Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
40 . Stay in here! Pilih aku atau dia?


__ADS_3

Nandini masuk ke dalam ruang kelas dengan nafas ngos-ngosan,ia tampak lelah berlari menjauh dari pandangan Arjuna Restu Pamungkas dan Zainal Abidin yang begitu kentara memperebutkannya.


"Ya Allah...Din,kamu kenapa? Zahrana mana?",tanya Hafidzah pada Nandini.


"Iya,loe seperti di kejar bull dog saja", celutuk Fadhilah ikut menimpali.


Namun, Nandini tidak segera menjawab, nafasnya masih memburu akibat terlalu kencang berlari.


"Ini,minum dulu!"...titah Hafidzah seraya memberikan botol minumnya pada Nandini.


"Terimakasih Dzah", tutur Nandini pada Hafidzah.


"Loe sebenarnya kenapa sih Din? beneran di kejar bull dog alias anjing galak?",tanya Fadhilah semakin penasaran.


Nandini menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Bukan Dhil, gue di kejar dua lebah, untung gue segera berlari, jika tidak mereka akan menyerangku, sudah pasti aku akan terkena gigitannya jika aku tidak segera menghindar", seloroh Nandini menyebutkan kata dua lebah pada Arjuna Restu Pamungkas dan Zainal Abidin.


Nandini tidak menyadari jika Zainal Abidin sudah berada di dekatnya.


"Lebah itu sudah datang hendak memberikan racunnya pada mu,ayo keluar kelas!... itu suara Pak Umar Hadi Guru olahraga sudah menggelegar membelah angkasa, microfonnya hampir pecah memanggil murid-murid yang masih belum siap berkumpul dihalaman sekolah guna melakukan senam pagi", tutur Zainal pada Nandini seraya menarik pergelangan tangan Nandini menuju halaman sekolah hendak melakukan senam pagi.


"Deg"... jantung Nandini terasa copot,ia tak menyangka jika Zainal Abidin hari ini begitu posesif dan sangat perhatian terhadapnya, padahal di hari biasanya mereka selalu berdebat, tidak pernah akur.


Nandini tidak menyangka jika Zainal Abidin mengejarnya sampai ke kelas, bukan segera berkumpul di halaman sekolah, malah mengekorinya dari belakang.


Nandini tidak bisa menolak lagi, sebab Zainal Abidin begitu erat menggenggam tangannya.Ia pun mengikuti langkah Zainal Abidin.


Sementara Hafidzah dan Fadhillah malah bengong melihat tindak tanduk Zainal Abidin dan Nandini sahabatnya.


"Mereka kenapa yach? apa mungkin mereka jadian?", tanya Fadhillah pada Hafidzah.


"Husss...Dhil, tidak ada istilah jadian ataupun pacaran, kita masih sangat dini sekali untuk merasakan itu semua,aku lelah menasehati kalian setiap hari, itu kenapa Nandini yang biasanya galak,kok dengan mudah sekali menuruti ajakan Zainal Abidin", ucap Hafidzah dengan hela nafas berat.


Sejujurnya, Hafidzah keberatan jika teman-temannya sampai berpacaran di usia mereka yang masih sangat belia, untuk saat ini yang Hafidzah pikirkan hanyalah fokus belajar dan belajar,selain itu tidak ada lagi.


Fadhilah hanya terdiam mendengarkan kultum Hafidzah yang kerap kali sangat menyentuh hatinya.


"Iya deh,Dzah...mari kita segera berkumpul di halaman sekolah, itu murid-murid sudah pada berbaris rapi,eh Cinta dan Kirana kemana yach? apa mereka nongkring di warung Bik Nur lagi? kenapa tidak kelihatan batang hidungnya?"tanya Fadhillah pada Hafidzah disela-sela perjalanan mereka.


"Tarraaa..."teriak Cinta dan Kirana dari arah belakang mengagetkan Fadhilah dan Hafidzah.

__ADS_1


"Astaghfirullahal'adzim"... ucap Fadhilah dan Hafidzah hampir bersamaan seraya memegang dadanya yang terasa copot oleh teriakan Cinta dan Kirana.


"Kalian darimana saja sich!... orang sudah hendak melakukan kegiatan senam pagi, kalian masih keluyuran kemana-mana", protes Fadhilah.


"Biasalah Dzah, nongkring...jajan di warung Bik Nur", ujar Cinta dan Kirana kompak sembari menguyah cemilan keripik singkong.


"Dasar Ratu jajan dan Ratu ngemil kalian!"seloroh Fadhilah pada Cinta dan Kirana.


"Sudah... sudah... kalian ini jika bertemu tiada habisnya berkelakar", ucap Hafidzah menegahi.


"Oh, iya... Zahrana kemana yach? dari sejak tadi tidak kelihatan batang hidungnya, apa ia tidak masuk sekolah atau datang kesiangan?"ujar Hafidzah cemas.


