Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas

Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas
78 . Kena Sangsi alias hukuman


__ADS_3

Nandini masih diam tak bergeming melihat aksi Si Kutu Buku alias Zainal Abidin yang telah berhasil melumpuhkan kekuatannya. Sehingga ia berhenti menghajar Priska Prahara yang kini terbaring lemah tak berdaya.


Nandini tidak tahu harus berkata apa-apa lagi, hari ini ia benar-benar melihat sisi lain dari Zainal Abidin.


Nandini benar-benar tidak menyangka jika Si Kutu Buku alias Zainal Abidin memiliki kekuatan yang luar biasa.


"OMG ... Si Kutu Buku, aku sungguh tak menyangka jika dirimu memiliki ilmu bela diri setangguh ini. Kau sudah menguasai ilmu bela diri setingkat di atas ku," cicit Nandini.


"Tempo hari kau memberikan suprise yang luar biasa. Kau pemilik sekaligus merangkap sebagai pelayan 'ZA Lamongan Groups' yang tak jauh dari lokasi Pantai Indah Kenangan Bersama. Kau tidak malu menunjukkan identitas mu yang seolah-seolah sebagai pelayan di sana, walaupun sebenarnya dirimu pemilik dari 'ZA Lamongan Groups'. Dan hari ini kau tunjukkan keperkasaan mu lewat ilmu bela diri yang kau miliki. Sungguh aku kagum pada mu Zainal," bisik hati Nandini Sukma Dewi.


"Honey! kau tak apa-apa?" tanya Arjuna Restu Pamungkas. Ia khawatir terjadi apa-apa dengan Nandini kekasihnya.


Namun, Arjuna cemburu melihat Nandini berada dalam dekapan Zainal Abidin.


"Dasar Si Kutu Buku! mencari kesempatan dalam kesempitan," ucap Arjuna pelan. Terdengar oleh telinga Nandini Sukma Dewi.


"Hubby, ma-af. A-ku ... a-ku hanya-"


Ucapan Nandini terpotong ketika Arjuna dengan gerakan cepat memasukkan Nandini kedalam pelukannya.


"Honey, jangan pernah kau ulangi lagi baku hantam seperti tadi. Bila perlu tidak usah lagi belajar ilmu bela diri. Aku ingin dirimu menjadi wanita biasa yang lembut dan anggun seperti Zahrana," ucap Arjuna Restu Pamungkas.


"Lihat tadi Si Kutu Buku itu. Ia dengan mudahnya melumpuhkan mu, mencari kesempatan dalam kesempitan agar bisa menyentuh mu," ucap Arjuna dipenuhi rasa cemburu.


"Ini hanyalah bentuk ketidaksengajaan Hubby, jangan terlalu bawa perasaan. Toh Si Kutu Buku itu hanya ingin menolong Si Nenek Sihir itu, dari awal kan ia sudah menyukai Priska Prahara," tuduh Nandini seenak jidatnya.


Nandini mengira jika Zainal Abidin menaruh rasa pada Priska Prahara. Kakak kelas mereka, sebab dari sejak kemarin sampai sekarang Zainal Abidin selalu menjadi Pahlawan untuk Priska Prahara.


Padahal sebenarnya Zainal Abidin dan Priska Prahara hanya saudara sepupu, dan sampai sekarang Nandini tidak menyadari itu.


"Kenapa aku harus kesal dan tidak suka melihat Si Kutu Buku selalu menjadi Pahlawan untuk Si Nenek Sihir itu? bodoh amat, yang penting aku sudah memberikan efek jera pada Si Nenek Sihir itu. Awas saja ia berani-berani lagi untuk menyakiti Zahrana. Ia akan berurusan dengan ku," gumam Nandini dengan gaya metalnya.


Arjuna Restu Pamungkas masih tetap terbakar api cemburu. Ia tidak percaya jika Si Kutu Buku menyukai Si Priska Prahara, yang dua tahun lebih tua darinya. Kakak kelas pula.


Arjuna meyakini jika Zainal Abidin masih mengharapkan Nandini yang kini sudah menjadi kekasihnya.


"Honey, mulai detik ini kau tak usah lagi ikut seni bela diri! Aku tidak suka melihat gaya metal mu. Jangan pernah menyerang atau pun menghajar seseorang seperti itu lagi. Kau lihat wajah Priska sudah babak belur. Aku khawatir kau akan masuk ke ruang BK dan mendapat sangsi sebab sudah berbuat keributan," ucap Arjuna penuh kekhawatiran.


Arjuna menatap nanar wajah kekasihnya. Ia benar-benar khawatir jika Nandini akan di kenai sangsi atau hukuman sebab telah menghajar Priska Prahara habis-habisan.


