Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
88 . Aku Ingin Kita Pisah


__ADS_3

Dua anak manusia yang kini saling membisu setelah kejadian panas yang barusan terjadi di antara keduanya pun kini, tidak ada satu pun yang berani membuka suaranya. Mereka seolah-olah tenggelam pada pikiran masing-masing.


Zahrana masih menangis senggukan, ingin rasanya ia menceburkan diri ke dalam lautan pantai yang dalam. Sebab ia merasa malu dengan dirinya sendiri, selama ini pun ia sudah bertindak dan berbuat terlalu jauh.


Bersama Aslan Abdurrahman Syatir, telah banyak kekhilafan dan dosa-dosa yang telah di perbuatnya. Zahrana menyesali perbuatannya, kenapa dia yang dulu terkenal dengan gadis lugu, cantik nan Sholihah, mampu menjaga maruahnya dari segala bentuk godaan dan hawa nafsu buruk kini pun kesucian dirinya pun terhempas.


Gelar wanita seribu pesona yang melekat pada dirinya seolah tak pantas lagi untuk ia sandang. Zahrana merasa jika dirinya kini sangatlah kotor. Bunga Desa itu pun perlahan layu gugur sebelum berkembang.


"Menjadi Primadona, untuk apa itu semua? jika hanya membuat diri tersesat dalam lingkaran noda-noda dosa yang tak berkesudahan." Zahrana berbisik di dalam hatinya.


Zahrana menatap jauh kedepan, rasanya ia tidak ingin lagi terus berada dalam lingkaran syaitan yang terus menyesatkan dan memporak-porandakan duduk keimanannya.


Zahrana memberanikan diri menatap nanar wajah Aslan Abdurrahman Syatir yang masih tertunduk lesu. Aslan pun menyesal karena telah merenggut ciuman pertama dari Zahrana secara paksa tidak seperti kebersamaan dan kemesraan mereka sebelumnya memang atas dasar suka sama suka. Namun, hari ini Aslan melakukan semua itu dengan beringasnya.


Jika semua itu dilakukan dengan kelemah lembutan dan tidak berlebihan mungkin Zahrana masih bisa untuk mentolerir-nya.


Namun, ini beda Aslan melakukannya dengan duduk hawa nafsu yang tak terkendalikan. Jika pun di biarkan mungkin saja kesucian mahkota Zahrana pun akan terenggut dan ternoda oleh keganasan Aslan yang semakin tak terkendalikan oleh rasa cemburu, cinta dan emosi juga hasrat yang menggebu yang seakan melebur menjadi satu, sehingga merusak akal pikirannya jika tidak segera di ingatkan oleh Zahrana lewat tangisan pilunya.


"Kak, aku ingin kita pisah!" ucap Zahrana memecahkan keheningan.


Aslan mendongakkan kepalanya, ketika mendengar ucapan dari bibir manis Zahrana. Hatinya terasa terhempas dan terhunus oleh belati tajam. Ia tidak menyangka jika ucapan itu akan keluar dari lisan Bidadari kecil yang teramat dicintainya. Hanya karena satu kesalahan fatal yang di perbuatnya dengan semudah itu Zahrana mengucapkan kata pisah tanpa memberikan kesempatan kedua untuknya pun meminta maaf kepada sang belahan jiwa.


Aslan tidak rela jika hubungan yang telah pun ia bangun bersama Sang Pujaan hati harus berakhir lantaran ia telah mengambil paksa ciuman pertama Zahrana. Sedalam itu kah luka yang ia torehkan di hati gadis kecilnya itu hingga ia memilih untuk berpisah.

__ADS_1


"Tidakkkkk ... Ana, aku tidak ingin berpisah dengan mu! lebih baik aku mati jika harus berpisah dengan mu Ana. Aku tidak sanggup hidup tanpa dirimu Ana."


"Sungguh, di alam jagat raya ini tidak seorang pun yang bisa memisahkan cinta kita Ana, kecuali hanya satu Sang Maha Pencipta kita." Aslan memberikan penegasan kepada Zahrana.


Aslan menatap lekat nanar wajah Zahrana yang masih berstatus kekasihnya.


"Ana maafkan aku karena telah melukai hati dan perasaan mu, maafkan aku karena telah berbuat hal yang tidak baik terhadap mu, aku khilaf Ana."


"Aku terbakar api cemburu ketika melihat kau bersama pria lain selain diriku. Aku tidak suka melihat dirimu berdekatan dengan adik sahabat ku Rivandra Dinata Admaja."


"Aku tahu Rivandra masih sangat mengharapkan mu An, dan aku tidak ingin kau kembali menduakan aku seperti hari kemarin. Aku ingin dirimu hanya melihat aku seorang!" tutur Aslan dengan nada serius.


