
Setelah semua hadirin yang hadir mengucapkan Basmalah, Kirana Larasati kemudian melanjutkan kembali memandu acara selanjutnya.
"Hadirin sekalian yang berbahagia, acara selanjutnya yaitu kata-kata sambutan dari kepala sekolah dan kata sambutan dari perwakilan guru, juga sambutan dari perwakilan siswa kelas 3 SMP Negeri 3 XX."
" Sambutan pertama akan disampaikan oleh kepala sekolah SMP Negeri 3 XX, kepadanya waktu dan tempat dipersilakan!" ucap Kirana Larasati, seraya memberikan microfon kepada kepala sekolah mereka.
Kepala SMP Negeri 3 XX pun segera memberikan kata sambutan kepada segenap murid-murid juga kepada semua hadirin yang hadir di acara perpisahan ini.
Kata sambutan tersebut pun di sampaikan dengan penuh hikmat dan suka-cita oleh kepala sekolah SMP NEGERI 3 XX. Tepuk tangan meriah dari para hadirin yang hadir pun memenuhi seisi ruangan Aula Sekolah yang telah di sulap menjadi sedemikian rupa indahnya.
Hingga kata sambutan itu pun berakhir di lanjutkan oleh kata sambutan dari perwakilan guru yang disampaikan oleh Ibu Zulistiyah selaku guru mata pelajaran Agama Islam di SMP NEGERI 3 XX.
Ibu Zulis menyampaikan kata sambutan juga pesan dan kesan kepada setiap murid-muridnya dengan penuh cinta, kasih dan hikmah. Bagaimana kesan selama mendidik murid-muridnya selama di SMP NEGERI 3 XX, juga pesan yang penuh makna dan tausyiah yang di sampaikan oleh Bu Zulis mampu menyentuh hati para pendengarnya dari seluruh hadirin yang hadir, yang terdiri dari para guru, orang tua dan Siswa-siswi yang mendengar pesan dan kesan dari Bu Zulistiyah, membuat mereka semua menangis haru sedih dan bahagia bagaimana dalam waktu selama kurun waktu 3 tahun ini kegiatan belajar mengajar di lewati dengan proses yang tidak mudah, sehingga semua murid-murid kelas 3 bisa lulus seperti sekarang ini.
Hingga pada acara selanjutnya, sambutan dari perwakilan Siswa kelas 3 SMP NEGERI 3 XX yang di wakili oleh Rivandra Dinata Admaja, yang kini telah berdiri memasuki podium. Rivandra pun segera memberikan kan kata sambutan juga pesan dan kesan selama mereka belajar di SMP NEGERI 3 XX.
***
Kata sambutan pesan dan kesan dari Rivandra Dinata Admaja, mewakili seluruh murid kelas 3 di acara perpisahan hari ini.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ...
Sebelumnya saya ucapkan terimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menyampaikan sepatah dua patah kata mewakili teman-teman kelas 3 SMP NEGERI 3 XX.
Alhamdulillah, kita bisa hadir dan melaksanakan acara perpisahan sekolah hari ini dengan keadaan sehat walafiat.
Yang terhormat bapak/ibu kepala sekolah, dewan guru, bapak/ibu wali murid dan teman-teman yang saya cintai.
Waktu yang tidak sebentar kita bersama di sekolah SMP NEGERI 3 XX ini telah menjadikan ikatan kedekatan diantara kita pun semakin erat.
Meski begitu sebuah perpisahan tidak bisa dielakkan, kita wajib terus berjuang ke jenjang yang lebih tinggi untuk mencapai cita-cita yang diharapkan, yakni melanjutkan pendidikan kita setara SMA atau SMK dan sejenisnya.
Teruntuk para Bapak atau Ibu guru yang telah membimbing kami, mengajari kami tanpa lelah, tentu hanya ucapan terimakasih yang bisa kami berikan atas segala ilmu dan pengetahuan yang diberikan oleh Bapak dan Ibu Guru. Semoga Tuhan membalas segala kebaikan kalian semua dengan sebaik-baik balasan.
__ADS_1
Teman-teman yang berbahagia,
Waktu yang dilalui bersama selama ini di sekolah menjadikan memori bahagia yang tidak akan mudah untuk dilupakan.
Suka duka yang dilalui bersama selama bertahun-tahun di sekolah ini akan tersimpan rapi membentuk sebuah kenangan yang terpatri dalam hati dan jiwa.
