Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
60 . Kenangan Terindah


__ADS_3

Zahrana dan Aslan pun, segera menghentikan aktivitas renang dan canda ria mereka. Setelah mendengarkan pekikan Nandini, Cinta dan Kirana yang tertuju pada mereka berdua.


"Astaghfirullahal'adzim ... kak Aslan, kita telah melalaikan kewajiban sholat Zuhur hari ini, sudah pukul berapa sekarang?" tanya Zahrana dengan semburat sesal diwajahnya. Ia merasa menyesal telah melalaikan perintah Allah Subhanahuwata'ala.


"Ya Allah ... maafkan Zahrana karena telah melanggar perintah-Mu, ampuni hamba ya Rabbi atas segala kehinaan dan kerendahan hamba-Mu ini. Hamba akui, semua ini adalah salah Hamba sendiri, telah terpedaya oleh fatamorgana dunia yang semu," Bathin Zahrana.


Zahrana pun segera beranjak dari anak sungai, diikuti oleh Aslan Abdurrahman Syatir.


Zahrana nampak terburu-buru, sebab ia di kejar waktu. Ia ingin segera menunaikan ibadah sholat Zhuhur. Namun, karena kurang hati-hati menaiki batuan terjal di anak sungai, Zahrana pun terpeleset, hingga lututnya berdarah terbentur salah satu batu di anak sungai.


"Awww ... " Zahrana meringis kesakitan, lututnya mengeluarkan banyak darah segar.


"Anaaa ... " pekik Aslan.


Aslan segera meraih tubuh gempal Zahrana dan membopongnya naik ke atas.


"Ya Allah ... An, kenapa kau tidak berhati-hati? Kau ini, selalu saja ceroboh." Aslan panik melihat kekasihnya terluka dan mengeluarkan darah segar di lututnya.


Sementara, Zahrana hanya terdiam mendengarkan celotehan kekasihnya Aslan Abdurrahman Syatir.


Zahrana berusaha menahan perih di lukanya.


Nandini, Cinta dan Kirana segera menghampiri Zahrana dan Aslan.


"Ya Allah Princess ... kenapa lagi dengan mu? Aku perhatikan akhir-akhir ini kau sering kali mengalami na'as. Pertama di Kantin Sekolah. Kemudian di Padepokan Buya Harun, sekarang di anak sungai bersama kak Aslan Abdurrahman Syatir," pungkas Nandini Sukma Dewi.


"Apa jangan-jangan ... kak Rivandra,kak Yusuf ataupun kak Aslan bukan jodoh Princess Zahra? Soalnya apes terusan," bathin Nandini. Hanya Nandini saja yang dapat mendengarkan dan merasakan apa yang barusan ia pikirkan tentang Zahrana.


"Ya Allah ... mikirin apa si gue? pakai berujar tentang jodoh segala," cicit Nandini. Menggerutuki kebodohannya sendiri.


"Maksudmu apa Dek? Apa benar Ana pernah mengalami na'as di sekolah?" tanya Aslan penuh selidik.


"Oops ... gawat, jika kak Aslan sampai bertanya lebih jauh lagi. Bakal ketahuan hubungan Princess Zahra dan kak Rivandra. Sebab, insiden Zahrana di sekolah ada hubungannya dengan Rivandra Dinata Admaja yang kini juga telah menjadi teman istimewa Zahrana," bathin Nandini.


Zahrana segera mengalihkan topik pembicaraan, khawatir Nandini keceplosan jika nantinya Aslan kekasihnya bertanya lebih jauh lagi dengan insiden Zahrana di sekolah. Zahrana khawatir hubungannya dengan Rivandra terkuak, tanpa sempat untuk Zahrana menjelaskan semua duduk permasalahannya.


"Kak,sakittt ... " ucap Zahrana. Ia semakin berpegangan kuat dibahu Aslan. Padahal yang perih hanya lututnya, anggota tubuh yang lainnya sehat wal'afiat.

