
Zahrana pun menerima tissue dari pemuda tersebut, ia hampir saja berteriak histeris dan spot jantungnya ketika melihat sosok pemuda yang berbalut jubah syar'i dengan sorban yang di kenakannya.
Zahrana baru menyadari siapa pemuda yang kini berada di sampingnya. Sebab, dari sejak tadi ia tidak menyadari mobil siapa yang telah ditumpangi olehnya.
"Kau ... bukankah kau---?"
Zahrana menjeda kalimatnya, ia hampir-hampir terpana dan terkesima dengan sosok pemuda yang ada dihadapannya.
Senyuman yang manis itu, kesantunan bahasa dan budipekertinya benar-benar mengingatkannya pada sosok pemuda Sholih yang selama ini sangat dirindukan olehnya.
"Hemmmm ... kenapa menatap ku seperti itu? apa ada yang salah dari diri ku?" tanya pemuda tersebut terhadap Zahrana.
"Ma-af, hampir saja aku salah menduga. Aku kira kau adalah kak Yus---?"
"Tapi, ya sudah lah lupakan saja, mungkin ini hanya halu ku saja. Sebab kau sangat mirip sekali dengannya," ucap Zahrana tertunduk malu.
"Ya Allah ... kenapa dirinya selalu mengingatkan ku tentang sosok kak Yusuf? Aku merindukan mu kak, mungkinkah kita bisa bertemu kembali? mungkinkah kita berdua akan berjodoh nantinya? 4 tahun sudah kepergian mu di negara Piramida itu, masihkah kau ingat tentang ku? ataukah kau pun telah melupakan ku?" bathin Zahrana.
"Hemmm ... sepertinya orang yang kau sebutkan sangat mirip dengan diriku itu sangat spesial sekali, hingga setiap bertemu dengan ku, kau selalu mengira diriku ini adalah dirinya," ucap pemuda tersebut.
Pemuda tampan dan religius tersebut tersenyum manis ke arah Zahrana, kemudian ia pun segera memalingkan wajahnya kedepan, fokus untuk menyetir agar bisa mengalihkan pandangannya terhadap Zahrana yang memang bukan mahramnya.
Begitu pun dengan Zahrana, ia memalingkan wajahnya keluar jendela mobil. Sejatinya, Zahrana dan pemuda tersebut pun merasakan getaran yang sama, ketika manik mata mereka berdua tidak sengaja saling bertemu pandang, keduanya pun sama-sama terpana dengan kepribadian masing-masing.
Yang satu mendambakan sosok wanita yang Sholihah, yang satu mendambakan sosok pemuda yang Sholih.
Tak dapat dipungkiri bahwa keduanya pun saling mengagumi satu sama lain, entah kagum karena budipekerti, atau bahkan lebih hanya waktu yang mampu menjawabnya, namun mereka berusaha saling menjaga hati agar tak lepas kendali.
Seketika mereka berdua pun saling diam, suasana pun terlihat hening oleh terpakunya dua anak manusia tersebut.
"Jadi, kakak hendak kemana? terimakasih sudah membantu Zahra keluar dari masalah, setidak-tidaknya Zahra bisa menghindari kak Aslan," ucap Zahrana berusaha menetralkan ritme jantungnya.
"Mengantarkan mu sampai ke tujuan, barulah aku akan itikaf di Mesjid Al Hidayah yang tak jauh dari alamat yang kau tuju."
Zahrana melihat jam di ponselnya.
"Astagfirullah ... hari ini kan hari Jum'at, jadi kakak hendak sholat Jum'at kah? lalu toko buahnya siapa yang jaga?" tanya Zahrana basa-basi pada sosok pemuda yang bernama Muhammad Zaid Arkana tersebut.
"Tokonya aku tutup dulu sementara, ba'da Jum'at baru di buka lagi!" ucap MZ Arkana dengan gaya santainya.
Iya, pemuda yang berjubah syar'i dan menggunakan sorban putih itu adalah sosok pemuda yang pernah menahan Zahrana dan Aslan tempo hari ketika sedang ribut di dalam mobil. Ketika hendak pulang larut malam setelah mengantarkan Nandini ke rumah sakit. Karena di kira mereka berdua adalah pasangan mesum.
