Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
206 . Selalu Terjaga ( Pov Zahrana Yusuf )


__ADS_3

Zahrana semakin terkesima ketika melihat Yusuf berjalan ke arahnya.


"Assalamu'alaikum ... maa syaa Allah, Zahra sudah siap? maaf, kakak terlambat 5 menit. Tadi ketika waktu Ashar, kakak singgah dulu di Mesjid," ujar Yusuf dengan senyum khasnya yang selalu membuat detak jantung Zahrana berdesir hebat ketika memandangnya.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... maa syaa Allah, kak Yusuf? tidak apa-apa, Kak. Zahra justru tidak pernah menyangka jika kakak memang benar-benar datang menjemput Zahra!" ucap Zahrana dengan sejuta rasa kagumnya pada sosok Yusuf Amri Nufail Syairazy.


"Alhamdulillah, Ra. Bagi kakak, janji itu adalah hutang. Jadi, sebisa mungkin kakak akan berusaha untuk menepatinya." Yusuf menatap sekilas ke arah Zahrana. Ia pun meraih tas ransel yang berisi barang-barang bawaan Zahrana.


"Maa syaa Allah, biar Zahra yang bawa, Kak."


"Tidak apa-apa, Ra. Ini terlalu berat untuk mu, sekalian belajar menjadi sosok imam yang baik." Yusuf membathin di dalam hatinya, kalimat terakhir tersebut hanya dirinya yang bisa mendengar dan merasakannya.😊😊


Zahrana nampak terkesima menyaksikan perlakuan manis Yusuf terhadapnya, "Ya Allah ... terima kasih atas karunia mu ini. Sungguh, hamba sangat beruntung bisa bersamanya seperti ini. Dengan segala kekurangan hamba, rasanya tak pantas untuk berdampingan dengannya," bathin Zahrana dengan menundukkan pandangannya dari terus melirik ke arah Yusuf.


Sebelum masuk ke dalam mobilnya, Yusuf berpamitan dahulu dengan Muhammad Zaid Arkana yang dari sejak tadi diam tak bergeming, memperhatikan interaksi antara dirinya dan Zahrana.


"Akhi, kami berangkat dulu, ya? terimakasih atas kebaikannya untuk Zahrana," ucap Yusuf dengan sikap yang sangat bersahabat.


"Sama-sama, Akhi!" ucap Zaid singkat.


Zahrana pun tetap berpamitan dengan Zaid, meskipun sempat terjadi ketegangan di antara mereka berdua.


"Aku pergi dulu, Kak!" Pamit Zahrana dengan nafas beratnya. Ia benar-benar merasa bersalah dan tidak enak hati pada sosok MZ Arkana.


"Maafkan Zahra, Kak!" bathin Zahrana tertunduk lesu. Ia pun beranjak pergi dari hadapan Zaid, mengikuti langkah Yusuf dari arah belakang.


Zaid pun melepaskan kepergian dua orang anak manusia tersebut, Zaid menatap punggung Zahrana yang semakin jauh meninggalkannya.


"Tsamirah Zahrana Az Zahra, sungguh aku benar-benar menginginkan mu menjadi bidadari dunia dan akhirat ku! Namun, aku sadari akan segala kekurangan ku, dirinya yang kau pilih untuk menjadi imam mu, adalah sosok yang sangat sempurna!" bathin Zaid dengan mengusapkan air matanya, yang tiba-tiba menggenang setelah melepas kepergian Zahrana dan Yusuf Amri Nufail Syairazy. Mengsedih ....😭😭


***

__ADS_1


Di dalam mobil.


"Kak, Ummi Yasmin dan Abi Farhan mana, Kak?" tanya Zahrana celingukan kesana kemari mencari keberadaan Ummi Yasmin dan Abi Farhan.


"Ma-af, mereka akan berkunjung ketempat Zahra nanti malam. Sebab, Abi Farhan sedang ada kesibukan, jadi Ummi dan Abi akan menyusul nanti."


"Oh, iya Kak." Zahra nampak canggung, sebab di dalam mobil hanya ia dan Yusuf, tidak ada yang mendampingi. Membuat Zahrana berkeringat dingin. Pasalnya, sejak tadi detak jantungnya berdetak tak karuan.