__ADS_1


"Mananya yang sakit, An? Kakak cari tumbuhan herbal dulu yang bisa menghentikan pendarahan di lutut mu," ujar Aslan seraya mengusap lembut surai wajah Zahrana.


Zahrana mengerlingkan matanya pada Nandini, tanda mereka berhasil mengelabui Aslan Abdurrahman Syatir.


"Maafkan Nandini kak Aslan, sebab telah bersekongkol untuk mengelabui kakak," cicit Nandini.


Sementara Cinta dan Kirana, ikut kompak meng-iyakan kebohongan Zahrana dan Nandini.


"Dek, kalian jaga Zahrana. Kakak hendak mencari tumbuhan herbal khusus menghentikan pendarahan di lutut Zahrana."


"Iya kak," angguk Nandini.


Aslan pun melenggang pergi,ia segera melakukan pertolongan pertama untuk Zahrana menggunakan tumbuhan herbal alami.


"Princess ... sampai kapan,kau akan menduakan kak Aslan dan kak Rivandra? lambat laun semuanya akan ketahuan, Ra. Aku khawatir kau akan terluka, terlebih lagi kak Aslan dan kak Rivandra. Mereka pasti merasa dikhianati dan di bohongi." Nandini nampak risau dengan cinta segitiga antara Zahrana, Aslan kakaknya dan kakak kelasnya Rivandra Dinata Admaja.


"Iya Ra, sebaiknya kau jujur siapa dihatimu sebenarnya? Aku khawatir nanti kau hanya bisa bermain api namun tidak bisa memadamkannya," timpal Cinta Kiara Khoirani.


"Benar Ra, kau pasti tahu dalam ilmu Fiqih Islam Poligami itu dibolehkan untuk laki-laki bahkan dibatasi sampai empat orang wanita yang boleh nikahi. Selebihnya tidak boleh. Nah ... jika untuk wanita tidak boleh Poliandri alias punya dua suami, cukup satu suami saja, nggak ada yang namanya mendua, sama seperti mu harus memilih antara dua pilihan. Pilih kak Aslan yang tampan mempesona atau kak Rivandra yang santun dan berkharisma?" pungkas Kirana Larasati yang ngelantur kemana-mana.


"Astaghfirullahal'adzim ... Kir,aku belum memikirkan sampai jauh kesana. Usia ku pun baru 13 tahun, sama sekali tidak memikirkan tentang pernikahan. Aku sampai menempuh jalan pacaran itupun karena aku sedang mencari kemana arah jati diriku sebenarnya. Siapa pun jodoh ku dimasa depan nanti, itu semua sudah kehendak Allah Subhanahuwata'ala pada ku. Kita cukup menjalani dan menerima skenario yang telah Allah berikan untuk kita dengan lapang dada. Aku pun tidak tahu kak Aslan atau pun kak Rivandra itu jodoh ku atau bukan, yang jelas saat ini aku mencoba membuka hati untuk mereka," tutur Zahrana.


"Ya Allah ... Ra, jangan begitu. Aku jadi ikut baper. Tak bisa dibayangkan betapa rumit dan perihnya hati jika harus terluka lantaran cinta yang tak kesampaian," timpal Cinta Kiara Khoirani. Yang dari sejak tadi hanya menjadi pendengar setia.


"Princess ... maafkan kami yang terlalu menghakimi mu," ucap Nandini Sukma Dewi. Ia pun merangkul erat Zahrana, diikuti pula oleh Cinta dan Kirana. Mereka berempat pun saling merangkul, saling menguatkan satu sama lain.


***


Sementara itu diperkebunan dekat pinggiran sungai.


Aslan lari tergopoh-gopoh, keringatnya bercucuran. Ia berusaha mencari tumbuhan herbal yang cocok untuk menghentikan pendarahan di lutut Zahrana.


