Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
91 . Pertemuan Terakhir


__ADS_3

Rivandra masih terus memandangi lautan yang biru. Ia nampak berpikir keras, ia ingin lepas dari bayang-bayang Zahrana. Ia tidak ingin terus larut dalam kesedihan.


"Menangisi sesuatu yang telah pergi, itu adalah suatu kebodohan. Aku tidak boleh begini, aku harus kuat. Benar kata Kirana masih banyak hal yang harus dilakukan untuk masa depan, ketimbang dari sekedar memikirkan urusan percintaan apalagi sampai patah hati dan berlarut-larut dalam kesedihan."


"Aku tidak boleh lemah, aku harus kuat!" bathin Rivandra Dinata Admaja.


Rivandra menatap lekat nanar wajah Kirana Larasati yang kini masih setia menemaninya sejak tadi.


Kirana Larasati tertunduk malu, wajahnya merona ketika menyadari Rivandra menetap lekak nanar wajahnya.


"Ma-af," ucap Rivandra gelagapan. Ia baru menyadari jika ia terpesona dengan gadis manis dihadapannya.


"Terimakasih, Kirana Larasati dari sejak tadi kau masih setia menemani ku di sini. Ini adalah hari terakhir kita bersua dengan teman-teman semua. Setelah ini aku hendak melanjutkan studi ku di luar kota. Aku tidak akan pernah lagi menampakkan wajah ku disini. Aku ingin menguburkan kenangan ku bersama Zahrana."


" Aku akan menuntut ilmu di Pondok Pesantren yang ada di Ibukota Jakarta dan aku pun nantinya akan menempuh Perguruan Tinggi di sana. Insya Allah aku akan mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri di sana. Tepatnya di Universitas Agama Islam Negeri Jakarta," ucap Rivandra dengan nada serius.


Bulir air mata Kirana Larasati seketika tumpah, hatinya pilu. Barulah ia ingin mereguk manisnya kebersamaan dengan Rivandra. Menemaninya untuk menghilangkan kegalauan Rivandra terhadap Zahrana sahabatnya.


Kirana mengira gayungnya akan segera bersambut, namun jauh api daripada panggang. Rivandra pun akan segera hilang dari pandangannya.


Jika berpisah jarak hanya seputaran provinsi tempat tinggalnya, yang masih dalam satu nauangan. Tentu lah Kirana tidak akan terlalu sedih, namun berpisah beda provinsi membuat Kirana Larasati merasa sesak.


Tidak ada harapan untuk Kirana bersama Rivandra, kecuali ia pun harus mengubur perasaannya dalam-dalam.


Mencegah Rivandra untuk menghentikan niat baiknya untuk menempuh pendidikan Agama Islam itu sangatlah tidak mungkin. Sebab itu adalah suatu kemuliaan, karena sejatinya menuntut ilmu pengetahuan Agama Islam itu wajib bagi seorang muslim. Tidak ada alasan untuk Kirana mencegahnya, jika itu adalah suatu hal yang baik. Mengingat Ilmu Agama Islam itu adalah bekal seorang insan untuk menggapai kebahagiaan dunia akhirat hingga bisa meraih JANNAHnya.


Sejatinya kita diciptakan didunia ini bukan hanya sekedar untuk bermain-main atau sekedar bersenda gurau atau hanya sekedar numpang minum saja atau pun hanya sekedar memenuhi hawa nafsu semata.


Hakikatnya kita diciptakan oleh Allah Subhanahuwata'ala dengan tujuan untuk beribadah hanya kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah yang termaktub dalam kitab suci Al-Qur'an yang bunyinya :


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُو


“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz Dzariyat: 56).


Ayat di atas jelas menyebutkan tujuan diciptakan manusia adalah untuk beribadah, hanya untuk menyembah Allah Subhanahuwata'ala semata. Ayat ini pun mengisyaratkan pentingnya tauhid, karena tauhid adalah bentuk ibadah yang paling agung, mengesakan Allah dalam ibadah kita.