Muhammad Zaid Arkana, selain berperan menjadi petugas keamanan di malam hari. Ia pun memiliki Toko buah yang tidak jauh dari kota S. Namun, toko buahnya jika malam hari Ummi dan Abinya yang menjaganya. Itu pun pukul 20.00 wib toko buahnya pun sudah tutup, tidak beroperasi lagi.
__ADS_1
"Alhamdulillah ... rumah yang kau tuju sudah sampai, rumah berlantai dua itu kah rumah milik kakak mu?" tanya MZ Arkana.
"Iya, terimakasih kak!"
Zahrana segera turun dari mobil milik MZ Arkana.
"Terimakasih, kak. Atas tumpangannya."
"Sama-sama, Dik. Jika ada keperluan simpan saja kartu nama ku, di situ tertera nomor ponsel ku."
Zahrana pun tanpa pikir panjang mengambil kartu nama Muhammad Zaid Arkana. Ia pun segera beranjak menuju rumah kakaknya Sabrina.
Setelah berpamitan dan mengucapkan salam pada Zahrana, MZ Arkana pun segera melajukan mobilnya menuju Mesjid Al Hidayah untuk itikaf di Mesjid sembari menunggu waktu shalat Jum'at di mulai.
"Assalamu'alaikum ... Kak Sabri, Zahra datang, Kak."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... maa syaa Allah, Dek. Kenapa tidak menelfon duluan? mari masuk!" ucap Sabrina.
Sabrina pun memeluk dan mencium adik kesayangannya itu.
"Yumna dan Shaka mana, Kak?"
"Shaka baru saja tidur siang, tadi habis bermain baru terasa lelah mungkin. Yumna nanti di jemput oleh Mas Fardhan nanti di sekolahnya," ucap Sabrina.
"Ya Allah ... jangan sampai aku bersitatap lagi dengan kak Aslan, aku bersyukur sekali bisa bertemu dengan kak Zaid, setidaknya ia bisa menjadi penyelamat ku dari hadapan kak Aslan."
"Ya Allah ... kenapa aku tiba-tiba terpikir dengan hansip itu? Ia benar-benar mirip sekali dengan kak Yusuf. Apa ia dia kembaran atau duplikat kak Yusuf? sepertinya tidak mungkin?" bathin Zahrana.
Akhirnya, ia pun terlelap membawa pemikirannya dalam alam bawah sadarnya.
***
Di Mesjid Al Hidayah.
MZ Arkana terlihat sedang tidak khusuk dalam itikafnya.
"Astagfirullah .... haruskah aku mengulangi wudhu ku yang ketiga kalinya. Mungkinkah aku benar-benar terpana dengan gadis kecil itu? kenapa aku merasa tidak tega ketika melihatnya menangis?"
"Tsamirah Zahrana Az Zahra, pesona mu benar-benar telah memikat hati dan jiwa ku. Ya Allah ... kuatkan lah duduk keimanan hamba, tolong jaga ke istiqomahan hamba di jalan-Mu."
"25 tahun sudah, usia ini bergulir, belum pernah hamba merasakan getaran hebat seperti ini. Benarkah aku jatuh hati pada mu wahai Bidadari dunia akhirat?" MZ Arkana terus bertanya-tanya didalam hatinya.
Muhammad Zaid Arkana pun segera mengulangi wudhunya dan segera berzikir sembari menunggu waktu shalat Jum'at tiba, ia pun mendaras Qur'an. Dengan khusu'nya, ia pun membaca surat Al Kahfi yang memang di anjurkan dibaca pada hari Jum'at yang begitu banyak memiliki keutamaan, sebagai mana yang di sabdakan oleh Nabi besar Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam dalam haditsnya :
__ADS_1
مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِي
Artinya: "Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada malam Jum'at, dia akan disinari cahaya antara dia dan Ka'bah."
مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ
Artinya: "Barangsiapa membaca sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, maka ia akan terlindungi dari fitnah Dajjal." (HR Ibnu Hibban).