Aslan terlalu berlebihan jika sudah menyangkut keselamatan kekasihnya. Padahal sejatinya, Zahrana hanya terluka kecil bukan kecelakaan besar.


"Den Aslan, sedang mencari apa? kelihatannya panik sekali," tanya Mang Selamet yang sedang mandi disungai.


"Ini Mang, Nona muda sedang cidera, lututnya berdarah," ujar Aslan.

__ADS_1


Mang Selamet pun menghampiri Aslan.


"Ini,Den. Pohon ini konon katanya, seratus persen bisa menyembuhkan luka yang sedang mendera."


"Iya Mang. Terimakasih atas bantuannya."


"Sama-sama Den," ujar Mang Selamet.


Aslan pun kembali menemui Zahrana, guna mengobati luka Sang Pujaan hatinya.


"Ana ... kakak menemukan tumbuhan herbal untuk mu," ujar Aslan. Ia pun mengunyah tumbuhan tersebut dan menempelkan di lutut Zahrana.


Zahrana nampak terkesima melihat perlakuan Aslan terhadapnya.


"Bagaimana aku bisa melupakan dan melepaskan mu begitu saja,Kak. Sedangkan perhatian mu begitu tulus untuk ku," bisik hati Zahrana.


"Kita harus segera kembali ke Pondok kebun. Diantara kita belum ada yang menunaikan shalat Zhuhur, sekarang sudah pukul 13.00 siang," ujar Aslan.


Tanpa aba-aba, Aslan pun segera menggendong Zahrana ala bridal style agar segera sampai ke tempat tujuan,ia tidak ingin membiarkan Zahrana kesulitan berjalan.


"Kakak ... Ana masih bisa berjalan,kok. Ana malu dilihat teman-teman," ujar Zahrana seraya mengalungkan kedua tangannya di leher kekasihnya.


Zahrana benar-benar tidak bisa melupakan semua kenangan terindah yang telah di lalui bersama Aslan Abdurrahman Syatir hari ini."Terlalu Indah untuk dilupakan," cicit Zahrana.


"OMG ... kak Aslan so sweet sekali!" ujar Cinta Kiara Khoirani. Ia ikut terhipnotis oleh pesona Aslan Abdurrahman Syatir yang begitu memperhatikan Zahrana. Di ikuti Nandini dan Kirana, mereka pun ikut memuji Aslan.


Sepanjang perjalanan ke Pondok kebun, Zahrana terus memandangi wajah kekasihnya. Detak jantungnya berdetak lebih cepat, hatinya seakan tersentuh kedalam jurang cinta yang teramat dalam. Entah karena ego atau pun nafsu sesaat bagi Zahrana hari ini adalah hari yang paling indah dalam hidupnya, kenangan terindah yang tidak akan pernah ia lupakan sepanjang hidupnya.


Akhirnya, mereka pun sampai di Pondok.


Aslan perlahan-lahan melepaskan Zahrana dari gendongannya. Ia pun kembali ke sungai untuk wudhu ulang, sekalian mengambil air untuk Zahrana mengulangi wudhunya.


Mereka pun bergantian menunaikan kewajiban sholat Zhuhur dengan hikmatnya.


Hari ini begitu banyak hikmah dan pelajaran yang Zahrana dapatkan bersama Aslan Abdurrahman Syatir dan teman-temannya.


"Tak kan ku lupakan segala yang telah dirimu persembahkan untuk ku kak, kan ku jadikan dirimu kenangan terindah dalam hidupku," bisik hati Zahrana seraya mencium dan mengecup sebuket bunga mawar yang sebelumnya di persembahkan Aslan untuk dirinya.

__ADS_1


Akhirnya, mereka semua terlelap di Pondok kebun lantaran kelelahan setelah seharian beraktivitas. Sekedar melepaskan penat, sebelum mereka kembali pulang kerumah nantinya.


__ADS_2