Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
106 . Terkesima


__ADS_3

Hijab segiempat lebar dan panjang yang dikenakan Zahrana tampak melambai-lambai di terpa angin yang berhembus. Wajah Zahrana pun tampak bercahaya dan mempesona. Ia kini benar-benar telah bermetamorfosa menjadi muslimah yang sesungguhnya.


Zahrana mengenakan rok hitam polos semata kaki, berpadu dengan atasan muslim putih dan jilbab hitam dengan sedikit bordir bunga yang mengelilingi sudut jilbab segiempatnya. Dan tak lupa aksesoris bross ia pasangkan guna menghiasi jilbab yang di kenakannya.


Nampaklah Zahrana seperti Remaja Mesjid dan aktivis dakwah yang sering mengikuti berbagai kegiatan kajian dan ceramah pada zamannya.


Sekarang sudah memasuki era tahun 20xx. Zahrana benar-benar tidak menyangka jika akhirnya ia pun bisa menutup auratnya secara seperti sekarang ini. Ya, katakanlah walaupun ia masih sering juga mengenakan kerudung gaul mengikuti trendnya seperti selebritis Zaskia Adya Mecca pada zamannya. Setidaknya Zahrana telah bermetamorfosa menjadi sosok wanita muslimah seperti yang di harapkan oleh Ayah dan Bundanya.


Zahrana kerepotan membawa koper bajunya dan barang-barang lainnya. Di saat ia ingin mempercepat langkahnya melewati rumah megah dan mewah itu. Sosok Aslan Abdurrahman Syatir tiba-tiba keluar dari counter "Aslan Cell" miliknya.


"Ana!" detak jantung Aslan seakan bergetar hebat. Betapa selama ini ia begitu merindukan sosok Zahrana yang telah menghilang dari kehidupannya semenjak berapa tahun terakhir ini.


Hilangnya Zahrana membuat Aslan bersikap dingin terhadap semua kaum hawa. Ia tidak pernah membuka hatinya terhadap wanita manapun. Cintanya telah terkubur mati di dalam hatinya hanya untuk Tsamirah Zahrana Az Zahra.


Aslan refleks menghampiri Zahrana.


"Ana!"


Zahrana menoleh.


"Kak Aslan!" tubuh Zahrana terasa gemetaran ketika melihat sosok Aslan Abdurrahman Syatir yang kini berdiri tegak di hadapannya.


"Ana! kau kah ini?"


Aslan diam mematung melihat pesona Zahrana yang berbalut hijab syar'i yang di kenakannya. Seluruh tubuh Zahrana nampak tertutup sempurna dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Ingin sekali Aslan mendekap Zahrana untuk melepaskan segala kerinduan dihatinya yang selama ini menderanya.


Namun, melihat pesona Zahrana yang nampak anggun dan bercahaya dengan hijab yang di kenakannya. Rasa canggung dan malu pun menyelinap di dalam hati kecil Aslan Abdurrahman Syatir.


"Apa kabar mu, Ana?" Aslan menjulurkan tangannya berharap Zahrana menyambut uluran tangannya.


"Alhamdulillah ... Zahra ba-ik, Kak." Zahrana menelungkupkan tangannya di dadanya, membuat Aslan semakin terkesima dengan budipekerti dan pesona Zahrana.


Aslan memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Ia nampak tersipu malu melihat perubahan yang terjadi dalam diri Zahrana. Ia benar-benar terkesima dengan sosok Bidadari kecilnya dulu kini benar-benar telah bermetamorfosa menjadi sosok wanita muslimah yang sesungguhnya.


"Ana ... a-ku biar aku membantu mu!" Aslan segera mengambil alih koper dan barang-barang Zahrana lainnya, hingga Zahrana hanya membawa tangan kosong. Kecuali yang tersisa hanyalah tas selempang kecil di bahunya, tempat dompet dan dokumen penting lainnya yang masih utuh pada Zahrana.


Zahrana ingin menolak tawaran Aslan. Namun benda berukuran persegi panjang berdering dari dalam tas kecil miliknya.


"Kring ...."

__ADS_1


"Kring ...."


