Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
61 . Kembali Pulang


__ADS_3

"Astagfirullah ... sudah pukul berapa sekarang? nampaknya matahari mulai terbenam di ufuk barat," cicit Zahrana. Ia melihat disekelilingnya hamparan sawah yang membentang luas, tumbuhan yang menghijau. Panorama alam di sore hari tak kalah sejuknya, cukup memanjakan mata yang memandangnya. Semilir angin pun berhembus menerpa surai wajah Zahrana. Semakin sore, cuaca di perkebunan semakin menusuk disergapi oleh rasa kedinginan yang merayap lewat cela pori-pori Zahrana.


Zahra hanya memakai atasan kaos bermotif love selengan dan juga rok panjang di bawah lutut, yang saat itu sedang trendnya di era 90 an. Biasanya Zahrana suka mengenakan atasan you can see dan rok mini, namun ia ingat pesan seorang pemuda bernama Yusuf Nufail Syairazy. Bahwa,ia lebih indah dengan keadaan tertutup, perlahan Zahrana mulai merubah penampilannya agar lebih tertutup auratnya. Untuk berhijab secara sempurna Zahrana belum terpikirkan untuk itu.


Zahrana nampak kedinginan oleh hembusan angin di sore hari yang menerpanya. Ia baru menyadari jika teman-temannya, Nandini Sukma Dewi, Kirana Larasati, Cinta Kiara Khoirani, juga kekasihnya Aslan Abdurrahman Syatir tidak ada disisinya.


"Ya Allah ... kemana kak Aslan dan teman-teman? sudah pukul berapa? Aku lupa jika aku belum menunaikan Ibadah Sholat Ashar. Mungkin aku terlalu lama terlelap sehingga kehilangan jejak teman-teman," cicitnya.


Tanpa Zahrana sadari, dari arah belakang ada tangan kekar yang menyelimuti punggung Zahrana, hingga kedua bahu Zahrana pun tertutup oleh Jaket lembut milik Aslan Abdurrahman Syatir.


Zahrana menoleh, hampir saja surai wajahnya tersentuh oleh bibir manis Abdurrahman Syatir yang masih tinggal satu inci lagi.


"Kakak ... kau disini?" hanya tiga patah kata yang bisa Zahrana ucapkan. Sebab,detak jantungnya berpacu dengan gelora asmara yang bergerilya di pita bathinnya. Seluruh tubuhnya terasa bergetar hebat, seperti tersengat oleh aliran listrik yang tiba-tiba menjalar merasuki segenap hati dan jiwanya. Ketika berhadapan dengan Aslan Abdurrahman Syatir, ia serupa magnet yang selalu ingin lengket ketika bertemu dengan besi yang berpadu dengannya.


"Ya Allah ... ya Rabbi ... kuatkanlah duduk keimanan ku Wahai Sang Pemilik jiwa yang menguasai ku, rahmatilah rasa ku dan jagalah kesucian hati ku dari hawa nafsu buruk ku yang hendak menjerat ku Wahai Sang Penggenggam hati dan jiwa." Untaian do'a yang terlahir dari hati oleh seorang gadis kecil seperti Zahrana. Berhadapan dengan sosok Aslan Abdurrahman Syatir, ia serupa Pujangga yang haus kasih, dewasa sebelum waktunya.


Aslan menggenggam jemari tangan Zahrana, mereka pun saling berhadapan satu sama lain. Aslan tidak henti-hentinya memandang wajah ayu Zahrana.


"Ana ... sebentar lagi kita akan segera kembali pulang,aku tidak tahu kapan lagi kita dapat bersua seperti ini. Waktu terasa begitu cepat berlalu, bersama mu sungguh menentramkan jiwa ku. Namun,aku sadar jarak dan waktu memisahkan kita. Perbedaan usia kita yang sangat signifikan, tentunya akan menjadi bahan cemoohan bagi semua orang yang melihat dan mendengarnya Ana."