"Aku capek, Kak. Aku lelah dengan hubungan ini. Aku tidak ingin terus menabur dosa, telah banyak waktu yang terbuang sia-sia hanya karena mempertaruhkan hawa nafsu sesaat."


"Aku malu dengan diri ku sendiri, jika bisa di putar kembali waktu. Aku tidak ingin secepatnya jatuh cinta, melabuhkan hati ku pada sesuatu yang masih menjadi misteri. Sekuat apa pun kita bertahan jika memang nantinya kita tidak berjodoh kita tidak akan mampu untuk menentang takdir yang telah tergambar dalam kehidupan kita."


"Aku ingin segera mengakhiri hubungan ini, sebelum kita terluka lebih dalam lagi. Aku masih sangat belia Kak, jika harus terus menempuh ikatan yang belum pasti bagaimana kedepannya."


"Aku yakin, kedua orang tua kita pun tidak akan merestui hubungan kita kedepannya Kak. Antara aku dan dirimu pun jauh berbeda, aku hanya terlahir dari orang biasa sedangkan kakak adalah keluarga terpandang. Mungkin seluruh dunia pun akan mengecamku, hanya seorang gadis kecil namun sudah berani-beraninya memiliki teman istimewa yang kini terpaut 7 tahun usianya dari ku."


"Aku ingin kita pisah Kak! kejadian hari ini sudah cukup mewakili akhir dari cerita kita, sungguh aku tidak ingin lagi membuat pikiran kakak ternodai hingga nekad untuk terus menjamahi ku sesuka hati mu."


"Aku bukan wanita murahan kak, yang dengan sesuka hati mu untuk menyentuhnya. Aku sangat menyesal kenapa aku jatuh hati pada mu Kak, kenapa Kak?" tanya Zahrana dengan di selangi isak tangisnya.

__ADS_1


"Tsamirah Zahrana Az Zahra, sungguh aku sangat mencintaimu Ana. Jangan pernah tinggalkan aku walau apapun yang terjadi. Aku minta maaf atas segala perlakuan ku terhadap mu yang sudah sangat keterlaluan . Aku berjanji untuk tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama," ucap Aslan dengan penuh kesungguhan.


Zahrana nampak terdiam. Ia tampak kehabisan cara bagaimana untuk bisa lepas dari Aslan Abdurrahman Syatir. Mengingat Aslan yang begitu kekeuh untuk tetap mempertahankan hubungan mereka.


Zahrana menatap lurus ke depan. Ia perlahan mengayunkan langkahnya menelurusi tepi pantai.


Angin berhembus dengan sangat kencangnya menerpa wajah ayu Zahrana. Aslan pun segera mengikuti langkah Zahrana. Ia pun berinisiatif menggenggam jemari tangan Zahrana. Aslan tidak sanggup menahan diri, jika Zahrana terus mendiamkannya.


"Ana, aku mohon padamu jangan diamkan aku seperti ini, aku tidak ingin berpisah dengan mu Ana, tolong beri aku kesempatan untuk terus bersama mu Ana. Hingga kau pun bertumbuh menjadi wanita ku yang sesungguhnya di masa depan nanti. Aku akan terus menunggu mu Ana, sebagaimana janji ku dahulu sampai aku dan kamu pun akan menjadi kita."


Zahrana menghentikan langkahnya, ia kembali menatap intens wajah Aslan Abdurrahman Syatir yang mati-matian tidak ingin berpisah dengannya.


"Baiklah Kak, aku akan memberikan satu kesempatan untuk kakak. Namun, berjanjilah kakak tidak akan pernah lagi mengulangi kesalahan yang sama."


"Aku harap setelah ini kita pun menjaga jarak guna untuk muhasabah diri kita sendiri."


"Aku harap, kakak fokus dengan Kuliah kakak. Dan Aku pun fokus dengan Sekolah ku, sampai kita benar-benar menyelesaika study kita masing-masing."


"Untuk sementara waktu, kita tidak boleh bersua selama satu bulan kedepan sebagai hukuman dari kesalahan fatal yang telah kakak lakukan terhadap ku hari ini," ujar Zahrana acuh tak acuh.


Zahrana tidak punya cara lain agar bisa menjauh dari Aslan Abdurrahman Syatir. Zahrana ingin menenangkan dirinya. Ia ingin bebas sejenak dari jeratan cinta seorang Aslan.


"Ana tunggu!" ini tidak adil protes Aslan.

__ADS_1


Sementara Zahrana telah menjauh dari pandangan Aslan. Ia terus berjalan menelusuri tepi pantai tanpa mempedulikan pekikan dan protesan Aslan.


"Hemmm ... rasain loe kak, siapa suruh bertindak sesuka hati mu terhadap ku. Aku pun bisa menjadi wanita yang tegas. Jika memang kau tidak ingin pisah setidaknya aku bisa bebas dari kekangan mu selama satu bulan," bathin Zahrana.


__ADS_2