
Zahrana terbangun dari tidur lelapnya. Ia baru menyadari jika ia terlelap dalam pelukan Aslan Abdurrahman Syatir.
Zahrana melihat sekelilingnya, pemandangan laut mulai teduh. Hujan pun telah berhenti, tidak ada lagi angin yang berhembus kencang dan kilatan petir yang menyambar-nyambar pun lenyap dari hamparan langit biru.
Zahrana tersentak kaget, sebab di pondok ini hanya ada ia dan sosok belahan jiwanya. Ia pun menatap lekat nanar wajah Aslan yang sedang terlelap. Ia pun perlahan menyentuh surai wajah Aslan yang kini masih berstatus kekasihnya. Sebab, belum ada kata putus yang terucap dari kedua lisan mereka berdua.
Zahra perlahan melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan Aslan.
"Astagfirullah ... kita semua belum Sholat!" pekik Zahrana. Membuat Aslan terbangun dari tidur lelapnya.
"Ana ... kau sudah bangun?" tanya Aslan.
Zahrana menggangguk pelan, dalam pikirannya ia ingin segera menunaikan ibadah sholat Zhuhur. Setelah terlelap begitu lama pasca hujan tadi.
Belum sempat Zahrana beranjak pergi untuk menuju Mushola didekat pantai. Aslan tiba-tiba menahan pergerakannya. Ia pun menelusuri setiap inchi wajah gadis kecil yang kini berada di hadapannya. Ia benar-benar takut kehilangan Zahrana, setelah tahu Zahrana mempunyai kekasih hati selain dirinya.
Aslan Refleks menarik Zahrana kedalam dekapannya. Ia seolah tidak ingin melepaskan Zahrana dari dalam pelukannya.
Zahrana pun diam membeku melihat perlakuan Aslan terhadapnya. Ia bingung menetralkan perasaannya.
"Kak Aslan jangan begini, Kak. Ana mohon! Ana hendak pergi dulu," pungkas Zahrana.
Namun Aslan semakin mendekap erat Bidadari kecilnya. Sehingga membuat Zahrana merasakan kesulitan bernapas, karena Aslan terlalu erat mendekapnya, seolah-olah benar-benar tidak memberikan ruang untuk Zahrana pergi walaupun hanya sedetik pun.
"Don't Leave My Dear!" bisik Aslan lembut di daun telinga Zahrana. Sehingga membuat seluruh tubuh Zahrana semakin meremang.
Zahrana segera menguasai diri dan akal sehatnya. Ia tidak ingin lagi terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, sebab ia merasa ia telah melangkah terlalu jauh.
"Kak ... Ana hendak melakukan Ibadah Sholat Zuhur. Bukan hendak meninggalkan kakak!" ucap Zahrana.
Aslan pun perlahan melepaskan dekapannya dari Zahrana.
"Kakak ikut Ra. Kakak juga belum menunaikan ibadah sholat Zhuhur," ungkap Aslan.
Zahrana pun meng-iyakan ucapan Aslan, yang menurutnya semakin posesif saja.
Mereka pun berjalan beriringan menuju Musholla di dekat pantai. Setelah sampai di Musholla Aslan dan Zahrana pun terperangah, sebab semua teman-temannya juga sudah selesai menunaikan ibadah sholat Zhuhur. Mereka berdua terlalu lama terlelap, sehingga tertinggal oleh teman-teman mereka.
Zahrana dan Aslan pun segera melakukan ritual wudhu dan segera melakukan Ibadah Sholat masing-masing. Sementara teman-teman mereka menunggu di luar Musholla.
***
Sepuluh menit kemudian.
Aslan dan Zahrana selesai melakukan Ibadah Sholat Zhuhur. Mereka berdua segera menghampiri teman-temannya.
Semua saling bungkam, tidak ada yang berani mengeluarkan kata sepatah pun. Mereka semua tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Sementara Kirana Larasati mengikuti langkah Rivandra Dinata Admaja, sebab Rivandra sudah menegaskan jika hujan sudah reda mereka akan segera pulang.
"Dek, kalian hendak kemana? Apa kita singgah dulu di warung, dari sejak tadi kita belum dahar," ujar Virgantara pada adiknya Rivandra.
"Aku mau pulang duluan, Kak. Sekalian antar Kirana pulang, jika kami ingin dahar kami bisa singgah di warung mana saja," pungkas Rivandra. Ia benar-benar tidak sanggup melihat Bidadari kecilnya kini nampak serasi dengan Aslan Abdurrahman Syatir.
__ADS_1
"Iya Dek, hati-hati!" ucap Virgantara seraya menepuk pundak adiknya Rivandra agar tegar dan kuat, tidak rapuh dengan kenyataan yang terjadi jika kini Zahrana lebih memilih bersama Aslan Abdurrahman Syatir.
Rivandra pun segera melangkah pergi, tidak sedikit pun ia ingin melihat ke arah Zahrana. Dia tidak ingin menoleh kebelakang. Ia benar-benar kecewa dengan Bidadari kecilnya. Ia ingin segera pergi dari hadapan semuanya.