"Namun, untuk kesekian kalinya aku katakan aku akan menunggumu bertumbuh sampai dibatas waktu ku, hanya terukir namamu. Mungkin semesta raya menertawakan ku, sebab jatuh hati dan tergila-gila dengan gadis belia seperti mu."


"Ana, kuharap kau lah wanita yang pertama dan terakhir dalam hidupku. Jangan pernah berubah dan berpaling dari ku Ana. Berjanjilah untuk ku bahwa tidak ada yang lain dihatimu kecuali aku, jika itu benar-benar terjadi,aku akan menjadi sosok manusia yang paling bodoh di dunia ini sebab seperti pungguk merindukan rembulan, dan aku tidak ingin itu terjadi pada ku Ana, jangan pernah kau ragukan ketulusan hati dan kesetiaan ku, jangan pernah tinggalkan aku, tetaplah bertumbuh menjadi gadis ku, hingga pada saat itu tiba AKU DAN KAMU AKAN MENJADI KITA." Secerah harapan Aslan Abdurrahman Syatir pada Zahrana kekasih hatinya.


Zahrana bungkam,ia benar-benar tidak bisa harus menjawab apa. Sebab, hatinya kini telah terbagi. Ia benar-benar dilema. Benar ia mencintai Abdurrahman Syatir, namun ia pun telah terlanjur menjalin hubungan dengan kakak kelasnya Rivandra Dinata Admaja.Meskipun, hanya sekedar pacaran sehat, hanya belajar dan sejenisnya. Tetap saja Zahrana salah, sebab mengisi ruang hatinya untuk dua orang kekasih.


"Ya Allah ... apa yang harus hamba lakukan? jika diputar waktu lebih baik aku tidak pernah membuka tirai hatiku terhadap keduanya. Agar tidak ada luka dan perih dihati," cicit Zahrana.


"Kak,maaf ... Ana hendak menunaikan ibadah sholat Ashar dulu," pungkas Zahrana. Ia tidak bisa menjawab semua ungkapkan Aslan Abdurrahman Syatir terhadapnya.


"Baiklah ... kakak sudah menyiapkan air wudhu untuk mu sedari tadi. Menunggu mu terbangun dari tidur lelap mu."


"Iya kak, terimakasih." Zahrana pun segera menunaikan ibadah sholat Ashar. Ia tidak ingin menunda lebih lama lagi.


Aslan pun dengan setianya menunggu Zahrana dengan duduk santai di luar Pondok, seraya menikmati panorama alam di sore hari. Tak lupa dawai gitarnya, ia bawa serta. Sebab, sebelum kembali pulang kerumah masing-masing, ia ingin mempersembahkan sebuah lagu untuk Zahrana kekasihnya.


***


Nandini, Cinta dan Kirana baru selesai dari keliling-keliling perkebunan milik keluarga Nandini dan Aslan. Mereka nampak ngos-ngosan lantaran di kejar waktu.


Cinta dan Kirana membawa banyak oleh-oleh dari perkebunan Aslan. Ada jagung,timun, terong dan cabe untuk dibawa pulang. Mereka membawa pulang semua hasil perkebunan itu secara cuma-cuma dan asyiknya mereka memetik sendiri semua itu atas perintah Aslan Abdurrahman Syatir, di bantu oleh beberapa orang Petani di sana.


Cinta dan Kirana nampak sumringah. Mereka senang dan puas hari ini, menyaksikan Panorama alam di sekitar perkebunan Aslan dan keluarga.


Zahrana pun telah usai menjalankan Ibadah Sholat Zuhur. Ia pun segera turun dari Pondok, hendak menemui teman-temannya.


"Princess ... sebelum kita pulang, baiknya kita kumpul bareng dulu. Sekedar meninggalkan jejak terindah di perkebunan ini, sebagai penutup perkumpulan kita hari ini," ujar Nandini Sukma Dewi mewakili semuanya.


Zahrana pun duduk bersila, berdekatan dengan kekasihnya Aslan Abdurrahman Syatir.


Aslan pun menatap lekat nanar wajah kekasihnya, seraya mulai memainkan dawai gitarnya.