Ayat ini juga mengisyaratkan pentingnya beramal, setelah tujuan pertama manusia diciptakan adalah agar berilmu. Maka buah dari ilmu adalah beramal. Tidaklah ilmu dicari dan dipelajari kecuali untuk diamalkan. Sebagaimana pohon, tidaklah ditanam kecuali untuk mendapatkan buahnya. Karena ilmu adalah buah dari amal.


Berpedoman dari ayat tersebut tidak ada alasan untuk Kirana Larasati menghalangi kepergian Rivandra Dinata Admaja untuk mengenyam pendidikan yang berbasis ilmu pengetahuan dan Al Qur'an. Pun hanya karena biduk cinta yang semu yang hanya berkutat pada keinginan nafsu sesaat.


Kirana pun menyadari jika Rivandra Dinata Admaja adalah jodohnya, insya Allah mereka pun akan bersua kembali dan akan bertemu di pelaminan. Untuk apa menabur janji cinta dan mengungkapkan rasa jika hanya untuk menyemai benih luka dan kesengsaraan jiwa.


Cukup Zahrana dan teman-temannya yang lainnya mengalami pasang surut dalam duduk keimanannya. Semua itu sungguh hanya rasa sesaat yang berbalut hawa nafsu belaka. Jika tidak mampu kita untuk meredamnya akan terjadilah kisah cinta terlarang berkabut noda-noda dosa, lantaran menyentuh sesuatu yang belum halal baginya sehingga menjerumuskan kedalam bentuk perzinahan yang lebih dalam lagi.


Sesungguh merugi bagi jiwa-jiwa yang sempat terjatuh dalam perzinahan, salah satunya pacaran seperti yang pernah di lakukan oleh Zahrana khususnya. Namun, Zahrana belum menyadari itu semua ia seolah tenggelam dalam buaian cinta yang semu yang memporak-porandakan duduk keimanannya.


Sejatinya keimanan akan bertambah jika di iringi dengan amal sholeh, dan akan berkurang jika di iringi dengan kemaksiatan. Itu lah sedang di alami oleh Zahrana kini. Ia sedang di uji oleh perkara buruk yang semakin menyesatkannya dirinya dalam jerat lumpur dosa yang menggerogoti jiwa mudanya.


***


Kembali pada cerita Kirana Larasati dan Rivandra Dinata Admaja.


Kirana Larasati mengusap derai air matanya, yang dengan sendirinya mengalir deras di kedua pelupuk matanya. Ia telah pun ikhlas dengan pertemuan terakhirnya dengan Rivandra Dinata Admaja yang sejak 8 bulan terakhir ini telah pun bertahta di hatinya. Ia memilih memendam perasaannya, walaupun secara bahasa tubuh jagat raya dan semesta alam pun tahu jika ia kentara menaruh rasa terhadap Rivandra Dinata Admaja. Namun, Kirana berusaha untuk menyembunyikan perasaannya.


"Hey ... kamu menangis? adakah ucapanku yang tidak berkenan di hati mu, Kirana?" tanya Rivandra penuh simpati.


"Ma-af kak, tidak ada ucapan kakak yang menyakiti ku, aku hanya terharu dengan niat baik mu yang ingin menempuh pendidikan Agama Islam yang lebih kaffah ( menyeluruh tanpa terkecuali )," ucap Kirana Larasati. Ia berusaha menetralkan perasaannya agar tak terbaca oleh Rivandra raut kesedihan dihatinya.


"Terimakasih atas dukungannya," ucap Rivandra dengan senyum manis di lesung pipinya.


Kirana ikut bahagia melihat senyuman manis yang kini menghiasi wajah Rivandra.


Di tengah cengkerama antara Kirana Larasati dan Rivandra hadirlah Fadhilah dan Virgantara Dinata Admaja hendak bergabung bersama mereka.


"Hai, Dek. Nampaknya asyik sekali ceritanya? Yang benar diri mu ingin melanjutkan pendidikan di Ibukota Jakarta? sedalam itukah luka di hatimu hingga kau harus mengasingkan diri diluar provinsi kita?" tanya Virgantara pada adiknya Rivandra.


"Tapi, kakak salut dengan niat baik mu. Pasti Ayah dan Ibu senang mendengarnya," ucap Virgantara.


