
Zaid menghembuskan nafasnya pelan, "Benar aku dan Zahrana hanya sebatas rekan kerja, kita pun tidak jadian atau pacaran. Akan tetapi, kita akan pacaran setelah nikah! tepatnya, aku akan melamar sepupumu!" tegas Zaid dengan nada serius.
Zahrana membolakan matanya dengan sempurna, ketika mendengar penuturan Zaid yang tanpa filter. Berada di antara dua pria tersebut membuat spot jantungnya dengan serentetan pertanyaan yang tiba-tiba. Pengungkapan rasa yang tiba-tiba dan kejutan yang lainnya.
"Ya Allah ... tolong jaga hati dan jiwa ku agar tidak mudah terpedaya dengan apa yang aku dengar dan aku lihat!" bathin Zahrana dengan menahan kegundahan hatinya.
Pramuja ikut kaget mendengar penuturan MZ Arkana, entah kenapa ada rasa perih dihatinya mendengar penuturan teman seperjuangannya itu. Pramuja seolah tidak ridho jika sepupunya Zahrana bersama laki-laki lain selain dirinya.
"Hemmm ... kau yang benar saja brother? ingin melamar dan menikahi saudari sepupuku secepat ini? memangnya kau yakin Zahrana mau menerima mu bersanding di atas pelaminan? jika kau ingin mendapatkan sepupu ku, dekati dulu Abang sepupunya Pramuja Wisnu Baskara!" ucap Pramuja dengan membusungkan dadanya.
Zaid menampilkan wajah imut dan senyum devilnya, "Baiklah, siapa takut! untuk Zahrana gelombang badai angin topan dan uji coba menghadang pun aku rela melewatinya!" ucap Zaid dengan rasa percaya dirinya.
"Coba saja kalau bisa!" Pramuja memberikan tantangan pada Muhammad Zaid Arkana.
Zahrana yang jengah dengan perdebatan kedua pria di hadapannya itu pun memilih meninggalkan keduanya. Zahrana tidak menanggapi dengan serius apa yang mereka perdebatkan.
"Tidak mungkin, kak Zaid hendak melamarku? pernikahan itu adalah hal yang sakral, bukan hanya sekedar ucapan atau layaknya membeli pakaian jika minat hari ini juga langsung dibeli, semuanya tentu harus di pertimbangan dengan cara yang matang!" bathin Zahrana. Ia lebih memilih meneruskan pekerjaannya.
"Tsamirah Zahrana Az Zahra, kemarilah!" ucap Zaid dengan melambaikan tangannya ke arah Zahrana.
Zahrana pun menoleh.
"Ada apakah lagi, kak? Zahra harus kerja, masih ada beberapa barang-barang di sudut sana yang masih berantakan akibat dibongkar dan di acak-acak oleh customer. Zahra harus menyelesaikan pekerjaan ini dengan cepat sebelum customer berdatangan lagi ke toko."
"Jangan terlalu dipikirkan, Ra. Di bawa enjoy aja! Aisyah Boutique Collection ini kakak yang handle, semuanya sudah kelihatan rapi, Kok. Ummi Aisyah juga jarang datang kemari. Jadi, jangan khawatir! kau duduklah di sini, ada yang ingin kakak utarakan pada mu!" ucap Zaid dengan penuh keseriusan.
Zahrana pun akhirnya duduk di kursi kebesarannya yang memang telah di sediakan khusus untuk karyawan Aisyah boutique.
Zahrana menopang dagunya, sambil menunggu Zaid mengutarakan niatnya. Entah apa yang akan disampaikan oleh Zaid terhadapnya, namun Zahrana tidak ingin menanggapinya dengan serius.
"Tsamirah Zahrana Az Zahra, maaf mungkin ini terlalu cepat untuk mu. Dihadapan saudara sepupu mu Pramuja Wisnu Baskara, aku ingin mengutarakan niat baik ku, semoga kau berkenan untuk mempertimbangkan segala kemungkinannya. Maukah, kau menikah dengan ku?" ucap Zaid dengan gamblangnya kata-kata itu keluar dari lisannya.
Lidah memang tidak bertulang, mengucapkan kata menikah itu memang mudah. Namun, untuk menjalani bahtera hidup berumah tangga itu sejatinya perlu ilmu bukan hanya sekedar memperturutkan keinginan hawa nafsu semata.
Zahrana tersenyum mendengar penuturan Zaid yang menurutnya terkesan unik, awalnya Zahrana khawatir jika Zaid benar-benar bertekad ingin mengkhitbahnya, namun melihat cara Zaid yang terkesan santai dan tidak terlalu memaksakan kehendak membuat Zahrana menanggapinya dengan santai dan biasa-biasa saja.
