
Hari ini menjadi hari berakhirnya masa putih abu-abu Zahrana dan teman-temannya. Mereka semua nampak tersenyum bahagia dengan keberhasilan masing-masing.
"Ya Allah ... terimakasih atas semua nikmat yang telah engkau anugerahkan kepada kami ya Rabb. Nikmat sehat dan juga yang lainnya. Jika semua kebutuhan yang kami perlukan sudah tersedia dengan sebagai mana mestinya, lalu nikmat tuhanmu yang manakah yang hendak kau dustakan?" cicit Zahrana.
Zahrana pun kembali ke rumah kakaknya Sabrina, sedangkan Buya Harun dan Bunda Fatimah kembali pulang ke Desa, setelah mengambil kelulusan Zahrana.
"Ayah-Bunda, Zahra akan selalu merindukan Ayah dan Bunda. Maafkan Zahra karena belum bisa balik ke Desa, Zahra ingin belajar mandiri dan mencari pekerjaan di kota S." Zahrana menangis haru, ia pun memeluk Ayah dan Bundanya bergantian.
"Kamu jaga diri baik-baik, ya Nak!" Bunda Fatimah memeluk dan mencium kening Zahrana. Tangis haru pun menghiasi keduanya.
Buya Harun pun mengelus pucuk kepala Puterinya. "Jaga diri mu baik-baik, Nak! jadilah wanita muslimah yang berhiaskan iman dan taqwa. Jauhilah pergaulan bebas dan yang semisalnya, kau boleh berteman dengan siapa saja. Namun, jaga batasan mu dengan yang bukan mahram mu, Nak! kau kini sudah beranjak dewasa," ucap Buya Harun dengan mata yang berkaca-kaca.
Buya Harun berharap Zahrana benar-benar bisa menjadi wanita muslimah yang sesungguhnya, tetap istiqamah di jalan-Nya hingga akhir nafas kehidupan.
"Nenek, Kakek!" pekik Shaka dan Yumna menghamburkan diri kedalam pelukan Buya Harun dan Bunda Fatimah.
"Nenek dan kakek kok cepat sekali pulangnya?" tanya Yumna.
"Iya, Nek. Shaka dan kak Yumna masih ingin bermain dengan Nenek dan Kakek," ucap Shaka dengan raut wajah sedihnya.
"Insya Allah, nanti Nenek dan Kakek akan kemari lagi. Nenek harus pulang dulu, sebab kakek harus menyelesaikan pekerjaannya di Desa, memberikan ayam-ayam peliharaannya juga merawat kebunnya," ucap Bunda Fatimah dengan mengelus pucuk kepala Shaka.
Shaka pun melepaskan kepergian Buya Harun dan Bunda Fatimah.
"Sabrina, tolong jaga adik mu Zahrana, ya? jika ia melakukan kesalahan, teruslah untuk selalu menasehatinya. Didik adik mu berdasarkan tingkat kematangannya," ucap Bunda Fatimah dengan memeluk Sabrina.
"Sampaikan salam Buya pada Nak Fardhan, ayah dan bunda pamit dulu."
Fardhan Arkan, suaminya Sabrina sedang fokus bekerja, menjaga toko sembakonya di pasar XX dekat kota S. Jadi, ia tidak mengetahui jika mertuanya hendak pulang ke Desa.
Buya Harun dan Bunda Fatimah pun menunggu mobil Bis di pinggir jalan. Hampir 20 menit berlalu mereka tetap setia menunggu, namun belum ada satu pun mobil Bis yang lewat. Hingga akhirnya mobil Avanza putih pun berhenti di hadapan keduanya.
__ADS_1
"Tit ... tit ... tit ... " seorang pemuda yang berada di dalam mobil tersebut pun terlihat menekan klakson mobil beberapa kali. Ia pun langsung menepikan mobilnya dan segera beranjak menghampiri Buya Harun dan Bunda Fatimah.
"Assalamu'alaikum ... Buya, Bunda Fatimah. Hendak pulang, kah?" tanya pemuda tersebut setelah berada di dekat keduanya.
"Wa'alaikum warrahmatullahi ... iya, Nak Zaid. Kami hendak pulang ke Desa, Alhamdulillah pengambilan kelulusan puteri kami Zahrana sudah selesai." Buya Harun memberikan penjelasan pada Muhammad Zaid Arkana yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
"Kalau begitu, mari saya antarkan pulang!" tawar Muhammad Zaid Arkana.
"Tidak, Nak! biar kami menunggu mobil Bis saja," ucap Buya Harun.
"Tidak apa-apa, Buya. Mari masuk," tawar Mz Arkana.
Muhammad Zaid Arkana mengambil alih tas ransel baju dan barang-barang yang hendak di bawa Buya Harun dan Bunda Fatimah. Ia pun memasukkan semua barang-barang milik orang tua Zahrana kedalam bagasi mobilnya, sehingga kedua orang tua Zahrana pun akhirnya ikut masuk ke dalam mobil MZ Arkana.