Sementara, Yusuf berusaha bersikap setenang mungkin. Meskipun perasaannya sangat kuat terhadap sosok Zahrana. Namun, cinta kepada Allah tetap nomor satu dihatinya.


Sembari menyetir mobilnya, Yusuf tetap terus melantunkan Zikir dan istighfar di dalam hatinya. "Ya Allah ... rahmati hatiku dan hatinya agar selalu berada di jalan yang Engkau ridhoi!" bathin Yusuf dengan terus melajukan kendaraannya.


Begitu pun Zahrana, ia pun berusaha mengimbangi cara Yusuf. Sehingga keduanya pun selalu terjaga dari bisikan hati yang buruk yang dapat melemahkan duduk keimanan mereka.


"Ra, bagaimana perkembangan padepokan Buya Harun selama kurun waktu 4 tahun terakhir ini?" tanya Yusuf memecahkan kesunyian.


"Alhamdulillah ... semakin baik, Kak. Para santriwati dan santriwati pun semakin bertambah, sudah banyak yang menjadi hafidz Qur'an."


"Zahra selama 4 tahun terakhir ini berusaha untuk belajar mengenal ilmu agama Islam secara Kaffa lagi, Kak. Banyak hal yang belum Zahra pahami, sampai saat ini pun, Zahra masih terus belajar." Zahrana menerangkan sekilas rutinitasnya pada Yusuf.


"Maa syaa Allah ... selamat ya, Ra? kakak senang dan bahagia sekali melihat perkembangan dan proses hijrah mu. Sungguh, ini adalah anugerah yang sangat luar biasa dari sang maha penggenggam kehidupan untuk dirimu dan juga untuk kakak."


Yusuf sesekali melirik ke arah Zahrana, hingga tanpa di sengaja keduanya pun saling bertemu pandang.


"Ya Allah, maafkan hamba atas ketidak sengajaan ini ya Rabb. Sungguh, hamba tidak bermaksud menodai kebeningan hati ini. Akan tetapi, hamba memang benar-benar tulus untuk menjadikan dirinya menjadi sosok bidadari dunia dan akhirat hamba!" bathin Yusuf dengan ketulusan.


"Ya Allah, betapa sempurnanya Engkau ciptakan dirinya. Entah kenapa, hati ini rasanya ingin terus bersama dan ingin memandanginya seperti ini!" bathin Zahrana dengan berusaha menahan gejolak rasa dihatinya.


Keduanya pun saling menampakkan senyuman khasnya. Bahagia memenuhi relung hati keduanya, mereka pun berusaha untuk saling menjaga satu sama lain agar tidak melakukan hal-hal yang tidak diridhoi oleh Allah.


Keduanya pun kembali saling terdiam, "Maafkan kakak, Ra. Bukannya aku tidak ingin memperhatikan mu lebih, namun aku berusaha untuk selalu menjaga hati dan pandangan ku, sebelum dirimu benar-benar halal bagiku!" bathin Yusuf dengan tetap berusaha tenang ketika berada di dekat Zahrana.

__ADS_1


"Kak, bagaimana proses belajar kakak ketika di Universitas Al Azhar? pasti sangat menyenangkan sekali!" Zahrana balik bertanya pada Yusuf.


"Alhamdulillah, Ra. Di sana proses belajar mengajarnya sangat terarah, setiap detik kita selalu di bimbing untuk mengagungkan akan kebesaran Rabb kita. Kakak sendiri memilih Fakultas Dakwah Islamiyyah. Sangat menyenangkan sekali bisa mempelajari ilmu-ilmu syar'i berdasarkan tuntunan Al Qur'an dan As-sunah serta akidah yang benar. Tentunya, semua itu butuh proses. Tidak langsung menjadikan diri kita menjadi sosok yang sempurna, karena sempurna itu hanya milik Allah Subhanahu wata'ala semata. Dan yang terpenting kita selalu berniat untuk memperbaiki diri dan terus mempelajari ilmu syar'i," terang Yusuf.


