kesucian hati sosok bidadari yang ada di hadapan hamba ini!" bisikan hati Muhammad Zaid Arkana. Ia pun kembali mengemudikan mobilnya menjaga jarak dengan Zahrana yang terlihat canggung dan spot jantungnya.
"Ya Allah ... jaga dan rahmati nafsu buruk kami ya Rabb, agar terhindar dari bisikan hawa nafsu sesaat yang dapat melemahkan biduk keimanan kami!" bisikan hati Tsamirah Zahrana Az Zahra.
π·π·π·
Pencerahan π βSesuai dengan perjuangan jiwa seseorang dan penolakannya terhadap syahwatnya serta penolakannya untuk mengikuti kesenangannya (yang diharamkan), dan penolakan atas apa yang menjadikan mata berkeinginan memandangnya, maka disitulah terletak pahala dan siksaan. Sejatinya, Orang yang bijak adalah yang dapat menguasai hawa nafsunya.β
*βββ
Sambil menunggu update selanjutnya, author punya rekomendasi karya bagus untuk mu. Dengan cerita yang tak kalah seru dan menariknya.
Judul karyanya : Khan, Kamulah Jodohku
Authornya : Muda Anna
__ADS_1