Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
225. Hampir Di Nodai


__ADS_3

Yusuf merasa lega dapat terbebas dari marabahaya, ia bersandar di tempat tidurnya. Ia tidak Habis pikir saat mendapat informasi dari kantor polisi jika yang hendak mendzoliminya adalah seorang yang pernah menjadi masa lalu Zahrana, wanita yang telah dikhitbah olehnya.


"Subhanallah, astaghfirullah! Aslan Abdurrahman Syatir? ia dalang dari semua ini? Ini benar-benar tidak bisa di biarkan, aku khawatir ia semakin melakukan hal-hal yang di luar kendali. Aku harus segera menemuinya. Kenapa ia sampai melakukan hal yang serendah ini?" bathin Yusuf dengan segera menghubungi calon istrinya Zahrana.


📞 "Assalamu'alaikum, Ra."


📞 "Wa'alaikumsalam, Kak. Kakak sudah sampai di rumah?" Zahrana nampak bahagia menerima telpon dari calon suaminya.


📞 "Alhamdulillah, sudah sejak dua jam yang lalu."


📞 "Syukurlah, Kak. Zahra senang mendengarnya."


📞 "Oh, iya Ra. Maaf, apa kamu menyimpan nomor Aslan Abdurrahman Syatir?" tanya Yusuf di balik telfon.


📞 "Punya, Kak. Untuk apa?" Zahrana mengernyitkan dahinya. Sebab, tidak biasanya Yusuf seperti itu.


📞 "Tidak apa-apa, tolong kirim untuk kakak ya? kakak ada keperluan dengan dia." Yusuf sengaja menyembunyikan permasalahan antara dirinya dan Aslan. Ia tidak ingin Zahrana khawatir.


📞 "Baiklah, Kak!" Zahrana pun mengirimkan nomor Aslan pada Yusuf.


📞 "Terimakasih, Ra. Jaga dirimu baik-baik, kakak tutup dulu telfonnya."


📞 "Iya, Kak."


Setelah saling mengucapkan salam Zahrana dan Yusuf pun mengakhiri telfonnya.


Yusuf pun segera menghubungi Aslan Abdurrahman Syatir.


"Halo, dengan siapa?" tanya Aslan di seberang telpon.


"Assalamu'alaikum, maaf saya Yusuf Amri Nufail Syairazy."


"Kamu!" Aslan nampak kaget mendengar suara Yusuf yang menelfonnya.


"Iya, aku. Alhamdulillah, aku sehat." Yusuf tersenyum dibalik telfon.


"Jadi, kau baik-baik saja?" tanya Aslan merasa tak percaya.


"Apa yang mereka kerjakan? dasar tidak becus, percuma aku bayar mereka mahal-mahal!" sungut Aslan di dalam hatinya.


"Kamu tidak perlu khawatir, Akhi. Mereka tidak sampai menyakiti ku! Mereka telah gagal sebelum berperang. Sebaiknya, hentikan niat burukmu! dan aku akan memaafkan mu! mungkin kau sedang khilaf," ucap Yusuf diseberang telfon.


Yusuf sengaja tidak memberitahukan Aslan jika orang suruhannya telah diringkus oleh pihak kepolisian.


Yusuf telah bekerja sama dengan pihak yang berwajib terkait kasus percobaan tindak kejahatan yang dilakukan oleh orang suruhan Aslan terhadapnya.


"Berdebah! kau selalu menang dari ku Yusuf Amri Nufail Syairazy! kau telah merebut Zahrana dari ku!" pekik Aslan setengah emosi.


"Maaf, jadi itu alasan mu menyuruh orang untuk mencelakai ku? sungguh sangat tidak bermoral caramu, hanya karena wanita kau nekad berbuat keji. Tidak takutkah dirimu terhadap murka dan azab Allah, oleh tindak kejahatan yang kau lakukan? kau tahu penjahat yang telah kau bayar untuk mencelakai ku adalah komplotan preman pasar yang memang telah menjadi buronan polisi selama ini. Mereka meresahkan masyarakat sebab seringkali melakukan pencurian di toko-toko dan juga terkait pencurian kendaraan bermotor yang akhir-akhir ini meresahkan masyarakat. Apa kau pun ingin terlibat dengan mereka?" gertak Yusuf, membuat Aslan terkejut. Ia juga takut jika sampai terlibat dengan gembong pencuri itu.