Semoga suatu saat nanti kita semua dapat bertemu kembali dalam keadaan sehat walafiat, mampu maju dalam kerasnya hidup serta sukses dalam menggapai cita-cita yang diinginkan. Aamiin.
Terimakasih, demikian sepatah dua patah kata yang bisa saya sampaikan, jika ada salah kata serta ucapan yang kurang berkenan di hati bapak ibu serta teman-teman sekalian saya mohon maaf.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ...
Di penghujung kata sambutan pesan dan kesan yang di sampaikan oleh Rivandra Dinata Admaja mewakili semua murid-murid kelas 3, sontak di sambut oleh tepuk tangan riuh dari segenap hadirin yang hadir. Untaian kata demi kata yang di sampaikan oleh Rivandra Dinata Admaja membuat Para guru, semua murid-murid kelas 1 sampai kelas 3, juga para wali murid meneteskan air mata haru, sedih dan bahagia.
Kirana Larasati pun sebagai pemandu acara tak henti-hentinya meneteskan air mata, betapa tidak ia bukan hanya haru terhadap untaian kata-kata Rivandra. Namun ia merasa sedih karena tidak dapat bertemu lagi dengan Rivandra Dinata Admaja, yang kini terukir indah di pita bathinnya. Cinta dalam diamnya, yang hingga detik ini pun tidak ada yang dapat memahami akan makna lesu yang tersirat dari pita bathinnya.
Jika tidak ingat siapa dirinya, posisinya, dimana ia berada saat ini. Mungkin Kirana Larasati akan menghamburkan diri kedalam pelukan Rivandra Dinata Admaja. Betapa ia tidak ingin berpisah dengan Sang belahan jiwa yang selama ini ia dambakan.
Kirana Larasati pun berusaha menguasai dirinya dan menetralkan perasaannya. Ia pun perlahan mengusap derai air matanya yang sejak tadi tumpah, tanpa bisa untuk ia membendungnya.
"Ya Allah ... ini tidak mungkin, kenapa aku bersimpati pada gadis manis itu! tidak ini tidak boleh terjadi, di hatiku hanya ada Bidadari kecil ku Tsamirah Zahrana Az Zahra!" bathin Rivandra.
Rivandra pun segera menyerahkan microfon tersebut dan segera memberikannya kepada Kirana Larasati.
Kirana Larasati pun menerimanya dengan detak jantung yang berdebar-debar yang sangat sulit untuk diartikan.
Tatapan mereka berdua pun tak sengaja saling bertemu pandang. Namun Rivandra tidak menyadari jika benih-benih simpati dihatinya perlahan tiba-tiba bertumbuh pada Kirana Larasati.
Sejatinya, Rivandra Dinata Admaja pun merasakan getaran yang sama ketika awal mula mereka saling mengulurkan tangan, disaat Kirana Larasati mengucapkan selamat atas kelulusannya.
Namun, Rivandra terus menyangkal rasanya. Dia beranggapan jika Zahrana masih bertahta dihatinya. Padahal kenyataannya, Rivandra perlahan move on dari Zahrana. Terbukti, ia mampu merasakan sinyal rasa yang bertumbuh dihatinya pada saat berhadapan dengan Kirana Larasati. Teman dekat Zahrana yang dulu pernah menjadi kekasihnya.
Setelah kepergian Rivandra Dinata Admaja, Kirana Larasati pun memandukan acara selanjutnya.
__ADS_1
"Terimakasih saya sampaikan kepada kepala sekolah dan perwakilan guru yang sudah menyempatkan diri memberikan kata sambutan, juga kepada kak Rivandra Dinata Admaja yang mewakili seluruh kakak-kakak kelas 3 SMP NEGERI 3 XX, saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya, semoga apa yang telah di sampaikan terpatri di hati kita semua," ucap Kirana Larasati penuh ketulusan.
" Hadirin sekalian. Kini kita memasuki acara inti yakni prosesi pelepasan Siswa-siswi kelas 3 yang akan dipandu oleh wali kelas masing-masing, kepada seluruh wali kelas 3A,3B dan 3C dipersilahkan untuk memasuki arena podium!" Kirana Larasati memberikan arahan.
Selang berapa puluh menit kemudian, acara prosesi pelepasan Siswa-siswi kelas 3 SMP NEGERI 3 XX pun selesai. Kirana Larasati pun segera memandu acara berikutnya yakni acara hiburan dan pentas seni berupa penampilan dari seluruh jajaran Siswa-siswi kelas 1,2 dan 3 yang mewakili kelas masing-masing.