"Insya Allah kak, bismillah ... semoga Allah meridhoinya dan memudahkan urusan ku di sana nantinya."

__ADS_1


"Itu berarti kau akan menempuh pendidikan kurang lebih 7 tahun disana, yach?" Virgantara nampak sedih jika harus berpisah lama dengan adik semata wayangnya.


"Tenang saja Kak, pas liburan semester Rivandra akan pulang kok ke tanah kelahiran kita." Rivandra dan Virgantara pun saling merangkul dan menguatkan bahu masing-masing.


Melihat interaksi kedua adik beradik itu pun membuat Kirana dan Fadhillah merasa tertegun.


"Eh, Kir. Ini es cream untuk mu! katanya kalau kita lagi bersedih hati kita pun akan merasa tenang dengan makan es cream." Fadhilah seperti memahami kegalauan Kirana sahabatnya, namun ia tidak mau terlalu ikut campur dan menerka-nerka.


"Ini juga snack untuk mu, tadi kak Virgantara yang membelikan semuanya untuk ku. Katanya aku boleh memilih cemilan apa saja, jadi ku borong apa yang ku mau." Wajah Fadhilah tanpa riang gembira, sebab segala cemilan yang ia mau di belikan oleh Virgantara terhadapnya.


"Maa syaa Allah ... banyak betul, Dhil. Loe laper apa kesurupan?" tanya Kirana dengan raut wajah kagetnya.


"Udah ambil aja, mumpung gratis!" pungkas Fadhilah. Ia merasa terkekeh geli melihat ekspresi wajah Kirana Larasati.


"Kok bengong, ngemil aja Kir. Jangan sungkan dengan pria dewasa ini. Anggap saja ia tidak melihat kita," ucap Fadhilah seraya melirik ke arah Virgantara yang nampak terlihat tampan sekali dengan gaya cool-nya.


"Iya, terimakasih Dhill." Kirana Larasati pun ikut menikmati es cream dan beberapa cemilan yang di bawakan oleh Fadhilah.


"Kak Rivan, apa kau mau juga? ini es cream untuk mu, kita ngemil bersama. Biar hati kakak pun ikut adem."


Rivandra pun mengambil es cream dari tangan Kirana Larasati. Mereka pun nampak menikmati suapan demi suapan es cream yang masuk ke mulutnya.


Kirana tidak menyadari jika sisa es cream masih membekas di sudut bibirnya.


Rivandra refleks membersihkan sisa es cream yang belepotan dibibir tipis Kirana Larasati menggunakan sapu tangannya.


Jantung hati Kirana pun terasa berdegup kencang dengan perlakuan Rivandra terhadapnya. Seketika mereka berdua pun beradu pandang. Bayangkan saja ketika adegan tersebut kita sedang mendengarkan lirik lagu Acha Septriasa dan Irwansyah yang berjudul Ada Cinta.😁😁


💘 Ada Cinta 💘


Ucapkanlah kasih


Satu kata yang ku nantikan


Sebab ku tak mampu membaca matamu


Nyanyikanlah kasih


Senandung kata hatimu


Sebab ku tak sanggup


Mengartikan getar ini


Sebab ku meragu pada dirimu


Mengapa berat


Ungkapkan cinta


Padahal ia terasa


Dalam rindu dendam


Hening malam


Cinta terasa ada


Nyanyikanlah kasih


Senandung kata hatimu


Sebab ku tak sanggup


Mengartikan getar ini


Sebab ku meragu pada dirimu


Mengapa berat

__ADS_1


Ungkapkan cinta


Padahal ia terasa


Dalam rindu dendam


Hening malam


Cinta terasa ada


Mengapa berat


Ungkapkan cinta


Padahal ia ada


Dalam rinai hujan


Dalam terang bulan


Juga dalam sedu sedan


Mengapa (mengapa) sulit


Mengaku cinta (cinta)


Padahal ia terasa (terasa)


Dalam rindu dendam


Hening malam


Cinta (oh cinta) terasa ada


Kirana Larasati dan Rivandra Dinata Admaja pun masih terus memandangi satu sama lain. Mereka berdua tidak menyadari jika masih ada Fadhilah dan Virgantara di sisi mereka.