"Aku tidak terlibat kasus pencurian dengan mereka, aku tidak tahu sama sekali jika mereka adalah gembong pencuri." Aslan mulai melemah, ia khawatir akan diseret ke kantor polisi jika sampai para gembong penjahat itu sampai melibatkan namanya.


"Bagaimana kau bisa selamat dari serangan mereka?" tanya Aslan dengan rasa ingin tahunya.


"Kau tidak perlu tahu itu, akan tetapi satu hal ku minta dari mu jangan pernah mengusik kehidupan ku lagi! dan jangan pernah berani-beraninya mendekati Zahrana calon istri ku. Dahulu aku memang diam ketika kau masih bersamanya, akan tetapi untuk sekali ini aku tidak akan pernah membiarkan Zahrana jatuh dalam dekapan pemuda yang salah! bukannya aku merasakan diri ku suci tanpa dosa. Akan tetapi, aku berusaha memperbaiki diri ku untuk menjadi orang yang berakhlak dan tidak menghalalkan segala cara untuk mendapatkan segala keinginannya."

__ADS_1


Aslan merasa tertohok dengan ucapan Yusuf. "Awas saja kau, aku tidak akan membiarkan Zahrana menjadi milik mu!" bathin Aslan dengan setengah emosi. Ia pun mematikan teleponnya sepihak dan membanting ponselnya ke tembok hingga retak seribu.


Yusuf mengernyitkan dahinya, "Astaghfirullah! semoga saja Allah menyentuhnya dengan hidayah!" bathin Yusuf dengan membaringkan tubuhnya yang terasa lelah hingga ia pun terlelap dan memejamkan matanya setelah melantunkan dzikir dan do'a sebelum tidurnya.


***


Di kediaman Aslan Abdurrahman Syatir.


Aslan hendak menghubungi orang suruhannya, namun ponselnya telah retak sebab di lemparkannya ke dinding kamarnya.


"Semua ini gara-gara dirimu Yusuf Amri Nufail Syairazy!" umpat Aslan dengan dada bergemuruh.


"Awas saja, kau akan menyesal karena telah menolak ku Tsamirah Zahrana Az Zahra! kau harus menjadi milik ku!" bathin Aslan dengan memikirkan rencana buruk selanjutnya, setelah gagal melenyapkan Yusuf. Ia tidak mengetahui jika kini ia dalam pengintaian polisi terkait kasusnya yang terlibat percobaan tindakan kejahatan pada Yusuf Amri Nufail Syairazy calon suami Zahrana.


***


Keesokan harinya.


"Ayah, Bunda. Dan kau Raihan, adik kakak yang paling baik sejagat raya. Kakak berangkat kerja dulu, ya?" ucap Zahrana dengan menyalami punggung tangan Ayah dan Bundanya. Tak lupa pula ia mengelus pucuk kepala Raihan adiknya, Raihan pun menyalami kakaknya dengan penuh hikmat.


"Hati-hati, Nak!" ucap Bunda Fatimah dengan melambaikan tangannya pada puteri kesayangannya.


Zahrana pun segera menaiki Bis jurusan kota S, bulan ini bulan terakhir Zahrana bekerja di Aisyah Boutique Collection. Sebab, mendekati hari pernikahannya, ia sudah resign dari Boutique milik keluarga MZ Arkana.


Zahrana tidak menyadari jika dibelakangnya kini ada seorang yang sedang menguntit perjalanannya.


Aslan Abdurrahman Syatir yang dibutakan oleh cinta terhadap Zahrana kini mengikuti kemana Zahrana pergi menggunakan motor gedenya dengan style ala anak balapan, dengan jaket kulit berpadu dengan celana jeans dan sarung tangan juga helm dan sepatu yang dikenakannya, sehingga tidak ada yang dapat mengenalinya. Aslan benar-benar nekat membuntuti Zahrana ketempat kerjanya.