Zaid menunggu jawaban dari Zahrana atas niat baiknya itu, ia merasa deg-degan antara ditolak atau diterima oleh bidadari cantik nan Sholihah di hadapannya itu. Bagaimanapun sebenarnya Zaid benar-benar serius ingin menjadikan Zahrana sebagai bidadari dunia akhiratnya, untuk menyempurnakan setengah agamanya.
Zahrana melirik sekilas ke arah Zaid, tak lupa ia melihat wajah sepupunya Pramuja yang nampak tegang ingin menunggu jawaban darinya.
"Semoga saja, loe di tolak brother!" bathin Pramuja yang di tujukan pada Muhammad Zaid Arkana.
"Hufttttt!" Zahrana menghembuskan nafasnya pelan.
__ADS_1
"Maaf, bukannya Zahra menolak niat baik kakak. Namun, Zahra belum siap untuk menikah. Zahra masih ingin menikmati masa lajang, intinya Zahra belum siap untuk menikah muda."
"Sebaiknya, kita berteman saja, Kak. Atau bersikap selayaknya adik kakak juga boleh, atau seperti atasan dan bawahan akan lebih baik. Zahra do'akan semoga kakak mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Zahra!" ucap Zahrana blak-blakan pada Muhammad Zaid Arkana.
Zaid nampak tertunduk lesu mendengar penuturan Zahrana, namun ia tidak bisa memaksakan kehendaknya pada gadis belia yang baru berusia 17 tahun itu. Ia harus bisa mengimbangi gadis yang terpaut 8 tahun usia darinya itu.
Melihat wajah Zaid yang terlihat kusut, Pramuja yang sejak tadi jadi pendengar setia sekaligus saksi bisu atas pengungkapan rasa Zaid terhadap Zahrana pun melebarkan tawanya.
"Ha ... ha ... ha, di tolak! sabar brother, patah satu tumbuh seribu. Sepupu ku ini masih belia, mana boleh menikah. Usia mu kan sudah 25 tahun, jika ingin mendapatkan istri muda minimal cari yang usianya 20 tahun. Kalau my sepupu baru berusia 17 tahun, tentunya tidak cocok untuk mu. Ia lebih cocok menjadi adikmu!" pungkas Pramuja tanpa filter.
Pramuja merasa bahagia, sebab Zahrana menolak mentah-mentah niat baik Zaid untuk menjadikan dirinya seorang istri.
"Alhamdulillah, akhirnya aku bisa bernafas lega. Zahrana menolak niat baik Zaid, jika sampai Si Zahra menikah dengan Muhammad Zaid Arkana tentunya aku bisa gila!" bathin Pramuja dengan sejuta rasa bahagia.
Zahrana yang melihat Pramuja berbicara tanpa filter terhadap Mz Arkana pun segera menegurnya.
"Mas Pramuja, Mas kok gitu sih? bukannya menghibur teman malah di sorakin!" ucap Zahrana dengan mendelik ke arah Pramuja.
Pramuja pun menghentikan tawanya, ia pun menepuk pundak MZ Arkana.
"Maaf, brother. Aku spontan, habis wajah mu kusut gitu, katanya sudah belajar, sudah sering kajian, sudah sering pula isi dakwah. Yach, meskipun tak setara Ustadz kondang ternama setidaknya sudah pernah berdakwah, itu wajah jangan di tekuk. Belajar ikhlas atuh Akh Zaid!" ucap Pramuja Wisnu Baskara dengan wajah tanpa dosa.
Zaid hanya diam, tanpa komentar. Penolakan Zahrana terhadapnya benar-benar membuatnya tidak nyaman. Kecewa sudah pasti, sakit hati jangan di tanya, sebab ia bukan malaikat. Ia hanya insan biasa yang juga punya rasa cinta dan rasa kecewa, ketika rasa dihatinya tak berbalas.
"Kak Zaid, maaf jika ucapan Zahra tidak berkenan di hati kakak. Zahra sama sekali tidak bermaksud menyakiti kakak, akan tetapi Zahra memang benar-benar belum siap untuk menikah, Kak!" pungkas Zahrana dengan perasaan tak enak pada Muhammad Zaid Arkana.
"Maafkan aku kak, di hatiku kini telah terpatri sosok dirinya, ia yang ku harapkan menjadi imam untuk ku, kak Yusuf Amri Nufail Syairazy!" bathin Zahrana, yang kalimat tersebut hanya dirinya sendiri yang dapat mendengarnya.