Fadhilah, Cinta dan Kirana pun baru menyadari jika kehadiran Zahrana tidak ada di sisi mereka.


Cinta dan Kirana baru teringat dengan insiden yang menimpa Zahrana sahabat mereka di Padepokan Buya Harun, ketika hendak menuruni anak tangga Padepokan Zahrana hampir terjatuh sebab ujung mukenanya tersangkut salah satu anak tangga hingga Zahrana mengalami cidera kakinya terkilir.


"OMG(Oh My God)!...aku ingat Yusuf Amri Nufail Syairazy, pemuda tampan nan Sholeh", celutuk Cinta yang terbayang-bayang wajah Yusuf ketika sedang mendaras Qur'an, juga bahasa tubuhnya yang begitu tulus dan lembut, menolong, memapah dan menggendong Zahrana,Cinta seolah-olah membayangkan berada di posisi Zahrana.


"Hey!"... pekik Kirana Larasati sembari menepuk bahu Cinta Kiara Khoirani.


"Jangan asyik berhayal!... nggak enak tahu jadi Zahrana harus mengalami cidera hingga kakinya harus terkilir sampai tidak bisa masuk sekolah seperti sekarang ini", celutuk Kirana Larasati pada Cinta Kiara Khoirani.


Namun, belum sempat mereka berujar, suara Pak Umar Hadi Guru olahraga mereka semakin menggelegar membelah angkasa.


***


"Anak-anak...senam pagi akan segera di mulai!... yang masih dalam kelas atau yang sedang bersantai ria,mari segera bergabung disini!"titah Pak Umar Hadi pada seluruh Siswa-siswi kelas 1,2 dan 3 tanpa terkecuali.


Murid-murid pun segera berkumpul dan berbaris rapi sesuai kelasnya masing-masing, tak terkecuali Hafidzah, Fadhilah, Kirana Larasati, Cinta Kiara Khoirani, Nandini Sukma Dewi dan Zainal Abidin.Mereka memang satu kelas, jadi tetap satu barisan walaupun ada jarak berapa langkah agar tidak saling tabrakan satu sama lain ketika kegiatan senam pagi sedang berlangsung.


Senam pagi pun berjalan dengan lancar, murid-murid dan juga semua Bapak dan Ibu guru sangat menikmati sekali alunan musik senam Poco-Poco yang sedang berlangsung,senam pagi era 90 an.😁😁😁


Nampak lah Siswa perempuan yang berdiri paling depan mewakili senam Poco-Poco adalah Priska Prahara dan Adelia Kencana Puteri.Mereka berdua memang sangat menguasai gerakan senam Poco-Poco kala itu, jadi mereka lah Siswi yang ditunjukkan oleh Pak Umar Hadi memimpin gerakan senam, sebagai panduan untuk seluruh murid-murid agar lebih mudah meniru dan melakukan senam pagi dengan lebih baik dan penuh semangat.


Dari arah baris kelas 3 A, nampaklah sepasang netra menatap penuh arti pada Nandini Sukma Dewi yang begitu semangat melakukan gerakan senam Poco-Poco, namun pandangan itu tiba-tiba berubah menjadi tatapan sinis, Arjuna Restu Pamungkas menjadi berang, sebab melihat Nandini bersebelahan dengan Zainal Abidin Si Kutu Buku.


"Anak itu lagi... berani-beraninya ia berdekatan dengan gadisku,ku pastikan gadis itu secepatnya akan menjadi wanitaku,"bathin Arjuna dengan nafas yang memburu dipenuhi rasa cemburu pada sosok Zainal Abidin yang sejak pagi tadi menjadi sok pahlawan untuk Nandini.Aksi tarik menarik memperebutkan Nandini masih teringat jelas di benak Arjuna Restu Pamungkas.


Nandini tidak sengaja melirik kearah Arjuna, yang sejak tadi menatapnya penuh arti.


"Deg!..."Jantung Nandini seraya ingin melompat melihat tatapan Arjuna yang mematikan.

__ADS_1


"Ya Tuhan jangan sampai aku termakan rayuan gombalnya sehingga membuat ku tercebur ke dalam pelukannya",bathin Nandini sembari tetap melakukan gerakan senam Poco-Poco dengan ritme santai, semangatnya menjadi melemah melihat tatapan Arjuna.


Sementara, di baris tengah yang tak jauh dari Arjuna nampaklah Rivandra Dinata Admaja pun dari sejak tadi memandang ke segala penjuru,namun netranya tidak menemukan sosok yang ia cari.


"Zahrana... dimanakah gerangan dirimu?kenapa sejak tadi tidak kelihatan? aku sangat rindu padamu mu",bathin Rivandra hilang semangat ditengah dentuman musik irama senam Poco-Poco.


Hari ini adalah hari yang sangat menyiksa untuk Rivandra Dinata Admaja, sebab Sang Bidadari kecilnya Zahrana tidak menampakkan batang hidungnya.Rivandra belum mengetahui jika Zahrana sedang sakit dan tidak masuk sekolah hari ini.Usai senam pagi Rivandra berniat ingin menemui Zahrana di Kelasnya.