"Kring ... " bunyi deringan tersebut seolah menghentikan pembicaraan antara Zahrana dan Aslan Abdurrahman Syatir.


Zahrana pun segera membuka handphone Nokia 3315 miliknya. Ia pun segera menjawab panggilan tersebut.


📞 "Assalamu'alaikum ... "


📞 "Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... kamu sudah sampai di mana, Nak? Ayah dan Bunda sudah menunggu kehadiranmu di sini!" ucap Bunda Fatimah.


📞 "Zahra sebentar lagi sampai kok, Bun."


📞 "Iya, Nak. Bunda tunggu kedatangannya, Bunda sudah kangen dengan Zahra."


📞 "Iya, Bunda. Zahra juga kangen dengan Ayah Bunda," ucap Zahrana dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Zahrana pun segera menutup panggilan telfonnya. Tak lupa pula ia menutup percakapannya dengan salam kepada Bundanya.


By the way, Anak-anak di era tahun 2000 an tentu kenal dengan handphone jadul yang di kenakan oleh Zahrana tersebut. Handphone Nokia 3315 tersebutlah menjadi gadget pertama yang di miliki oleh Zahrana, yang saat itu belum ada yang namanya layar touchscreen dan lain sebagainya.


Nokia 3315 hanya bisa di gunakan untuk SMS dan telpon saja ya, guys?😁😁


"Hemmm ... " Handphone Nokia 3315 adalah salah satu alat komunikasi yang paling brand di era Zahrana tempo dulu. Banyak sekali teman-teman sekolah Zahrana di SMK Negeri 1 XX mengenakan Handphone jadul tersebut. Namun zaman sekarang handphone jadul tersebut telah tergeser pamornya oleh berbagai merk smartphone yang lebih canggih lagi berbasis Android touchscreen dan lain-lain, tentunya semua itu seiring dengan perkembangan zaman ya, guys?😁😁


Kembali kepada Aslan dan Zahrana.


"Biarkan Zahra saja yang bawa kak, tidak usah repot-repot!" ucap Zahrana tak enak hati.


Zahrana benar-benar menghindari bersitatap dengan Aslan Abdurrahman Syatir. Ia benar-benar menjaga pandangannya, tak ingin lagi kisah masa lalu di antara mereka terulang kembali.


Zahrana benar-benar telah menutup rapat pintu hatinya terhadap Aslan Abdurrahman Syatir. Bukan karena ia tidak memiliki rasa terhadap lawan jenisnya, tapi Zahrana takut akan murka Rabb-Nya. Ia takut kembali berbuat dosa dan maksiat sebagaimana ia takut dilemparkan kedalam api neraka setelah hidayah itu pun menyapanya.


Zahrana akan melabuhkan cintanya pada sosok laki-laki yang akan menjadi imamnya di masa depan nanti di saat ia benar-benar telah pun pantas mengikat janji suci pernikahan.


Dalam bayangan Zahrana kini, hanya ada sosok pemuda Sholih yang pernah memberikannya bingkisan buku-buku islami dan juga Mukena dan hijab syar'i yang di kenakan Zahrana saat ini adalah pemberian Yusuf Amri Nufail Syairazy. Pemuda yang selalu di impikan Zahrana dalam kurun waktu 3 tahun terakhir ini.


"Ana, izinkan aku untuk sekedar membantu mu membawa perlengkapan mu dan jangan pernah menolak. Anggap ini adalah uluran tangan dari seorang sahabat," ucap Aslan seraya menatap lekat nanar wajah Zahrana.


Aslan semakin terkesima dengan pesona Zahrana yang kini nampak semakin terpancar kecantikan alaminya di usianya yang kini sudah menginjak 17 tahun.


"Tsamirah Zahrana Az Zahra ... pesona mu sangat luar biasa, rona wajahmu terpancar indah dari sinar keimanan yang kini menyinari hati dan jiwa mu. Maafkan aku yang dulu pernah menodai kepolosan mu, hari ini aku berjanji tidak akan pernah menyakiti mu, Ana!"