"Terimakasih, Nak Zaid." Buya Harun nampak terpukau oleh perhatian Muhammad Zaid Arkana terhadap ia dan istrinya.
"Sama-sama, Buya." Zaid pun segera menutup pintu mobilnya.
"Kak Zaid, terimakasih sudah berkenan mengantarkan Ayah dan Bunda pulang ke rumah." Zahrana melemparkan senyuman ke arah Muhammad Zaid Arkana.
Melihat kehadiran Zahrana di sisinya membuat Zaid diam terpaku memandangi kecantikan alami Zahrana yang terpancar indah dari rona wajahnya.
"Maa syaa Allah ... Tsamirah Zahrana Az Zahra, betapa sempurnanya dirimu diciptakan!" bisikan hati Muhammad Zaid Arkana dengan terus menatap ke arah Zahrana tanpa berkedip.
Muhammad Zaid benar-benar terpukau oleh pesona Zahrana.
Menyadari jika Muhammad Zaid menatapnya intens, Zahrana pun menundukkan pandangannya.
Zaid pun memegang dadanya yang tiba-tiba berdegup kencang, oleh keterpanaannya pada Zahrana.
Sementara Buya Harun dan Bunda Fatimah pun baru menyadari jika Muhammad Zaid Arkana terpikat pada Puterinya.
__ADS_1
"Subhanallah ... jadi, Muhammad Zaid mengagumi Puteri kita? Bagaimana ini, Yah?" tanya Bunda Fatimah mulai khawatir.
"Jangan khawatir, Bun. Buya yakin Zaid pemuda yang Sholeh, ia tidak mungkin berbuat yang tidak-tidak dengan puteri kita. Ia pasti bisa menjaga batasannya," ucap Buya Harun setengah berbisik di telinga Bunda Fatimah.
Zaid pun perlahan menyadari keterpanaannya terhadap Zahrana.
"Astagfirullah ... maafkan hamba ya Rabb, sebab tidak bisa menjaga pandangan mata ini! pesona Zahrana benar-benar telah menghipnotis ku," bathin Muhammad Zaid dengan memalingkan wajahnya dari hadapan Zahrana.
"Kakak berangkat dulu, Ra. Kamu jaga diri baik-baik," ucapan Zaid segera beranjak pergi.
"Iya kak, terimakasih untuk semuanya." Zahrana pun melambaikan tangannya pada kedua orangtuanya juga pada Muhammad Zaid Arkana yang telah berkenan untuk mengantarkan orang tuanya pulang ke kampung halamannya.
Sampai akhirnya, mobil Avanza putih milik Muhammad Zaid Arkana pun hilang dari pandangan Zahrana.
Zahrana pun segera kembali masuk ke dalam rumah kakaknya Sabrina.
Zahrana melenggang masuk ke dalam kamarnya. Ia pun merebahkan tubuhnya di kasur miliknya. Hijabnya pun ia lepaskan setelah pintu kamarnya ia tutup rapat-rapat, lantaran ia khawatir tiba-tiba kakak iparnya pulang bekerja ia dalam keadaan tidak berhijab.
Sepertinya, aku harus mulai mencari informasi pekerjaan. Aku tidak ingin berlama-lama menganggur di rumah kak Sabrina," cicit Zahrana dengan mulai membuka ponselnya dan bertanya kepada teman-temannya tentang informasi pekerjaan.
"Semoga saja dalam waktu dekat aku segera mendapatkan pekerjaan yang baik dan cocok untuk ku," bathin Zahrana. Hingga berapa menit kemudian Zahrana pun terlelap dalam tidurnya.
Zahrana pun terbuai dalam mimpi indahnya setelah seharian menjalani rutinitasnya hari ini yang cukup menyenangkan baginya.
Zahrana benar-benar tertidur pulas dengan membawa sejuta kebahagiaan di hatinya. Ia benar-benar bahagia sebab telah selesai mengenyam bangku Sekolah Menengah Atasnya.
"Insya Allah, aku akan segera mendapatkan pekerjaan yang baik, halal dan berkah!" bisikan hati Zahrana sebelum terlelap.
🌷🌷🌷
...Pencerahan 👉 "Apa yang kita hadapi saat ini adalah hasil dari pilihan kita di masa lalu, bukan soal salah atau benar tapi bagaimana respon kita terhadap realita yang kita terima. Ada banyak orang yang bisa menemani, namun hanya beberapa saja yang mampu untuk memahami. Dunia itu seluas langkah kaki. Jelajahilah dan jangan pernah takut melangkah. Hanya dengan itu kita bisa mengerti kehidupan dan menyatu dengannya."...
__ADS_1