Kirana pun berpamitan dengan teman-temannya, ia pun segera mengikuti langkah Rivandra. Sebab ia pergi bersama Rivandra, pulangnya pun bersama-sama. Karena semua teman-temannya sudah ada tumpangan masing-masing.
Zahrana ingin segera menyusul Rivandra. Ia ingin meminta maaf atas segala kekacauan yang telah di perbuatnya. Zahrana benar-benar merasa bersalah. Ia benar-benar merasa berdosa lantaran telah menyakiti Rivandra Dinata Admaja yang begitu tulus terhadapnya.
Namun, langkah Zahrana tertahan. Sebab, pergelangan tangannya di tarik oleh Aslan Abdurrahman Syatir.
"Ana ... don't leave my dear!" ucap Aslan dengan mengulangi kata-kata yang tadi telah ia ucapkan pada Zahrana.
Sehingga membuat Zahrana pun menghentikan langkahnya. Ia khawatir jika Aslan benar-benar semakin menjadi-jadi keposesifannya.
Aslan seolah-seolah di butakan oleh cintanya terhadap Zahrana. Ia lupa jika disisinya ada teman satu kampusnya Virgantara Dinata Admaja kakak rivalnya. Juga ada saudara sepupunya Arjuna Restu Pamungkas juga adiknya Nandini Sukma Dewi, dan ada pula Fadhilah teman Zahrana.
"Kak Aslan, kami hendak makan siang bersama. Perut Nandini juga sudah keroncongan kak. Menunggu kakak sejak tadi tidak ada habisnya. Sebaiknya kakak selesaikan dulu masalah kakak dengan Zahrana. Jangan sampai semua orang kena imbasnya," ucap Nandini memecahkan kesunyian. Ia mulai jengah dengan keposesifan Kakaknya terhadap Zahrana.
"Kakak benar-benar bucin parah," gerutu Nandini dalam hati.
Nandini pun menarik pergelangan tangan Arjuna kekasihnya, sebab ia benar-benar sudah lapar. Sejak turun hujan tadi sampai sekarang belum dahar. Arjuna pun mengikuti gerak langkah Nandini gadis metalnya.
Sedangkan Virgantara dan Fadhillah saling berpandangan.
"Kak, Fadhilah juga sangat lapar. Ayo kita segera menyusul Nandini dan Arjuna!" ucap Fadhilah seraya menarik pergelangan tangan Virgantara. Mereka berdua sudah mulai terlihat akrab, seperti seorang kakak dan adiknya. Jadi, tidak ada rasa sungkan di antara mereka. Meskipun sebenarnya Fadhilah mulai menyimpan rasa terhadap Virgantara. Namun, ia tidak menampakkannya. Ia seolah bersikap acuh tak acuh tak acuh.
"Lan, kami dahar dulu ya!" pamit Virgantara pada Aslan. Tak lupa Virgantara melirik sekilas pada Zahrana yang tampak anggun dan mempesona.
"Ya Allah ... betapa sempurnanya dirimu Zahra! pantas saja Aslan dan adik ku Rivandra tergila-gila pada mu," monolog Virgantara.
***
Di Lamongan dekat Patung Gajah.
Nandini dan Arjuna sudah sampai duluan.
"Bang! Aku pesan nasi plus ayam bakar 2 porsi, namun untuk porsi yang satunya tambah satu lagi ayam bakarnya, minumnya es teh saja!" ucap Nandini.
Membuat orang-orang yang sedang antri menunggu pesanan mereka menjadi terperangah dengan ucapan Nandini. Ada yang berbisik ada yang tersenyum simpul melihat Kelakuan kocak Nandini. Pikir mereka alangkah full nya porsi makan Nandini.
"Honey ... kau seperti orang kesurupan saja, porsi makannya gede sekali!" ucap Arjuna.
"Hanya ayam bakar doang Hubby. Dua potong itu masih kurang Hubby, namun aku coba untuk mengendalikan diri agar porsi makan ku tidak berlebihan," seloroh Nandini.
"Terserah kamu saja Honey, yang penting kamu mau makan dan tumbuh sehat," ujar Arjuna.
Tak lama kemudian pesanan mereka pun datang.
Nandini tidak sabar ingin segera menikmati hidangan di hadapannya. Ada Ayam bakar, sambal pedas, juga lalap timun,kol dan daun kemangi.
Setelah membaca basmalah, Nandini pun segera menyantap makanan yang kini terhidang di hadapannya.
Nandini tidak memperhatikan sama sekali, jika pelayanan yang mengantar pesanan mereka menatap penuh arti kepadanya.
__ADS_1
Pelayanan itu menggunakan kacamata hitam juga topi merah lengkap dengan seragam merahnya, juga berpadu dengan celana yang di kenakannya. Ternyata pemuda itu adalah Zainal Abidin.
Nandini tidak mengetahui, jika Lamongan tempat dirinya bersantap ria adalah milik keluarga Zainal Abidin.
Zainal terus menatap aksi kocak Nandini, begitu lahapnya menikmati makanan yang dihidangkan tepat di mejanya?
