
"Zahra ... kau disini?" Kirana Larasati menghamburkan diri memeluk Zahrana.
"Kau tidak apa-apa kan? kami semua cemas mencari mu," ucap Kirana. Ia masih terus memeluk erat Zahrana.
"Alhamdulillah ... Aku sudah lebih baik, Kir. Ada kak Yusuf yang datang menemani dan menasehati ku, hingga hati ku lebih tenang."
"Syukurlah kalau begitu, Ra. Aku turut senang mendengarnya, jangan bersedih lagi, yah. Lihat pelupuk mata mu sembab, pasti kau habis menangis sejadi-jadinya. Kalau ada masalah jangan di pendam sendiri Ra, kami sahabat mu selalu setia untuk mendengarkan keluh kesah mu." Kirana Larasati mengingatkan Zahrana sahabatnya.
"Terus, jangan dengarkan ucapan kak Priska Prahara. Dia kan dari sejak awal memang iri dengki dengan mu Ra, jadi tidak usah di pikirkan ucapan orang seperti itu." Kirana terus memberikan support untuk Zahrana sahabatnya.
"Iya, Kir. Terimakasih atas semua perhatian dan dukungan mu," ucap Zahrana. Ia pun memeluk erat sahabatnya Kirana Larasati.
"Ada satu hal yang tidak kalian ketahui, Kir. Aku kini sudah tidak suci lagi. Aku kotor, aku telah melakukan hal yang tidak baik bersama kak Aslan. Jika kalian tahu bahwa aku pernah berbuat mesum, mungkin kalian akan menjauhi ku." Zahrana membathin di dalam hatinya. Hanya ia dan Sang Penggenggam hati yang tahu apa yang terjadi hari ini dengannya bersama Aslan Abdurrahman Syatir.
Yusuf dan Rivandra nampak tertegun melihat interaksi antara Kirana Larasati dan Zahrana.
Menyadari jika mereka mengabaikan kedua pemuda tersebut, Zahrana dan Kirana pun melerai pelukan mereka.
"Kak Rivan, Kak Yusuf. Ma-af, jika kami keasyikan bercengkerama. Ini lah kami ketika sedang berinteraksi dengan teman-teman satu grup kami," ucap Kirana Larasati.
Sementara Zahrana hanya menampakkan senyum manisnya. Ia sudah mulai terlihat bersemangat lagi dengan kehadiran Kirana yang terus menghiburnya.
"Maa syaa Allah ... jadi ini sosok pemuda yang juga mengagumi Zahrana," cicit Rivandra dalam hatinya.
Zahrana diam tak bergeming, melihat kehadiran Rivandra Dinata Admaja sisinya. Bagaimana pun juga mereka pernah merajut kebersamaan, tidak mudah untuk melupakan kenangan yang pernah ada.
"Ra, syukurlah kau sekarang terlihat lebih baik. Jaga diri mu, yah? semoga diri mu selalu dalam lindungan Allah Subhanahuwata'ala. Hari ini adalah hari pertemuan kita. Setelah ini Aku akan pergi jauh dari tanah kelahiran kita ini, aku akan menempuh studi di Ibukota Jakarta. Ku harap kau bahagia dengan pilihan mu," ucap Rivandra dengan nada pilu.
Rivandra pun menyadari jika Zahrana pernah mengisi relung hati dan jiwanya. Mereka pernah mengukir janji dan merajut kebersamaan, walaupun akhirnya hubungan itu kini telah kandas oleh kepenghianatan Zahrana yang telah menduakan cintanya dengan Aslan Abdurrahman Syatir sebagai rivalnya.
Zahrana terdiam mendengar penuturan Rivandra Dinata Admaja. Ada rasa bersalah yang terpatri di hatinya. Ia merasa berdosa sebab telah mengecewakan Rivandra dan lebih memilih Aslan untuk menjadi kekasihnya. Hingga berujung kesucian dirinya harus terenggut oleh Aslan Abdurrahman Syatir yang ia yakini adalah sosok pemuda yang baik dimatanya. Namun kenyataannya, ciuman pertamanya harus di ambil oleh orang yang ia anggap sebagai kekasih hatinya.
Meskipun hanya sekedar ciuman, bagi Zahrana itu sangatlah kotor dan merusak kesucian dirinya. Mengingat ia selama ini menjadi sosok panutan bagi teman-temannya juga sosok panutan bagi Santriwan dan Santriwati di Padepokan Buya Harun, alangkah nistanya hingga ia pun sampai berbuat sesuatu yang tidak diridhoi oleh Allah Subhanahuwata'ala.
"Kak Rivan, maafkan Zahra yang telah menorehkan luka yang begitu dalam dihati mu. Dan kau pun kini, ingin menempuh jenjang pendidikan yang lebih baik jauh disana. Entah sampai kapan aku tak tahu, mungkin kita tidak akan pernah bisa untuk bersua lagi." Zahrana berbisik di dalam hati kecilnya. Ia ingin sekali menumpahkan air matanya, namun ia tahan.
