Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
69. Pantai Indah Kenangan Bersama


__ADS_3

Aslan masih terus terbawa emosi. Ia tidak peduli jika Zahrana sedang ketakutan dalam boncengannya.


Zahrana semakin mempererat pelukannya, sehingga tubuhnya menempel erat dipunggung Aslan kekasihnya. Tak ayal Aslan merasakan seperti tersengat aliran listrik ketika merasakan sentuhan hangat dari Zahrana, gadis kecil yang telah bertahta di hatinya.


Perlahan Aslan mulai bisa mengontrol emosinya. Ia baru menyadari jika ia telah menyakiti Zahrana kekasihnya. Diliriknya sekilas pergelangan tangan Zahrana terlihat merah di kulit putih mulusnya, akibat cengkeraman tangan kekar Aslan yang terlalu kuat.


"Ana ... maafkan kakak karena telah menyakitimu," bisik hati Aslan.


Aslan pun menggenggam lembut jemari tangan Zahrana yang sedang melingkar erat dipinggangnya. Aslan merasa bersalah melihat tanda merah di pergelangan tangan gadis kecil kesayangannya.


Menyadari jika Aslan mulai melunak, Zahrana pun semakin mempererat pelukannya. Ia pun menyandarkan wajahnya dibahu punggung Aslan.


Aslan perlahan mulai memperlambat laju kuda besinya. Ia tidak menyadari jika dari kejauhan Rivandra dan teman-teman Zahrana lainnya sedang mengejar mereka.


Melihat Zahrana begitu mesra mendekap Aslan dari belakang membuat Rivandra hilang konsentrasi. Untuk saat ini, giliran Rivandra yang terbakar api cemburu.


Namun, Rivandra terus mengejar Zahrana dan Aslan. Sebab, ia ingin tahu kemana Aslan hendak membawa kekasihnya. Rivandra pun ingin meminta kejelasan apa hubungan Zahrana dan kakak Nandini Sukma Dewi sebenarnya?


Karena Rivandra terlalu fokus melihat kemesraan Aslan dan Zahrana Bidadari kecilnya, Rivandra tidak menyadari jika didepannya ada kucing yang hendak melintasi jalan raya. Nyaris Rivandra ingin menabrak kucing tersebut, namun ia masih mampu mengimbangi kuda besinya. Sehingga ia pun nge-rem mendadak.


"Awww ... Aku masih ingin hidup!" pekik Kirana Larasati.


Kirana pun mendadak bersentuhan dengan punggung Rivandra, ia refleks melingkarkan tangannya di pinggang Rivandra Dinata Admaja. Karena Rivandra yang tiba-tiba nge-rem mendadak.


Laju kendaraan Rivandra pun mulai stabil, namun kedua tangan Kirana Larasati masih melingkar erat dipinggang Rivandra.


Rivandra pun menepuk wajahnya pelan, ia baru menyadari jika dari sejak tadi ia berboncengan dengan Kirana Larasati, sahabat kekasihnya Zahrana.


"Maaf ... Aku tidak menyadari jika ada kamu bersama ku," ucap Rivandra. Ia merasa tidak nyaman berdekapan dengan wanita yang bukan kekasihnya. Dalam benak Rivandra hanya ada Zahrana di hatinya tiada yang lain.


Kirana Larasati baru menyadari keteledorannya. Ia merasa sangat malu sebab telah lancang melingkarkan tangannya di pinggang Rivandra.


"Maaf ... Aku refleks kak, sebab tadi kakak tiba-tiba rem mendadak." Kirana membela dirinya.


"Iya ... " hanya sepatah kata yang Rivandra ucapkan.


Kirana Larasati pun melerai dekapannya.


"Benar kata Nandini jika kak Rivan itu beruang kutub, sikapnya dingin seperti es balok. Hanya terhadap Zahrana saja ia bersikap manis. Beruntungnya dirimu Ra ... bisa di cintai sosok seperti kak Rivandra. Aku sangat menyesal kenapa bisa menyimpan rasa pada kak Rivandra. Saat berada di dekat ku pun ia masih terus memikirkan Zahrana," cicit Kirana Larasati.


***


Sementara dari arah belakang.


"Kak, jangan ngebut-ngebut dong! yang bermasalah Zahrana dan kak Aslan juga kak Rivandra. Salah-salah nyawa kita yang melayang," oceh Fadhilah seraya menyandarkan dagunya di bahu kiri Virgantara. Sementara siku tangan kanannya bersandar di bahu kanan Virgantara.


"Anak kecil, kok bawel sekali. Diam-diam di belakang kenapa? bilang aja loe betah bersandar di bahu gue. Tapi tenang saja anggap gue ini kakak loe, yang akan melindungi loe!" seloroh Virgantara.

__ADS_1


"Jadi teman istimewa ku pun boleh," cicit Fadhilah dalam hati seraya senyam-senyum sendiri.


Virgantara melirik wajah imut Fadhilah dari kaca spion.