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ، سَطَعَ لَهُ نُورٌ مِنْ تَحْتِ قَدَمِهِ إِلَى عَنَانِ السَّمَاءِ، يُضِيءُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وغُفر لَهُ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ "
Artinya: "Barang siapa yang membaca Surat Al-Kahfi pada hari Jumat, akan dibentangkan baginya cahaya mulai dari bawah telapak kakinya sampai ke langit. Cahaya itu akan memancarkan sinar baginya pada hari kiamat. Dan ia akan mendapatkan ampunan dari Allah di antara dua Jumat." (HR. Abu Bakr bin Mardawaih).
Selain itu, keutamaan surat Al-Kahfi juga jadi pengingat kita terhadap hari kiamat. Hal ini tertulis dalam surat Al-Kahfi ayat 47 yang berbunyi,
وَيَوْمَ نُسَيِّرُ ٱلْجِبَالَ وَتَرَى ٱلْأَرْضَ بَارِزَةً وَحَشَرْنَٰهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا
Artinya : "Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan dapat melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan seorangpun dari mereka."
Dari Abdullah bin Mughaffal, Rasulullah bersabda,
"Sebuah rumah yang selalu dibacakan surat Al-Kahfi dan surat Al-Baqarah maka rumah itu tidak akan dimasuki setan sepanjang malam tersebut. Dengan demikian, bacalah surat Al-Kahfi agar terhindar dari gangguan setan yang terkutuk." (HR Ibnu Mardawah)
Berpedoman pada hadits di atas, MZ Arkana terus mendaras surat Al Kahfi hingga sampai di ayat ke 110, ia pun mengakhiri tilawahnya, baru lah ia merasakan ketenangan. Kerisauan di hatinya yang sejak tadi gelisah, oleh sebab terus terpikirkan dengan sosok Bidadari yang telah membuatnya terpana kini pun perlahan berganti ketenangan. Godaan demi godaan syetan itu pun dapat ia tepis dengan wasilah membaca surat Al Kahfi.
"Alhamdulillah ... ya Rabb, terimakasih atas segala ketenangan hati dan jiwa yang telah Engkau berikan pada hamba yang dhoif ini. Bagaimana pun hamba juga memiliki rasa terhadap lawan jenis, setebal apa pun iman ku, entah kenapa berhadapan dengan gadis kecil itu membuat ku terpana oleh pesonanya," bisikan hati Muhammad Zaid Arkana.
MZ Arkana pun terus berzikir sembari menunggu waktu shalat Jum'at tiba. Hari sudah menunjukkan pukul 11.20 Wib. Mesjid Al Hidayah perlahan dipenuhi para Ikhwan yang hendak bersiap-siap menanti sholat Jum'at di mulai.
***
"Ya Allah ... kita kehilangan jejak Zahrana," ucap Aslan terlihat sangat prustasi dengan menghilangnya Zahrana dari hadapan mereka.
"Mungkin Zahra sudah berada di rumah kakaknya, sepertinya kita tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya," ucap Kirana Larasati santai. Ia sangat paham betul jika Zahrana benar-benar ingin menghindari Aslan Abdurrahman Syatir.
"Iya, Kak. Aku sudah telfon and kirim pesan padanya, namun belum diangkat,chatpun belum dibalas," ucap Fadhillah.
"Ya sudah ... lebih baik kakak singgah dulu di Mesjid Al Hidayah, sebab 30 menit lagi sudah sholat Jum'at," ucap Cinta menambahi.
"Iya kak, benar apa kata Cinta sebaiknya kakak bersiap-siap untuk sholat Jum'at dulu. Biar hatinya lebih Plong, " ucap Kirana Larasati .
"Baiklah, kita ke Mesjid Al Hidayah! kalian tunggu di dalam mobil, jangan kemana-mana kecuali hal yang penting, tunggu kakak sampai selesai sholat Jum'at," titah Aslan pada ketiga gadis remaja itu.
🌷🌷🌷
__ADS_1
Pencerahan 👉 “ Lelaki yang baik tidak akan bermain-main dengan cinta, sebab dia tahu kata cinta menuntut tanggung jawab.”