Zahrana tidak ingin terlihat lemah di mata Rivandra. Ia juga tidak ingin Yusuf mengetahui jika ia pernah merajut kebersamaan dengan Rivandra Dinata Admaja.
"I-iya, Kak. Aku do'akan semoga kakak sukses di masa depan nanti, selamat atas tujuan mulia mu untuk menuntut ilmu yang lebih baik lagi. Semoga Allah selalu menjaga kakak, dimana pun kakak berada nantinya." Zahrana berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah, ia seolah-olah merasa kuat melepaskan kepergian Rivandra untuk menuntut ilmu di Ibukota Jakarta.
"Terimakasih support dan do'anya Ra," ucap Rivandra seraya menundukkan wajahnya. Ada rasa perih di hatinya, sebab ini adalah pertemuan terakhir sekaligus perpisahannya dengan Zahrana. Bidadari kecil yang dulu pernah mengisi hari-harinya.
"Aku tidak akan pernah melupakan kenangan terindah bersama mu Zahra, bagi ku kau tetap Bidadari kecil yang mempesona, baik, anggun dan lembut. Maafkan aku, hanya sampai di sini aku bisa melihat dan menjaga mu. Jalan kita pun telah berbeda, biarlah aku yang mengalah. Menjaga jarak dan menjauh dari kehidupan mu," bathin Rivandra.
__ADS_1
Kirana Larasati menguatkan bahu Rivandra, agar tetap tegar, sabar dan kuat menerima segala kenyataan yang ada.
Sementara Yusuf tetap terlihat santai dengan gaya elegannya yang penuh dengan kharisma dan keteduhan yang terpancar dari rona wajahnya yang memang tampan dan bercahaya. Ia tetap positif thinking dengan Zahrana. Pikirnya, wajar saja jika Zahrana dan teman-temannya saling melepaskan diri dan mengucapkan kata-kata perpisahan, sebab ini hari terakhir Zahrana bersua dengan kakak kelas 3 SMP Negeri 3 XX nya. Jadi tidak ada alasan Yusuf untuk berburuk sangka pada Zahrana atau pun yang lainnya.
"Hemmm ... perkenalkan nama ku Yusuf Amri Nufail Syairazy, aku temannya Zahrana," ucap Yusuf. Ia pun menjulurkan tangannya pada Rivandra.
Rivandra pun menyambut uluran tangan Yusuf.
"Aku Rivandra Dinata Admaja, aku kakak kelasnya Zahrana."
"Iya, selamat ya atas kelulusan mu! selamat sebab dirimu pun akan menempuh pendidikan yang lebih baik lagi di Ibukota sana. Ku do'akan semoga dirimu sukses mengejar cita-cita dan impian mu," ucap Yusuf. Ia pun merangkul Rivandra Dinata Admaja sebagai saudara seimannya.
Rivandra sangat kagum dengan interaksi Yusuf terhadapnya. Baru kali ini ia menemukan sosok pemuda seperti Yusuf yang sangat santun dan lembut.
"Terimakasih, kak." Rivandra pun membalas kebaikan Yusuf terhadapnya. Mereka pun saling bercengkrama satu sama lain.
Kirana Larasati dan Zahrana nampak tertegun dengan interaksi Yusuf dan Rivandra Dinata Admaja.
"Mereka nampak kompak sekali ya Ra, yang satunya manis dan tampan. Yang satunya lebih tampan, lembut, santun dan berkharisma." Kirana menatap ke arah Rivandra, kuntum-kuntum bunga cinta pun semakin bermekaran terhadap kakak kelasnya tersebut.
Sementara Zahrana hanya mengangguk pelan, tidak ada komentar khusus yang terucap dari lisannya. Ia nampak berpikir keras.
"Ya Allah ... bagaimana cara ku agar bisa menjaga jarak dengan kak Aslan? Aku tidak ingin terus lengket dan sering bersua dengannya. Aku tidak ingin lagi adegan tersebut terulang kembali. Aku tidak ingin lagi memperturutkan hawa nafsu ku seperti tadi," cicit Zahrana didalam hatinya.
"Ma-af, Kir. Hari ini mood ku memang sedang tidak baik. Tapi, aku berusaha kuat kok." Zahrana menampakkan senyum tegarnya, padahal sejatinya ia pun sedang rapuh. Hatinya pun terasa lemah, ia sedang tidak baik-baik saja. Artinya Zahrana butuh masukan dari teman-temannya agar ia bisa sabar dan kuat dengan ujian hati yang kini sedang menderanya.
***
"Ana ... Kau dimana? Aku takut sesuatu terjadi pada mu, jangan siksa aku begini!" Aslan berhenti sejenak. Ia telah berjalan terlalu jauh menelusuri pesisir pantai. Tak jua ia menemukan Zahrana.