"Alhamdulillah, sampai juga!" gumam Zahrana dengan membuka pintu toko Aisyah Boutique Collection. Ia tidak menyadari akan kehadiran Aslan.


"Kau, siapa kau!" pekik Zahrana dengan ketakutan melihat pemuda yang kini ada di hadapannya, yang masih tertutup helm di wajahnya.


"Aku orang yang sangat menggilai mu Tsamirah Zahrana Az Zahra!" ucap Aslan dengan membuka helm dari kepalanya.


"Kak Aslan, kau!" pekik Zahrana kaget.


"Iya, ini aku. Kenapa kau tidak membalas pesan ku? kenapa kau selalu menolak ku!" ucap Aslan dengan tatapan yang tak biasa, ia benar-benar tidak bisa berpikir jernih ketika Yusuf mengatakan kepadanya jika Zahrana adalah calon istrinya.


Zahrana semakin berjalan mundur ketika Aslan semakin mendekatinya, hingga tubuhnya semakin menempel di dinding.


"Jangan mendekat kak! atau aku akan berteriak?" tegas Zahrana.


"Berteriak lah sekencangnya, di sini hanya ada kita berdua. Jawab aku kenapa kau selalu menolak ku? kenapa kau lebih memilih Yusuf dari pada ku?" ucap Aslan dengan wajah yang merah padam.


"Karena aku tidak mencintai kak Aslan, di hati Zahra kini hanya ada kak Yusuf!" pungkas Zahrana dengan nafas yang memburu. Sebab, ia khawatir Aslan akan melakukan hal yang nekat terhadapnya.


"Apa arti tulisan di atas kertas ini? jika akhirnya kau pun mengingkari janji kita?" pungkas Aslan dengan melemparkan selebaran surat yang dulu pernah di tuliskan oleh Zahrana untuknya.


"Itu hanya masa lalu kak, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi semenjak hari itu kakak telah berbuat yang tidak senonoh pada ku. Lupakan Zahra, Kak! Aku akan segera menikah dengan kak Yusuf," ucap Zahrana. Sehingga membuat Aslan semakin berang.


"Kau hanya milik ku Zahrana!" ucap Aslan dengan menarik dagu Zahrana dengan penuh nafsu.


"Lepaskan kak! kau sudah gila!" pekik Zahrana histeris.


"Aku memang sudah gila Zahrana!" ucap Aslan dengan mencium bibir Zahrana secara paksa. Namun Zahra berontak dan mengigit bibir Aslan hingga mengeluarkan darah segar dari bibir pemuda itu.

__ADS_1


Aslan meringis kesakitan, ia mengusap bibirnya yang berdarah oleh gigitan Zahrana.


"Kau sangat menjijikkan sekali, aku bersyukur tidak memilih mu menjadi pendamping ku. Aku lebih baik mati daripada harus ternoda oleh mu!" ucap Zahrana dengan mengambil gunting di atas meja kasirnya.


"Jangan mendekat atau aku akan menghabisi nyawa ku sendiri menggunakan benda tajam ini. Aku tidak sudi di sentuh oleh mu!" ancam Zahrana dengan setengah frustasi sebab Aslan nekat ingin menodainya.


"Kau jangan gila Zahrana, lepaskan benda tajam itu!" ucap Aslan berusaha menghalangi pergerakan Zahrana.


Aslan pun berhasil merebut benda tajam itu dari Zahrana, kedua tangan Zahrana pun berhasil di cekal oleh Aslan. Entah syetan apa yang merasukinya ia pun segera mengukung Zahrana hingga tidak bisa terlepas darinya.


"Lepaskan aku!" teriak Zahrana ketika Aslan hendak merenggut paksa mahkota berharganya.