__ADS_1


"Aku ingin menjadikan mu Bidadari dunia dan akhirat ku, Ana! semoga kau pun merasakan hal yang sama terhadap ku. Semoga dirimu berkenan menjadi permaisuri hati ku, sebagaimana janji ku dulu." Aslan berbisik di dalam hatinya.


Menyadari Aslan menatapnya intens, Zahrana menundukkan pandangannya.


"Ma-af kak, Zahra harus pergi!" ucap Zahrana dengan terbata.


Tubuh Zahrana terasa gemetaran. Sebab, selama 4 tahun terakhir ini ia tidak pernah lagi berdekatan, bersentuhan apalagi berpandangan dengan laki-laki yang bukan mahramnya.


Zahrana ingin mengambil alih barang bawaannya dari tangan Aslan. Namun ia tidak berani sebab khawatir akan bersentuhan dengan yang bukan mahramnya. Cukup dimasa lalu ia melakukan kesalahan dan dosa besar bersama laki-laki yang dulu pernah menjadi masa lalunya itu.


Zahrana pun akhirnya mengalah. Ia mempersilakan Aslan berjalan duluan, sedangkan ia cukup mengekori dari belakang.


Aslan pun menuruti keinginan Zahrana yang tidak ingin beriringan dengannya. Namun, Aslan merasa bangga sebab bisa membawa barang-barang Zahrana.


Setelah sekian lama hati Aslan membeku. Kini pun mencair oleh kehadiran dan pertemuannya dengan sosok Bidadari yang telah lama ia rindukan itu.


Aslan tidak menyadari jika dari dalam Toko interaksi antara ia dan Zahrana tertangkap indera penglihatan Ibu Ratna Anjani.


"Benarkah Puteri Buya Harun telah kembali? Aku tidak rela jika Zahrana merebut kembali hati anak ku Aslan. Cukup dulu aku kecolongan, jika mereka berdua pernah pacaran."


"Aku sudah memilihkan jodoh yang terbaik dan sepadan untuk Aslan," cicit Ibu Ratna Anjani dengan seringai liciknya.


"Ibu! ada apa?" tanya Nandini penasaran. Sebab melihat gelagat ibunya yang seperti sedang meredam emosi.


"Ti-tidak, tidak ada apa-apa, Nak." Ibu Ratna Anjani terlihat gelagapan. Ia tidak ingin Nandini tahu akan kepulangan Zahrana dari kota S.


"Ma-af Nak, Ibu tidak ingin kau mengetahui kehadiran Zahrana. Ibu tidak ingin kalian berteman akrab seperti dulu. Zahra memberi pengaruh buruk untuk mu," bathin Ibu Ratna. Ia tidak henti-hentinya menilai buruk tentang Zahrana.


Nandini mengeryitkan dahinya. Ia sangat paham jika Ibunya sedang tidak baik-baik saja. Namun, Nandini tidak ingin mencari tahu apa yang terjadi dengan Ibunya.


"Baiklah, Bu. Nandini ingin izin keluar Bu, nanti Nandini akan keluar dengan Cinta dan Kirana, ada acara party teman Nandini Bu di Kafe XX. Semua teman-teman di undang untuk hadir di acara ulang tahunnya yang ke 19 tahun, Bu."


"Acaranya sekitar pukul 19.00 Wib. Ba'da Ashar kami akan segera kumpul bersama, sebab perjalanan ke Kafe XX sekitar satu jam perjalanan."


"Jika bersama Cinta dan Kirana kamu boleh pergi, Nak. Jika bersama yang lain Ibu tidak mengizinkan," tegas Ibu Ratna Anjani.


Nandini nampak sumringah. Ia bahagia sebab ibunya mengizinkannya untuk menghadiri party tersebut.


"Kak Arjuna Restu Pamungkas, tunggu aku! Aku akan menghadiri party mu," bisikan hati Nandini Sukma Dewi.


🌷🌷🌷

__ADS_1


Pencerahan 👉"Jauhilah dengki, karena dengki memakan amal kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar. Ketika kamu tidak mengerti apa yang terjadi dalam hidupmu, tutup saja mata kamu, tarik napas dalam-dalam dan katakan, "Ya Allah, aku tahu ini adalah rencana-Mu, bantu aku melewatinya."


__ADS_2