"Kenapa kau menghilang begitu saja? tanpa memberikan aku kesempatan untuk mempertahankan diri mu, agar memaafkan ku." Aslan benar-benar merasa bersalah sebab telah menyakiti dan menodai kepolosan Zahrana.
"Aku takut kehilanganmu, Ana. Aku takut kau benar-benar pergi dan menjauh dari ku," bathin Aslan.
Air mata Aslan pun seketika jatuh berderai sebab memikirkan gadis kecilnya. Ia terus menumpahkan air matanya. Ia benar-benar menyesal dengan kekhilafan yang di perbuatnya terhadap Zahrana hari ini.
Di saksikan oleh deburan ombak ditepi pantai, Aslan pun menggerutuki kebodohannya sebab tidak bisa menguasai keinginan nafsunya terhadap Zahrana berapa waktu yang lalu.
Nandini dan Arjuna pun menghampiri kakaknya Aslan.
"Kak Aslan! ya ampun ... kenapa kakak cengeng sekali? tolong jangan menangis seperti ini kak!" Nandini merangkul kakaknya.
Aslan semakin menumpahkan air matanya.
__ADS_1
"Zahrana dek, sepertinya ia benar-benar hendak menjaga jarak dengan kakak. Entah dimana ia bersembunyi, dari sejak tadi kakak tidak menemukan jejaknya. Padahal sebentar lagi sudah masuk waktu Ashar, kita pun hendak pulang kembali pulang." Aslan masih terus menangisi Zahrana.
"Ya Allah ... sabar kak, aku nggak nyangka jika kakak benar-benar bucin akut terhadap Zahrana. Semangat kak! never give up!" Nandini menguatkan hati kakaknya.
Sementara Arjuna rasanya terkekeh geli, menurutnya calon kakak iparnya itu nampak kekanak-kanakan. "Usianya saja yang dewasa, namun pikirannya tidak dewasa seperti anak kecil," bathin Arjuna.
Sementara dari kejauhan.
"Nandiniiiii ... kak Aslannnn!" pekik Fadhilah sembari mengunyah popcorn di mulutnya yang sudah hampir penuh. Seketika itu pula Nandini dan Arjuna diikuti oleh Aslan mengalihkan pandangannya ke arah Fadhilah dan Virgantara yang sedang menuju ke arah mereka.
"Anak cerewet! makan itu mesti di kunyah dulu, berlari-lari kecil seperti anak TK saja!" sergah Virgantara.
Virgantara refleks menarik pergelangan tangan Fadhilah, hingga Fadillah hampir terjungkal. Namun tubuh mungilnya seketika jatuh dalam dada bidang Virgantara Dinata Admaja. Seketika tubuh Fadhilah meremang, popcorn yang ada padanya pun lepas dalam genggaman.
"OMG ... jantung hati ku terasa ingin copot dari tempatnya, inikah rasanya cinta yang mulai bertaburan dalam hati dan jiwa," bisikan hati Fadhilah. Ia seolah merasa betah di dalam dada bidang Virgantara Dinata Admaja.
"Ehemm ... nampaknya ada yang betah bersandar dalam dekapan pemuda yang tampan seperti ku," ucap Virgantara penuh dengan percaya diri. Ia sengaja ingin menggoda Fadhilah.
Seketika Fadhilah mendorong dada bidang Virgantara.
"Aku betah dalam dada bidang mu, oh no ... kau terlalu percaya diri," ucap Fadhilah seraya berlari dan menjauh dari pandangan Virgantara.
Virgantara hanya tersenyum geli melihat tingkah kocak Fadhilah.
"Din, Zahrana sudah di temukan. Dia ada di Musholla bersama Kak Yusuf dan teman-teman yang lainnya," ucap Fadhilah.
Aslan pun segera beranjak menuju Musholla di ikuti pula oleh Nandini, Arjuna, Fadhilah dan Virgantara.
***
Di dekat Musholla Pantai Indah Kenangan Bersama.
"Ana ... Kau tidak apa-apa?" tanya Aslan. Ia pun menelurusi setiap inci wajah Zahrana.
"Kau baik-baik saja, kenapa mata mu terlihat sembab?" Aslan hendak mendekap Zahrana, namun Zahrana dengan tegas menolaknya.
"Cukup kak! jaga batasan mu!" ucap Zahrana penuh ketegasan.
Aslan pun menahan pergerakannya. Ia tidak menyangka dengan apa yang di lihatnya. Zahrana benar-benar menjaga jarak dengannya.
"Apa ini akhir dari cerita kita? tidakkk ... lebih baik aku mati saja jika harus berpisah dengan mu Ana," bathin Aslan Abdurrahman Syatir.
🌷🌷🌷
__ADS_1
Pencerahan 👉"Cinta tidak berbentuk, namun cinta dapat dirasakan oleh hati. Cinta tidak butuh alasan karena pada kenyataannya cinta hadir tanpa logika, tetap bertahan meski sebenarnya tahu bahwa ia yang kau cinta tidak akan mungkin bisa menjadi milikmu."