"Tidak bisa Ana, kau harus menjadi milik ku! jangan pernah nekat untuk mengancam nyawa mu sendiri seperti tadi, aku sangat mencintaimu!" ucap Aslan seperti orang gila, ia hendak melancarkan aksinya menggauli Zahrana.


"Ya Allah ya Rabb, aku pasrahkan jiwa dan ragaku hidup dan matiku hanya pada-Mu!" bathin Zahrana pelan. Ia tidak mempunyai kekuatan lagi untuk melawan pergerakan Aslan yang semakin menggila. Zahrana memejamkan matanya, dengan air mata berlinang membasahi pipinya. Ia pun terkulai lemah Zahrana pingsan, sebab syok dan ketakutan dengan aksi nekat Aslan.


Menyadari tidak ada lagi pergerakan dari Zahrana, Aslan pun menghentikan aksi nekadnya. Ia tidak ingin menodai Zahrana dalam keadaan tak berdaya.


Bagaimana pun, Aslan masih memiliki rasa iba dihatinya pada wanita yang sangat di cintainya itu.


"Zahra, bangun! maafkan aku!" ucap Aslan di dera rasa frustasi, ia pun terus menepuk-nepuk pipi Zahrana dan merengkuh gadis yang sudah tidak berdaya itu.


Bugh


Bugh


Bugh


Seseorang menghajar Aslan dari arah belakang habis-habisan. Hingga menyebabkan Aslan tersungkur.


"Apa yang kau lakukan padanya?" teriak Zaid dengan tak henti memukul Aslan yang sedang lengah dan tidak menyadari akan kehadirannya.


Zaid yang baru datang hendak meninjau Boutique miliknya pun, di buat penasaran. Pintu toko tertutup, namun di luar ada motor gede di parkiran juga sandal lelaki dan perempuan membuat Zaid menerobos masuk ke dalam.


Melihat Zahrana lemah tak berdaya dalam Kungkungan Aslan, membuat Zaid naik pitam. Dan memukul Aslan tanpa henti, meskipun tubuhnya kecil mungil tidak menghalanginya untuk memberikan pukulan pada tubuh kekar Aslan dengan ilmu beladiri yang dimilikinya.


Aslan seketika tumbang oleh pukulan Zaid yang sedang di landa amarah, ketika melihat wanita yang di pujanya hendak di nodai oleh Aslan kakaknya Nandini Sukma Dewi.


"Tak ku sangka kau sangat bejat!" umpat Zaid hendak memukul Aslan yang terlihat lemah tak berdaya. Namun ia urungkan, sebab pantang baginya memukul orang yang sudah tak berdaya.


"Kau tidak apa-apa, Ra?" Zaid menutup gamis Zahrana yang sempat tersingkap oleh Aslan.


"Astaghfirullah! kau harus ku serahkan pada pihak yang berwajib," sungut Zaid dengan menelfon petugas kepolisian. Ia pun meringkus Aslan yang terbaring lemah dengan menggunakan tali rafia untuk mengikat tangan dan kakinya.


Zaid mengoleskan indera penciuman Zahrana dengan minyak angin, membuat Zahrana mengerjapkan matanya. "Ja-jangan, menjauhlah!" ucap Zahrana ketakutan.


Zahrana trauma ketika mengingat dirinya hampir ternodai oleh sosok Aslan yang pernah menjadi masa lalunya.


"Tenang, Ra. Jangan takut, aku Zaid. Dia sudah ku ringkus," terang Zaid dengan menenangkan Zahrana yang terlihat ketakutan melihatnya.


💔💔💔


Untaian mutiara hikmah 👉"Setiap bilah memiliki dua sisi; dia yang melukai dirinya sendiri dan dengan yang melukai yang lain. Balas dendam selalu merupakan kesenangan lemah dari pikiran kecil dan sempit. Ketika rasa sakit bertemu dengan dendam. Maka benci adalah keturunannya. Terkadang kamu harus ikhlas dan membiarkan karma mengambil alih. Balas dendam hanya akan memecah belah. Hidup ini terlalu singkat jika hanya digunakan untuk memendam dendam yang berkepanjangan."


__ADS_1


__ADS_2