***


Melihat kekacauan yang terjadi, akibat baku hantam yang di mulai oleh kubu Priska Prahara yang dengan sengaja menciderai Zahrana. Berujung pembalasan yang setimpal atau bahkan lebih parah di lakukan oleh Nandini, membuat para Siswa-siswi bergidik ngeri. Mereka tidak menyangka jika Nandini Sukma Dewi memiliki Ilmu Bela Diri yang luar biasa. Sehingga sebagian Siswi yang tadi ikut menghujat Zahrana seketika ciut. Mereka khawatir dan takut jika sampai mendapatkan bogem mentah dari Nandini Sukma Dewi.

__ADS_1


Adelia Kencana Puteri dan Lembayung Senja mengikuti langkah Zainal Abidin yang sedang membopong Priska Prahara dibantu oleh dua orang Siswa, sebab Priska Prahara terluka parah.


Ruang UKS pun di sesaki para Siswa-siswi, mereka hendak melihat kondisi Zahrana dan Priska Prahara. Keadaan Priska lebih memprihatinkan, seluruh wajahnya memar. Tubuhnya pun terasa remuk akibat bogem mentah dari Nandini Sukma Dewi.


Rivandra Dinata Admaja, Zahrana, Cinta, Fadhilah dan Kirana Larasati nampak kaget ketika melihat wajah Priska sudah bonyok dan terlihat memar, lemah dan tak berdaya.


Rivandra menghampiri Zainal Abidin dan teman-temannya yang hendak membersihkan luka Priska Prahara. Ia ingin menanyakan apa yang terjadi dengan Priska Prahara. Sehingga sampai bonyok alias babak-belur.


"Zain, apa yang terjadi dengan Priska? kenapa ia jadi seperti ini?" tanya Rivandra penuh keprihatinan. Bagaimanapun ia masih punya rasa perikemanusiaan. Melihat Priska bonyok seperti itu, Rivandra tidak sampai hati.


Zainal belum sempat menjawab pertanyaan Rivandra. Tiba-tiba Adelia Kencana Puteri dan Lembayung Senja langsung berseloroh.


"Ini semua gara-gara Si gadis metal itu. Ia yang telah membuat Priska babak belur," ucap Adelia Kencana Puteri. Seraya melirik ke arah Zahrana dan teman-temannya.


Zahrana dan teman-temannya saling melemparkan pandangan, mereka tidak menyangka jika yang melakukan itu adalah sahabat mereka Nandini Sukma Dewi.


"Iya, semua ini gara-gara kamu juga Zahrana. Jika kau tidak kecent*lan tidak mungkin Si Priska ingin menjahili mu. Kau telah merebut Rivandra dari Priska Prahara," ucap Lembayung Senja menambahkan. Ia benar-benar ikut membenci Zahrana, yang kerap kali menjadi Primadona di sekolahnya.


Zahrana hanya terdiam mendengarkan kubu Priska Prahara melemparkan kesalahan padanya.


"Maaf sebelumnya, Adelia, Lembayung Senja. Aku tidak pernah mengagumi atau pun sampai jatuh hati pada Priska. Zahrana sama sekali tidak bersalah, bukan dia yang merebut ku dari Priska. Akan tetapi akulah yang merebut hati Zahrana, dari sejak awal hingga detik ini. Meskipun kini kami tidak lagi bersama, bagi ku Zahrana adalah sebutir berlian yang berkilau. Di mana pun ia berada, ia akan tetap memancarkan sinarnya," terang Rivandra Dinata Admaja.


"Jadi aku harap, mulai detik ini berhentilah untuk menyakiti atau menghujat Zahrana. Setelah ini pun kita tidak akan berdiri di sini lagi. Kita akan berperan pada kehidupan masing-masing. Ini detik-detik terakhir kita berada di SMP NEGERI 3 XX ini, jadi berikan kesan yang menyenangkan, tinggalkan kenangan yang penuh makna, saling memaafkan itu lebih baik," tutur Rivandra penuh penegasan kepada Adelia dan Lembayung. Terdengar pula oleh Priska Prahara yang sedang terbaring lemah.


Zahrana nampak terkesima, ia tidak menyangka sampai detik ini Rivandra terus menyanjung dan membela dirinya, meskipun Zahrana sudah menoreh luka di hatinya.


"Betapa mulianya hati mu kak, maafkan aku yang telah melukai hati dan perasaan mu. Semoga dirimu mendapatkan pengganti yang lebih baik dari ku," bisikan hati Zahrana.


Semua Siswa-siswi yang berada di ruangan UKS ini pun ikut terkesima mendengar penuturan Rivandra Dinata Admaja. Begitu pun dengan teman-teman Zahrana lainnya.


***


Zainal Abidin dan dua orang temannya sudah selesai mengobati luka Priska Prahara. Mereka semua terdiam ketika Guru BK alias Ibu Roshani Manurung mendatangi ruang UKS dengan wajah berangnya.