Yusuf pun terus bercerita tentang pengalaman belajarnya di Mesir, sedangkan Zahrana mendengarkannya dengan seksama dan penuh penghayatan. Hingga keduanya pun larut dalam kisah dan cerita masing-masing.


"Maa syaa Allah ... di lihat dari jurusan yang kakak pilih, berarti kakak memiliki cita-cita menjadi seorang pendakwah, ya?" pungkas Zahrana dengan wajah berbinar.


"InsyaAllah, Ra. Semoga kakak bisa mengikuti jejak para pejuang dakwah yang ada di Indonesia, seperti Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Hanan Attaqi, dan Ustadz Abdul Somad. Kakak suka cara penyampaian dakwah mereka yang penuh hikmah," ucap Yusuf dengan penuh semangat.


"Aamiin ... Zahra do'akan agar harapan dan cita-cita kak Yusuf di ijabah oleh Allah Subhanahu wata'alla." Zahrana mendo'akan calon imamnya tersebut dengan penuh hikmat.


"Terimakasih atas do'a tulus mu, Ra. Kakak bersyukur dipertemukan dengan sosok bidadari seperti dirimu," ucap Yusuf tanpa sengaja. Hingga membuat wajah Zahrana bersemu merah, mendengar kata-kata indah yang keluar dari lisan seorang Yusuf terhadapnya.


"Ma-af," ucap Yusuf dengan di penuhi rasa yang tumbuh indah bermekaran di hatinya. Tubuhnya terasa bergetar ketika tak sengaja mengungkapkan rasa pada Zahrana meskipun hanya berbentuk kata kiasan. Namun, mampu membuatnya seketika di dera rasa malu dan canggung terhadap sosok bidadari yang ada dihadapannya itu.


"Maaf untuk apa, Kak? tidak ada yang salah dengan sebuah rasa jika pun kita mampu untuk menjaganya. Terimakasih kakak sudah berkenan hadir dalam kehidupan Zahra yang bukan apa-apa ini," ucap Zahrana dengan rendah hati.


"Tidak ada satupun yang kurang dari dirimu, Ra. Bagi kakak diri mu sangat sempurna. Bukankah kita diciptakan untuk saling menyempurnakan satu sama lain," ucap Yusuf dengan sekilas melirik ke arah Zahrana.


"Terimakasih, Kak." Zahrana pun tertunduk malu. Ia benar-benar merasa tersanjung dan bahagia bisa menjadi seorang yang istimewa di hati seorang Yusuf Amri Nufail Syairazy.


Yusuf menampakkan senyum khasnya, "Oh iya, Ra. Kakak punya cemilan khusus untuk mu, ini kurma khas yang kakak bawa dari Mesir. Rasanya enak dan lezat sekali!" ucap Yusuf dengan menyerahkan sekotak kurma Mesir untuk Zahrana.



"Maa syaa Allah, terimakasih kak." Zahrana nampak sumringah, menerima oleh-oleh buah kurma dari Yusuf. Ia pun tampak menikmati kelezatan kurma khas Timur tengah tersebut, yang mana buah kurma memang menjadi buah favorit bagi Zahrana dari sejak mula, hingga detik ini.


"Sama-sama, Ra. Semoga barakah dan bermaanfaat untuk mu, selamat menikmati, ya!" ucap Yusuf dengan senyuman khasnya, yang menghiasi wajah tampannya.


💝💝💝

__ADS_1


Untaian mutiara hikmah 👉"Aku tidak tahu bagaimana terlihat romantis di depanmu, lidahku selalu menjadi kelu di hadapanmu. Bolehkah aku mencintaimu dengan segala kelemahanku ini? Aku ingin menjadi orang yang kamu cintai seperti aku mencintaimu. Bila mungkin sekarang aku merasakan betapa aku semakin mencintaimu itu bukan berarti diriku berlebihan, karena tak bisa ku pungkiri itulah yang sebenar-benarnya terjadi saat ini. Cinta itu bagai air, mengalir dari hulu ke muara, dan manusia sebagai samuderanya." ( Bisikan_H@ti)


__ADS_2