"Kirana Larasati ... getaran apa yang kurasakan ini? mungkinkah aku jatuh hati pada mu? Tidak ... Aku tidak ingin secepat ini berlabuh! cukup dengan Zahrana aku merasakan rasa itu sebelumnya. Walaupun rasa ini terasa ada terhadap mu Kirana Larasati, namun ku tak ingin ini berlanjut lebih lama lagi. Lebih baik kita tidak saling mengungkapkan rasa daripada akhirnya terluka perih," bathin Rivandra.


"Untuk saat ini, aku ingin fokus dengan pendidikan ku dulu. Aku ingin mengejar cita-cita dan impian ku di masa depan nanti, aku tidak ingin ada cinta lagi yang bertumbuh dihatiku. Kan ku tepis segala rasa di hatiku, maafkan aku Kirana Larasati yang sempat terbersit rasa pada mu." Rivandra terus bermonolog di dalam hatinya.


"Kak Rivandra ... tatapan mu yang indah itu sungguh sangat menyentuh hati ku, namun berat rasanya ku ungkapkan segala rasa ku. Sebab diriku tak mau tenggelam dalam lautan api asmara. Biar rasa ini ku kubur bersama segala impian ku, semoga suatu saat nanti kita dapat bersua kembali pada saat yang tepat saat di mana kita sudah sama-sama beranjak dewasa. Walaupun ada rasa cinta dihatiku terhadap mu, aku tak ingin kau tahu itu. Biarlah aku bersama dengan rasa ku sendiri dan kau pun bersama rasa mu sendiri." Kirana Larasati berbisik di dalam hati kecilnya.


"Ehemmm ... " Virgantara dan Fadhillah sama-sama berdehem, sehingga membuat Kirana Larasati dan Rivandra tersadar dari keterpanaannya.


"OMG ... yang sedang di landa asmara, aku dan kak Virgan di anggap angin lewat." Fadhilah protes.


"Iya nih, sepertinya ada yang sedang kasmaran." Virgantara ikut menggoda adiknya Rivandra dan Kirana Larasati.


"Ceeilee ... Tak ku sangka disini ada cinta yang mulai bertumbuh, di sela-sela pertemuan akhir perpisahan." Nandini yang tiba-tiba datang bersama kekasihnya Arjuna Restu Pamungkas, mereka pun ikut nimbrung menggoda Kirana Larasati dan Rivandra.


"Hemmmm ... ternyata sahabat seperjuangan ku satu bangku ku, kini pun hampir melepaskan masa jomblonya." Cinta Kiara Khoirani pun tiba-tiba ikut berseloroh sembari bertengger di pundak Rangga Sahadewa kekasihnya.


Sementara Zahrana menatap dari kejauhan interaksi antara Kirana Larasati dan Rivandra Dinata Admaja yang pernah menjadi teman istimewanya.


"Ya Allah ... seperih ini kah rasa cinta yang tak bermakna ini. Kenapa aku belum ikhlas melihat interaksi antara Kak Rivandra Dinata Admaja? egokah aku dengan rasa ku?" bisik hati Zahrana.


Di tengah ketermenungan Zahrana ada tubuh kekar yang memeluknya erat dari arah belakang tubuhnya.


"Kak Aslan ... kau?" ucap Zahrana menggantung.


Aslan semakin erat mendekap tubuh mungil Zahrana. Ia tidak rela jika tatapan Zahrana tertuju pada Rivandra Dinata Admaja dan Kirana Larasati.


Baginya, Zahrana hanyalah miliknya seorang, tiada yang lain.


🌷🌷🌷


Pencerahan 👉 Pecinta sejati akan mencintai pasangannya dengan sepenuh hati dan memperlakukannya dengan baik untuk mendapatkan kebahagiaan.


Sementara itu, cinta berlandaskan nafsu memang sama-sama membahagiakan, tapi itu hanya sementara saja. Kebahagiaan atas dasar nafsu akan membawa seseorang pada penyesalan.

__ADS_1


__ADS_2