"Siapa diantara kalian yang bernama Nandini Sukma Dewi, juga Zahrana dan teman-temannya? Ibu minta kalian sekarang ke ruang BK. Sementara kau Priska Prahara setelah pulih, Ibu akan memanggil mu ke ruang BK. Untuk sementara di wakili oleh kedua teman mu Adelia Kencana Puteri dan Lembayung Senja!" titah Ibu Roshani Manurung dengan wajah datar.


Guru BK tersebut akhirnya kembali ke ruang BK, setelah melihat keadaan murid-muridnya yang telah terlibat baku hantam di area lapangan basket.


"Aduh ... gawat Ra, kita semua kena masalah," cicit Fadhilah.


"Iya Dhill, bagaimana jika orang tua kita mendapatkan surat peringatan dari sekolah, gara-gara kita terlibat baku hantam," ucap Cinta Kiara Khoirani


"Iya juga gue sependapat dengan loe Cin," ucap Kirana Larasati.

__ADS_1


Sementara Zahrana hanya terdiam, ia pun khawatir jika Buya Harun dan Bunda Fatimah dipanggil ke sekolah, lantaran kekacauan yang mereka perbuat.


Meskipun semua itu bukan sepenuhnya kesalahan Zahrana, namun mereka harus tetap mempertanggung jawabkan kekacauan yang terjadi.


"Ra, kalian jangan takut nanti kami akan membantu menjelaskan pada Guru BK mengenai hal yang terjadi sebenarnya," ucap Rivandra menenangkan Nandini dan teman-temannya.


"Iya aku pun selaku wasit yang memantau kegiatan pertandingan basket nanti akan membantu menjelaskan semua duduk permasalahannya kepada Ibu Roshani Manurung, kalian jangan khawatir!" ucap Zainal Abidin meyakinkan.


Nandini berlari tergopoh-gopoh memasuki ruang UKS disusul Arjuna Restu Pamungkas dan Rangga Sahadewa. Ketika melihat Ibu Roshani Manurung memasuki dan keluar dari ruang UKS.


"Din, kita dipanggil guru BK," ucap Zahrana penuh kepanikan seraya menggandeng tangan Nandini Sukma Dewi.


Mereka hendak menuju ruang BK di ikuti pula oleh Fadhilah, Cinta, dan Kirana.


Di susul pula oleh Adelia, Lembayung Senja dan dua orang temannya yang bergabung di pertandingan basket tersebut. Mereka semua hendak mempertanggung jawabkan kekacauan yang terjadi.


Sementara Rivandra, Zainal, Arjuna dan Rangga mengekori dari belakang. Mereka berempat bertindak sebagai saksi.


***


Di ruang BK.


"Assalamu'alaikum ... " Zahrana dan teman-temannya mengucap salam.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi ... masuk!" ucap suara dari dalam ruang BK.


Di dalam ruangan tersebut sudah duduk tegak Ibu Roshani Manurung guru BK dan Bu Zulis selaku wali kelas mereka.


Zahrana dan teman-temannya juga kubu Priska Prahara yang di wakili oleh Adelia Kencana Puteri dan teman-temannya di interogasi oleh oleh guru BK dan Bu Zulis sebagai penasehat murid-muridnya pun memberikan pengarahan yang baik terhadap anak didiknya.


Setelah satu jam mendengar penuturan guru BK dan Bu Zulis, dan disaksikan oleh Rivandra, Zainal, Arjuna dan Rangga Sahadewa keputusan sudah di tetapkan, yang menjadi dalang utama adalah kubu Priska Prahara.


Namun, Nandini Sukma Dewi dan Priska Prahara yang mendapat sangsi paling berat atau hukuman.


Selama satu Minggu mereka harus membersihkan seluruh Toilet dan juga membersihkan halaman sekolah sampai sebersih mungkin. Dan Nandini pun hari ini disaksikan oleh semua teman-temannya push-up 100 kali sebab telah bertindak sok jagoan, telah membuat Priska Prahara babak belur.


Jika pun di ulangi sekali lagi maka akan mendapatkan surat peringatan yang di layangkan untuk orangtua masing-masing.


Namun, hukuman itu dirasakan lebih baik oleh Nandini ketimbang orangtuanya harus di panggil oleh pihak Sekolah gara-gara kenakalan dan kekacauan yang di perbuat olehnya.


Nandini terus melakukan push-up sampai hitungan 100 kali keringatnya nampak bercucuran.


Arjuna Restu Pamungkas ingin sekali menolong gadis metalnya, namun ia urungkan ketika melihat wajah datar dari Ibu Roshani Manurung,selaku guru BK yang terkenal dengan sifat galaknya.

__ADS_1


"Honey, maafkan aku karena tidak bisa menolong mu dari hukuman Ibu Roshani Manurung," cicit Arjuna Restu Pamungkas dalam hati.😁😁😁


__ADS_2