Senam Poco-Poco pun, akhirnya usai.Para murid-murid ada yang masuk kedalam kelas,ada yang langsung ke kantin sekolah guna melepaskan dahaga dengan membeli segelas es buatan Mang Dul yang paling dingin dan melegakan di tenggorokan.


Fadhilah dan Hafidzah lebih memilih ke kelas untuk menyantap bekal yang sengaja mereka bawa dari rumah juga meneguk sebotol air putih milik mereka sendiri, sekedar melepaskan dahaga akibat keringat yang mengucur deras setelah aktivitas senam pagi.


Sedangkan Cinta dan Kirana lebih memilih nongkring di kantin sekolah, diikuti oleh Nandini dan Zainal Abidin yang mengekori mereka dari belakang.


"Si Kutu Buku!... kenapa kau hari ini posesif sekali, selalu mengekori langka ku, aku bisa sendiri,aku tak butuh bodyguard!"cercah Nandini pada Zainal Abidin.


"Maaf hari ini aku harus menjaga mu dari segala bentuk kerusuhan dan pandangan mata jal***", timpal Zainal Abidin sembari menunjuk ke arah Arjuna Restu Pamungkas juga Genk Star Adelia Kencana Puteri dan Priska Prahara dan Zainal tidak ingin lagi mendengar keributan yang menimpa gadis metalnya lagi.


"Apa pedulimu pada ku Si Kutu Buku,aku bukan apa-apa untuk mu!...sarkas Nandini.


Zainal Abidin tertegun sejenak tanpa aba-aba ia menarik pergelangan tangan Nandini dan membawanya masuk kedalam kantin, kemudian memesan es jeruk dua gelas pada Mang Dul.Nandini serasa mati kutu, pagi tadi ia harus mengikuti keinginan Arjuna Restu Pamungkas untuk Nebeng dengannya, dan sekarang ia dibuat terpana oleh perlakuan manis Zainal Abidin padanya.


"Ya Allah...aku merasa dikelilingi oleh dua lebah, mereka benar-benar menyentuh hatiku dengan cara mereka masing-masing.Inikah rasanya cinta segitiga yang di alami oleh Zahrana,kak Aslan,kak Rivandra juga Yusuf Amri Nufail Syairazy yang memperebutkan seorang Bidadari kecil seperti Zahrana?"gumam Nandini bertanya-tanya dalam hati.


"Cieee...cieee... yang lagi kasmaran!"... seloroh Cinta dan Kirana bersamaan setelah mengetahui keberadaan dan kedekatan Nandini dan Si Kutu Buku alias Zainal Abidin, mereka baru menyadari jika Nandini sahabatnya sedang PDKT dengan teman debatnya Zainal Abidin.


"Ternyata benar rasa benci pada seseorang bisa berubah menjadi cinta", ucap Cinta Kiara Khoirani menggoda Nandini dan Zainal Abidin yang nampak terlihat canggung satu sama lain.


"Dan perasaan cinta itu berasal dari mata lalu turun ke hati!..."ucap Kirana Larasati ikut menimpali.


"Sayang sekali Zahrana, Fadhilah dan Hafidzah tidak ada di sini mereka pasti akan ikut terperangah dan tak percaya jika seorang Nandini gadis metal bisa terjebak rasa cinta terhadap musuhnya sendiri alias teman debatnya setiap hari,"seloroh Cinta lagi tiada habisnya menggoda Nandini sahabatnya.


"Eh... tapi lebih baik tidak ada kehadiran Hafidzah disini pasti ia akan kembali dengan kultumnya, sebab ia kan anti pacaran habis kita diceramahinya."Celutuk Kirana Larasati sembari terkekeh geli seolah membayangkan kultum Hafidzah seperti biasanya.


Wajah Nandini semakin merona,ia merasa malu kepada dunia jika mereka semua sampai mengetahui,Nandini seorang gadis metal bisa falling in love juga.


"Cin, Kir... sudah berkelakarnya!....seru Nandini pada Cinta dan Kirana Larasati,ia hendak mengajak kedua sahabatnya beranjak dari kantin sekolah, hendak menjauh dari pandangan Zainal Abidin.


Namun... belum sempat Nandini, Cinta dan Kirana beranjak pergi, sebuah tangan kekar menarik pergelangan tangan Nandini.


"Tunggu Baby!stay in here!... pilih aku atau dia?"tanya Arjuna Restu Pamungkas tiba-tiba pada Nandini,seraya menunjukkan telunjuknya pada Zainal Abidin yang sejak tadi nampak betah menikmati kebersamaannya dengan Nandini, walaupun sebenarnya hatinya tidak rela untuk Nandini menentukan pilihan,pilih ia Arjuna Restu Pamungkas atau Zainal Abidin Si Kutu Buku?

__ADS_1


__ADS_2