"Pakai cengengesan segala, bilang saja loe mengagumi ketampanan seorang Virgantara Dinata Admaja," seloroh Virgantara.


Fadhilah tersipu malu, memang benar adanya dari sejak awal pertemuan dengan Virgantara Kakaknya Rivandra. Memang hanya Fadhilah yang kentara mengagumi sosok Virgantara.


"Malah diam ... berarti benarkan loe mengagumi kakak mu ini?" pungkas Virgantara yang memang hanya mengganggap Fadhilah layaknya seorang adik. Sebab ia tidak punya saudara perempuan. Kecuali Rivandra Dinata Admaja adik laki-lakinya satu-satunya.


Fadhilah hanya memanyunkan bibirnya.


"Nasib ... nasib ... mentang-mentang aku masih anak ingusan, masih kecil masih bau kencur. Jadi, sedikitpun tak ada rasanya untuk ku," gumam Fadhilah dalam hati.


***


"Hubby ... sepertinya kita kehilangan jejak Zahrana dan kak Aslan. Tadi mereka melintasi jalan patung Gajah itu, berarti mereka hendak menuju Pantai Indah Kenangan Bersama," ujar Nandini Sukma Dewi pada Arjuna Restu Pamungkas.


"Iya Honey, kita balik arah lagi. Merepotkan sekali mereka, masih seperti anak-anak kecil saja. Main kucing-kucingan," celutuk Arjuna.


"Bukannya main kucing-kucingan Hubby, aku takut kak Aslan berbuat yang tidak-tidak dengan Zahrana. Sepertinya Princess Zahra ketahuan mendua. Kau lihat sendiri bagaimana aksi kejar-kejaran mereka. Kak Rivandra nekat mengejar Zahrana dan kakak ku."


"Jadi, Zahrana selama ini menduakan Sepupu ku Rivandra dengan kakak mu Honey? Aku benar-benar tidak menyangka Zahrana yang terkenal dengan sosok yang lembut,baik, cantik dan anggun, atau apalah namanya. Pokoknya yang baik-baik ada dalam dirinya. Kok bisa mendua pula," pungkas Arjuna tidak percaya dengan apa yang di lihat dan didengarnya.


"Namanya khilaf Hubby. Kak Aslan dan kak Rivandra pun hadir tanpa diduga dalam kehidupan Zahrana. Mereka sama-sama mengungkapkan perasaannya pada Zahrana dalam waktu yang hampir bersamaan."


"Mungkin Zahrana bingung harus memilih antara dua pilihan, sebab kak Aslan dan kak Rivandra sama-sama memiliki kharisma yang luar biasa. Sehingga Zahrana tidak memiliki keberanian untuk menolak salah satu dari mereka. Sebab kedua-duanya sangat tulus mencintai Zahrana. Terutama kakak ku Aslan, benar-benar bucin parah pada Zahra. Kalau sampai Zahrana menolaknya entah apa jadinya," tutur Nandini.


"Honey, berarti dirimu dan teman-teman mu tahu jika Zahrana selama ini mendua."


"Hemmm ... " ucap Nandini.


"Aku benar-benar tidak menyangka. Tega sekali kalian bersekongkol dengan Zahrana. Awas saja jika dirimu pun melakukan hal yang sama, menduakan cinta ku dengan siapa itu nama teman sekelas mu itu," ujar Arjuna.


"Maksudmu Si Kutu Buku alias Zainal Abidin itu ya, Hubby? tanya Nandini seraya menimpuk Arjuna."


"Iya ... " ucap Arjuna datar.


"Deg ... " jantung Nandini rasanya mau copot, hendak keluar dari tempatnya.


"Sudah Hubby ... sekarang tujuan kita hendak mengejar Zahrana dan kak Aslan, juga kak Rivandra bukan malah membicarakan masalah pribadi kita," pungkas Nandini mengalihkan pembicaraan. Ia, tidak mau sampai ketahuan Arjuna. Sebab ia pun menaruh perasaan terhadap Zainal Abidin. Hanya bedanya Nandini lebih memilih Arjuna. Ia lebih menjaga satu hati, ketimbang mendua seperti Zahrana sahabatnya.


***


Di Pantai Indah Kenangan Bersama.


Aslan menepikan motor gedenya, di salah satu dedaunan yang rimbun di tepi pantai. Nampaklah desir ombak yang mengharu biru di lautan pantai.

__ADS_1


Pasir putih menghampar luas, bebatuan nampak begitu membentang rapi di sepanjang pesisir pantai.


Langit pun terlihat cerah, betapa indah ciptaan Sang Maha Krekator. Sejauh mata memandang sungguh menentramkan jiwa dan memanjakan mata yang memandangnya.


Namun, tidak dengan Aslan Abdurrahman Syatir. Ia nampak terlihat mendung dan bermuram durja, lantaran cintanya yang telah di khianati oleh Bidadari kecil kesayangannya.


Aslan membawa Zahrana duduk di pondok kecil dekat pantai, di saksikan oleh desiran ombak dan batu betumpang yang berdiri kokoh di hadapan mereka. Seolah batu betumpang tersebut melambangkan cinta sejati antara dua insan.