"Tidak apa-apa, Ra. Kau punya hak untuk menentukan pilihan mu, terima kasih untuk semuanya. Kakak hendak keluar, memantau perkembangan toko buah yang ada di sana. Insya Allah ... nanti kakak kembali lagi kemari!" ucap Muhammad Zaid Arkana tanpa memandang ke arah Zahrana.
Suasana pun hening sesaat, Zaid hendak melangkahkan kakinya untuk memantau perkembangan bisnisnya. Ia pun berpamitan pada Zahrana dan Pramuja Wisnu Baskara.
"Brother, aku pergi dulu! aku titip Zahrana, tolong jaga dia!" ucap Zaid , dengan melangkahkan kakinya meninggalkan Aisyah Boutique Collection miliknya.
Pramuja pun mengiyakan permintaan Zaid. "Baiklah dua jam kedepan aku akan menemaninya, sebelum aku berangkat menuju bengkel 'PWB group'."
"Terimakasih!" ucap Zaid dengan penuh keseriusan.
"Sama-sama, hati-hati brother, tetap semangat! don't be sad, never give up!" ucap Pramuja dengan memberikan support untuk MZ Arkana.
"Insya Allah!" jawab Zaid singkat dan padat.
Zaid terus melangkah pergi tanpa menoleh, ia membawa rasa kecewanya yang teramat dalam oleh penolakan Zahrana terhadapnya. Ingin rasanya Zaid menumpahkan air matanya. Namun pantang baginya untuk meneteskan air mata hanya karena cinta. Goresan luka yang teramat perih yang baru saja ia kecapi itu pun perlahan ia rasakan begitu menyayat hati.
__ADS_1
"Tsamirah Zahrana Az Zahra, hari ini aku memang gagal untuk mendapatkan hatimu, namun seiring berjalannya waktu aku akan membuat mu jatuh hati pada ku secara perlahan!" bathin Muhammad Zaid Arkana dengan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Zaid pergi tanpa arah dan tujuan, niat ingin memantau toko buahnya pun ia batalkan. Ia ingin mencari angin segar guna menenangkan pikiran yang sedang kalut oleh memikirkan Zahrana yang telah menolak niat baiknya.
***
Di Aisyah Boutique Collection.
"Mas Pra, kau ini nakal ya!" Zahrana menjewer telinga Pramuja yang telah blak-blakan menyoraki Muhammad Zaid Arkana.
"Ampun, maaf ... lepaskan anak manis! janji Mas Pra tidak nakal lagi," ucap Pramuka dengan mengacungkan jari tangannya membentuk huruf V.
Pramuja terkekeh geli melihat tingkah lucu Zahrana yang tanpa sengaja menjewer telinganya.
"Tsamirah Zahrana Az Zahra, teruslah seperti ini! entah kenapa perasaanku terhadap mu bukan lagi seperti adik-kakak, sungguh aku benar-benar tidak rela melihat dirimu bersama dengan yang lain, kendati pun orang tersebut adalah teman dekat ku sendiri!" bathin Pramuja dengan mencuri pandang ke arah Zahrana.
"OMG, jika terus begini aku bisa gila. Dirimu benar-benar menggoda ku!" bisikan hati Pramuja yang tak berkedip memandangi wajah cantik Zahrana.
"Dasar, mencuri kesempatan dalam kesempitan! cepat bantu Zahra menyapu dan mengepel lantai toko ini, biar tambah celing dan bersih!" titah Zahrana.
Zahra sengaja ingin mengerjai saudara sepupunya itu. Sebenarnya lantai toko itu pun sudah terlihat bersih dan sejuk di pandang mata.
"Jika untuk mu, apa yang tidak anak manis, wahai gadis kecilku yang cantik nan ceriwis!"
Pramuja pun bersemangat menyapu dan mengepel lantai toko Aisyah Boutique Collection tersebut. Sedangkan Zahrana nampak santai dikursi goyangnya, sambil menikmati kacang rebus, berasa seperti bos besar yang sedang memberikan hukuman kepada karyawannya yang melanggar peraturan.😁😁😂
🌷🌷🌷
Untaian mutiara hikmah 👉"Sesungguhnya cinta dimiliki oleh setiap jiwa manusia. Namun tak selamanya kita harus memaksakan diri untuk bisa memiliki cinta yang kita inginkan. Saat dimana kita harus memilih, maka biarkan cinta menentukan. Jika ada yang tersakiti, yakinlah bahwa cinta tak harus memiliki."
🍁
🍁
🍁
Sambil menunggu update selanjutnya, author punya rekomendasi karya bagus untuk mu, yuk mampir! ceritanya tidak kalah menarik dan serunya lho😊😘😘
Judul karyanya : Kurebut Calon Suami mu
Authornya : Yeni Sri Wahyuni
__ADS_1