Sedangkan Arjuna pun ikut menikmati hidangannya.
***
Selang berapa menit kemudian.
Virgantara dan Fadhillah baru sampai di Lamongan dekat Patung Gajah. Lamongan di mana Nandini dan Arjuna singgah.
Fadhilah dan Virgantara lebih memilih 2 porsi nasi dan Ayam opor juga minumnya es jeruk.
Pesanan mereka pun sudah sampai, Fadhilah dan Virgantara pun tampak kompak menikmati hidangan yang ada di hadapan mereka. Sekali-kali mereka pun nampak berkelakar disela-sela santapan mereka.
Fadhilah begitu menikmati hidangannya hingga tetes terakhir. Ia tidak menyadari jika butir nasi tersangkut di sudut bibirnya. Sehingga membuat Virgantara gemas melihat tingkah adik kecilnya.
Tanpa ba-bi-bu Virgantara refleks membersihkan butir nasi yang tersangkut di sudut bibir Fadhilah.
"Kau ini menggemaskan sekali!" ucap Virgantara seraya mengusap sudut bibir Fadhilah.
"Deg ... " jantung hati Fadhilah terasa berdebar-debar oleh perlakuan manis Virgantara padanya.
"Amboiiii ... Jika ia adalah teman istimewa ku, betapa bahagianya diriku," bisikan hati Fadhilah. Namun berbeda dengan Virgantara ia tetap menganggap Fadhilah hanya lah seorang adik kecil, tidak kurang dan tidak lebih.
***
Sementara di Pantai Indah Kenangan Bersama.
Aslan dan Zahrana masih menelusuri bebatuan dan pesisir pantai. Rasa lapar dan dahaga pun tidak mereka rasakan, lantaran sedang di mabukan api asmara. Terutama Aslan yang benar-benar bucin parah terhadap Zahrana.
"Ana ... don't leave my dear!" ucap Aslan untuk yang kesekian kalinya mengulangi kata-katanya.
Aslan pun duduk bersimpuh, seperti seorang Pangeran yang hendak membawa pergi Cinderella-nya. Aslan mengecup punggung tangan Zahrana. Hingga membuat angan Zahrana pun melayang oleh perlakuan Aslan Abdurrahman Syatir terhadapnya.
"Kak ... Ana sudah menghianati kakak dan menduakan cinta kakak. Mengapa kakak masih bersikeras untuk bertahan dengan Ana? Ana bukanlah wanita yang sempurna, Kak. Ana hanya gadis kecil yang sedang bermetamorfosis menjadi gadis remaja. Masih banyak hal yang harus Ana pelajari dan pahami. Ana tidak ingin menyakiti hati kakak lagi. Ana tidak ingin kakak kecewa untuk yang kedua kalinya. Lebih baik kakak pergi dari kehidupan Ana sekarang! dan carilah pengganti yang lebih baik dan lebih dewasa dari aku, Kak."
Belum sempat Zahrana berkata-kata lagi, Aslan langsung menempelkan bibirnya pada bibir mungil Zahrana. Membuat Zahrana terdiam seketika dan tubuhnya pun terasa meremang dengan sentuhan bibir Aslan yang tiba-tiba mengecup singkat bibirnya.
"Jangan ucapkan apa-apa lagi Ana! Aku menerima mu apa adanya diri mu. Aku sudah memaafkan mu Ana! jangan pernah terucap lagi kata-kata perpisahan dari bibir manis mu," ucap Aslan seraya memasukkan Zahrana kedalam pelukannya.
Aslan dan Zahrana pun saling berpelukan erat, seperti tak ingin terpisahkan. Zahrana benar-benar merasa tidak berdaya berhadapan dengan Aslan Abdurrahman Syatir. Hingga akhirnya ia pun memilih untuk tetap bertahan dengan Aslan Abdurrahman Syatir dan melepaskan teman istimewanya Rivandra Dinata Admaja yang kini sedang di landa duka nestapa yang teramat dalam.
Disaksikan oleh deburan ombak dan pasir putih juga langit biru yang membentang luas. Kini sepasang kekasih itu kembali merajut kasih. Zahrana berjanji didalam hatinya tidak akan pernah lagi untuk menduakan Aslan Abdurrahman Syatir kekasihnya.
"Ana .... don't leave my dear!" ucap Aslan seraya memberikan kecupan hangat di kening Bidadari kecilnya.
Sementara Zahrana pun membiarkan perlakuan romantis yang diberikan oleh Aslan Abdurrahman Syatir terhadapnya.
Angin pantai bertiup sepoi-sepoi menyelimuti kedua anak manusia yang sedang di landa asamara itu.
__ADS_1
"Sungguh ... cinta memang seperti kilatan petir yang menyambar, ia benar-benar tidak mengenal tempat kemana harus berlabuh. Ketika ia menyambar kita pun tak sempat untuk menghindarinya."
Hal tersebutlah yang kini dialami oleh gadis kecil yang bernama Tsamirah Zahrana Az Zahra terhadap seorang pemuda yang bernama Aslan Abdurrahman Syatir.