Kali ini, ia membawakan lagu yang penuh semangat. Ia persembahkan tembang kenangan itu, special untuk Zahrana dan teman-temannya.


💝 Bagaikan Langit 💝


Bagaikan langit di sore hari

__ADS_1


Berwarna biru sebiru hatiku


Menanti kabar yang aku tunggu


Bagaikan langit di sore hari


Berwarna biru sebiru hatiku


Menanti kabar yang aku tunggu


Oh asmara


Yang terindah mewarnai bumi


Yang kucinta menjanjikan aku


Terbang ke atas ke langit ketujuh


Bersamamu


Bagaikan langit di sore hari


Berwarna biru sebiru hatiku


Menanti kabar yang aku tunggu


Bagaikan langit di sore hari


Berwarna biru sebiru hatiku


Menanti kabar yang aku tunggu


Oh asmara


Yang terindah mewarnai bumi


Yang kucinta menjanjikan aku


Terbang ke atas ke langit ketujuh


Bersamamu


Oh dewi cinta


Sandarkan aku di bahumu


Agar kurasa rindunya hati


Teredakan sudah hadirmu sayang


Tenangkan diriku


Oh asmara


Yang terindah mewarnai bumi


Yang kucinta menjanjikan aku

__ADS_1


Terbang ke atas ke langit ketujuh


Bersamamu


Ow ow


Oh asmara


Yang terindah mewarnai bumi


Yang kucinta menjanjikan aku


Terbang ke atas ke langit ketujuh


Bersamamu hu hu hu


Oh dewi cinta


Sandarkan aku di bahumu


Agar kurasa rindunya hati


Teredakan sudah hadirmu sayang


Tenangkan diriku hu hu hu


Ho ho asmara


Yang terindah mewarnai bumi


Yang kucinta menjanjikan aku


Terbang ke atas ke langit ketujuh


Bersamamu


Tembang penutup perkumpulan Zahrana dan teman-temannya hari ini bertemakan langit disore hari yang mulai terbenam di ufuk barat, langit biru pun segera beranjak dari peraduannya, berganti senja yang mulai kelabu menyambut syafak merah sebagai tanda akan segera tiba waktu Maghrib kurang lebih 50 menit lagi.


Lagu Bagaikan Langit di nyanyikan oleh Melly Goeslaw di era 90 an, yang saat itu masih diberi nama grup 'POTRET'.


Zahrana dan teman-temannya nampak bersemangat, mereka pun antusias sekali menyanyikan tembang 'BAGAIKAN LANGIT' mengikuti denting dawai gitar yang Aslan Abdurrahman Syatir mainkan.


Hari itu, mereka pulang kerumah dengan membawa sejuta kenangan dan kebahagiaan yang tiada tara.


Zahrana pulang berboncengan dengan Aslan Abdurrahman Syatir, namun di persimpangan mereka berhenti dan bertukar posisi.


Zahrana berboncengan dengan Cinta Kiara Khoirani, Kirana Larasati sendirian, Nandini pindah posisi,ia berboncengan dengan kakaknya Aslan.


"Ana ... hati-hati dijalan, jangan kebut-kebutan! jaga selalu hatimu untuk ku!" ucap Aslan dengan binar mata yang benar-benar berharap Zahrana dapat memegang janjinya.


Iya kak, terimakasih atas semua yang telah kakak berikan. Ana akan berusaha menjaga hati agar tak terjerat dalam sumur dosa yang yang dapat menyesatkan rasa ku', ucap Zahrana


Aslan pun melepaskan genggamannya dari Zahrana, ucapan Zahrana terasa sangat menghantui hati dan pikirannya.


Mereka berlima pun berpisah jalan.


Aslan dan Nandini menuju rumahnya, sedangkan Cinta dan Kirana mengantarkan Zahrana pulang sampai tujuannya.

__ADS_1


Hari ini menjadi hari yang paling bermakna dalam hidup Zahrana di tengah usianya yang sudah beranjak 13 tahun. Gadis kecil yang sangat mempesona ... gelar yang kini Aslan berikan untuk Zahrana kekasihnya.


__ADS_2