Acara hiburan pertama adalah tarian daerah yang di bawakan oleh anak-anak kelas 1 yang berkolaborasi dengan anak-anak kelas 2, kemudian berlanjut dengan pembacaan pantun dan puisi yang di bawakan oleh siswa-siswi kelas 3 yang bertemakan acara perpisahan juga bertemakan rasa terimakasih kepada Bapak dan Ibu Guru yang telah mengajar dan mendidik mereka selama 3 tahun terakhir ini.
Acara selanjutnya atraksi dan berbagai pentas seni lainnya yang cukup menghibur para hadirin yang ada.
Atraksi seni bela diri yang di padukan oleh Nandini Sukma Dewi dan Zainal Abidin juga dibantu oleh teman-temannya yang lainnya cukup menghibur dan menegangkan.
Nandini Sukma Dewi mampu mengimbangi kekuatan Zainal Abidin yang memiliki Ilmu Bela Diri yang setingkat dengannya hingga membuat suasana Aula Sekolah sekita riuh, mereka berdecak kagum dengan atraksi yang di lakoni oleh Nandini Sukma Dewi dan Zainal Abidin juga ke lima orang teman-temannya yang lain, yang bertugas sebagai peran pembantu untuk melancarkan atraksi tersebut.
"Dasar! mencuri kesempatan dalam kesempitan! Ia pikir ia jagoan, ia pikir bisa merebut Nandini Sukma Dewi dariku! oh no ... jangan bermimpi terlalu tinggi!" bathin Arjuna Restu Pamungkas.
Arjuna cemburu melihat atraksi antara Zainal Abidin dan kekasih hatinya Nandini Sukma Dewi.
"Awas saja kau honey! Kau akan mendapatkan hukuman dari ku," bathin Arjuna Restu Pamungkas.
Nandini tidak sengaja melihat nanar wajah kekasihnya Arjuna Restu Pamungkas yang nampak berang oleh karena cemburu dengan atraksi antara Nandini dan Zainal Abidin sebagai lawan mainnya.
"Ya Allah ... Hubby, tatapannya itu lho, menghunus tajam sekali!" bisik hati Nandini Sukma Dewi.
Nandini pun kembali menunjukkan kefokusannya untuk melanjutkan atraksinya.
Zainal Abidin pun yang tidak sengaja melihat tatapan sinis Arjuna dari balik podium pun sengaja melumpuhkan kekuatan Nandini sehingga Nandini hampir terjungkal, namun secepat kilat Zainal menarik pergelangan tangan Nandini Sukma Dewi. Sehingga Nandini pun terjatuh dalam dekapannya. Seketika mereka berdua kembali beradu pandang, seperti dua pendekar sakti yang sedang di mabuk asmara. Sang pendekar wanita terjatuh kedalam dekapan Sang Pendekar Sakti. Bayangkan seperti menonton film Tutur Tinular, Wiro sableng atau film Jaka Tingkir yang sempat digandrungi pada tempo dulu.😁😁
Arjuna Restu Pamungkas semakin tersulut emosi dengan adegan yang dilihatnya. Tanpa sadar ia pun mengepalkan tinjunya, ia benar-benar cemburu terhadap Zainal Abidin yang berani-beraninya menyentuh wanitanya.
Rangga Sahadewa, Rivandra Dinata Admaja juga teman-teman yang lainnya melihat gambaran emosi yang terekam dari aura wajah Arjuna Restu Pamungkas pun segera mengingatnya.
"Sabar bos! itu kan hanya atraksi hanya sekedar pentas seni, jangan sampai baper atau pun sampai cemburu buta." Rangga Sahadewa menenangkan Arjuna Restu Pamungkas.
__ADS_1
"Iya Jun, jangan di ambil hati. Dalam prosesi acara perpisahan ini kita harus sportif. Toh, Nandini Sukma Dewi kan sekarang milik mu bukan milik Si Zainal Abidin! Bagaimana jika kamu jadi aku terang-terangan di sakiti dan diduakan oleh orang terkasih, kurasa dirimu akan berlaku layaknya orang gila, lantaran hilang warasnya," seloroh Rivandra Dinata Admaja.
Arjuna pun terdiam, namun sikap angkuh dan arogannya tetap tidak hilang dari gayanya dan bahasa tubuhnya.