Namun, tidak dengan Aslan dan Zahrana, cinta mereka seolah terenggut dan hampir-hampir tak terselamatkan oleh percikan noda-noda hitam yang telah di sematkan oleh Sang Bidadari kecil yang mempesona seperti Zahrana. Sehingga pandangan mata kaum Adam seolah terhipnotis oleh kecantikan alami Zahrana.


Mereka tidak menyadari, jika Bunga Desa itu kini bertumbuh menjadi mawar berduri, siapa pun yang terlena oleh pesonanya tak ayal akan tertusuk oleh durinya.


Ada luka yang tak berdarah kini menganga lebar disudut hati Aslan Abdurrahman Syatir. Ia benar-benar kecewa dengan Bidadari kecil di hadapannya.


Lima belas menit sudah mereka duduk manis di pondok kecil yang ada di tepi pantai. Tidak ada satu pun di antara mereka yang berani membuka suaranya.


Aslan dan Zahrana sama-sama bungkam, tidak tahu harus memulai kata dari sudut pandang yang mana. Mereka tenggelam pada pikirannya masing-masing.


Deburan ombak terus menggulung, angin semilir menerpa wajah keduanya.


Aslan menyugar rambutnya, sedangkan Zahrana membiarkan rambut hitam panjang dan bergelombangnya tergerai Indah. Sehingga nampaklah wajah imut Zahrana terpancar indah oleh kecantikan alami yang memang sudah tercipta dengan begitu sempurnanya.


Kulit putih mulus, bermata sipit, berhidung mancung, berbulu mata lentik, mulut kecil mungil dengan bibir merekah alami, terlihat ranum nan cantik. Meskipun postur tubuh Zahrana hanya sebatas dada bidang Aslan, namun itu lah uniknya. Zahrana tetap terlihat anggun dan mempesona.


"Kak Aslan ... " ucap Zahrana memberanikan diri.


Zahrana memberanikan diri untuk menggenggam kedua jemari tangan Aslan yang masih berstatus kekasihnya.


Aslan menoleh kearah Zahrana. Ia memperhatikan nanar wajah kekasihnya dengan wajah yang teramat sendu. Ia tidak sanggup jika harus berpisah dengan Bidadari kecilnya. Namun, ia pun tidak bisa menutupi rasa kecewanya terhadap Sang Pujaan hatinya.


"Kak, jangan tatap Ana begitu! Ana minta maaf karena telah menduakan cinta kak Aslan dan kak Rivandra Dinata Admaja. Ana terpaksa melakukan itu kak, kalian berdua hadir dalam hidupku secara bersamaan. Kalian mencintai ku dengan cara yang berbeda namun penuh cinta dan ketulusan yang terakhir dari lubuk hati terdalam."


"Sungguh ... Aku tidak bisa memilih diantara dua pilihan. Kak Aslan atau kak Rivandra cinta ku sebenarnya?"


"Sungguh ... Aku tidak pernah berniat sedikitpun mempermainkan perasaan kalian berdua, tapi ini lah diriku dengan segala kekurangan ku."


"Aku masih gadis kecil Kak, sungguh aku belum memahami apa arti cinta itu sebenarnya. Aku berusaha mencari jati diriku yang sebenarnya, dan akupun menyadari apa yang aku lakukan ini ternyata salah."


"Aku justru menyalahkan api derita dan kekecewaan antara diriku,dirimu dan juga dirinya."


"Jika bisa di putar waktu yang telah berlalu aku lebih memilih untuk tidak pacaran dan menolak kehadiran kalian dalam hidupku."


"Tempo hari aku pernah menggoreskan tinta pena ku, sanggupkah dirimu menerima segala kenyataan yang terjadi jika cinta kita di warnai oleh orang ketiga?"


"Hari ini, detik ini juga aku ikhlas menerima segala konsekwensinya dari apa yang telah ku perbuat. Aku tidak akan lari dari kenyataan, jika hari ini kak Aslan atau pun kak Rivandra ingin pergi dari kehidupan ku, pergilah Kak! Aku tidak akan menghalangi langkah kalian."


"Aku akui ... disini aku yang salah sebab telah memasukkan kalian dalam benang-benang cinta segitiga."

__ADS_1


Zahrana pun melerai genggaman tangannya dari Aslan Abdurrahman Syatir. Ia pun segera beranjak dari tempat duduknya.


Zahrana berdiri tegak memandang jauh kedepan, menatap langit biru dan deburan ombak yang bergelombang. Hatinya pun terasa perih, bulir airmatanya pun kini perlahan menganak sungai membasahi pipi mulusnya. Mengenang percintaannya yang teramat menyesakkan dadanya, ditengah usianya yang masih belia. Ia tidak menyangka jika harus tercebur kedalam lembah dosa dan kemaksiatan yang semakin menjeratnya kedalam lumpur dosa yang tak terelakkan.


__ADS_2